BAB 5

916 Kata
"Daddy Emi? So Emi punya Daddy ya Mommy? Seperti Wayan dan Isabella?" Tanya Emily dengan matanya membulat penuh tanya ke arah sang bunda. "Iya Sayang, ini Daddy Emi," kata Thomas seraya mengusap kepala Emily dengan lembut penuh rasa sayang. d**a Thomas berdenyut hangat penuh kerinduan, sisi kebapakannya terbangun begitu saja. Ia melihat Emily seperti melihat bayangan dirinya sendiri dalam versi feminine. Emily memandang Thomas, kemudian senyumnya merekah dan gadis itu pun tertawa riang gembira. "Yeeyyy! Asik Emi punya Daddy, mbak Ina Emi punya Daddy asik." Emily tiba-tiba merengkuh Thomas yang berjongkok di sebelah kursinya. Memeluk erat leher ayahnya dan mendaratkan ciuman pada rahang Thomas. "Thank you daddy, jangan pergi lagi ya Dad," ucap Emily dengan lirih sarat kerinduan kepada sosok sang ayah, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah seraya menggosok-gosokkan hidung mancungnya di ceruk leher Thomas dengan manja. "Tentu Baby, Daddy akan selalu ada untukmu mulai sekarang dan selamanya." Thomas berbicara kepada Emily tetapi tatapan matanya mengarah kepada Jyoti dengan tajam menusuk penuh perhitungan.  Kemudian Thomas berdiri menggendong Emily dalam pelukannya. Thomas berkata "Baiklah hari ini kamu sendiri di Hotel, kami akan membiarkan kamu menikmati waktumu. Tetapi ingat jangan kabur, besok pagi aku sendiri yang akan menjemputmu ke sini," ucapnya dalam nada rendah penuh penekanan tak terbantahkan persis di samping wajah Jyoti. "Bagaimana aku akan kabur? Anakku bersama kalian," sungut Jyoti bibirnya mencebik malas. "Mbak Ina temani Emi ya?" Jyoti tidak akan gegabah membiarkan begitu saja sang buah hati tanpa pengawasannya, setidaknya ada Ina yang akan memberikan dirinya informasi di sana. "Ya Bu, Ina siapkan perlengkapan Emi dulu." "Oh ya ke mana Kak Juwita?" Tanya Jyoti Jyoti mengedarkan pandangan. Dipta dan Eva saling pandang kemudian menghela nafas berat. Jyoti melihat hal itu, memutuskan untuk menunda introgasinya. Ia tahu ada sesuatu yang masih di rahasiakan oleh kedua orang tuanya dan kakaknya yang semakin ke sini tabiatnya sungguh sangat aneh. Apakah karena ia pergi terlalu lama sehingga tidak mengetahui perubahan perangai keluarga kandungnya itu? Walaupun dalam hatinya masih penuh tanda tanya, Jyoti berusaha bersabar. Kumar Prakas dari Prakas Corporation menghampiri meja mereka. Menjabat tangan Thomas dan semua orang yang ada di sana. "Jyoti seandainya aku tahu tujuan kita sama disini. Kemarin kita bisa datang bersama ya?" sapa Kumar ramah "Iya ya," jawab Jyoti tergelak Thomas memandang interaksi keduanya dengan sebelah alisnya terangkat. "Kamu kenal dengan istriku, Kumar?" tanya Thomas sembari memeluk pinggang Jyoti protektif. Ia sengaja menekankan nada suaranya pada kata istri untuk menunjukkan dominasinya, tanda kepemilikannya terhadap Jyoti. "Kenal pake banget, baik buruknya dia luar dalam aku tahu," jawab Kumar pandangannya tak teralihkan dari wajah Jyoti. "Apa maksudmu?!" tanya Thomas dengan nada suaeanya sudah naik satu oktaf. "Jangan tersinggung Bung, aku ini salah satu sahabat istrimu sejak sekolah SMA. Kami selalu ada dalam suka dan duka. Kalau kamu mau tahu, kami memiliki bisnis bersama di Bali. Dia juga memiliki saham 40% di PT INTI SEJAHTERA yang sedang bekerja sama dengan salah satu perusahaan konstruksimu di Bali." "Oh ya?" Thomas terkesima dengan apa yang diutarakan oleh Kumar. Sepertinya ia harus mengganti detektif yang selama ini mencari tahu tentang Jyoti. Bahkan ia memiliki anak dengan Jyoti pun detektifnya tak tahu. Remasan tangannya yang mengetat di pinggang Jyoti menandakan bahwa selama lima tahun terakhir ini ia melewatkan banyak hal. "Satu lagi bung, aku tahu semua apa yang sudah kamu lakukan pada Jyoti lima tahun yang lalu," imbuh Kumar kemudian ia undur diri pada semua orang yang ada di sana. "Nak, kenapa kamu tak pernah cerita pada papa?" tanya Dipta raut wajahnya berbinar terkesima atas pencapaian putrinya. "Papa tak pernah bertanya dan itu hanya salah satu dari pencapaianku selama ini," jawab Jyoti tersenyum, ia tidak ingin menyombongkan diri dan merasa jumawa tetapi sekali-sekali sepertinya hal itu perlu juga toh selama ini ia merasa dipandang sebelah mata baik dari keluarganya maupun dari pihak Thomas, selalu saja Juwita juaranya. Yah tidak salah juga, sang kakak dulunya adalah model internasional. Sedangkan saat ini, Jyoti tidak tahu apa kegiatan sang kakak. Karena ia hanya fokus pada bisnis dan anaknya saja. "Kak Jyoti!" seru seorang wanita muda blesteran yang memakai gaun hijau zambrud menghampirinya. Jyoti tampak sumringah karena mengenali gaun yang dipakai wanita itu adalah salah satu koleksinya tahun ini. "Iya saya," ucap Jyoti sembari menyalami wanita tersebut. "Saya Dewi kak,  dua bulan yang lalu saya yang membeli gaun pernikahan dan gaun ini di Karmini Boutique pusat.” "Ah iya ... terima kasih sudah belanja ya." "Aduh senang sekali bertemu langsung dengan owner Karmini Boutique,Resort and Spa." ucap Dewi dengan ramah kemudian berpelukan dengan Jyoti dan berpamitan kemudian. Thomas melihat banyak pasang mata yang mengenal Jyoti sebagai seorang pengusaha. Dan lagi-lagi ia merasa seperti orang dungu yang tidak tahu apa-apa. Thomas  tanpa sadar menghembuskan nafas lewat mulut, kesal dan dongkol tentu saja. Ia merasa usahanya selama ini demi mencari keberadaan Jyoti sia-sia. Apalagi suami sepupunya juga tidak mau repot-repot membantunya. Ia tahu benar kesalahannya bisa saja tidak termaafkan, tetapi ia egois tentu saja dan tidak akan tinggal diam jika sampai Jyoti meninggalkannya, lagi. "Sebenarnya usaha apa saja yang kamu tekuni di Bali Jyo?" Tanya Yvonne. Yvonne tak bisa menyembunyikan ketertarikan dan rasa bangganya terhadap menantunya ini. Jyoti menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa tak enak hati dilihat oleh sejumlah keluarga besar yang sudah berdiri mengerumuni meja mereka. Wajahnya mulai memerah tersipu malu. "Emmm itu.. selain bergabung dengan usaha konstruksi Prakas Corporation Jyo punya usaha butik, resort dan spa di lima tempat di Bali," terang Jyoti meringis. "Astaga sukses sekali kamu Dek," ucap Valentina Berto mengacungkan kedua jempolnya ke arah Jyoti. Anggota keluarga yang lain mengucapkan selamat dan berbasa basi jika akan ke tempat Jyoti jika ke Bali, bahkan ada yang sudah pernah berbelanja dan menginap di salah satu resortnya. Jyoti melirik Thomas sedang memangku Emily yang sudah tertidur. Tatapannya bertemu dengan manik mata Thomas yang tajam tak terbaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN