Ijin ke Korea

1547 Kata
**Reya POV** . . . Korea kini menjadi kata yang terus teringat dalam otak. Membayangkan bagaimana aku berada di sana bersama Yunki. Salah satu tempat romantis menurutku selain menara Eiffel. Meski Yunki sering memperingatkan jika Korea mungkin saja tak seindah dalam drama. Namun menurutku, di sana akan menyenangkan. Karena, aku bersamanya. Pertanyaan Yunki memintaku untuk ke Korea sangat mengganggu pikiran. Dan sialnya aku telah setuju dengan permintaannys. Gilanya sebuah rindu bisa membuatku berkata 'iya' tanpa perhitungan yang matang. Sebenarnya, saat ini memang waktu yang tepat. Karena—sebentar lagi adalah libur setelah pengambilan raport semester awal. Namun kini aku berpikir, apa orang tuaku akan mengijinkan? Jika aku pergi bersama seorang teman, mungkin mereka setuju ... tapi, saat ini aku akan pergi sendiri. Pasalnya, selama ini aku selalu diantar papa atau ojek online. Aku sering sekali lupa jalan. Meski sudah beberapa kali ke suatu tempat. Menyebalkan memang. Selesai makan malam aku berjalan ke ruang tengah melihat mama yang sedang duduk bersama Papa. Mereka berdua asik menyaksikan drama Korea. Aku tertarik menonton drama awalnya juga karena Mama dan Papa drama yang pertama kali ku tonton adalah "stairway to heaven". "Ma." Mama menoleh, kemudian bertanya, "kenapa Mbak?" "Kalau aku pergi ke Korea, pas liburan pengambilan raport besok—boleh nggak?" Tanyaku takut-takut. "Tanya Papa." Jawab mama terdengar seperti penolakan yang halus. Papa menghela napas, melirik dengan tatapan tak suka. "Memang uangnya ada?" Aku mengangguk, aku telah menyiapkan sebagian. Dan Yunki akan meminjamkan uang. Aku harap bisa dengan cepat menggantinya. Aku tak ingin menerima meski Yunki mungkin tak ingin aku menggantinya. Tak ingin dianggap sebagai penguras uangnya. Aku tak tau tatapan orang jika ada yang tau ini. "Pasport, visa emang sudah di urus?" Papa bertanya lagi. "Aku mau urus besok kalau Mama sama Papa bolehin." Papa dan Mama saling melirik dan saling menaikkan bahu masing-masing. "Boleh nggak?" tanyaku lagi. "Aku janji nggak macem-macem. Aku janji bisa jaga diri, ma ... Pa ...?" Aku memohon agar diberikan ijin. Sungguh aku benar-benar ingin melakukannya kali ini. Hitung-hitung ini adalah liburan. "Kalau Mama nggak apa-apa kamu udah gede. Harus bisa tanggung jawab sendiri." jawaban mama membuatku bersorak dalam hati. Terima kasih mama karena telah mempercayai anakmu yang cantik ini. "Ya udah." timpal papa terdengar menyetujui dengan terpaksa tapi—papa setuju kan? Jawaban mama dan papa melegakan juga membuatku senang tentu saja. Malam ini aku akan memberitahu Yoongi bahwa aku akan ke Korea. Aku harap ia akan senang, atau akan merepotkan Yunki? Aku juga mempunya teman yang bekerja di Korea. Kami masih sering berkomunikasi melalui chat di w******p atau KakaoTalk. Namanya Ari, temanku yang kini menjadi tenaga kerja Indonesia. Ia bekerja di salah satu restoran Halal di Korea. Sudah beberapa tahun. Aku harap akan bertemu juga dengan temanku itu. *** Hari awalnya berjalan begitu lambat. Aku ingin waktu berjalan cepat. Selama itu aku membayangkan bagaimana rasanya berasa di Korea, apa yang mungkin akan aku lakukan bersamanya. Aku rasa cukup berjalan bersama di pinggiran sungai Han akan menyenangkan. Tau dan paham betul dengan status kekasihku itu. Mungkin aku akan sulit bertemu dengannya. Paling tidak aku bisa merasakan menghirup udara yang sama dengannya. Merasakan negara dimana ia tinggal selama ini. Itu cukup untukku, sungguh. Malam ini malam yang lama aku tungu. Aku merapikan pakaian bersama indah yang sedari tadi sibuk berpesan mirip seperti mama, tapi indah lebih galak daripada mama. Sejujurnya, ia lebih mengerti dan mengenalku dibanding mama. Indah bahkan bisa tau suasana hatiku hanya dengan melihat ketikan pesanku. "Pakai nih mantel bulu gue ya? di sana 'kan dingin lagi musim gugur. Minta beliin Yunki lo, penghangat. Jangan lupa bawa kalau kemana-mana. Terus, jangan makan pedes sama ngopi terus lo. Awas aja lo pulang dalam keadaan sakit," pesan Indah sambil memasukkan pakaian milikku ke tas. "Iya emak," sahutku sambil terus menganggu. Mengiyakan semua ucapannya. Indah menatap serius. Tatapannya mengintimidasi. "Jangan macem-macem." Penuh penekanan ia ucapkan. Aku paham maksudnya, dan tak mungkin aku macam-macam. "Iya tenang aja, gue 'kan udah gede bisa jaga diri bep," ucapku coba menenangkan. "Justru karena kalian udah pada gede gue khawatir." Ia berujar seraya menghela napas. "Besok berangkat jam berapa?" "Jam 11 siang bep," jawabku sambil menutup koper yang akan aku bawa besok. "Aduh rasanya kek mau melepas anak gadis gue deh," kata-katanya membuatku tersenyum senang, bersyukur juga terharu mempunyai teman seperti Indah Siapa yang tak ingin mempunyai sahabat yang mampu mengerti dirimu dalam berbagai hal. Mungkin Indah adalah salah satu kebahagiaan yang Allah berikan dan lupa aku syukuri. Bahwa aku memilik sahabat terbaik. Malam hari aku segera beristirahat. Besok aku pastikan aku sehat selama perjalanan. Baru saja akan memejamkan mata sampai ponselku berdering, Yunki. "Yeoboseyo? Assalamualaikum?" "Waalaikumsalam, kau sudah tidur?" "Belum, kau?" "Aku baru saja akan menuju lokasi wawancara terakhir. Di sini pukul sepuluh siang." "Di sini sudah pukul sepuluh malam Yunki-ya." Perbedaan waktu Jakarta dan Amerika adalah dua belas jam. Sementara aku bisa mendengar suaranya yang mengantuk. "Kau mengantuk?" tanyaku. "Hmm, sedikit. Tak masalah, aku akan minum kopi nanti. Kau membawa jaket dan mantel tebal?" "Aku sudah membawanya." "Bagus, aku akan menyiapkan penghangat, juga beberapa mantel lain nanti. Hmm?" "Ndee." sahutku sedikit ku buat imut, karena aku belum mendengar ia tertawa. Ia terkekeh, setelah mendengar jawaban ku. "Baiklah, kalau begitu istirahat. Kita bertemu nanti. Bye." "Bye ...." *** Malam seolah berlalu begitu cepat, aku di antar Raya ke Bandara. Mama dan papa tak bisa ikut. Aku memang melarang mereka karena takut kelelahan. Raya membawa koper selama perjalanan menuju ruang tunggu, ia juga banyak berpesan sungguh aku merasa layaknya anak kecil yang baru pertama kali pergi sendirian. "Ati-ati ya mbak." Mungkin hari ini akan menjadi hari yang paling bersejarah yang dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku melangkah keluar rumah perjalanan jauh tanpa ditemani papa. Let's go Reya! . . . **Reya POV end** *** * *Yoongi POV** . . . Aku baru saja akan tidur saat mendengar panggilan dari ponsel. Aku segera menerima setelah melihat Reya yang menghubungi. "Assalamualaikum chagi," sapaku sedikit ber-aegyo karena ia suka jika aku melakukannya. "Waalaikumsalam chagi, kau sudah tidur?" "Sebelum menerima panggilan aku berniat tidur. Setelah mendengar suaramu aku tak ingin tidur. Kau merindukanku?" tanyaku meledeknya. Sementara aku bisa melihat Jin Hyung menggeleng mendengar pembicaraan kami. Aku hanya menaikkan alis. Aku rasa harusnya ia juga menghubungi gadis yang ia sukai. Aku rasa itu juga ungkapan kegelisahan lelaki yang masih sendiri meski memiliki gadis idaman. "Aku mengganggumu?" "Ani, sejak kapan kau jadi pengganggu? Katakan bagaimana harimu?" Aku tak tau mengapa, tapi— bagiku mendengar Reya menceritakan kegiatannya menjadi rutinitas yang tak bisa aku lewatkan. Aku senang seolah aku dibutuhkan, dihargai, dan diinginkan. Pria juga butuh rasa seperti itu. Meski banyak sekali wanita mandiri saat ini. Namun, ingatkah pria di sisi kalian. Mereka adalah sandaran. "Aku seperti biasa, mengajar dan hari ini anak muridku menangis karena bertengkar tanpa sengaja ia menusuk tangan temannya dengan pensil." Gadisku ini selalu ekspresif jika menceritakan tentang murid-muridnya. Apa ia juga akan seperti ini jika membicarakan tentang anak kami kelak? Aish Lim Yunki apa yang kau pikirkan? "Mana mungkin itu tak sengaja?" Aku bertanya, tentu saja mana ada tindakan kejam seperti itu yang tak disengaja? Dia terlalu polos untuk memikirkan semua anak-anak itu tak punya niat menyakiti. "Tentu saja itu tak sengaja, anak-anak tak punya keinginan menyakiti orang lain." "Jinjja? Kau ingat ada anak berumur 9 tahun yang menjadi pembunuh berantai di India?" "Aah! Lim Yunkii, jangan berkata hal semacam itu. Mengerikan! anak muridku semua anak baik. Aish, menyebalkan!" Aku terkekeh mendengarnya kesal menyenangkan sekali membuat kekasihku ini kesal. "Aigo, apa kau marah dan membuat pipimu mengembung noona?" "Ish, baiklah aku memang lebih tua darimu. Tidurlah jaljja !" kesalnya dengan nada malas yang menyenangkan sekali. "Chagi, berhenti bersikap menggemaskan." "Aku tak akan ke Korea. Tak akaaan!" Tunggu mengapa ia membahas ke Korea? "Kau akan ke Korea? Hmm? Orang tuamu mengijinkan?" Ia tak menjawab menyebalkan sekali. Sekarang aku yang dibuatnya kesal. Sungguh aku sangat senang jika Reya bisa datang ke sini. Aku akan membuatnya bersenang-senang dan menjamunya dengan baik sama seperti dirinya yang memperlakukan aku dan Shin Hyung dengan sangat baik. "Nde mereka mengijinkan, tapi aku tak ingin karena kau. Menyebalkan!" "Ahhh, benarkah? Jangan sampai kau menangis dan mengatakan, 'Yunki-ya bogosipo, hix hix'. Aigo, aku tak akan lupa itu." Aku meledeknya masih teringat jelas bagaimana ia menangis karena merindukanku yang terpaksa pulang lebih cepat. Tut Tut Tut . Dia mematikan panggilan, aish menyebalkan. Tak pernah mau mengakui jika ia melakukan itu, tak bisa mengatakan cinta padaku jika aku tak memaksanya. Tsundere, ckckck menyebalkan dan menggemaskan dalam waktu yang bersamaan. Salah satu alasanku mengapa aku selalu suka menggodanya. Aku kembali menghubungi Reya, "Wae?!" sapanya kesal. "Aigo, si pipi tomat ku apa kau marah? Reya yasmitha menggemaskan sekali. Hmm?" "Berhenti beraegyo! Aku akan ke Korea dan mengigit tanganmu." "Baiklah, aku akan menunggumu melakukannya. Segera datang kemari aku sangat merindukanmu." ** Waktu berlalu begitu cepat hari ini aku dalam perjalanan kembali ke Korea setelah menghadiri Billboard music award. BTL memenangkan penghargaan, hal yang membanggakan tentu saja. Dan ini semua terjadi karena AMMY yang selalu ada dan mendukung musik kami, saranghae AMMY! Reya juga dalam perjalanan menuju Korea, aku harap kami akan segera bertemu. Meski ia hanya satu minggu berada di sini. Aku ingin ia lebih lama sebenarnya, tapi Reya tak bisa. Ia harus segera kembali mengajar. Aku harap satu minggu cukup untuk menghapus rindu. Aah, meski aku ragu. Aku ingin segera kembali sungguh, rasanya tak pernah rindu Korea serindu ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN