5

1299 Kata
Selesai Queen wisuda, tiga hari kemudian pernikahan itu akhirnya tiba dan ia sungguh tak menyesal saat melihat raut bahagia di wajah kedua orangtuanya. Mereka bergegas naik ke mobil yang disediakan keluarga Linwood. Saat sampai di gedung tempat pernikahan itu akan berlangsung mereka segera masuk dan Evelyn segera menarik Queen ke sebuah ruangan sebab pengantin pria belum tiba. Satu jam berlalu dan laki-laki itu belum juga datang hingga akhirnya Queen tak tahan lagi dengan hinaan laki-laki itu yang ia yakini sengaja dilakukan olehnya. Apa dia pikir aku sebegitu tidak lakunya hingga harus dengan senang hati menunggunya terus menerus di sini? batin Queen kesal berderap bangun dari duduknya. "Queen, kamu mau ke mana?" tanya Ametta. "Pulang, Bunda," timpalnya kesal berderap melangkah ke ruangan di mana seharusnya ia akan menikah hari ini. Saat ia baru mencapai pertengahan lorong, pintu membuka dan laki-laki itu dengan arogannya melangkah masuk ke dalam seolah tanpa dosa. Meski begitu ia tak bisa menahan diri untuk tidak terpaku di tempatnya saat menatap Ken yang memakai jas hitam dengan rapi bahkan sesaat ia terpesona melihat ketampanannya. Ia menanti di depan saat Ken berjalan mendekat padanya dan merasa sedikit lucu akan situasi ini sebab ia yang menunggu laki-laki itu menghampirinya bukan sebaliknya. Ken tak melepaskan tatapannya pada wanita yang dipaksakan untuknya. Jika bukan karena rasa sayang pada papanya dia tak akan mau datang ke pernikahan ini. Tapi dia merasa jika dirinya juga tak salah sudah memutuskan untuk menerima pernikahan ini saat melihat senyum bahagia di wajah ibu tiri yang sangat dibencinya. 'Aku akan membuat wanita yang kamu pilih untukku begitu menderita dan terabaikan hingga bahkan ia akan mengakhiri sendiri pernikahan ini' batin Ken sinis. Saat akhirnya Ken sampai di depannya, Queen hanya bisa mendongak menatap laki-laki itu. "Apa kamu sudah siap?" tanya Ken sinis. "Aku rasa Anda sangat kekanak-kanakan hingga dengan sengaja datang terlambat," ujar Queen sinis melampiaskan kekesalannya. "Jangan bilang aku tak memperingatkanmu, dan ini baru awal," bisik Ken. Dia kemudian mencengkram lengan Queen agar mengikutinya dan meminta pernikahan itu segera dimulai. Sebab berada dalam situasi ini lebih lama lagi akan membuat ia meledak karena marah. Setelah upacara itu selesai, ia menyeret Queen untuk mengikutinya dan tentu saja membuat gadis itu berdecak kesal sebab bahkan Ken tak memberikannya kesempatan untuk berpamitan pada keluarga mereka. "Apa Anda tak bisa pelan?" "Bagiku waktu sangat berharga dan jika kamu tak bisa mengimbanginya mungkin kamu bisa kembali menjadi pesuruh wanita rubah itu," sinis Ken menatap Queen saat mereka sudah tiba di samping mobilnya. "Apa mulut Anda tak disekolahkan? hingga bisa berbicara tentang ibu Anda sendiri seperti itu," gusar Queen. Ia terkesiap saat tiba-tiba Ken mencengkram dagunya dengan erat. Queen mencoba menarik lepas cengkraman laki-laki itu. "Sudah aku katakan bukan jangan menyebut w************n itu sebagai ibuku!" ujar Ken dingin dan Queen bisa melihat di kedua matanya jika laki-laki itu benar-benar marah. "Sakit!" ujar Queen saat Ken semakin kencang menekan dagunya dan dengan kesal ia menendang kaki laki-laki itu hingga dirinya lega saat laki-laki itu melepaskannya dan mengaduh kesakitan. "Jika Anda mau berubah menjadi manusia bar-bar, maka aku bisa lebih bar-bar, camkan itu, Tuan!" sinis Queen kemudian masuk ke dalam mobil Ken. Ia duduk di sana saat menunggu pelayan memasukkan tasnya ke bagasi mobil laki-laki itu dan tak lama kemudian Ken duduk di kemudi mulai menjalankan mobil. Mereka terus diam tak bicara satu sama lain hingga sampai di sebuah apartemen. Queen bergegas turun dan menatap apartemen di hadapannya. Menunggu Ken membuka bagasi mobil untuk menurunkan tas mereka. Ia menyadari jika Ken juga baru tiba di London ini saat melihat laki-laki itu juga membawa tas. "Ini," ujarnya melemparkan tas Queen padanya hingga dengan cepat gadis itu menangkapnya. Dengan susah payah ia membawa tas itu sekaligus menyeret gaun pengantinnya. Menatap kesal punggung suaminya yang sudah berjalan duluan di depannya. Saat sampai di depan pintu seorang satpam menghampirinya. "Apa perlu saya bantu, Nyonya?" "Wah, terima kasih, Pak, zaman sekarang jarang ada laki-laki yang bisa bersikap gentleman seperti bapak," ujar Queen kencang sengaja ingin menyindir suaminya. Ia terbelalak saat Ken berbalik menatap marah padanya dan kembali menghampirinya hingga bahkan dengan refleks ia memeluk tasnya dengan erat, menjadikan tas itu tameng untuk melindunginya. Ken menarik dengan mudah tas itu dari pelukan Queen. "Lain kali jika kamu berani mempermalukanku lagi maka aku akan membungkam mulut lancangmu itu," bisik Ken dan kembali berjalan. Queen hanya bisa menatap terpaku laki-laki itu hingga kemudian dia menyadarkan dirinya kembali. "Terima kasih, Pak," ujar Queen tersenyum pada satpam yang menatap mereka heran. Ia bergegas menyusul Ken dengan berlari walau sedikit kesulitan karena high heel-nya. Saat sampai di lift dirinya dengan panik segera menahannya sebelum tertutup karena tahu laki-laki kejam itu tak akan menahan pintu untuknya. Saat berhasil masuk ke dalam, ia bersandar terengah di dinding lift. Dirinya kemudian mengikuti sikap laki-laki itu, pura-pura tak menyadari kehadirannya juga di sana tapi dari sudut matanya ia bisa melihat jika raut wajahnya masih sama seperti tadi, datar seperti papan. 'Mungkin dia terlalu banyak menelan paku hingga tak memiliki ekspresi lagi' batin Queen kesal, menyadari jika ia memang menikahi monster. Bukan karena tampangnya tapi karena sifatnya yang aneh dan tak bersahabat bahkan lidahnya sangat tajam. Saat pintu lift terbuka dan Ken melangkah keluar, bergegas ia juga melakukan hal yang sama sebelum laki-laki itu meninggalkannya di sana. Dirinya langsung menerobos masuk begitu Ken membuka pintu apartemen tak ingin memberikan laki-laki itu kesempatan meninggalkannya di luar kamar. Queen bergegas duduk di ranjang sebelum sepatunya membuat kakinya patah. Dengan susah payah ia membuka sepatu itu dan mengistirahatkan kakinya yang lelah. "Haruskah kamu duduk di ranjang?!" "Tak ada tempat duduk di sini jadi tentu saja aku hanya bisa duduk di ranjang," timpal Queen tak mengerti kenapa laki-laki itu begitu gusar hanya karena ia duduk di sana. Hingga Ken kembali melemparkan tas padanya dan beruntung ia berhasil menangkapnya sebelum tas itu membuatnya terpental. "Mandilah dan bersihkan tubuhmu. Jika sudah melakukan hal itu aku tak peduli apakah kamu akan duduk atau tidur di sana. Aku tak suka tubuh kotormu membuat ranjang itu jadi tidak higienis." Sekarang Queen menyadari penyebab kekesalan laki-laki itu, tak menyangka jika ia bahkan menikahi laki-laki yang selain dingin, kejam, tidak punya ekspresi juga cerewet. "Baik, Tuan," sindir Queen yang membuat Ken kembali menatapnya tajam tapi tetap tak ia pedulikan. Ia bergegas mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Bunda dan mamanya hanya menyiapkan gaun tidur untuknya. Ia bersyukur karena mereka tidak dengan sengaja menyediakan lingerie. Sebab ia tahu biasanya itulah pakaian yang umumnya akan disiapkan untuk pengantin baru. Mengingat ini bukanlah pernikahan normal pada umumnya, mungkin hal itu juga disadari oleh mereka. Walau gaun tidur yang disediakan untuknya juga tak lebih baik sebab hanya ditopang seutas tali pada bahu dan begitu pas di tubuhnya tapi setidaknya tidak transparan. Queen bergegas keluar saat sudah selesai mandi tak ingin laki-laki itu menggedor pintunya. Ia merasa itulah yang akan terjadi jika kesabaran dia habis saat terlalu lama menunggu gilirannya. Walau ia tak yakin apa dia akan melakukan hal itu atau tidak tapi lebih baik ia berjaga-jaga. "Mandilah," ujar Queen pada Ken. Ken berbalik menatap Queen dan mengeretakan rahangnya marah saat melihat pakaian yang wanita itu kenakan. Dia menyusuri lekuk tubuh gadis itu dari bawah kemudian naik ke atas hingga bisa melihat jika kulit di atas d**a juga leher jenjangnya yang mulus tampak. "Apa kamu pikir akan bisa menggodaku dengan pakaian seperti itu? Aku tak akan memberimu sesuatu dengan menyentuhmu." Queen terperangah mendengar ucapan Ken padanya dan sungguh tidak menyangka akan tuduhan itu. "Bagaimana kalau aku telanjang?" tanya Queen kesal hingga bisa melihat jika mata Ken hampir melotot marah mendengarnya. Queen yang tak tahan akhirnya tertawa di sana melihat reaksi laki-laki itu. "Tenang saja, aku lebih tak ingin disentuh oleh Anda. Aku memakai pakaian ini karena tak ada pakaian lain yang disiapkan untukku jadi lebih baik aku memakai ini daripada tak memakai apa-apa, Anda tak semenarik itu Mr. Linwood hingga aku begitu ingin ditiduri oleh Anda," ujar Queen tak peduli kemudian naik ke ranjang untuk tidur. Ken hanya memelototi gadis itu yang langsung berbaring di atas ranjang dan dengan marah dia masuk ke kamar mandi. Langsung menyiram tubuhnya dengan air dingin tak membiarkannya merasakan apa pun yang ingin bangkit saat ini. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN