Rindu

1096 Kata
***Reya POV*** . . . Hari ini. Hari di mana rindu di mulai. Ketika jarak menjadi alasan tak dapat saling menyapa dan berjabat hangat. Sepertinya baru kemarin Yunki tiba. Sekarang kami sudah berada di waktu dan tempat yang berbeda. Sungguh, aku bahkan ingin menangis saat perjalan pulang mengantarnya ke bandara. Sementara pagi tiba begitu cepat. Masih merasa sedih sejak kemarin padahal, saat bersamanya aku bertingkah baik-baik saja. Aku bahagia karena ia terpaksa kembali untuk kegiatan besar yang akan membuat ia semakin terkenal. Yunki terus bertanya, apa aku baik-baik saja? kemarin, aku tak ingin ia terbebani karena, harus pulang lebih cepat. Bibirku terus berkata tidak apa-apa, tapi dalam hatiku lain. Aku benar-benar ingin ia lebih lama di sini. Aku tau ini egois, cinta memang terkadang membuat orang menjadi egois. Namun, untuk Yunki ku simpan rapat-rapat egois ku. Aku ingin ia bisa menuntaskan kewajibannya dengan baik. Hari ini aku mengajar seperti biasa, setelah mengambil. Libur agar visa bersama Yunki. Hari ini seperti biasa. Tak ada yang sepesial semua berjalan dengan lancar. Hingga kini tiba saatnya pulang. Aku masih duduk dan telah selesai merapikan meja dan tas bersiap pulan. Tinggal menunggu Indah yang tengah sibuk membereskan tas miliknya. Ia lalu berjalan menghampiri, kemudian duduk si sampingku. "Lo kenapa sih? Bete gara-gara liburnya nggak jadi lama?" tanyanya. "Sedih aja Yunk ke sini tapi, nggak bisa sesuai keinginan," keluhku yang akhirnya aku luapkan. "Gue pikir, gampang buat di jalanin tapi, susah ternyata." Awalnya terasa mudah, mungkin karena awalnya kami belum pernah berjumpa. Tak kurasakan bahagia yang luar biasa saat kami bersama. Aku tau kini benar kata orang jatuh cinta memang bagai candu. "Hmm, yang katanya ikhlas dan kuat? Kan gue bilang juga apa. Nge-ikhlasin itu nggak semudah lo buang angin." Aku mengangguk, entah mengapa ucapan Indah yang harusnya biasa saja membuatku kesal. "gue balik ah." "Eh? Bep, lo bete beneran?" tanya indah seraya berjalan mengikuti. Aku berjalan menyusuri taman sekolah yang mulai sepi. Masih cukup banyak orang tua siswa yang berada di sana dan saling berkumpul. Aku berjalan dengan sesekali membalas sapaan. "Lo mau langsung balik?" Indah yang kini berjalan bersamaku. "Iya." jawabku singkat. aku ingin segera pulang dan menghubungi Yunki. Aku ingin tau bagaimana keadaannya saat ini. Aku rasa ia sudah tiba di Korea. "Ayo temenin gue makan sianh. Gue beliin mi ayam deh mau nggak?" tawar Indah, saat ini ia menatapku dengan penuh harap. "Gue nggak mood makan. Gue temenin aja tapi nggak makan ya?" "Mending nggak usah kalau kaya gitu." ujarnya kesal lalu berjalan mendahulu. Aku sedikit berlari mengejar sahabatku itu, sejujurnya aku sedikit merasa bersalah. Masalah perasaanku harusnya tak membuat diriku bersikap buruk pada orang lain. "Oke kita makan mi ayam, kuy!" ajakku. "Lo makan kan?" Tanyanya. "Iyaaa, traktir kan?" Indah menatapku penuh selidik sebelum kami melangkah keluar sekolah. Aku tersenyum dan meyakinkan bahwa aku tak berbohong. Kemudian kami terkekeh bersama. Tak butuh waktu lama bagi aku dan Indah untuk sampai di warung makan mi ayam favorit kami. "Dua Bu biasa," pinta Indah dan kami bergerak untuk duduk di tempat andalan. Yang berada di sudut sehingga aku dan Indah bisa asik bersandar pada tembok. "Jiji gimana bep?" yanyaku menanyakan kabar si bungsu anak dari itu "Jiji sama nyokap, lagi nginep dia." "Zha nggak ikut?" Tanyaku. "Nggak bep, Zha nggak mau ke rumah neneknya nggak tau gue kenapa. Lagian kalau mereka berdua berantem terus kesian gue sama Jiji, di nakalain kakaknya terus," jelas Indah. Indah saat ini lebih muda dua tahun dariku ia adalah adik kelas. Tetapi, jodohnya datang lebih cepat sehingga ia menikah lima tahun yang lalu. Dan kini memiliki dua orang anak perempuan yang sangat cantik Zha 4 tahun dan Jiji 2 tahun. Indah tak kalah cantiknya tubuhnya mungil, wajahnya tembam, matanya bulat, dia juga idola anak laki-laki di kampung dulu. "Biasakan bep kalau anak cewek sama-sama suka gitu, berantem terus." Indah mengangguk. ",Terus hubungan lo sama Yunki gimana?" tnya Indah tiba-tiba. "Gimana, gimana?" "Ya kelanjutannya? lo mau pacaran aja atau gimana? Terlepas dari dia idol, gue berharap lo punya hubungan yang jelas bep." Indah berucap serius. Aku sendiri, tak memikirkan itu, aku tau ini masalah usia dan aku memang tak lagi muda. Tak pantas bermain dengan urusan perasaan. Namun, aku sendiri tak bisa memaksa Yunki saat ini. Masalah seperti ini bukan hanya tentang masalah usia kan? Banyak yang harus dipikirkan. "Gue bilang bakal nunggu Yunki." "Sampai kapan? Yakin sanggup?" yanya Indah lagi. "Gue nggak mau lo kaya dulu lagi. Nunggu dan berharap akhirnya lo sendiri yang sakit." "Insyaallah nggak bep," jawabku. Entah, aku tak ingin berpikir apapun saat ini. Aku hanya ingin mejalani dan merasakan bahagianya jatuh cinta. *** Setelah makan siang aku segera berjalan pulang setelah sholat dan berganti pakaian aku segera berjalan cepat ke kamar. Dengan segera menghubungi Yunki. Aku membuka ponsel. Rupanya ia telah menghubungiku terlebih dahulu dua puluh menit yang lalu. Aku kembali menghubungi kekasihku itu. "Assalamualaikum," sapanya bahkan mengikuti nada bicaraku. Sementaraaku bisa mendengar suaranya yang serak. "Waalaikumsalam, kau sakit?" "Tidak, aku hanya baru saja bangun. Lalu aku menghubungi ponselmu. Aku pikir kau masih mengajar, jadi aku tidur lagi sebentar." Aku terdiam entah apa alasannya tapi dadaku terasa sesak dan aku sangat ingin menangis. Tapi, tak boleh seperti ini harusnya aku tak bersikap seperti ini padanya. Sial, hatiku terasa aneh sekali. Sedih yang terlambat, padahal sudah menangis semalaman. "Chagiya, kau baik-baik saja?" Aku terisak, sungguh demi apapun ini menyebalkan. "Yunki-yaa maafkan aku. Aku akan menghubungimu nanti." "Andwe! Jangan matikan. Katakan padaku apa yang terjadi, hmmm?" Aku menghela napas. Ini benar-benar memalukan. "Aku tak tau, tapi,saat kau bicara aku langsung ingin menangis." "Kau rindu padaku? Kau ingin lebih lama bersama? Hmm?" Aku mengangguk meski Yunki i tak melihat. Iya aku tau aku egois, maafkan aku. "Chagiya, jangan menangis hmm? Ayo kita bersama lagi nanti. Bagaimana kalau kau ke Korea? Aku akan meminjamkan uang dan kau bisa menggantinya, bagaimana? Aku masih akan menjalani empat bulan sebelum comeback. Akan ada banyak waktu senggang, hmm?" Tawaran Yunki membuatku ingin segera menyetujui itu. Aku ingin kembali bersama. Tapi, apa tak masalah? Bagaimana jika akan ada yang mengetahui hal itu? "Aku ingin tapi ...." "Baik, kalau begitu jangan berpikir apapun. Kau tau aku akan menghadiri acara Billboard di Amerika. Kau bisa datang sebelum aku kembali. Aku akan meminta kakakku untuk menjemputmu. Kau ke Korea saat aku kembali ke Korea." "Yunki-yaa." Aku yakin sungguh, ini memang bukan pelarian, hanya sebuah libur tambahan. Andai Yunki bukan idol mungkin semua akan lebih mudah. "Aku akan urus semua. Reya-aa bisa kau datang sesuai dengan apa yang ku katakan? Aku juga masih ingin bertemu denganmu. Hmm? Katakan iya, aku mohon ...." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN