P_U_L_U_H

1018 Kata
Putra mengangkat satu kardus di dekat pintu. Lelaki yang tiba-tiba saja dipanggil salah satu dosen untuk membersihkan sekitar kampus terpaksa meninggalkan lapangan dan mengangkat tumpukan kardus yang entah sejak kapan ada di sekitar lorong. “Tau gitu gua—“ Ucapan Putra terhenti kala seseorang menabraknya dari belakang. Lelaki itu mengernyitkan kening seraya menolehkan kepala. Dahinya yang mengerut itu perlahan kembali seperti semula kala melihat siapa yang baru saja menabraknya. Putra menaruh kembali kardus di tangannya ke lantai sebelum mendekat. Memastikan jika gadis di depannya ini benar-benar Azkia. Dengan dress selutut berwarna putih dan rambut sebahu yang dibiarkan terurai, Azkia mendongak. Menatap Putra yang juga sedang melihat ke arahnya. Gadis itu dengan cepat menghapus air mata yang masih mengalir deras di pipinya. “Lo kenapa, Kak?” tanya Putra. Merendahkan tubuhnya agar bisa melihat Azkia lebih dekat, Putra lalu menyingkirkan tangan gadis itu yang terus mengusap matanya secara kasar. “Mata lo bisa sakit nanti.” Azkia menepis tangan Putra dan kembali berdiri setelah sempat terjatuh tadi. Gadis itu merapikan dress sebelum berjalan meninggalkan Putra. Melihat itu, Putra jelas tidak tinggal diam. Lelaki yang satu tahun di bawah Azkia itu segera menahan tangan sang kakak tingkat sebelum menariknya agar tetap diam di tempat. Azkia yang tidak memakai almamater dan pin saja sudah aneh bagi Putra. Kini gadis itu menangis dan tidak memakai name tag yang dipakai setiap anggota. Putra membalikkan tubuh Azkia agar kembali melihat ke arahnya. “Kak, lo ada masalah? Almet lo mana? Pin lo juga kemana?” tanya Putra beruntun. Matanya menatap tubuh Azkia yang benar-benar hanya memakai dress saja. Gadis yang begitu taat pada peraturan itu tiba-tiba tidak memakai almamater beserta perintilannya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres terjadi. “Ck! Udah awas! Gue ada urusan,” ucap Azkia dan menarik tangannya kembali. Namun, sayangnya Putra tidak melepaskan tangan gadis itu dan memilih mendekat pada Azkia. Putra menyentuh pipi gadis itu lembut sebelum menatap dengan lekat wajah Azkia yang memang sedang menangis. “Lo nangis?” tanya lelaki itu yang tentu saja membuat Azkia semakin kesal. “Bukan! Lagi jungkir balik!” jawab Azkia sebal. Putra yang melihatnya tertawa kecil. “Mata lo gak bulet, Kak. Kalau nangis makin kecil. Ntar lo nggak bisa liat jalan lagi. Tadi nabrak gue karena nggak bisa liat jalan, kan?” Azkia mencebik kecil. “Bisa! Mau mata gue kecil juga bukan urusan lo!” sarkasnya dan kembali menggerakan kepalanya agar tangan Putra segera terlepas dari pipinya. “Perasaan pas isitirahat lo baik-baik aja. Kenapa sekarang malah nangis? Lo diejek?” “Siapa yang berani ngejek gue?! Emangnya lo!” Putra menyengir lebar. Lelaki itu menggaruk tengkuknya kikuk sebelum tersenyum begitu melihat Azkia yang sudah berhenti menangis. “Kalau emang gak bisa senyum, seenggaknya jangan sampe nangis. Lo gak malu diliatin sama anak-anak yang datang ke kampus?” Azkia terdiam. Gadis itu baru menyadarinya. Ia benar-benar sudah berhenti menangis. Air matanya juga tidak lagi turun seperti sebelumnya. Perasaan kesal dan marah yang sebelumnya terasa sangat menyiksa itu kini menghilang begitu saja. Azkia tidak lagi merasakannya. “Gih, sana. Lo mau pergi, kan?” titah Putra. Lelaki itu perlahan melepas cekalan tangannya pada Azkia. Alih-alh pergi seperti yang ia inginkan sejak awal, Azkia justru diam di tempat dan menatap Putra. “Makasih,” ujar gadis itu tulus dan tersenyum tipis. Putra yang melihatnya tentu langsung menunjuk dirinya sendiri sebelum mengangkat kedua halisnya bingung. “Sama gue?” tanya lelaki itu memastikan. Azkia tersenyum semakin lebar dan mengangguk. “Dih, aneh banget lo! Tadi nangis sambil marah. Sekarang udah senyum aja.” “Kan lo yang buat gue senyum, Putra!” “Ngadi-ngadi emang. Kapan gue suruh lo ketawa? Gue cuman bilang, jangan sampe nangis.” Azkia menatap datar lelaki di depannya itu sebelum mendelik sebal kala Putra menyengir lebar, lagi. “Bodo amat!” kesalnya seraya menundukkan kepala. Putra terkekeh pelan. Tangan lelaki itu dengan refleks terangkat. Mengusap kepala Azkia dengan lembut. Yang mana berhasil membuat Azkia terdiam beku. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Putra yang tersenyum lebar. “Manusia emang gudangnya masalah. Kalau lo udah gak punya masalah, berarti lo bukan manusia. Gak usah sedih,” pesan Putra. Senyum manis lelaki itu seakan menghipnotis Azkia. Wajah Putra tidak seputih mantannya. Putra juga tidak begitu tinggi seperti kebanyakan lelaki yang Azkia temui. Putra cukup tampan dengan tubuhnya yang terlihat kekar. Matanya bulat besar dengan hidung mancung. Bibirnya yang tebal kehitaman itu terus tertarik membentuk senyum. “Put! Tahan Azkia, Put!” Teriak seseorang dari arah lorong. Putra dan Azkia yang mendengarnya langsung menoleh. Putra menyipitkan matanya. Memiliki mata rabun jauh sungguh menyiksa. Ia bahkan tidak bisa melihat siapa yang sedang mendekat ke arahnya saat ini. “Tahan Azkia, b**o!” Putra yang sadar dengan perintah dari lelaki itu segera menoleh. Sayangnya, perempuan yang sejak tadi ada di depannya itu kini sudah menghilang entah kemana. Bahkan Putra saja tidak bisa melihat kemana gadis itu menghilang. “Lo kenapa gak tahan Kak Azkia?!” tanya Reza. Lelaki itu mengatur napasnya yang tersengal karena berlari dari ruang rapat. Punggung tangannya ia jadikan alas mengelap keringat. Tato di belakang lehernya bahkan terasa basah. “Lo ada masalah sama Kak Azkia?” tanya Putra balik yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Reza. “Dia mau ngundurin diri,” jawab Reza dan kembali berlari mengejar Azkia yang berada di ujung lorong. Meninggalkan Putra yang mengernyitkan kening dan menatap bingung lelaki di depannya. Jangan bilang, Reza yang membuat Azkia menangis? Tapi, kenapa? Bukankah keduanya baik-baik saja? Saat istirahat juga keduanya sempat diajak bercanda oleh anak-anak yang lain. Kenapa sekarang keduanya terlihat seperti film India? Putra mengedikan bahunya acuh dan kembali mengangkat kardus yang ada di dekatnya. Baru akan berjalan, tepukan pada bahu Putra berhasil membuatnya berjengit kaget dan menoleh dengan cepat. “Pak! Ngagetin aja!” kesal Putra seraya mendengkus sebal. “Udah selesai?” tanya pria di depan Putra. Putra menghela napas panjang. “Kardusnya bukan isi angin, Pak. Beres dari mana? Masih banyak itu.” “Oh, ya sudah. Nanti Bapak ke sini lagi buat pantau.” “Kenapa gak bantu aja, Pak?” “Kan ada kamu. Kenapa harus Bapak bantu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN