**author POV**
.
.
.
Indonesia adalah kota yang ramah. Itu alasan mengapa banyak turis yang betah menghabiskan waktu berlama-lama. Bukan hanya itu keanekaragaman kuliner, keindahan alam, dan banyak hal lain yang bisa dijadikan satu dari banyak alasan mereka sangat mencintai Indonesia. Jangan dilupakan kecantikan dan ketampanan warga lokal, itu bisa memikat hati siapa saja. Kita bisa lihat dari berapa banyak warga Indonesia yang menikah dengan warga Indonesia.
Salah satunya member BTL yang kini menikmati hari di Indonesia. Hatinya berbunga-bunga hanya karena seorang gadis Indonesia, yang Ia kenal dari aplikasi pertemanan. Lim Yunki dan manager-nya Shin, saat ini sedang menikmati kudapan seraya menonton televisi. Keduanya larut dalam tawa akibat menyaksikan acara hiburan melalui tivi kabel.
Tiba-tiba Yunki menghela napas, ada rasa gelisah memikirkan besok ia akan bertemu dengan orang tua Reya. Ia memang ingin menemui, tapi—ia tak menyangka begitu banyak hal yang kini ada dalam benaknya. Apa orang tua Reya bisa menerimanya? Bagaimana sikap mereka? Apa aku bisa memenuhi ekspektasi mereka?
"Hyung."
"Hnm?" sahut manager Shin masih fokus dengan tontonan dan cemilan di hadapannya.
"Apa kau, pernah bertemu dengan keluarga kekasihmu?"
Manager Shin menatap terlihat antusias dengan pembaca kali ini. Ia juga penasaran. "Kau akan menemui orang tua Reya, kekasihmu?"
Yunki mengangguk yakin, hanya itu yang bisa lakukan karena sejujurnya ia sedari tadi berpikir tentang apa yang harus ia lakukan besok.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku takut mereka akan sulit menerima. Kau tau, mereka tak mengenalku. Aku takut tak bisa memenuhi ekspektasi mereka." Yunki terlihat benar-benar cemas. Ia bahkan sesekali menggigit ujung kuku ibu jarinya.
"Temui saja, dan biarkan semua mengalir dengan sendirinya," saran pria berkacamata itu seraya menepuk pundak Yunki memberikan keyakinan padanya.
"Baiklah, aku rasa itu yang terbaik yang bisa aku lakukan."
???
Reya terbangun dini hari. Satu jam yang lalu ia baru saja tertidur. Kini satu jam setelahnya, ia sudah kembali bangun. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, gadis itu kesulitan tidur karena memikirkan tentang pertemuan dengan Yunki hari ini. Ia juga tak kalah cemasnya.
Baginya ini benar-benar berbeda. Kekasihnya saat ini bukan pria asal Indonesia, ia juga yakin Yunki belum berniat serius. Karena karier yang sedang ia bangun, perbedaan budaya dan bahasa yang mungkin akan menjadi jarak kali ini. Seharusnya tak ada masalah. Karena mama juga terlihat tak mempermasalahkan tentang Yunki. Namun, Reya tau akan ada satu hal yang menjadi bahasan utama mama. Yaitu agama, tak masalah siapapun orangnya, di mana pun negaranya, hal yang paling penting adalah keyakinan. Satu hal yang membuat jarak Jakarta-Korea akan semakin jauh. Seolah benang merah tak pernah habis ditarik dan ditemukan ujungnya.
Gadis itu duduk dan menatap layar ponsel. Beberapa hari ini mengabiskan waktu dengan Yunki dan banyak mengambil gambar bersama. Menyenangkan, ketika bersama pria pucat itu. Banyak hal yang bisa mereka bicarakan, meski kebanyakan hanya sekedar lelucon yang terkadang tak dipahami satu sama lain. Namun, yang paling penting adalah bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama.
Drrttt
Ponsel Reya bergetar tanda sebuah panggilan masuk Ia segera menerima.
"Assalamualaikum, yeoboseyo?"
"Chagiya," sapa Yunki dari balik telepon.
"Kau tak tidur?" Tanya Reya. Dalam hatinya ia berpikir jika Yunki mungkin sama sepertinya. Memikirkan hari ini
"Aku baru saja bangun dan akan berolahraga sebentar. Aku suka berlari di sini, menyenangkan tak ada yang mengenalku." Yunki lalu terkekeh.
"Benarkah? Apa kau menjadi rajin sekarang?"
"Kau meledekku? Apa aku tak boleh berolahraga?"
"Tentu saja boleh chagiya. Hanya saja ini seperti bukan dirimu. Kau ingat jika aku menghubungimu dan memintamu bangun lebih awal? Kau selalu berkata 'aku mengantuk'." Reya mengikuti nada bicara Yunki setiap kali ia menghubungi kekasihnya itu saat ia berada di Korea.
"Aish, aku akan menunggumu menjemput ku. Byeee muuaahh." Sebuah kecupan mendarat lali di pucat dengan cepat mematikan panggilan.
Tut Tut Tut
Reya tersenyum, ia tau jika Yunki saat ini sedang mengelak tentang kemalasannya. Yunki tak malas. Saat comeback album BTL terbaru ia bisa menghabiskan malam di studio menghabiskan waktu menciptakan lagu terbaru. Reya tau itu, maka gadis itu semakin menyukainya.
???
**Yunki POV**
.
.
.
Aku baru saja selesai membersihkan diri, setelah sedikit berjalan pagi tadi. Sejujurnya, aku tak terlalu suka berolahraga. Tapi, pagi ini aku ingin melihat-lihat lingkungan sekitar. Pagi di Jakarta cukup sibuk dan padat kegiatan masyarakat di sini dimulai bahkan ketika matahari belum terlihat. Tak jauh beda sebenarnya. Hanya saja di Korea selalu ada penggemar yang mengenali. Aku tak masalah, hanya ada kalanya aku ingin melakukan sesuatu seperti dulu saat orang lain tak mengetahui siapa aku.
Semalam aku cukup tidur, tak terlalu khawatir untuk menemui orang tua Reya. Aku hanya harus menjadi diriku sendiri toh, Banyak dari diriku yang bisa dibanggakan. Ya, ini boleh dibilang kepercayaan diri yang berlebihan. Tak masalah, percaya diri memang penting. Ingat love yourself! Kau lah yang harus memulai untuk mencintai dirimu sendiri. Sebelum meminta atau berharap orang lain mencintaimu.
Selesai berganti pakaian aku merebahkan diri. Menunggu kekasihku tiba, tak lama seseorang menekan bel pintu kamar. Aku bergegas membukakan pintu, melihat Reya tersenyum dengan kemeja big size, berwarna abu-abu, celana jeans dan sepatu kets putih tak lupa hijab bermotif monokrom membuat ia terlihat semakin cantik? Entahlah, dibandingkan yang lain mungkin gadis ini tak cantik, dia menyebalkan. Namun, dia adalah pemenang karena berhasil membuatku berdebar, dan tersipu tanpa sebab. Menggemaskan!
"Assalamualaikum?" sapanya diiring senyuman.
"Wa-walaik-." Aku mencoba menjawab namun aku lupa bagaimana harus mengucapkannya.
"Waalaikumsalam," ujarnya memperbaiki jawaban salam ku yang tak tuntas. "Kau siap?"
"Aku siap, aku akan memanggil Hyung dulu."
Reya mengangguk dan menungguku di depan pintu. Shin Hyung sudah terlihat rapi ketika ia membukakan pintu. Segera kami berangkat setelahnya. Reya sudah memesankan mobil untuk kami. Dan menunggu di depan hotel.
Sepanjang jalan kekasihku tak banyak bicara. Aku melihat ia sesekali menguap, sepertinya ia tak bisa tidur semalaman. Aku mengusap kepalanya menuntun agar ia bersandar di bahuku tapi ia menolak.
"Aku bisa terlelap nanti, jarak rumahku tak terlalu jauh Yunki-yaa." Reya merengek.
"Baiklah. Bernyanyi saja."
Reya bernyanyi lagu BTL love is not over. Aku menatapnya, sungguh aku tersipu sendiri.
Geu gin bami neol ttara heulleoman ganeun geot gata.
Gigani neol ttara heuryeojineun geot gata.
Wae meoreojyeo ga wae dahji anheul mankeum gaseo.
Tell me why meoreojyeo ga why.
Ni nunen deo isang naega boiji anhni uh.
Sarangiran apeugo apeun geot yeah.
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae.
Niga eopseumyeon nan andoel geot gata.
Saranghaejwo saranghaejwo.
Dasi nae pumeuro wajwo.
Sarangiran apeugo apeun geot yeah
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
Saranghaejwo saranghaejwo
Dasi nae pumeuro wajwo
Ia terhenti saat tiba bagianku, ia bahkan menyanyikan bagian Namjun dan Hobbie dengan baik. Aku melanjutkan, ia menatap seraya tersenyum.
"Aaahh, oppaa!"
"Aish!"
Kami tertawa bersama. Menyenangkan, bersama Reya benar-benar menyenangkan.
Tak lama kami berhenti di depan sebuah rumah sederhana tapi terlihat asri dengan beberapa tanaman yang ditata dalam pot, ada kolam batu kecil berisi kura-kura, beberapa sangkar berusia burung yang entah apa jenisnya juga kucing-kucing yang bermain dan tertidur. Ada sekitar enam kucing di sana.
"Aku merasa berlibur ke taman," kekehku.
"Bukankah menyenangkan?" tanyanya seraya berjalan masuk sambil memegangi tanganku.
.
.
.
***Yunki POV end**
.
.
.
**
***Author POV**
.
.
.
Mama berjalan ke depan rumah ketika mendengar seseorang membuka pagar. Benar, Reya dan Yunki baru saja tiba. Ia sedikit terkejut sebenarnya melihat sosok Yunki yang bersinar akibat pancaran kulitnya yang putih, benar-benar putih.
"Ah sudah datang, ayo masuk," ajak mama ramah.
Yumki berjalan cepat dan menghampiri Mama dan mencium tangan ibu dari kekasihnya itu. Reya banyak bercerita tentang tata cara hormat kepada yang lebih tuan sepertinya itu tertanam dengan baik. Kemudian dia lakukan dengan baik.
"Assalamualaikum," sapa pria pucat itu, cukup fasih kini karena sering mendengar Reya mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," jawab mama. "ayo masuk." Seraya mengayunkan tangan mengajak masuk ke dalam rumah. Yunki menurut berjalan masuk dan berdiri di pinggir sofa.
Mama menatap manager Shin yang saat ini bersalaman dengannya. "Ini?"
"Ah, itu managernya Ma," jelas Reya. Sementara Manager Shin mengangguk mengiyakan meski ia juga tak terlalu mengerti apa yang dikatakan Reya.
Reya masuk terkekeh melihat kekasihnya berdiri dengan kikuk. Ia meminta Yunki duduk.
Sementara Yunki mendekatkan wajahnya dan berbisik ke Reya. "Aku harus memanggil apa?"
"Ma, Yunki tanya manggil Mama apa enaknya?" tanya Reya membuat pria itu malu sebenarnya sementara Reya menahan senyum melihat kegugupan Yunki.
"Panggil Mama kata mantanmu juga dulu—" ucapan mama terhenti melihat Reya yang menatapnya dengan kesal. "Duduk-duduk." Mama mempersilahkan tamu-tamunya duduk tak ingin sang anak gadis semakin kesal.
"Papa mana Ma?" tanya Reya.
"Mendadak tadi, dimintain tolong Pak Doni. Diusahakan cepet."
Reya mejelaskan ke Yunki apa yang dikatakan mama. Semua diartikan tanpa ia kurangi. Seandainya Yunki dan mama bisa mengerti satu sama lain pasti akan menyenangkan menurutnya.
"Sebenarnya, mama restui Reya mau pacaran sama siapa asal, serius dan seiman."
Reya sedikit berat mengartikan ini ke Yunki, walaupun ia tau arah pembicaraan ini pasti akan mengarah pada hal yang sudah jelas.
Yunki juga mengerti, mama akan membicarakan hal itu dan semua orang tua yang memiliki anak perempuan akan bertanya hal yang serupa mengenai keseriusan pria dalam sebuah hubungan.
"Ketika saya memilih seseorang kemudian menjadikan kekasih, pasti berpikir untuk serius. Hanya, saya masih terikat kontrak dua sampai tiga tahun lagi yang mungkin akan membuat Reya lama menunggu ...," jawab Yunki serius menatap mama dan reya bergantian dengan yakin.
Mama mengangguk, mengerti jika orang Korea adalah orang yang tak pernah setengah setengah dalam pekerjaan. Apalagi kegiatan Yunki di bidang hiburan meski yang mama ketahui adalah Yunki seorang arranger musik.
Obrolan berlanjut lebih ringan, setelahnya berlanjut ke acara makan siang. Papa datang saat itu. Ia berjalan menghampiri Reya mengacak hijab yang dikenakan anak gadisnya itu.
"Mana pacarmu?"tanyanya.
Yunki berjalan menghampiri papa yang kini berada di ambang pintu ruang makan bersama Reya, dan mencium tangan sang ayah mertua. Papa hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan.
"Anyeong," sapa Papa ramah seraya mengayunkan tangan.
Yunki membungkuk. "Nde, anyeonghaseyo."Nia menjawab dengan sopan.
Papa semakin terkekeh melihat kelakuan Yunki. "Santai saja mas," ucap Papa sambil menepuk bahu Yunki.
Manager Shin berjalan menghampiri papa dan menjabat tangan Papa. Lalu kembali duduk.
"Yang ini pacarmu juga?" tanya Papa yang kini terlihat bingung.
"bukan Papa ih, ini managernya." Reya membecik kesal, sementara papa terkekeh senang.
"Walah punya manager segala. Artis tho?" tanya Papa seraya terkekeh dan mengajak Yunki dan manager Shin ke meja makan.
Yunki menatap Reya meminta gadis itu mengartikan ucapan papa tadi. Reya hanya tersenyum.
Di meja makan telah tersaji banyak makanan, ayam goreng serundeng, sup merah khas buatan mama, capcay ala Indonesia, juga sambal tomat kesukaan Reya. Yunki makan dengan lahap, mama memerhatikan senang. Papa suka menyaksikan acara mukbang di televisi. Orang Korea menurutnya menyenangkan sekali jika sedang membawa acara kuliner. Semua terkesan natural, tidak berlebihan.
Selama acara makan papa sesekali berbisik pada Reya.
Pacarmu putih banget Nduk?
Pacarmu kurus nggak makan ya?
Lenganmu tuh sebetisnya dulu. Hahahaha
Reya menatap papa kesal. "aku udah kurus Pah ih," keluh Reya kesal.
Sementara Yunki hanya tersenyum dan ikut terkekeh meski tak mengerti apa yang dilakukan kedua orang yang ada di hadapannya itu.
***