**author POV***
.
.
.
Pagi hari matahari telah bersinggah di singgasananya. Jakarta seperti biasa dengan hiruk-pikuknya, jalanan yang padat, penjual pasar yang telah sibuk dengan kegiatan mereka, para pekerja yang mulai berangkat menuju kantor, juga banyak lagi kegiatan pagi lainnya.
Sementara Yunki, si pria pucat itu masih tertidur dengan memeluk guling dan meringkuk di tempat tidur. Tak ada pergerakan berarti sampai ketukan pintu membuatnya terbangun. Mencoba memperhatikan sekitar dengan mata terbuka, yang terlihat sama saja sekalipun ia sedang terpejam.
Dengan rambut yang berantakan, kaos over size putih, celana hitam pendek, ia melangkah. Seraya menggaruk kepala yang tak gatal, sama seperti kebiasaan orang kebanyakan. Ya, bisa dilihat jika si pemilik senyum manis itu, masih seperti manusia kebanyakan meski ia adalah idol terkenal.
Segera membuka pintu, ia berpikir jika itu adalah Manajer Shin. Seseorang menatapnya setelah pintu terbuka.
Gadis yang kini mengenakan t-shirt oversize berwarna abu, dipadukan dengan overall denim hitam, juga sepatu kets putih itu membungkuk layaknya pelayan wanita dari jaman kerajaan, juga membawa tas dan kotak makan yang memang telah ia siapkan.
"Kau belum bangun?" tanya Reya sedikit iba. Ia takut jika Yunki mungkin masih terlalu lelah atau kurang tidur.
"Maafkan aku, aku terlambat bangun. Ayo masuk." Pria itu mempersilahkan kekasihnya itu masuk, dengan menggerakkan tangan ke arah dalam kamar hotel. "Aku akan mandi sebentar. Tunggulah."
Reya mengangguk kemudian berjalan masuk dan duduk di kursi yang berada di dekat jendela. "Setelah mandi segera sarapan, aku telah menyiapkan untukmu."
Yunki mengangguk, sambil terus mengikuti dari belakang. Memerhatikan Reya yang merapikan bawaan, sambil sedikit mendatkan kesadarannya. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Reya duduk lalu merapikan bawaannya, ia menatap keluar. Banyak gedung yang berjejer, ternyata indah dilihat dari atas. Kemudian gadis itu, mengambil gambar dirinya. Terlihat jelas jalanan di bawah hotel juga langit yang perlahan membiru. Ia duduk sesekali menguap, merasa mengantuk ia memutuskan untuk berjalan menuju tempat tidur. Lalu duduk di tepi dan menyalakan televisi untuk mengusir kantuk. Alih-alih semakin segar, ia malah semakin mengantuk. Gadis itu merebahkan tubuh di pinggir posisi yang dengan mudah bisa membuatnya terjatuh dari sana. Matanya sesekali mengerjap, lalu lagi-lagi menguap dan akhirnya terlelap dengan posisi meringkuk di sudut tempat tidur berukuran besar itu.
Tak lama Yunki mengakhiri sesi mandi paginya. Dengan tangan kanan yang sibuk mengeringkan rambut ia berjalan menuju kamar. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang kini terlelap. Ia tersenyum sembari mendengus kecil dengan senyum yang merekah.
"Ia kelelahan?" Sekilas menatap sekitar, melihat kotak makan yang tadi dibawa kekasihnya telah tersusun rapi di meja dekat jendela.
Pria itu berjalan menuju kotak makan yang memang disiapkan untuknya. "aku akan makan ini, kau istirahat saja." Ia bergumam sendiri, dengan senyuman malu-malu.
Yunki membuka kotak makan melihat mi goreng dengan sayuran dan ayam, juga buah-buahan yang telah dipotong untuk satu gigitan. Yunki mulai menyantap, menikmati masakan buatan Reya. Dalam benaknya ia berpikir jika Reya menjadi istrinya nanti, tak ada yang perlu ia khawatir kan tentang kesehatan anak-anak mereka. Makanan? Reya pintar memasak, pendidikan? Ia juga seorang guru yang jelas bisa mendidik anaknya kelak.
"Anakku akan sangat beruntung nanti." Gumamnya seraya menyantap sarapannya.
Selesai makan pria itu ke luar sebentar. Memberikan salah satu kotak sarapan untuk Manajer Shin. Reya telah memisahkan sarapan untuk Manajer Shin.
Kembali ke kamar ia menatap kekasihnya yang masih tertidur. Ia berjongkok di sudut agar bisa menatap wajah gadis yang menguasai pikiran dan hatinya. Tanpa sadar terulas senyum di wajahnya.
"Ia bahkan tak bergerak sejak tadi." Lagi-lagi hanya bisa bergumam.
Ia menyentuh kening Reya dengan ujung jemarinya perlahan. Takut jika sentuhan darinya mungkin membuat gadis itu terbangun. Tatapannya lekat menatap wajah kekasih. Menunjuk tanda lahir yang berada di sudut alis kanan. Bibir dengan lip tint peach kini jadi sasaran tatapannya. Jantungnya berdetak cukup cepat tapi masih dalam tempo yang baik. Sejujurnya, ia ingin mengecupnya sekali dan singkat. Namun, Yunki tau pria sesungguhnya tak akan mengambil kesempatan dari seorang wanita. Ia memilih berdiri lalu berjalan untuk mengambil bantal kemudian ia letakkan di bawah agar jika mungkin Reya bergerak ia tak terjatuh ke lantai karena mungkin akan melukainya.
Setelahnya, pria itu duduk di pojok kasur, merebahkan kepala ke tembok. Ia membaca artikel dari ponsel seraya sesekali menatap gadis yang masih saja tidur dalam posisi yang sama.
Membaca artikel rupanya juga membuat ia mengantuk. Perut yang kenyang menambah presentase rasa kantuknya. Ia memutuskan memejamkan mata sebentar.
Kedua orang itu kini terlelap. Yunki tertidur di sudut lain tempat tidur. Posisi mereka seperti pasangan yang baru saja bertengkar. Yunki di bagian atas kanan tempat tidur dan Reya bagian kiri bawah.
Gadis itu bergerak nyaris terjatuh. Membuatnya sontak terbangun, ia lalu duduk mencoba menyadarkan diri. Memerhatikan sekitar lalu melihat bantal yang tersusun di bawahnya. Ia menoleh ke belakang melihat Yunki yang terlelap. Ia menatap jam dinding pukul sepuluh kini sudah dua jam ia tertidur.
Reya bangkit merapikan bantal yang dibuat Yunki untuk melindungi dirinya. Kemudian meletakan kembali ke sisi kekasihnya itu. Reya menatap lelaki yang membuatnya benar-benar jatuh cinta. Reya sama seperti Yunki tadi. Asik tersenyum sendiri menatap Yunki yang terlelap.
"Putih banget kamu chagi, bulu matanya panjang walau nggak lentik, kulitnya mulus banget, hmmm," gumamnya.
Reya baru saja akan bangkit tapi tangan Yunki menahan tangannya yang bertumpu di kasur.
"Apa yang kau katakan?" tanya si pemilik kulit pucat tanpa membuka matanya. Ia tak benar-benar tertidur. Sudah terbangun sejak Reya merapikan bantal miliknya.
Semakin tersadar saat mendengar suara Reya meski pelan. Namun, ia sebenarnya sudah berniat bangun hanya masih enggan.
"Tidak aku tidak mengatakan apapun."
"Aku mendengar tadi." Yunki mencoba membuka matanya yang kini seolah kembali lekat.
Reya berangsur meninggalkan Yunki menatap ke arah meja tempat ia meletakkan sarapan tadi.
"Kau sudah sarapan?"
"Apa yang kau katakan?" cecar Yunki.
"Apa masakan ku enak?" tanyanya berusaha menghindar dari pertanyaan yang diajukan.
"Kau menjelek-jelekkan ku 'kan?" tanya Yunki pantang menyerah. Ia penasaran, dalam pikirannya Reya mungkin saja mengungkapkan perasaannya tadi.
"Tidak, aku tak mungkin melakukan itu." Reya duduk dan mengecek kotak makan yang telah kosong, ia tersenyum.
Yunki melihat itu. "Terima kasih."
Gadis dengan wajah tak bersahabat itu mengangguk sedikit tersenyum mendengar ucapan sang kekasih.
"Aku akan mengajakmu makan siang. Ke tempat yang tak akan kau lupakan."
Yunki mengangguk dan duduk di kursi lain yang berada di seberang Reya. Ia menatap Reya, keduanya saling menatap.
"Aku ingin mencium bibirmu."
Reya menutupi bibir dengan satu tangannya.
"Tapi, aku tidak melakukannya." Yunki terkekeh, ia mengambil air mineral di hadapannya. Lalu membuka botol air mineral dan meneguknya. Tatapannya lalu menatap Reya. "Sebelum aku kembali, aku akan meminta satu kecupan dan kau tak boleh menolaknya."
Reya terdiam cukup terkejut dengan permintaan sang kekasih. Walaupun itu bisa ia maklumi.
Yunki berdiri, lalu berjalan mendekat, berdiri di hadapan Reya. Gadis itu takut-takut menatap pria yang menatapnya dengan sedikit seduktif itu. Yunki membungkuk kemudian berlutut di hadapan Reya.
"Cium aku." Pintanya seraya menunjuk pipinya. "Tak perlu di bibir. Berikan di sini atau di sini." Ia lalu menunjuk keningnya.
Reya menatap dalam diam. Ia pernah berciuman dulu dengan mantan kekasihnya tapi dengan pria di hadapannya kini terasa sedikit aneh baginya. Apalagi Yunki meminta dengan sopan, bukankah biasanya sebuah kecupan tercipta seolah ada magnet yang menarik keduanya? Seperti yang ia alami dulu.
Yunki mengerlingkan mata, meminta Reya segera melakukannya.
grab!
Alih-alih mencium Reya memeluk Yunki erat. "Yunki... Lim Yunki, ini canggung sekali," bisiknya.
Yunki terkekeh, ia membalas pelukan sang kekasih. Mengusap kepala Reya yang masih tertutup hijab.
Cup.
Yunki mendaratkan ciuman di pucuk kepala Reya dengan sedikit berjingkat. "Aku mencintaimu Reya Yasmitha."
"Aku juga mencintaimu Lim Yunki."
Keduanya tengah dalam rasa jatuh cinta namun berusaha menjaga satu sama lain. Yunki menekan keinginannya, berusaha menghargai apa yang diinginkan kekasihnya itu.
***
.