Potong Rambut

984 Kata
**Reya POV** . . . Kedatangan Yunki ke rumahku hari ini benar-benar di luar ekspetasi. Mama dan papa bisa dengan baik menerimanya. Mereka bahkan mengobrol meski dengan bahasa Inggris dicampur bahas isyarat. Lucu sekali. Selesai makan Papa meminta Yunki dan Manager Shin beristirahat di kamar Raya. Karena adikku hari ini mengerjakan tugas semester. Akhirnya membuat ia terpaksa menginap sementara di kost temannya yang berada tak jauh dari kampus. Mereka terlihat sangat lelah, dan benar saja baru beberapa menit kedua pria itu sepertinya telah tertidur. Sementara saat mereka tertidur aku sibuk mencari jajanan di luar. Membeli cimin kesukaanku. Sudah hampir satu jam mereka tidur. Sementara aku duduk menonton televisi sendiri. Papa keluar sebentar untuk mengurus beberapa keperluan untuk tempat pemancingan, hobi yang akhirnya ia jadikan bisnis. Sementara Mama keluar karena salah seorang tetangga meminta mama untuk memotong rambutnya. Mama dulu bekerja di salon. Sudah sejak lama, beberapa tetangga di sini menjadikan mama orang yang mereka percayai merapikan atau memotong rambut. "Kau tak tidur?" Aku menoleh melihat Yunki dengan rambut basahnya. Sepertinya, ia segera membasuh wajah ketika bangun tidur. Ia berjalan menghampiri dan duduk di sampingku. Aku menggeleng seraya menyeruput kopi kesukaanku. "Kau mau kopi?" Tawarku seraya menunjukkan gelas kopi. "Itu kopi kesukaanmu?" "Nde, kau mau?" Akan kubuatkan untukmu." "Tak perlu berikan aku milikmu. Kau buatlah yang baru." "Aish, aku akan buatkan yang baru." "Tidak, aku ingin itu," pintanya setengah memaksa. Tangannya bahkan telah memegang cangkir milikku. "Tapi, aku sudah meminum ini." "Iya, jadi berikan itu." Ia memohon dengan mempoutkan bibir. Aish, wajah yang meluluhkan aku. Aku memberikan cangkir kopi dan Yunki tersenyum senang, lalu segera meneguknya. "Jangan di aduk!" sergahku ketika ia akan mengaduk kopi dengan sendok kecil yang kuletakan di piring kecil. "Kenapa?" "Akan terlalu manis nanti, aku tak suka terlalu manis," jawabku seraya menikmati jajanan yang tadi kubeli. "Itu?" Ia menunjuk kudapan yang aku pegang dengan gerakan matanya "Ini?" tanyaku seraya mengangkat plastik berisi cimin. Yunki mengangguk. "Ini cimin." "Hmm? Chim—?" "Cimin, ini dari tepung kanji juga telur kemudian di goreng dan diberi bumbu. Bukan Park Jimin." Aku terkekeh menjelaskannya seraya menikmati cimin jajanan anak jaman sekarang. Memang sedikit kekanakan tapi, aku masih sangat menyukai jajanan seperti ini meskipun usiaku tak lagi remaja. Tak salah kan? Pasti banyak juga yang setuju jika cimin, cilor, cilok, cilor, telur gulung dan aneka jajanan jaman sekolah dasar adalah makanan segala usia. "Aku juga mau." Aku melirik ke arah Yunki. "Tidak! Ini mengandung bahan yang bisa merusak tenggorokanmu. Kau itu penyanyi ... Tak boleh makan sembarangan." "Aku tak makan sembarangan, aku hanya ingin mengetahui apa saja dan rasa seperti apa yang kau sukai." Sejujurnya aku senang mendengar keinginan Yunki. Hanya saja cimin mengandung banyak micin aku tak akan membiarkan ia memakan ini. "Aku akan berikan yang lain, asal bukan ini tolong." "Sedikit?" "Tidak, no no!" "Aish." Yunki mengalah, meskipun ia terlihat kesal dan akhirnya memilih meneguk kopi. "Kemana mama?" "Keluar, ada tetangga kami meminta agar dipotong rambutnya." "Mama bisa memotong rambut?" "Nde, Mama dulu pernah bekerja di salon. Aku juga diajari cara memotong rambut adikku." "Kalau begitu, tolong aku ... Rapikan rambutku." Aku menatapnya ragu, jelas ini tak mungkin. Rambut ini bukan rambut biasa, iya Yunko memang kekasihku. Tapi, ini rambut idol astaga! "Tidak! Lakukan jika kau kembali ke Korea." "Rambutku sedikit terlalu panjang. Aku masih akan berada di sini sekitar satu minggu. Ini cukup mengganggu ... Kau tak perlu memotong terlalu panjang. Buat bagian depan sedikit lebih pendek." Aku menatap Yunki kemudian melihat rambutnya yang memang sudah cukup panjang. Apalagi, di udara Jakarta yang cukup panas. Akhirnya aku mengajak si pucat tampan itu ke dapur. Memintanya duduk di tangga dan aku akan mengambil gunting. Tak lama aku kembali, kemudian menyisiri rambutnya ke depan. "Kau ingin aku rapikan seberapa panjang?" "Hmm...." ia bergerak mengukur panjang rambut yang ingin ia pertahankan. "Ini." Rambutnya basah, berarti aku harus memotong lebih sedikit dan membiarkan rambut yang tersisa lebih panjang. Karena rambut akan naik ketika kering. Aku mulai memotong tanpa ragu tapi penuh perhitungan. "Aku ingin melihat tempatmu mengajar." "Baiklah, aku akan ajak kau berjalan-jalan nanti." Ucapku mengiyakan. "Yunki ya, kau tau satu hal yang paling aku sukai darimu?" "Hmm?" "Matamu saat tersenyum." "Kau merayuku?" "Tidak." Aku sungguh tak merayu hanya mengatakan apa yang aku rasakan. "Kau tau, kalau aku bergabung di grup AMMY? Di sana banyak fansmu." "Lalu kau cemburu?" tanyanya penasaran, ia mencoba mendongak tapi aku kembali menahan wajahnya agar aku bisa memotong rambut dengan baik. "Tidak, awalnya aku merasa cemburu. Di sana ada banyak fansmu, ada d**a, Beta, Lina mereka jauh lebih muda darimu dan kau sukses membuat mereka jatuh hati." "Lalu, kau tetap tak cemburu?" "Tidak, aku tak boleh cemburu. Semakin banyak yang mendukungmu akan semakin baik. Kau pernah mengalami tak percaya diri, dan jika itu terjadi aku akan ceritakan satu persatu bagaimana mereka jadi orang tulus yang ikut berdoa dan mendukungmu." Yunki memegang tanganku menggenggam dengan erat, meski sulit karena tanganku berasa di atas kepalanya. "gomawo, sampaikan itu. Katakan, terima kasih telah mendukung kami." Aku mengangguk, meskipun aku juga akan memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu. "Kau tau, kami bertengkar di grup memperebutkan mu. Seolah kami benar-benar mengenal, menulis cerita seolah BTL adalah kekasih dan bagian hidup kami. Bahagia, meski tak bisa bertemu dan kalian. Yang mereka harapkan adalah kalian sehat dan bahagia." Yunki terdiam, ia tersenyum. "Aku sering mendengar AMMY bicara banyak hal. Tapi .., rasanya berbeda saat aku mendengar secara langsung. Dan kau yang menyampaikan. Aah, aku terharu." "Katakan kau akan menangis?" Ledekku. "Tidak!" tolaknya cepat. "Aku melihat bulir air matamu tuan." "Ini karena rambut masuk ke mataku." Aku tak menanggapi hanya memasang wajah tak percaya. Dan terus merapikan rambutnya perlahan, Yunki mengalihkan pandangan menatap keluar di belakang rumahku masih banyak tanaman. Entah mengapa sepertinya ini cukup menarik perhatiannya. "Sudah." Aku kemudian berlari mengambil kaca dan menunjukkan padanya. Kekasihku itu menunjukkan kedua ibu jarinya. "Besok aku akan mengajakmu menjadi orang Indonesia sepenuhnya. Kita akan makan dan berjalan-jalan." Yunki meletakan tangannya dengan posisi hormat, "siap!" *** .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN