Perubahan Rencana

1421 Kata
**Yunki POV** . . . Hari ini menyenangkan menghabiskan waktu bersama Reya mengenal hal-hal baru di Indonesia. Aku rasa aku tak akan berhenti makan jika berada di sini. Lima hari ini membuat Reya juga semakin terbuka padaku. Sikapnya tak menunjukkan jika ia sedang menjaga jarak denganku. Aku tak tau bagian mana dari dirinya yang membuatku bisa memberikan hatiku. Namun, jelas jika aku jatuh cinta pada gadis berkerudung itu. Sikap, senyum, cara bicara, semua seolah bisa membuatku bahagia lalu tersenyum. Suasananya Jakarta cukup panas bagiku, aku memang tak suka cuaca dingin aku juga tak terlalu menyukainya cuaca panas yang membuatku berpeluh terlalu banyak. Yang aku sukai saat berada di sini adalah keramahan yang sedikit banyak bisa aku rasakan. Saat aku berada di rumah Reya, ia banyak berinteraksi dengan sekitar. Berbicara, menyapa, tersenyum dan itu menarik diriku semakin dalam dan jatuh cinta pada kekasihku itu. Sebagai idol sudah lama aku tak memiliki waktu seperti ini. Lima tahun seolah berlalu begitu saja. Bukan berarti tanpa kesan, hanya saja terkadang aku ingin mencoba menjalani semua tanpa embel-embel idol, artis atau apapun. Aku hanya ingin menjadi aku yang menikmati hembusan angin, terpaan hujan dan cahaya matahari tanpa eluan orang sekitar. Aku ingin menjadi Lim Yunki seorang pria biasa yang menikmati kehidupannya. Dan aku merasakan itu di sini bersama orang yang menarik atensiku. Cukup lelah setelah kembali, hingga aku merebahkan tubuh dan cukup lama untuk bersantai. Aku mengambil ponsel dan menghubungi Namjun untuk sekadar menanyakan keadaannya dan yang lain. Tak lama sampai ia menerima panggilan. "Yeoboseyo?" Sapaku. "Hyung, kau harus segera kembali ke Seoul." "Wae?" "Kau tau kita di undang ke Billboard music award? AMMY luar biasa, kau bisa bayangkan Hyung? Billboard?" "Benarkah?" tanyaku bingung sejujurnya aku tak memperhatikan berita apapun semenjak datang ke Indonesia. "Nde, segera kembali. Kita harus mempersiapkan banyak hal. Jangan lupa bawakan kami oleh-oleh, eoh?" Permintaan Namjun disahuti sorakan setuju oleh yang lain. Aku bisa mendengar semua dengan jelas. "Aku akan kembali lusa. Aish, bisakah menunggu seminggu lagi?" Sejujurnya aku belum rela meninggalkan hariku bersama Reya. "Tak bisa Hyung, kau tau kita akan tampil di sana! BTS akan tampil di Billboard?!" Aku bisa mendengar yang lain bersorak. Aku—bukan tak bahagia. Senang, bahagia dan bangga sungguh hanya saja aku masih tak mempercayai apa yang aku dengar. Ini terlalu luar biasa. Tapi, di sisi lain aku masih ingin merasakan banyak hal baru bersama Reya. "Baiklah, aku akan kembali lusa. Aku harus mengatakan dulu pada kekasihku." "Aish, baiklah ... Kami mengerti." Aku mematikan panggilan setelahnya. Seharusnya Shin Hyung memberitahu, apa ia juga belum mengetahuinya? Setelahnya pikiran akan kembali lebih cepat membuat aku sulit tidur. Aku tau Reya mungkin tak akan mempermasalahkan ini. Hanya aja, aku ingin bersamanya lebih lama. Karena, entah kapan aku bisa ke Indonesia lagi dengan lancar seperti hari ini. Sepanjang malam pikiranku melayang. Aku tidur dini hari, lalu paginya kembali terbangun. Aku akan menyambut Reya. Aku ingin kami menghabiskan hari terkahir di sini. Aku harap kami bisa bertemu secepatnya. Segera mandi dan berganti pakaian, sudah pukul delapan. Biasanya Reya akan datang pukul setengah sembilan atau jam sembilan. Aku menunggu dengan sedikit gelisah, sementara waktu terasa begitu lama. Saat itu pintu di ketuk, aku yakin itu kekasihku. Segera melesat membuka pintu. Melihat ia dengan dress terusan peach, dengan nuansa floral. Ia cantik sekali dengan hijab abu-abu polos juga sepatu sneaker putih. "Assalamualaikum," sapanya riang. "Waalaikumsalam." Aku mengajaknya berjalan masuk. Ia segera duduk di tempat biasa. Kursi di dekat kaca, mengeluarkan makanan yang telah ia bawa. Ia tersenyum. "Ayo makan." Aku berjalan menghampiri, ia memberikan salah satu kotak berwarna hitam. "Apa ini?" "Nasi uduk, ini ayam gorengnya, aku membuat sendiri. Cobalah." Tangannya bergerak merapikan rambutku. "Rasanya baru kemarin aku memotong rambut mu. Mengapa ini sudah sampai matamu lagi?" Aku tak menjawab, hanya tersenyum dan menyantap sarapan pagi ini. "Aku dengar BTL akan datang ke Billboard?" Ia bertanya dengan tatapan binar ceria yang bisa aku artikan ia bahagia. Aku mengangguk, lalu menghentikan kegiatan sarapan pagi ini. Ku teguk air mineral sebelum mengatakan apa yang aku dan Namjun bicarakan semalam. "Reya, karena itu aku terpaksa kembali malam ini." Ia terdiam sesaat mungkin, terkejut. "Kau harus latihan ya?" Aku mengangguk. "Berikan ini pada Manajer Shin." Ia menyerahkan kotak yang lain. Aku mengangguk lalu melangkah menuju kamar Shin Hyung. Aku menekan bel, dengan segera ia membuka. Pagi ini ia telah rapi. "Sarapan Hyung," ucapku seraya menyerahkan kotak makan. "Kita kembali malam ini, pukul sebelas malam." "Kau sudah mengetahuinya?" "Tentu, siapkan semua. Hmm? Nikmati harimu bersama Reya." Aku mengangguk dan kecewa tentu saja. Berjalan kembali ke kamarku. Reya masih duduk dan memainkan ponselnya. Ekspresinya tak berubah. Seolah ini sama sekali tak jadi masalah untuknya. Aku kembali lalu duduk dan sarapan. Entah apa yang akan aku lakukan hari ini. "Jadi kita akan pergi kemana hari ini?" "Kita di sini saja. Nikmati hari berdua. Setuju?" Aku anggukan kepala tanda setuju. Selesai sarapan kami bermain game online bersama permainan ini seperti menggembalakan domba. Siapa yang paling banyak masuk, itu yang menang. Dan pemilik tempat harus menghalangi domba yang masuk. Juga bermain lempar pisau, entah permainan apa ini tapi mengasikkan bersama dengan kekasihku. Sesekali ia bersenandung lagu-lagu semua bahasa Indonesia, Inggris, Korea, China bahkan India. Membuatku gemas sendiri. Siang hari bahkan ia beribadah di sini. Kali ini aku tak keluar kamar. Ia biasanya meminta aku keluar karena malu. Jadi aku mengungsi di kamar Shin Hyung. Kali ini aku memintanya melakukan ibadah sementara aku diam di tempat duduk. Seolah membaca buku padahal, tatapanku tak bisa beralih darinya. Selesai beribadah ia berjalan menghampiriku lalu mengulurkan tangan. Aku menatap bingung. "Tangan kanan mu." Aku mengarahkan tangah kananku, ia menggenggam lalu mengarahkan ke keningnya. "Wae? aku kan lebih muda dari mu?" Bukankah mencium tangan itu hanya untuk yang muda kepada yang tua sebagai bentuk hormat? "Jika kau nanti jadi suamiku, kau adalah kepala keluarga. Jadi aku akan sering melakukan itu." Ia kemudian berlari ke arah tempat ia beribadah tadi. Melipat kain penutup yang ia kenakan tadi. Sementara aku tersipu malu sendiri dengan apa yang ia katakan barusan. Membayangkan kami berdua ... Ah sudahlah. "Jadi kau akan kembali?" tanyanya lagi setelah kini duduk di sampingku. Sejujurnya aku tak mendengar nada atau tatapan kecewa. Aku mengangguk sedikit kecewa melihatnya yang biasa saja. "Kau tak kecewa?" Reya menghela napas, seolah ada beban berat. Saat itu aku tau ia juga kecewa dan ingin bersamaku lebih lama. "Kecewa? tentu saja, hanya aku sudah memikirkan ini. Kau punya tanggung jawab, yang lebih penting Yunki-yaa. Aku mengerti." "Maaf," ucapku sejujurnya aku ingin lebih lama bersamamu. "Untuk?" "Karena berpikir kau baik-baik saja saat aku mengatakan ini." Gadisku tersenyum menatapku kemudian. Sementara aku bergerak memegang tangannya. "Aku tak baik-baik saja. Namun, aku ingin kau tak terbebani." Aku merasa lega dan bimbang dalam waktu yang bersamaan. Aku lega, karena Reya memahami aku dan bimbang karena aku tau ia juga masih ingin menghabiskan waktu bersama. Reya tersenyum dan menggenggam tanganku. "Jangan khawatirkan apapun. Aku selalu mendukung apa yang kau lakukan Yunki-yaa." Percaya dengan apa yang ia katakan membuatku sedikit tenang. Walau rasa egois dari pikiranku terus mengganggu. "Kau akan ke Korea 'kan?" "Nde, aku akan menabung untuk ke sana. Dan bertemu denganmu. Kau tau kan, aku tak pernah ingkar jika aku sanggup?" Sejujurnya, aku beberapa kali memintanya ke Korea aku yang akan membiayai perjalanannya. Namun, si keras kepala ini menolak dan bersikeras akan menabung dan memakai uangnya sendiri. Ia memang mandiri, tapi kemandiriannya terkadang membuatku kesal. "Aku akan menunggumu, kau telah berjanji," ucapku dijawab anggukan cepat dan yakin darinya. Kami habiskan hari ini bahkan hingga kami kembali ke Korea Reya menemaniku. Selama di sini semua terasa istimewa. Tapi yang paling istimewa adalah saat aku menjalani semua bersamanya. Aku harap, kami akan segera bertemu lagi. *** Bandara Incheon lengang. Aku telah kembali setelah perjalanan yang cukup panjang. Aku tak melihat wartawan dan berharap memang tak ada wartawan di sini. Walaupun pihak bandara pasti mengetahui jika aku telah melakukan perjalanan. Namun, mereka tak bisa asal membocorkan informasi karena terikat aturan yang telah ditetapkan. Aku dan Shin Hyung berjalan menuju mobil jemputan yang telah menunggu. Setelahnya aku tertidur karena cukup lelah. Aku terbangun ketika tiba di dorm. Segera melangkah masuk dan sepertinya semua masih tidur. Tentu saja karena ini hari libur sepertinya kami akan memulai latihan besok. Masuk ke dalam kamar Jin Hyung masih meringkuk di dalam selimut. Aku memutuskan untuk juga merebahkan tubuh dan tidur. Aku rindu kasur ... Saat di Indonesia aku tak banyak mengantuk. Tapi, ketika kembali keinginan untuk tidur menguat entah darimana asalnya. "Kau sudah tiba?" tanya Seojin Hyung ia terbangun. "Hmm," jawabku. "Tidurlah Hyung, aku akan tidur," sahutku lemah. *** .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN