Cowok satu ini tangannya nggak bisa diam. Mau kusingkirkan tapi aku takut dia marah duh gimana ini? Kenapa masih berdeba-debar gini sih jantung. Ada apa denganmu sayang perhatian sekali? Batin Jyoti
Bersamaan dengan itu masuklah kue setinggi satu meter kehadapan mereka bertuliskan Happy 5th Wedding Anniversary.
Jyoti seperti terhipnotis, diikutinya serangkaian acara memotong kue, saling menyuapi kue. Thomas mengulurkan jempol kanannya mengusap sedikit cream yang menempel di bibir bawah Jyoti.
Deg..
Ya Tuhan aku masih menginginkan pria ini. Perhatian dan sikap posesifmu ini membuatku melayang, aku masih merindukan sentuhannya ini, dan aku berharap semua bukan harapan semu.
Apakah mungkin Jyoti masih bisa berharap terhadap Thomas dan permainan apa yang sedang pria itu serta seluruh anggota keluarga lakukan kepadanya saat ini? Pria yang menggenggam hatinya nyaris hancur berantakan sekali waktu hingga sesak meresap ke sukma.
Kemudian acara pemotongan pita peresmian hotel bersama. Thomas menggenggam lembut tangan kanan Jyoti yang memegang gunting dan tangan kirinya memeluk pinggangnya mendaratkan telapak tangannya tepat di atas perut rata jyoti, mengecup pipi kanan Jyoti sembari memotong pita peresmian. Hati Jyoti menghangat. Jyoti masih dengan patuh menerima jabatan tangan para tamu udnangan dan juga para keluarga yang hadir. Keluarga Valentina Berto, Eric Mahanta dan Davka Alsaki juga datang. Mereka adalah sepupu jauh Thomas.
Lalu mereka kembali ke bawah untuk berdansa. Jyoti berusaha menekan perasaannya akan uforia kebahagiaan yang terasa bagai mimpi ini, Thomas dan keluarganya berubah, acara yang awalnya dibilang sebagai pertunangan Juwita malah menjadi ia yang menjadi bintang utama. Juwita juga
sudah tak terlihat batang hidungnya.
Kemana dia, aku akan buat perhitungan denganmu Kak. Mungkin sebaiknya Emi aku titipkan di tempat papa. Aku butuh sendiri untuk memahami semuanya. Batin Jyoti.
Dirasakan pelukan Thomas mengencang di punggungnya. Thomas membimbingnya melantai, jago juga Thomas berdansa Waltz dan Romantic.
Thomas mengangkat dagunya dengan sebelah tangan dan masih dipatuhi oleh Jyoti. Jelas ia tidak ingin mengambil resiko membuat onar dalam acara ini. Meskipun ia sangat butuh penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Walaupunn terkesan murahan ia akan ikuti sandiwara Thomas. Thomas menundukkan kepala dan menurunkan bibirnya awalnya mengecup ringan sekecup dua kecup yang kemudian berubah menjadi lumatan mesra sebelah tangan Thomas sudah berpindah menyilang di punggung atas Jyoti kemudian menekan tengkuknya. Sehingga membuat Jyoti lebih menengadahkan wajahnya, memberikan akses kepada Thomas untuk semakin leluasa lidahnya menelusup dalam melumat rongga mulutnya.
"Kamu cantik sekali Sayang, istriku." Thomas berkata demikian sesaat setalah melepaskan pagutan bibirnya dengan selebar wajahnya bersemu merah. Kemudian Thomas kembali memagut bibir Jyoti seolah tadi belum juga cukup menyalurkan seluruh segala kerinduannya yang tertahan selama ini.
Ck yang dipuji siapa yang merona siapa.
Thomas mati-matian menahan hasrat terpendamnya yang sudah mendesak kepermukaan dan rasa bersalah itu kembali hadir dan bercampur menjadi satu.
Jyoti tersenyum lembut. Jyoti sudah membelai d**a Thomas. Tanpa sadar sebelah tangannya naik ke belakang kepala Thomas dan membelai tengkuknya lembut. Thomas mengerang lembut disela ciumannya, terbuai dengan belaian jari Jyoti.
Jyoti menggeliat mendorong d**a Thomas dan menelengkan kepalanya supaya bibirnya terlepas. Thomas melepaskan bibir mereka tetapi dahi mereka saling menempel. Nafas keduanya memburu, untungnya mereka sadar dimana mereka berada. Jyoti bukannya tidak tahu apa yang dirasakan oleh Thomas tadi tentu ia bukan gadis ingusan. Tetapi membenarkan apa yang intuisinya katakana rasanya bukan hal yang benar juga saat ini. Bisa jadi semuanya hanya candaan.
Jyoti kembali mendorong d**a Thomas,
"Sudah yuk, aku mau suapi Emi makan malam."
Thomas menjauhkan tubuhnya tetapi tidak melepaskan pelukan di pinggang Jyoti.
Emily berlari menghampiri Jyoti
"Emi juga mau dansa Mommy ya?"
"Nanti ya Emi maem dulu, ok?"
"Ok."
Jyoti merengkuh tubuh anaknya dalam gendongan kemudian berjalan menuju meja makan mereka. Thomas sudah melepaskan rengkuhan tangannya pada pinggang Jyoti tetapi tatapan setajam elangnya tak berpindah dari sosok indah itu.
"Tunggu di sini Mommy ambilkan makan ya?" Jyoti mengecup puncak kepala anaknya dan mendudukkan di samping sang pengasuh Ina.
"Mbak Ina makan dulu gih, aku urus Emi ya?"
"Iya Bu," jawabIna kemudian berlalu.
Semua gerakannya tak luput dari perhatian Thomas. Walaupun ia punya pengasuh, tetapi segala urusan anaknya terutama makanan Jyoti selalu siapkan sendiri. Thomas mengikuti Jyoti ke meja prasmanan, sesaat setelah sang pengasuh duduk di meja bersama Emily. Jyoti mengambilkan makanan untuk Emily sedangkan ia juga mengambil makannya sendiri dalam diam.
Setelah keduanya duduk kembali di meja makan. Jyoti mulai menyuapi sang anak. Thomas menyendokkan makanannya kemudian ia arahkan ke Jyoti.
"Jyo, buka mulutmu,"
Jyoti memalingkan wajahnya ke arah Thomas "eh aku bisa makan sendiri nanti," Thomas memandangnya tajam tak terbantahkan.
"Kau paling tahu kalau aku tak mau dibantah bukan," ujar Thomas sembari menaikkan sebelah alisnya.
Jyoti memutar bola matanya malas, kemudian membuka mulutnya menerima suapan dari Thomas.
"Baiklah ..."
Orang dewasa lainnya yang ada di meja bengong memandang pasangan tersebut, terutama orang tua Thomas. Setahu mereka, Thomas tak pernah mau berbagi makanannya dalam satu piring. Dengan adiknya saja dia tak mau menyuapi sedari kecil dulu.
Emily terkikik, "Yeey ... Mommy disuapi seperti Emi." Emily bertepuk tangan. Membuat Jyoti tersedak. Thomas segera mengulurkan minumnya serta menepuk dan mengusap punggung Jyoti lembut.
Setelah acara selesai, Jyoti menitipkan Emily kepada orang tuanya.
"Papa, mama Jyoti titip Emily dulu ya."
"Kamu tidak ikut kami pulang? Rencananya kami mau menginap di mansion"
"Di mansion? Sejak kapan papa punya mansion?" Tanya Jyoti. Seingat Jyoti dulu ia dinikahkan dengan Thomas karena sang ayah pailit.
"Di mansion keluarga Abundio."
"Oh ya ... Tapi Jyoti nggak ikut Emi sama mbak Ina. Jyo perlu waktu untuk sendiri bisa?" Ucap Jyoti lagi. Dia benar-benar merasa perlu 'me time' untuk memikirkan segala hal yang terjadi hari ini.
"Emi, malam ini menginap di rumah Daddy dulu ya, Nak?" perintah Jyoti ragu-ragu dan canggung. Ia berdoa semoga anaknya yang pintar tidak banyak bertanya.