Es krim dan Nasi padang

1515 Kata
***Author POV*** . . . Waktu menunjukan pukul dua belas siang. Reya, Yunki juga Manajer Shin berada dalam perjalanan menuju tempat makan siang mereka. Jalanan cukup padat pukul dua bela, manusia plus enam dua sedang giat-giatnya mencari makan siang, juga jam pulang anak-anak sekolah dasar. Membuat kepadatan semakin menjadi. Tak lama untuk sampai di tempat makan yang mereka tuju. Rumah makan Bunda selera, masakan Padang. Yap! Reya memang berniat akan menjejali kekasihnya itu dengan makanan nikmat yang tak akan bisa ditolak. Belum jauh melangkah terlihat di dalam ruangan yang sangat ramai. Harusnya, Reya membawa lebih awal tadi. Ia lupa jika jam-jam seperti ini memang akan penuh di sana. "Penuh," ujar Yunki menatap Reya yang terlihat kecewa. Reya terdiam seharusnya ia tau ini jam sibuk. Perutnya yang lapar seolah tak tau diri menuntunnya datang ke sini. Tatapannya mengedar mungkin ada cara lain untuk menahan lapar sementara? Gadis itu ingat ada taman tak jauh dari sini. "Apa tak masalah jika kita jalan ke taman untuk menunggu waktu?" "Tak masalah, lagi pula sebelumnya telah menyantap bekal buatan mu." Yunki tersenyum, ia berusaha membuat perasaan Reya lebih baik. Sementara ucapan Yunki tadi mendapat anggukan setuju dari Manajer Shin. Langkah ketiganya sedikit lebih cepat menuju taman karena cuaca yang cukup terik. Yunki mengenakan kaus hitam berlengan panjang, juga celana jeans. Sedangkan telapak tangannya terlihat begitu bersinar di bawah sinar matahari. Taman tak jauh hanya lima menit untuk sampai. Namun peluh telah membasahi ketiganya. Dalam perjalanan terlihat penjual es krim. Kali ini sosok penjual eskrim seolah menjadi sosok yang mencerahkan ketiganya. "Mau es krim?" tawar Manajer Shin. Reya dan Yunki menjawab dengan berdeham dan mengangguk mantap. Manajer Shin berjalan cepat diikuti Reya yang mendahului, ia sedikit lupa jika manajer Shin tak bisa berbahasa Indonesia. Ia memilih untuknya dan Yunki, sementara Reya sudah menemukan pilihannya sejak awal. Eskrim vanilla dengan serpihan Oreo. "Biar aku yang membayar." Reya sudah siap dengan selembar uang di tangannya. "Jangan, biarkan aku melakukannya karena kau selalu membawakan kami banyak makanan. Biarkan kali ini aku membayar ini, oke?" Reya sebenarnya tak masalah dengan itu. Namin, ia mengerti jika Manajer Shin juga harus menyelamatkan harga dirinya. Gadis itu mengalah dan membiarkan Manajer Shin membayar. Berjalan dengan cepat untuk segera duduk. Dari kejauhan Yunki terlihat senang dengan bertepuk tangan. Mereka menghampiri Yunki yang duduk di bawah pohon rindang. Manajer Shin duduk di antara Reya dan Yunki. Layaknya ayah yang menjaga anaknya saat berkencan. "Ini." Pria itu menyerahnya es krim pilihannya pada Yunki. "Gomawo Hyung." Pria itu menerima eskrim cokelat pilihan Manajer Shin. Sementara itu Reya sibuk mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Meletakan itu baik-baik di atas pangkuannya. Agar yang lain juga mudah untuk menghapus sisa es krim. Siang hari, menikmati eskrim di tangan memang tak pernah salah. Sesekali Reya dan Yunki saling lirik. Membuat pria berkaca mata di antara mereka tersenyum kikuk. Kedua muda-mudi itu menggemaskan. "Wah, segar sekali," gumam sang manajer. Yunki mengangguk menyetujui. "Jadi ini rasanya jadi turis?" Kedua pria itu terkekeh menikmati liburan mereka yang berbeda dari biasanya. Tak ada fans atau kamera yang mengikuti. Lebih bebas dan keluasan. Tak ada yang mengikuti rupanya sangat menyenangkan. "Tapi maafkan aku hari ini aku lupa jika makan siang akan seramai ini," sesal Reya. Kedua pria yang tengah menikmati eskrim itu menggeleng. Mereka benar-benar menikmati ini. Berjalan di luar dan menyaksikan banyak hal dari negara yang berbeda dengan cara tang berbeda benar-benar hal baru yang menyenangkan. "Jangan merasa bersalah, ini sangat menyenangkan." Yunki tersenyum seraya mengangkat eskrim miliknya. Membuat sang manajer ikut menganggukkan kepala. *** Setelah hampir satu setengah jam duduk di taman. Ketiganya kini duduk di restoran Padang dengan tenang. Yunki dan Manajer Shin bertatapan sesaat karena Reya yang tak memesan apapun. Gadis itu duduk dan tersenyum aneh. "Kau tak memesan?" tanya Yunki. Reya menggeleng. "biarkan mereka datang sendiri," ucapnya dengan nada bicara yang membuat pria-pria yang duduk berhadapan dengannya curiga. Tak lama seorang pelayan laki-laki membawa makanan dengan menggunakan hampir seluruh bagian tangan dan bahunya sebagai tumpuan piring berisi makananberjalan mendekat. Yunki dan Manajer Shin tercekat. Gila! Dan Daebak! Sepertinya kedua kata itu ada di dalam pikiran keduanya. Tatapan Yunki membuat matanya melebar dan sedikit terlihat. Reya terkekeh melihat reaksi keduanya. Pelayan meletakan semua makanan, dan merapikannya. Reya sedikit membantu memberi jarak untuk piring yang terlalu dekat agar mudah meletakan yang lainnya. "Silahkan," ucap sang pelayan sopan segera meninggalkan ketiganya. "Makasih mas," sahut gadis berhijab itu manis. "Kau memesan ini semua?!" Yunki terkejut, heran entah apa yang ada di dalam pikiran si pucat saat ini. Reya melirik penuh arti. "Taraaaaa, nasi Padang. Apa kau tau jika ini—" tangan Reya mengangkat salah satu piring berisi 3 Potong rendang ke hadapan Yunki. "Ini adalah makanan yang telah diakui dunia, rendang!" Serunya layaknya pembawa acara kuliner. Yunkii menggeleng, menahan tawa ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan kekasihnya itu. "Lupakan itu. Katakan bagaimana kita menghabiskan semua ini?" Reya tersenyum jahil. "Tentu makan semuanya!" jawabnya berseru, sambil menggerakkan kedua tangan seperti orang yang sedang makan. Yunki memutar bola bingung juga kagum dengan apa yang bisa lihat. Sekalipun ia adalah idol yang terkenal makanan yang tersaji sebanyak ini, juga dengan menu yang tak familiar, baru kali ini ia alami. Dalam kebingungan Yunki, Manajer Shin sibuk mengabadikan momen berharganya dengan ponsel di tangan. Hamparan makanan yang akan mengisi kehampaan lambung yang mulai meronta.ia mengambil dari banyak sudut untuk diabadikan dan dipamerkan pada kekasihnya nanti ketika kembali. "Makan ini." Reya menyendok daging rendang dengan banyak bumbu menggugah selera ke piring kedua pria itu. "jangan khawatir, kita hanya akan membayar apa yang kita makan." Reya sengaja memotong daging dengan potongan kecil agar kedua turis dadakan itu bisa menikmati makanan yang lain. Yunki mengangguk mengerti sedikit melirik Reya dengan tatapan kesal. Karena telah membuat ia takut sendiri, karena tak mungkin menghabiskan semua makanan ini. Sementara Manajer Shin sudah siap dengan sendok dan garpu di tangannya. "Tuan Shin, jangan seperti itu! No, no!" Gadis itu menggerakkan telunjuknya. Ucapan Reya sontak menghentikan gerakan sang manajer bertubuh tegap yang kini mengenakan kaus hitam berlengan pendek itu. "Begini, bersihkan tangan kalian dengan mangkuk berisi jeruk itu dan makan dengan tangan." Intruksi sang senior yang telah berpengalaman dengan nasi Padang. Yunki dan Manajer Shin mengangguk layaknya junior yang kini mengikuti masa orientasi, kini mereka mulai melakukan apa yang dikatakan dan dicontohkan Reya. Acara cicip mencicip ini menjadi sangat menarik untuk Reya. Ia memerhatikan bagaimana reaksi keduanya ketika menikmati santapan mereka. "Bagaimana?" "Enak sekali, kaya rasa rempah." Sahut sang manajer dengan senyuman puas. Yunki mengangguk setuju. Lalu berusaha menyuapi Reya dengan kikuk, ia tak pernah makan dengan tangan jadi ini sedikit sulit. "Makanlah juga, kau juga butuh itu." Reya menerima suapan dari kekasihnya, ia tersenyum dan mengangguk. Namun, kemudian kembali dengan kegiatan yang sedang menarik atensinya, memperkenalkan makanan Indonesia. Ia memotong bagian sayap ayam pop menjadi 2 lalu meletakan kembali ke piring sang manager dan sang idol. "Ini ayam pop, cobalah. Makan sesuka kalian, itu daun singkong rebus kalian bisa memakannya dengan nasi dan lauk lain lebih enak di tambah sedikit sambal cabai hijau. Itu kepala ikan kerapu bumbu kuning, kesukaan aku dan adikku. Ini favorit ku yang lain kikil." Reya menunjukkan sebagian kecil yang menjadi kesukaannya. Lalu mengambil kikil dengan bumbu kuning kental, dan meletakan ke piring miliknya. Semua memperhatikan penjelasan sang tour guide dadakan yang sukses menyajikan makan siang spesial. *** Setelah makan siang kini Reya telah membawa Yunki kembali ke hotel. Pria pucat itu duduk dengan memegangi perutnya yang seperti akan meledak, karena Reya memaksanya terus mencoba ini dan itu. Reya duduk di lantai dan meluruskan kedua kakinya. Yunli memerhatikan lalu ikut duduk di samping. Ia merebahkan kepala ke bahu gadis yang juga tak kalah kenyang hari ini. Ia membelai kepala Yunki dengan lembut, tanpa alasan keduanya terkekeh. "Kenyang sekali." Ujar Yunki. "Kau suka?" "Aku suka rendang, suka ayam pop, aku suka makan. Dan yang paling aku sukai adalah aku menjalani hal menyenangkan bersamamu." Reya melirik Yunki penuh selidik. "Benarkah? Apa ini keahlian merayu mu?" "Aish, baiklah aku lebih suka sup iga sapi yang kau pesan belakangan." "Baiklah, kalau begitu berpacaran dengan sapi. Itu akan baik untukmu," ujar sang gadis iseng, lalu beranjak menyebabkan tubuh Yunki oleng. Pria itu berdesis kesal. "Jika aku mengatakan hal manis, kau mengatakan aku merayu." Gadis itu duduk seraya merapikan tas, lalu mengenakan di pundaknya. Ia kemudian berjalan mendekat dan kembali duduk di sebelah Yunki yang kini mempoutkan bibir. "Kau beruntung, aku suka dengan rayuan mu barusan Tuan Min." Yunki dan Reya tersenyum. "Aku harus pulang Yunki-yaa." "Jangan terlalu cepat." "Aku akan kembali besok." Grab! Dengan cepat Yunki memeluk Reya. "Menyebalkan, semakin sering aku bersamamu. Semakin aku ingin selalu bersama." "Itu rayuan mu lagi?" tanya Reya, ia tau Yunki tulus hanya saja ingin membuat sang kekasih kesal. Lagi-lagi Yunki berdesis kesal. "Part 2." "Aku suka." Reya terkekeh lalu menyandarkan diri ke bahu Yunki. Sang kekasih membelai kepala sang kekasih. Meski tertutup hijab. Keduanya tertawa bersama lagi. Tanpa sebab, merasa bahagia jika bersama. Keduanya tau kedepannya mungkin akan sulit, akan rumit juga. Namun saat ini bersama adalah hal yang utama. Menikmati waktu berdua dan berbahagia seraya berdoa agar Tuhan terus membawa bahagia yang sama untuk esok dan seterusnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN