4

1264 Kata
Setelah pertemuan itu, Ken merasa sangat marah saat sampai di apartemen yang ia sewa selama di kota ini. Dia sudah marah sejak papanya menelepon satu bulan yang lalu dan mengatakan ingin menjodohkannya. Memerintahkannya pulang agar bisa melamar gadis itu. Jangan harap dia akan menuruti perintah itu begitu saja dan tentu saja dia tak pulang saat acara itu dilakukan tapi kemarahannya semakin meningkat saat papanya kembali menelepon dan mengatakan jika pernikahan itu tetap akan berlangsung satu bulan lagi. Berita itu membuat ia ingin tahu wanita seperti apa yang akan dijodohkan dengannya hingga mau saja menerima pernikahan yang bahkan pengantin pria tak menginginkannya. Dia sangat ingin tahu tampang dari w************n yang pasti dipilih oleh ibu tirinya yang juga murahan. Ia yakin ibu tirinya pasti memilih seorang istri untuknya yang bisa dia kontrol agar menuruti semua perintahnya. Dia bahkan juga tahu jika ibu tirinya pasti ingin memastikan dirinya tetap bisa menikmati harta papanya setelah papanya meninggal karena tahu harta-harta itu akan diwariskan untuknya. Nenek yang menyayanginya sudah memberitahukan semua tentang wanita itu padanya. Saat dia kecil mungkin dirinya memang tertipu dengan kebaikan wanita itu sewaktu baru menikah dengan papanya. Seiring berjalannya waktu dan saat semakin tumbuh dewasa ia tahu alasan wanita itu begitu baik padanya dan ia tahu penyebab ibu kandungnya bisa meninggal setelah neneknya dengan terpaksa memberitahunya karena tak ingin dia terus tertipu. Ken kembali mengingat pertemuan itu. Sebelum kembali ke kota ini, ia memang mencari sedikit informasi tentang wanita itu agar bisa mengajaknya bertemu. Saat akhirnya bertemu wanita itu, dirinya sempat merasakan perasaan gelisah sewaktu menatap mata itu dan bahkan tanpa sadar matanya turun menyusuri bibir penuh wanita itu. Dia rasa dirinya terlalu banyak bekerja hingga jadi tidak normal. "Apa yang harus aku lakukan agar dia mau membatalkan pernikahan ini?" tanya Ken sambil meminum minuman yang langsung dia tuangkan untuk dirinya sewaktu sampai di kamarnya. Tapi Ken tak sempat menyusun apa-apa, apalagi memikirkan rencana apa pun sebab karyawannya meneleponnya dan memintanya kembali karena membutuhkan kehadirannya hingga seminggu sebelum pernikahan dan dia kembali ingat. *** Queen baru saja selesai memasak saat ponselnya berbunyi dan kembali sebuah pesan teks masuk dari nomor yang ia kenali sebagai nomor calon suaminya. "Apalagi yang dia inginkan?" tanya Queen dan membuka pesan itu yang ternyata isinya jika laki-laki itu kembali ingin menemuinya. Ia bisa saja mengabaikan pesan itu dan membiarkan amarah mengerogoti manusia dingin itu tapi dirinya tak akan jadi pengecut hanya karena intimidasi saja. Saat sampai di restoran yang sama, dirinya langsung menghampiri Ken. "Langsung saja katakan apa yang Anda inginkan," ujar Queen saat tiba di samping Ken. Laki-laki itu menatap padanya dan saat melihatnya seketika raut wajahnya berubah menjadi dingin. Queen bergegas menjauhkan lengannya dari jangkauan laki-laki itu sebab ia sudah tahu jika pasti laki-laki itu akan menyeretnya lagi entah ke mana. Ia bisa melihat jika Ken mengeretakkan mulut marah saat Queen melakukan hal itu. "Katakan saja di sini." "Jika kamu tidak punya urat malu, aku masih punya dan kita akan bicara di ruang tertutup," ujar Ken menatap Queen tajam. Queen begitu kesal mendengar hinaan laki-laki itu padahal sesungguhnya ia sama sekali tak ingin berduaan saja dengannya di manapun. Tapi ia tak punya pilihan dan hanya bisa mengikuti Ken dari belakang jika tidak ingin kembali diseret olehnya. Ken kembali menutup pintu saat mereka sampai di sebuah ruangan dan Queen berbalik menatapnya menemukan laki-laki itu juga menatapnya dalam diam hingga membuat ia lumayan merasa gugup. "Jadi keputusanmu masih sama?" tanyanya. "Ya." "Baiklah, jika seperti itu dan aku harap kamu tak akan menyesalinya sebab saat kamu sudah terikat denganku maka aku boleh melakukan apa pun padamu," ujar Ken kejam. Queen terkesiap mendengarnya dan sesaat sempat memikirkan apa maksud dari ucapan laki-laki itu. 'Apa dia akan memukulku? Menyiksaku? Atau membunuhku?' batin Queen. Ken yang menyaksikan jika pasti berbagai pertanyaan berkelebat di kepala gadis itu sedikit tertawa sinis melihatnya dan dia juga tahu saat wanita itu sudah memutuskan. "Anda tak akan bisa mengancam saya," ujar Queen keras kepala. Ken hanya melihat Queen dalam diam tak menggubris ucapannya, bersedekap menatap kedua matanya yang kembali membuat Queen gugup hingga tanpa sadar ia menjilati bibirnya yang kering. Dirinya terlonjak saat tiba-tiba Ken merengkuhnya ke dalam dekapan dan memagut bibirnya. Ia bahkan tak mampu berteriak apalagi menolak karena begitu terkejut. "Apa Anda sudah gila?!" teriak Queen gusar saat Ken melepaskannya. Tapi laki-laki itu malah tertawa mendengarnya. "Jangan pikir aku tertarik padamu karena sudah menciummu. Aku hanya ingin melihat betapa murahannya dirimu dan ternyata memang sangat murahan hingga tak menolak ciuman laki-laki," ujar Ken sinis. Queen menatap Ken terperangah mendengarnya hingga kesadaran menghampirinya dan ia memandang Ken tajam merasa sangat ingin membunuhnya saat ini. 'Baiklah, Mr. Linwood jika perang yang Anda inginkan,' batin Queen. "Jujur saja, Mr. Linwood jika Anda tak pernah mencium wanita hingga wanita manapun tak masalah bahkan wanita yang Anda katakan tak ingin Anda nikah," sinis Queen membalas Ken walau sesungguhnya yang ia inginkan adalah melempar laki-laki itu dengan vas bunga. Dirinya tentu saja tak ingin masuk surat kabar dengan headline mempelai wanita membunuh calon suaminya seminggu sebelum pernikahan. Bisa serangan jantung kedua orangtuanya jika sampai hal itu terjadi. "Baiklah, aku akan menikahimu hanya agar bisa membuatmu tak bisa bersikap seangkuh ini lagi," sinis Ken menghampiri Queen kemudian mengangkat dagunya agar menatapnya. "Tapi aku tak sudi mengumumkan pada dunia jika kamu adalah istriku, jadi pernikahan ini hanya akan dilakukan keluarga besar saja," ujar Ken di depan bibir Queen. "Ya," ujar Queen seolah terhipnotis akan kedekatan mereka bahkan hinaan laki-laki itu seolah tak melewati telinganya. Ken kemudian melepaskan Queen kemudian berjalan ke meja. "Dan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku," ujarnya sambil membelakangi Queen menarik sebuah kertas dari dalam jasnya, membuka dan meletakannya di meja. "Ya," ujar Queen. "Tanda tangani," ujar Ken menyerahkan sebuah pulpen pada Queen. Queen menghampiri meja, mengambil dan membaca kertas itu. Beberapa saat kemudian ia menyadari jika itu merupakan surat pra nikah di mana Ken tak wajib memberikan apa pun padanya dan mereka akan mengurus hidup mereka masing-masing meski sudah menikah. Ke mana pun laki-laki itu akan pergi maka dia harus mengikuti dan menurutinya atau jika tak ingin maka Ken boleh menceraikannya. Ia juga tak boleh meminta apa pun milik laki-laki itu. Queen kemudian segera menandatanganinya tak ingin peduli lagi apa saja yang tak boleh dia minta dari laki-laki itu sebab memang tak ada yang ia inginkan dari laki-laki itu. "Cincin pernikahan kita adalah cincin pernikahan kedua orangtuaku." Queen mengerinyitkan kepala mendengarnya tak mengerti apa maksud laki-laki itu sebab dirinya merasa bukankah seharusnya cincin itu masih dipakai oleh Evelyn. "Boleh aku bertanya?" "Ya," timpal Ken datar. "Kenapa cincin Tante? Bukankah cincin itu masih Tante pakai?" tanya Queen dan seketika ia bisa melihat kemarahan kembali menghampiri laki-laki itu tanpa ia ketahui sebabnya. "Jaga mulutmu! Mama saya hanya satu dan rubah itu hanyalah wanita tak tahu diri juga murahan jadi jangan sekali-kali kamu mengatakan jika dia adalah mamaku atau kamu akan menyesalinya!" ujar Ken dingin. "Oh, saya lupa jika kalian berdua serupa," sambungnya sinis. "Maksud Anda apa?" tanya Queen bingung akan ucapannya. Ken begitu kesal akan akting sempurna gadis itu hingga sangat ingin membuka kedoknya sekarang juga. Tapi ia tahu tak akan semudah membalikkan telapak tangannya hingga gadis licik ini akan langsung membuka kedoknya begitu cepat. Dia kembali berjalan menghampiri Queen yang membuat wanita itu mundur menjauh hingga tertahan dinding. Ken mengurungnya di sana dengan kedua lengannya sebab dia menyadari jika gadis itu sedikit gugup jika dirinya mendekat dan dia akan memanfaatkan hal itu untuk menakutinya. "Jangan berpura-pura bodoh karena aku tahu jika wanita rubah itu yang sengaja mengirimmu padaku mengira akan bisa mengontrolku hingga bisa menguasai semuanya tapi bersiaplah sebab saat kamu menjadi milikku maka aku hanya akan memberimu penderitaan saja mulai hari itu," bisiknya di depan bibir Queen dan kembali meninggalkannya di sana. Queen yang masih merapat di dinding hanya bisa menatap heran punggung laki-laki itu. Semakin bingung akan tuduhan-tuduhan tak jelasnya hingga beberapa menit berlalu, ia baru menyadarinya jika dirinya sudah sendirian di sana. "Dasar aneh!" makinya kesal. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN