Bakso dan Oppa

1514 Kata
**author POV** . . . Bersama orang yang dicintai adalah hal yang membahagiakan. Meski hanya melakukan hal yah sederhana. Berjalan sambil berpegangan tangan, atau menikmati segelas kopi dingin bersama. Sama seperti yang dilakukan Reya dan Yunki saat ini. Keduanya berjalan bersama menuju taman kanak-kanak tempat Reya mengajar setiap harinya. Yunki sesekali menyisir rambut dengannya tangan sambil menyunggingkan senyum. Dalam hati ia senang juga karena hari ini sang kekasih yang dengan khusus merapikan rambutnya. Siang hari jalanan di lingkungan rumah Reya sepi. Pukul dua siang. Matahari sedang terik-teriknya. Sepertinya, masyarakat di sana memilih menghabiskan waktu dengan tidur siang. Tak lama untuk tiba. Gadis itu membuka pagar dengan kunci yang ia bawa. Keduanya lalu masuk. Reya mengajak Yunki ke Yaman belakang. Di taman belakang ada kolam ikan dengan aneka bunga di sisinya, lalu ada tembok bergambar aneka hewan dengan warna yang cerah. Ada dua bangku kayu yang bersandar di tembok. Jika duduk di sana, kota bisa melihat aliran sungai Kalimalang. Menyebutkan nama Kalimalang membuat keromantisan mendadak buyar. Namanya tak seindah sungai Han. Sama dengan kisah kelamnya. Keduanya lalu duduk menatap jalan besar yang ramai kendaraan, di hadapan mereka dan jalan besar terbentang aliran Kalimalang yang sesungguhnya akan membuat percakapan romantis akan terbaca konyol karenanya. Tak apa, yang penting saat ini keduanya duduk dan saling berbincang. "Yunki-yaa, kau tau sungai itu punya kisah yang kelam?" Yunki menggeleng. "Dulu... Saat Indonesia dalam masa perang. Hampir setiap hari ada mayat yang hanyut di sana." Reya berucap serius. Yunki berdesis kesal. "Tak ada pembicaraan lain?" "Kau takut 'kan?" Reya lalu terkekeh memerhatikan wajah Yunki yang menatapnya dengan sebal. "Tidak, hanya saja —" "Apa?" "Aku hanya tak menyukainya." Yunki mengelak. ia tak takut. Hanya saja, perbincangan tentang mereka berdua lebih baik rasanya. Reya menatap dedaunan yang menjadi keemasan. Tadinya semua biasa saja. Namun, hari ini nampaknya warna daun menjadi lebih istimewa. Yunki memerhatikan, dalam diam dan kilasan senyum. Reya tak pernah terlihat biasa saja baginya. Jantungnya selalu berdegup bahkan saat mereka hanya saling berbicara melalui ponsel. "Membayangkan kau bersama anak-anak pasti menyenangkan. Setidaknya, aku tau bahwa gadis pilihanku adalah wanita yang bisa mendidik anakku kelak," puji Yunki yang sukses membuat gadis yang duduk di sampingnya itu menoleh sambil menahan senyum malu. "Yak, apa yang kau ucapkan?" protes Reya berusaha terlihat kesal tapi, tak bisa menutupi senyum yang merekah. Bagi Yunki saat ini gadis itu terlihat lucu sekali. Yunki tersenyum, lalu mencubit gemas pipi sang kekasih. "Kau malu? Hmm?" "Tidak." Reya mengelak. "Mungkin terdengar seperti ucapan seorang perayu ulung. Namun, aku sungguh-sungguh saat bersamamu. Saat kita hanya berbincang terutama saat ini. Aku sering memikirkan bagaimana kita bersama kedepannya. Tapi—" Ucapan pria itu terhenti ia menatap ke arah gadis yang kini mengisi hampir seluruh hatinya itu. "Aku mengerti, kau dan BTL, kau dan dirimu yang lain. Yunki-ya aku akan menunggu." Yunki berdecak, seraya menggaruk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. Seolah sedikit kecewa pada dirinya sendiri karena ternyata Reya terlalu memahaminya. "Katakan bagaimana kau bisa memahami ku?" Reya terdiam kemudian menaikkan bibir bawahnya, "apa tebakan ku tepat?" tanyanya penasaran. Sejujurnya, ia hanya menerka. "Nde, totally right." "Wah! Daebak!" kekeh gadis itu malu. Lalu bertepuk tangan bangga akibat tebakannya sendiri. "Menyebalkan!" Yunki mengacak hijab yang dikenakan Reya. Sementara tatapannya tertuju pada suara air yang tiba-tiba terdengar di antara mereka. Di aliran Kalimalang anak-anak sedang asik bermain air, mandi dan bermain. Pria pucat itu menatap dengan terkejut. Pasalnya air di sana terlihat kotor yang pasti bukan air bersih. "Mereka bermain di sana?" tanyanya terdengar panik. Reya mengangguk. "Iya, kenapa?" "Air itu—dan di sana, bukankah dalam? Maksudku bagaimana jika mereka tenggelam?" Yunki semakin panik melihat para anak-anak melompat dari jembatan. "Terbawa arus?" terka Reya asal. "Yak, Reya yasmitha!" Yunki mengalihkan pandangan dan menatap Reya dengan kesal. "Bagaimana jika di sana salah satunya anak murid mu?" "Itu anak muridku, yang memakai celana merah namanya Adri, dan yang celana kuning tayo itu Gilang." Yunki berdiri berniat berjalan menghampiri, Reya bangkit dan menahan langkah kekasihnya itu. "Mereka sudah terbiasa. Lihat di sana, itu kakak mereka yang mengawasi." Reya menunjuk salah seorang pria dewasa yang duduk menunggu dan mengawasi seraya memancing dengan pancingan bambu tipis. Yunki masih ragu sebenarnya, tapi ia memutuskan untuk percaya pada Reya. "benarkah itu aman?" Reya mengangguk tapi kemudian menggeleng. "Sejujurnya aku tak tau. Hanya saja, sejak aku kecil selalu ada anak akan yang bermain di sana. Mereka selalu baik-baik saja." "Waktu kau kecil apa kau ikut berenang seperti itu?" Reya menggeleng. "Aku bahkan jarang keluar rumah. Ayah, dan mendiang kakekku sangat ketat. Bahkan jika aku ingin bermain lebih baik jika teman-temanku yang datang ke rumah. Lalu, sejak aku kelas lima sekolah dasar aku berubah menjadi lebih tomboi." Kruk kruk Belum Reya menyelesaikan ceritanya ia mendengar suara perut Yunki yang kelaparan. Gadis itu terkekeh geli, sementara Yunki menunduk seraya memegangi perutnya. Tanpa banyak bicara Reya memegang tangan Yunki segera melangkah mengajaknya untuk mencari makan siang. "Mau ke mana?" tanya pria pucat yang saat ini sedang kelaparan itu. "Lunch, of course." Keduanya berjalan kembali menuju rumah Reya tapi berjalan melewati ketika telah sampai. Yunki menatap bingung sementara Reya gadis itu berjalan cepat semakin menjauhi rumah. "Ayo cepat!" titahnya pada Yunki. Si pucat bingung sebenarnya, tapi—memilih mengikuti Reya, yang entah akan membawanya ke mana. Mereka berhenti di depan sebuah gerobak bakso langganan Reya. Keduanya berjalan masuk ke dalam kedai kecil sederhana itu. "Bang, 2 ya! Biasa kosongan." Reya memesan, dengan gayanya yang kali ini sedikit barbar. Gadis itu lalu duduk di tempat yang paling dekat dengan kipas angin Bang Sabar nama tukang bakso langganan Reya itu dengan sigap mengangguk, lalu menyiapkan pesanan. Yunki dengan canggung duduk di samping Reya. Ia memerhatikan, kaget juga karena mendadak Reya menunjukkan sisi lainnya. Tak menyangka, mungkin ini sisi maskulin dari sang kekasih batinnya. "Apa itu?" Yunki bertanya, lalu Reya menoleh kali ini ia kembali dalam calm mode. "Bakso, meat ball," jawab Reya. "Pria itu. Namanya Abang Sabar. Sudah berjualan sejak aku sekolah dasar." "Wah Daebak." Puji pria manis itu dengan tatapan berbinar. "Jangan ragukan lagi rasanya. Hmmm, kau akan ketagihan. Ini—" Reya menatap Yunki serius. "Akan menyebabkan otakmu akan terus merekam rasanya." Lagi gaya Reya di luar kebiasaan. Yunki berpikir jika sang kekasih memiliki kepribadian 4D. Sama seperti Tae. Sungguh jika Yunki bisa mencubit pipi gadis di hadapannya ini ia ingin sekali melakukannya, tapi ia tak tega. Pria itu mengangguk, bukan karena bakso yang belum tersaji. Namun, pada cara Reya menjelaskan membuatnya merekam bagaimana gadis itu berekspresi dan akan membuat catatan kecil dalam pikirannya dengan judul Reya yasmitha. "Ini," bang sabar meletakan mangkuk di depan kedua pelanggannya. "Ini siapa mpluk?" tanyanya. Cempluk panggilan papa untuk Reya. Yang kini banyak orang memanggilnya dengan panggilan itu, papa memanggil cempluk karena pipi anak gadisnya yang tembam. "Makasih bang, ini pacar atuh," jawab Reya kemudian menuangkan dua sendok sambal dan saus. Sementara Bang Sabar sudah berlalu sambil terkekeh mendengar jawaban Reya. Yunki memerhatikan warna merah di atas mangkuk Reya. "apa punyamu pedas?" Reya menggeleng. "Jangan beri apapun coba dulu, lalu jika kau ingin lebih pedas masukan ini." Reya menunjuk mangkuk kecil berisi sambal. "Masukkan sedikit sedikit sambil rasakan kembali." Yunki mulai menyantap sendok pertama bakso seperti ini dalam hidupnya. Ia cukup terkejut dengan rasa segar kaldunya. "Enak?" tanya Reya yang dengan segera dijawab anggukan oleh Yunki. "Ini tulang kaki sapi tanpa lemak. Jadi, kaldunya akan terasa ringan, ditambah daun seledri membuat kuahnya lebih segar." Yunki mendengar masih dengan menyantap bakso miliknya. Makanan enak memang sulit jika di tolak. "Makanan halal enak 'kan?" "Hmm, enak sekali. Aku pikir dalam agamamu hanya bisa memakan buah dan sayur." kekeh Yunki. Reya menggeleng, kini ia sesaat fokus pada santapan siangnya. "Kamu juga makan daging. Yang menjadi larangan hanya beberapa." Keduanya lalu larut dalam kenikmatan semangkuk bakso sapi di siang yang panas. Reya juga lalu mengambil teh andalan orang Indonesia untuk dinikmati sang kekasih sebagai pereda haus. "Apa seharusnya kita ajak manager Shin?" tanya Reya tiba-tiba. Yunki tersentak ia lupa jika datang ke sana bersama sang manager. "Aku akan menghubungi Hyung." Yunki mencoba menghubungi manager Shin. Tak lama kemudian kembali menatap Reya. "Dia bilang ayahmu sudah mengajaknya makan siang." "Hmm, baiklah... Kalau begitu lanjutkan makan siangmu chagi," ucap Reya. "Ndee!" *** Selesai makan keduanya kembali ke rumah Reya. Melihat Papa dan manager Shin yang asik bermain catur. Namun ada beberapa coretan di tangan manager Shin dan Papa. Sepertinya, mereka melakukan permainan seperti yang biasa dimainkan Papa dan Raya. Yang kalah tangannya akan di coret dengan spidol. "Yaa, kamu kalah lagi Hyung." Reya dan Yunki bertatapan. "Hyung?" Gumam keduanya. "Papa kok manggilnya Hyung?" tanya Reya heran. "Lah, daritadi pacarmu manggil Hyung?" Tanya papa lagi, papa berpikiran jika namanya Manager Shin adalah Hyung. Manager Shin terkekeh kecil, meskipun tak mengerti apa yang diucapkan sepertinya mereka membahas panggilan papa padanya. "Hyung itu artinya mas, kakak, Abang," ucap Reya lagi menjelaskan. "Itu bukanya Oppa?" Papa bertanya tapi masih fokus pada permainannya. "Oppa itu kalau yang manggil cewek, kalau cowok jadi Hyung," jawab Reya sambil menatap manager Shin dengan tak enak, meski manager Shin terlihat sama sekali tak masalah dengan panggilan Papa padanya. "Lah, Papa dari tadi salah dong manggil Oppa?" "Hahahaha, astaghfirullah papa!" *** .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN