B_I_L_A_N

1183 Kata
“Lo tadi ada di mana, sih? Anak-anak pada nyariin juga!” “Za, seriusan ada yang nembak lo di lapangan tadi?” “Siapa, Za? Asli, beneran? Enggak kaleng-kaleng?” “Dari kelompok mana Kak Reza?” “Penanggung jawabnya siapa, sih? Kok bisa ada anak yang ngehebohin gitu?” Dari banyaknya pertanyaan yang datang, hanya satu yang Reza dengar. Lelaki itu berjalan menuju Azkia yang kini sedang bersedekap marah. Perempuan yang pertama kali bertanya padanya itu menatap Reza dengan dahi mengerut dalam. Sedetik kemudian, Reza memeluk tubuh Azkia dan membawa gadis itu masuk ke dalam ruang rapat. Membuat beberapa anggota membelalakkan matanya terkjeut. Bahkan ada juga yang hampir berteriak. “Itu Kak Reza—“ “Balik ke tugasnya masing-masing!” titah Naza tajam. Lelaki berperawakan besar itu menatap para adik tingkatnya yang berkumpul dengan tatapan dingin. Membuat mereka seketika diam dan bubar. Ruang rapat tidak lagi penuh seperti sebelumnya. Hanya ada Wahyu, Remica dan Naza. Ketiganya saling pandang sebelum menghela napas pelan. “Lo balik ke barisan lo, Yu.” Naza menggerakkan kepalanya pada Wahyu. Meminta agar lelaki itu tidak diam di depannya dengan wajah penuh rasa penasaran. “Lo juga, Rem.” “Lah, lo sendiri?” tanya Remica. “Kagak balik ke lapangan?” “Anak-anak lagi diurus sama Zayan. Ada Putra juga di lapangan.” “Kalau ada info terbaru kasih tahu gue, ya!” ucap Wahyu semangat. Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya pada Naza yang justru membalas dengan acungan jari tengah. Sedangkan di dalam ruangan, Reza segera melepaskan pelukannya dan menatap tajam Azkia. Lelaki itu meninju tembok yang berada di sebelah Azkia. Karena keduanya kini berada di pojok ruangan—dengan Azkia yang bersandar pada tembok—membuat Reza lebih mudah menatap gadis itu. Reza bisa melihat wajah ketakutan Azkia yang begitu kentara. Menyadari hal itu Reza segera menarik napas panjang dan menjauh. Punggung jarinya yang terluka ia biarkan. Azkia yang sama sekali belum paham dengan keadaan yang ada, hanya bisa mengontrol napasnya agar tidak terasa sesak. Keringat dingin mulai membasahi kening dan juga punggung Azkia. Hawa panas di dalam ruangan mulai terasa. Kipas angin yang berada di tiap sudut rasanya tidak berfungsi sama sekali. “Ini rencana lo ‘kan, Kak?” tanya Reza. Lelaki itu menyugar rambutnya ke belakang. “Kenapa harus sampe kaya gini, sih?” Azkia yang tidak merasa bersalah langsung mendekat pada Reza. “Maksud lo apa? Lo nuduh gue yang suruh itu anak ke depan?!” tanya Azkia marah. Beberapa menit yang lalu, di lapangan, Reza mendapat sesuatu yang begitu mengejutkan. Salah satu mahasiswa baru yang sedang menjalankan orientasi tiba-tiba maju ke depan. Berdiri dengan tegak di hadapan banyak mahasiswa lain dan menyatakan perasaannya pada Reza. Bahkan gadis itu meminta Reza untuk menjadi kekasihnya. Hal yang baru pertama kali Reza alami selama menjadi ketua di sebuah acara. Ia memang pernah mendapat pernyataan cinta dan juga surat yang berisi ungkapan perasaan. Namun itu hanya permainan saja yang dibuat oleh para pengurus. Sayangnya hal itu tidak dilakukan hari ini. karena hari ini hanya masa pengenalan saja. Permainan dan sebagainya baru akan dilaksanakan esok hari. Yang mana berarti gadis itu tidak akan mau maju ke depan tanpa ada yang menyuruhnya. Orang waras mana yang masih mau melakukan hal itu di depan banyak orang? “Kalau bukan lo yang nyuruh terus siapa lagi? Mereka gak mungkin mau lakuin—“ Ucapan Reza terhenti begitu sebuah hantaman mendarat di pipinya. Lelaki itu bahkan sampai menoleh ke samping karena pukulan keras yang dilayangkan Azkia. Sial! Reza lupa jika gadis ini mantan taekwondo dulu. “Sebrengsek apapun gue sama lo dulu. Enggak sudi gue nyuruh orang lain buat sakitin lo. Kalau gue sendiri bisa sakitin lo, kenapa harus minta bantuan orang lain?” tanya Azkia dengan wajahnya yang mulai memerah. Menahan amarah dan tangis. “Lo udah keterlaluan, Za.” “Ya tapi siapa lagi yang—“ “Lo tanya sama tuh cewek! Siapa yang nyuruh! Kenapa gue yang kena? Lo punya masalah sama gue sampe nuduh gue?!” Reza mengusap wajahnya dan menarik napas panjang. Lelaki itu mengambil tangan Azkia yang langsung ditepis oleh sang empunya. Kedua mata Azkia sudah berair. Hanya butuh satu kali kedipan, maka air mata itu akan jatuh dengan mudah. “Lo cukup jujur aja, Kak. Gue tahu, kok, selama ini lo yang minta cewek-cewek yang lain buat nembak gue dan mainin TOD. Gue gak akan marah sama lo, Kak. Tapi ini udah keterlaluan. Dia pasti malu.” Azkia yang sudah tidak bisa menahan tangisnya itu langsung berbalik dan mengigit bibir bawahnya. Sialnya hal itu justru semakin membuat tangisnya semakin membesar. Menarik napas panjang dan berusaha menormalkan kembali suasana hatinya, Azkia kembali menatap Reza. Gadis itu mengambil pin yang tertempel di almamaternya dengan paksa. Tak lupa tanda pengenal yang dikalungkan di lehernya juga gadis itu buka. “Gue gak nyangka bisa satu organisasi sama ketua macam lo. Gue gak habis pikir.” Azkia menggelengkan kepalanya. “Gue kira lo pinter. Ternyata jauh lebih bodoh dari yang gue pikirin.” “Kenapa lo lepas pinnya?” “Gue keluar dari organisasi. Gue gak bisa satu kelompok sama orang-orang gak paham tata krama dan sopan santun!” tukas Azkia lalu melempar tanda pengenal beserta pinnya ke wajah Reza. Gadis itu lalu bergegas pergi dari ruang rapat. Meninggalkan Reza yang hanya bisa menatap nanar pin dan tanda pengenal di lantai. “Kak,” panggil Naza begitu melihat Azkia yang keluar dengan tangis yang kian membesar. “Gue bakal urus semuanya ke DPM.” “Tapi, Kak, kita baru aja mulai—“ “Dan gue lebih baik dihina gitu aja tanpa bukti? Cuman orang b**o yang mau bertahan!” putus Azkia sebelum benar-benar pergi meninggalkan Naza yang menghela napas pasrah. Lelaki itu menutup matanya frusrtasi. Reza dengan kemarahannya adalah bom waktu yang bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?! Kenapa lelaki itu begitu gegabah menanyakan sesuatu yang penting seperti sekarang? “Na, lo denger semuanya?” tanya Reza begitu matanya tak sengaja melihat Naza yang masuk ke dalam ruang rapat. “Menurut lo?” sarkas Naza. “Lo gila, ya? Azkia tuh anggota BEM terbaik tahun lalu!” “Ya, tapi…” “Gue gak mau tahu. Lo harus bujuk dia balik lagi ke sini. Cuman dia yang bisa kendaliin rapat waktu lo gak ada.” Reza terdiam. Lelaki itu jelas sadar apa kesalahannya. Terlalu marah dengan perbuatan mahasiswa di lapangan tadi, Reza sampai tidak sadar sudah membuat kekacauan yang lebih besar. “Gue gak tahu cara bujuknya kaya gimana, Na. Gue yakin dia gak akan mau balik.” “Minta maaf ‘lah, b**o!” “Tapi lo juga mikir hal yang sama kaya gue, kan, waktu liat tuh anak di lapangan? Lo juga mikrinya itu karena—“ “Sekalipun, gua mikir dia yang jadi dalangnya. Bukan berarti harus buat dia keluar juga dari organisasi. Lo harus bisa bedain mana urusan pribadi sama kerjaan, Za.” Naza menggelengkan kepalanya tak paham. “Lo harus bawa balik Azkia ke organisasi.” “Na! Tapi gue gak bisa. Lo harus bantu gue!” Naza pura-pura tidak mendengar dan memilih pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN