Ditaza terbangun dari tidur lelap pada pagi akhir pekannya. Begitu terduduk di atas tempat tidur, tanpa sengaja matanya menangkap parfum yang ia temukan di meja kerjanya pada hari senin kemarin. Parfum yang kini berada di atas meja riasnya.
Keluar dari kamar Ditaza langsung bertemu dengan Emma yang sedang minum s**u sambil menonton serial kartun kesayangannya, yaitu We Bare Bears. Tidak sendirian, keponakannya itu bersama Aldo yang tampak juga baru bangun. Namun perhatian Ditaza beralih ketika melihat Airin yang memakai kaus lengan panjang yang bagian punggung bertuliskan nama bank tempat kakaknya itu bekerja.
"Kau akan keluar?" tanya Ditaza juga melirik celana olahraga dan sepatu kets yang dipakai oleh Airin.
Airin mengangguk pelan. "Ada acara di Lapangan Merdeka yang diselenggarakan oleh bank, mungkin akan selesai setelah jam makan siang. Jadi … makan siang kali ini kalian pesan saja," ujarnya menatap Ditaza dan Aldo bergantian.
Airin kemudian mendekati Emma dan mencium anaknya itu. "Tunggu Mama ya," katanya, lalu menoleh menatap suaminya. "Jangan pergi ke mana-mana atau tidur. Awasi Emma."
Aldo memberi hormat sambil tersenyum lebar. "Siap Kapten!"
"Oh ya Dita, makanan Emma sudah kubuat. Tinggal kau panaskan saja." Kali ini Airin berbalik menatap adiknya hanya mengangguk pelan.
"Berarti nanti hanya kami berempat akan makan siang bersama," ujar Aldo membuat dahi Airin mengernyit bingung.
"Berempat?"
Aldo tertawa pelan. "Rangga akan datang ke sini. Aku mengajaknya untuk bermain playstation bersama."
"Oh begitu, ya sudah. Aku berangkat dulu."
Selepas Airin meninggalkan rumah. Ditaza memutuskan untuk mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Setelah itu dirinya mulai menghampiri Emma yang kini bermain balok.
Ditaza sangat menyukai raut wajah Emma yang kebingungan untuk menyesuaikan bentuk balok mainan. Membuat pipi balita tersebut kadang mengembang.
Suara bel membuat Aldo sedaritadi hanya mengawasi Emma menjadi bangkit menuju pintu depan. Tidak lama kemudian, ia kembali bersama Rangga yang berpakaian santai.
"Halo Emma," sapa Rangga berjongkok langsung memegang tangan Emma. Berniat berjabat tangan, namun karena terlalu dekat untuk mendapatkan perhatian balita tersebut, bukan jabat tangan yang didapatnya melainkan kibasan tangan yang mengenai pipinya.
"Auh," ringis pelan Rangga merasakan hantaman tangan mungil Emma yang seolah menampar wajahnya.
Ditaza tidak bisa menahan tawanya melihat hal tersebut. "Makanya, jangan diganggu kalau lagi pusing."
"Galak ya?" Rangga masih terus memandangi Emma yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
"Mirip Ibunya," sahut Aldo, kemudian membuka laci rak televisi dan mengeluarkan playstation seri keempat miliknya.
Rangga hanya menahan senyum mendengar ucapan Aldo. Sedangkan Ditaza mulai menggendong Emma menuju kamarnya, membuat balita itu sempat merontah dan menarik rambut bibinya itu.
Alasan Ditaza membawa Emma adalah agar keponakannya itu tidak akan merangkak untuk mengambil paksa konsol yang dipegang oleh Aldo nanti. Lagipula ia juga yakin bahwa permainan yang akan dimainkan oleh dua lelaki tersebut, tidak akan cocok untuk dinonton oleh Emma.
"Harap bantuannya ya Dit," seru Aldo menyadari bahwa anaknya telah diamankan terlebih dahulu oleh adik iparnya tersebut.
Ditaza mengira kamar akan berantak begitu membawa Emma masuk, sama seperti sebelum-sebelumnya. Namun usahanya mengorbankan ponselnya untuk dipakai Emma menonton youtube berbuah manis. Keponakannya itu hanya berbaring di atas tempat tidur.
Melihat kedamaian yang bisa tercipta membuat Ditaza ingin melakukan sedikit work from home dengan mengecek surel miliknya. Ia perlu menyusun beberapa catatan dari hasil rapat atau pertemuan klien ke setiap jadwal project yang akan dilakukan.
Terlalu fokus menatap layar laptop menjadikan Ditaza malah sedikit melupakan fakta bahwa dirinya tidak sedang sendirian dalam kamar. Namun begitu berbalik sejenak, ia tersenyum lebar melihat Emma malah telah tertidur. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia segera mendekati balita tersebut. Mengambil ponsel yang berada di samping Emma.
Ditaza kemudian memperbaiki posisi tidur Emma, memberikan dua buah guling pada setiap sisi kiri dan kanan agar mengunci pergerakan anak perempuan itu. Awalnya Ditaza hanya ingin mengecek presentasi baterai ponselnya, namun matanya terbelalak begitu mendapati pesan dari Benuja dalam posisi masih layar masih terkunci.
Benuja : ??
Ditaza mengigit bibir bawahnya, lalu segera menuju aplikasi pesan daring yang membuatnya matanya terbelalak. Bagaimana tidak, ia kini melihat emoticon berbentuk love yang dikirim secara beruntun. Namun sebelum itu Benuja telah mengirim pesan terlebih dahulu.
Benuja : Dita, hari ini ada acara?
Mata Ditaza melirik sekilas Emma dan memejamkan mata, mengetahui bahwa keponakannya itu mungkin tanpa sengaja memencet papan ketik ketika pop up pesan dari Benuja muncul. Segera ia harus mengirim pesan balasan untuk meluruskan semuanya.
Ditaza : Maaf, tadi salah pencet.
Pertama Ditaza ingin mengklarifikasi maksud emoticon terlebih dahulu. Sedangkan pertanyaan sebelumnya dari Benuja dipending dulu sampai lelaki itu membalas lagi.
Tok
Tok
Sebelum bisa mendapat balasan pesan, perhatian Ditaza beralih ke arah pintu yang terketuk. Ia berjalan dengan pelan sambil memegang ponsel untuk membukanya.
"Ayo makan dulu," ajak Rangga, lalu melirik Emma yang sedang tertidur. "Mumpung Emma lagi tidur tuh."
Ditaza hanya menganggukkan kepala. Ia bisa merasakan perutnya yang sepertinya membutuhkan asupan makanan. Ia pun bergabung dengan Aldo dan Rangga di meja makan.
"Oh ya Dit, gimana kerjaan di kantor?" tanya Aldo disela gigitannya pada paha ayam goreng.
"Baik," jawab Ditaza singkat.
"Arya belum kembali ke Minor? Rencana kami mau ketemu minggu depan," ujar Aldo mengungkit masalah cuti bos dari Minor tersebut.
Ditaza menyesap minuman sodanya terlebih dahulu, sebelum membalas. "Belum, Kak Benuja yang masih kontrol semuanya."
"Arya sepertinya sedang mencoba hal baru lagi."
Percakapan singkat antara Ditaza dan Aldo pun beralih ke Rangga yang mulai membalas turnamen e-sport yang akan diikutinya. Namun tanpa ketika Ditaza membuka kulkas, tiba-tiba dirinya merasakan celananya seperti ditarik.
"Eh sudah bangun," ujar Ditaza, lalu berjongkok di hadapan Emma. Ia menduga keponakannya itu berjalan sambil merangkak menuju ruang makan.
"Bawa sini Dit," ujar Aldo terkekeh pelan melihat raut wajah Emma yang masih linglung setelah bangun tidur.
Melihat Emma yang sudah terbangun menjadikan Ditaza berinisiatif menyiapkan makanan balita tersebut yang telah dibuat oleh Airin.
Aldo mengetahui apa yang sedang dikerjakan Ditaza membuatnya membawa Emma menuju ruang tengah setelah selesai makan. Ia terus berusaha menghibur anaknya itu agar tidak mencari Airin.
"Udah cocok ya jadi Ibu."
Rangga yang masih berada di meja makan mengomentari apa yang sedang Ditaza lakukan, membuat perempuan itu berbalik dengan memasang wajah kesalnya.
"Kau kan anak tunggal jadi tidak pernah merasakan merawat adik, apalagi keponakan," balas Ditaza dengan tangan yang terus bergerak.
Rangga tertawa pelan. "Entahlah, mungkin itu sebabnya aku suka ke sini, kau dan Kak Airin adalah sepupu yang paling dekat rumahnya kutuju."
Ditaza hanya mendengus pelan. "Harusnya akhir pekan ini kau keluar bareng pacarmu. Bukan malah main game bareng Kak Aldo."
"Aku masih sendiri Dit," balas Rangga singkat sebelum menyusul Aldo dan Emma menuju ruang tengah.
"Tungguin Emma makan dulu, baru kita main PUBG," ujar Aldo melihat kedatangan Rangga.
Rangga menganggukkan kepala berniat untuk mendekati Emma yang kini fokus menonton televisi sambil bersandar pada perut ayah balita itu. Namun langkah Rangga terhenti begitu mendengar suara deringan telepon. Ia memutar lehernya dan menyadari bahwa itu berasal dari kamar Ditaza yang pintunya tidak tertutup rapat.
Pada awalnya Rangga ingin memanggil Ditaza, namun ia ingat bahwa mungkin perempuan itu masih menyiapkan makan siang Emma. Oleh karena itu, dirinya kemudian masuk ke dalam kamar dan mencari sumber suara deringan telepon tersebut.
Kak Benuja. Mata Rangga menangkap nama tersebut sedang melakukan panggilan suara. Ia lalu memegang ponsel Ditaza dan mengusap tombol hijau, lalu menempelkan benda itu ke telinganya.
"Halo Dita, maaf aku telepon, soalnya kau tidak membalas pesanku."
Suara Benuja yang berujar terburu-buru dapat didengar dengan jelas oleh Rangga yang kini mengangkat telepon tersebut.
"Ini bukan dari Dita," balas Rangga dengan nada pelan.
"Oh, tapi bukankah ini nomor Ditaza?" tanya Benuja memastikan.
"Hm, benar. Sekarang Ditaza--"
"Eh kau di sini?"
Suara Ditaza otomatis membuat Rangga berbalik badan dan menghentikan balasannya untuk Benuja.
Sementara itu Ditaza mengangkat alisnya, pandangannya kemudian menyadari sesuatu. Matanya seketika membulat seiring dengan langkah kakinya yang mendekati Rangga.
"Eh," pekik Rangga sedikit terkejut begitu ponsel pada tangannya direbut oleh perempuan itu.
Ditaza mengangkat kepalan tangannya di depan wajah Rangga begitu melihat nama Benuja yang panggilannya masih terhubung. Sedangkan Rangga hanya menyengir kuda melihat reaksi Ditaza yang seolah akan berhadapan dengan dosen pembimbing.
"Halo Kak Benu. Maaf tadi Ditaza ada urusan," ujar Ditaza sambil berjalan keluar dari kamar menuju teras rumah.
Rangga mengikuti perempuan itu, namun berhenti di ruangan tengah di mana Aldo telah menunggunya untuk bermain game. Sedangkan Emma yang hampir menghabiskan makan siangnya, kembali melanjutkan acara nontonnya.
Setelah menerima telepon kurang lebih lima belas menit Ditaza kembali masuk ke dalam rumah. "Aku ingin keluar sebentar. Kak Airin juga tadi telepon, katanya sudah diperjalanan pulang."
Rangga mendongak sambil tersenyum. "Mau keluar ketemu Benuja ya?"
Aldo yang sedaritadi hanya melihat ke arah ponsel atau melirik Emma, kini mendongak menatap Ditaza. "Benuja?"
"Ada sedikit pekerjaan yang harus Dita lakukan," balas Ditaza mengingat ucapan Benuja bahwa dirinya dan lelaki itu perlu menemui salah satu klien.
"Akhir pekan gini?" ujar Aldo mengernyitkan dahi.
"Hanya berdua?" timpal Rangga membuat Ditaza mendesah pelan.
"Ya mau bagaimana lagi."
Rangga terkekeh pelan. "Pasti Benuja kaget pas aku yang mengangkat teleponmu."
Ditaza memutar bola matanya mendengar penuturan Rangga yang seratus persen benar. Namun reaksi Benuja tadi akan hal itu juga membuat bingung.
"Kalau kau sedang bersama pacarmu, aku akan berangkat sendirian."
"Dita tidak punya pacar."
Ditaza juga sedikit heran dengan balasan ucapannya kepada Benuja. Namun ia juga tidak memberitahu lebih rinci tentang Rangga yang merupakan sepupunya lah yang mengangkat telepon tersebut.
☆☆☆