Jyoti memasuki kamar hotelnya, melepas gaunnya dan masuk ke dalam bathtub yang tadi sudah ia siapkan terlebih dahulu dengan air hangat dan aromaterapi.
Sembari berendam pikirannya mengembara saat pertemuan pertamanya dengan Thomas yang akhirnya membuatnya bisa jatuh cinta pada pria itu.
Saat itu Jyoti berusia lima belass tahun. Ia mengalami kecelakaan karena terserempet sepeda motor saat bercanda dengan temannya di pinggir jalan raya dekat sekolahnya.
Kepalanya terantuk pinggir trotoar, secara tak sengaja Thomas sedang melewati jalan tersebut. Saat ia melihat banyak kerumunan orang ia menepikan kendaraanya karena merasa mengenali Jyoti sebagai adik Juwita Thomas membawanya ke rumah sakit, ia juga yang mendonorkan darahnya untuk Jyoti.
Karena hal tersebut, Jyoti merasa hutang budi kepada Thomas.
Seiring waktu berlalu, Jyoti sering bertemu Thomas yang ternyata berpacaran dengan Juwita kakaknya. Walau begitu rasa kagumnya lama kelamaan berubah menjadi rasa cinta terhadap pria karena keramahan Thomas. Setiap pulang mengantarkan Juwita sehabis kencan, Thomas selalu tak lupa memberinya oleh-oleh.
Puncaknya adalah saat ia menjadi pegawai magang di salah satu cabang usaha konstruksi milik keluarga Thomas. Kebetulan Jyoti mengambil jurusan Teknik sipil sehingga ia sering bertemu dengan Thomas di lapangan. Kebaikan dan perhatian Thomas kepada anak buahnya menjadi nilai tambah di mata Jyoti.
Entahlah itu dinamakan cinta atau hanya sekedar kekaguman. Jyoti sudah berusaha menekan rasa itu, ia sadar Thomas menjalin kasih dengan kakaknya. Hingga suatu hari di sisa akhir masa magangnya. Jyoti dipanggil ke kantor direktur menghadap Thomas.
"Jyo, kamu dipanggil Bos besar ke ruangan sekarang," ucap Bu Yunda pegawai bagian HRD.
"Baik Bu," jawab Jyoti. Ia bergegas ke ruangan direktur yang berada di lantai lima. Jyoti belum pernah naik ke lantai ini karena bilik kerjanya berada di lantai dua dan ia lebih sering berada di lapangan mendampingi pak Tomo.
Jyoti segera mengetuk pintu ruang kerja Thomas karena sekertaris pria tersebut tidak terlihat di tempatnya.
"Masuk," suara bariton itu mengalun berwibawa.
Klek...
Jyoti berdiri di antara pintu dan meja kerja sang bos. Berhadapan dengan bosnya yang berdiri menghadap jendela sembari mengawasi proyek yang kebetulan disebelah gedung kantor mereka. Memakai setelan jas berwarna biru tua dengan kemeja putih dan dasi biru muda. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Surai hitam yang disisir ke belakang rapi. Wajah dan tubuh bak patung dewa Yunani. Dengan tinggi 185cm dan berat sekitar 80kg, Siapa yang tidak tergiur dengan penampakan bosnya ini. Jas yang dipakai pun tak bisa menutupi keindahan lekuk tubuhnya.
"Bapak memanggil saya?" tanyanya lembut. Jantungnya berdebar- debar, mencoba meredam kepanikan yang muncul setiap berdekatan dengan Thomas. Mendengar suaranya saja Jyoti senangnya bukan main. Pipinya bersemu merah. Jyoti tahu Thomas adalah pacar Juwita kakaknya tetapi ia tak bisa atau belum bisa menepis rasa itu. seberapa keras pun ia sudah berusaha, terlebih sekarang hanya berdua dalam ruang kerja pria itu.
Thomas membalikkan badannya berjalan ke arah Jyoti kemudian bersandar di ujung mejanya sembari melipat tangannya di depan d**a. Menatap Jyoti lekat-lekat dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Kenapa mukanya begitu sih? Emangnya aku bikin salah ya? Nggak pernah dia senyum sama aku kalau sama yang lain dia ramah. Jyoti hanya memperhatikan dalam diam. Jyoti menelan salivanya kasar.
"Bagaimana magang di sini betah? Pasti betahkan? Karena banyak pria tampan di sini?" tukas Thomas menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Dengus nafasnya kasar. Itu bukan pertanyaan tetapi menyerupai pernyataan.
Ck ini orang tanya sendiri jawab sendiri. Batin Jyoti sembari mengernyitkan dahinya.
"Ehhm … Betah Pak, tapi bukan karena banyaknya pria tetapi memang bidang saya di teknik sipil," jawab Jyoti.
"Dengan berpakaian seperti itu, kamu pikir tidak membuat para pria melirikmu bahkan menatapmu dengan terang-terangan," terang Thomas.
Jyoti menatap tampilan dirinya sendiri. Yang saat itu memakai kemeja putih lengan pendek yang sedikit ketat, selama kain warna khaki dan sepatu pantofel berwarna coklat tua.
"Saya rasa penampilan saya cukup sopan Pak, kancing kemeja saya juga pada tempatnya," ucap Jyoti menunduk memperhatikan penampilannya menggoyang-goyangkan pinggulnya sebentar. Jyoti berpikir membandingkan dirinya dengan sekretaris Thomas yang berpakaian minim dan ketat sehingga payudaranya seperti mau terlepas keluar. Jyoti jelas lebih sopan dalam berbusana. Masa iya, ke proyek pake gaun ketat atau pake daster mbok Darti yang kedombrengan Aya Aya wae.
"Begitu ya." Ucap Thomas dengan menggosok rahangnya sendiri dengan satu tangan.
"Berapa lama lagi sisa magangmu?"
"Satu Minggu lagi Pak."
"Bagus mulai besok dan sampai masa magangmu berakhir kamu jadi asisten pribadiku." Jyoti mendelik berusaha memasang telinganya baik-baik dan mencerna perkataan Thomas barusan. Jyoti merasa Thomas pasti hanya membual.
"Lho kok begitu? Nanti Kak Juwita cemburu bagaimana? Lagi pula basik saya ‘kan teknik," Jyoti paham betul jika kakaknya itu pencemburu dan ia jelas tidak ingin mencari masalah dengan sang kakak yang memang gampang tersulut emosinya.
"Aku bosnya di sini, urusan Juwita gampang. Tugasmu hanya mengikuti perintah, kalau kamu tidak ingin nilaimu jelek," ujar Thomas tegas sembari menunjuk ke arah Jyoti
"Baiklah pak Bos," ucap Jyoti sembari menghembuskan nafas berat.
"Kamu temui Ayu di depan minta jadwal tugasmu."
"Baik Pak, saya permisi."
Thomas memandang kepergian Jyoti dengan raut muka datar. Pandangan matanya menyiratkan sesuatu yang tidak di mengerti oleh Jyoti. Tetapi jelas Jyoti menyadari hal itu, tetapi ia tak ingin repot-repot untuk mencari tahu.
Kelakuan Thomas yang semakin hari semakin mengganggu harinya, bahkan di luar jam kerja. Bahkan Thomas mengantar dan menjemput Jyoti bekerja, mengharuskan Jyoti makan siang bersama walaupun Thomas makan siang bersama Juwita bukan dengan cliennya, itu menimbulkan kecemburuan Juwita jadi Jyoti sering kali kena marah di rumah. Seberapa keras Jyoti menolak menemani semakin ketus kata-kata Thomas. Kadang kala Thomas bahmkan memerintahkan Jyoti untuk mengikuti perintahnya sampai larut malam, Thomas bahkan berjanji memberikannya gaji dan bonus. Jyoti senang saja, karena dengan begitu ia bisa memberikan donasi kepada anak-anak terlantar pada yayasan yang dipimpin oleh Valentina
Lamunan Jyoti terganggu dengan perubahan suhu air di bathtub yang mulai mendingin.
Ia segera bangkit seraya mengeringkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.