"Kalian sudah gila, ya, berani memotretku?!" Angga mendelik ke arah kedua adiknya. Mereka berdua hanya nyengir kuda, kemudian bersiap untuk berlari. Ibunya hanya mengulum senyum melihat tingkah ketiga anaknya. "Sudahlah, Ngga, biarkan mereka menyimpan tawamu yang langka itu!" ujar ibunya. Barulah Angga terdiam setelah mendengar ucapan ibunya. Dia kembali teringat dengan tujuannya yang sebenarnya. "Baiklah. Persiapkan diri Mama dan juga kalian berdua, karena besok aku akan membawanya ke sini!" ujarnya kemudian. Setelah mengucapkan itu, Angga segera berlalu meninggalkan ketiga orang itu berada dalam kebingungan. Bukankah ini terlalu cepat, menjadikan Felisha menjadi seorang istri baginya? Apalagi dia masih terlalu muda, bahkan terpaut terlalu jauh usia di antara mereka.

