Praduga

1507 Kata
Ditaza tersenyum lebar kala membaca ulasan positif dari komentar foto dan video lamaran Pradikta Armando yang berlangsung sukses. Pinangan aktor tersebut akhirnya diterima oleh sang kekasih.  Seketika dunia maya pada media sosial di Indonesia menjadi heboh. Nama Pradikta menjadi trending di twitter dan sudah dipastikan isinya penuh dengan cuitan patah hati dari netizen perempuan. "Wah bahkan grup chat angkatan SMA-ku membicarakan tentang Dikta," ujar Sanisa dengan tangan memegang ponselnya di meja kerja. Doni tersenyum singkat. Ia merasa bangga bisa mewujudkan dokumentasi lamaran tersebut, bahkan akun instagramnya di-tag oleh Dikta sendiri. Rehan mendesis sejenak. Meski matanya menatap layar monitor, tetapi pikirannya juga masih tidak habis pikir bahwa ada lelaki terkenal seperti Dikta yang kisah cintanya cukup sederhana. Jatuh cinta dengan teman SMA. "Rasanya Dikta seperti karakter fiksi film di dunia nyata," komentar Rehan, kemudian memutar kursi kerjanya menghadap Ditaza. "Dita, pasti terpukaukan lihat Dikta secara langsung?" Ditaza terkekeh pelan sambil menganggukkan kepala. "Ternyata tidak sedingin yang selama ini dibicarakan." "Kayak Ben bukan? Di luar terlihat dingin, pendiam dan cuek. Namun perhatian," timpal Sanisa menggambarkan sosok Benuja. Ditaza menoleh ke perempuan itu. "Benarkah?" "Masa gak sadar sih, oh ya … kalian juga kenal dari SMA dan kembali bertemu. Siapa tahu ternyata jodoh," balas Sanisa dengan pandangan menggoda, membuat pipi Ditaza bersemu merah. "Apalagi Dita diantar pulang kemarin sama Ben loh," tambah Rehan semakin membuat Ditaza merasa malu.  Sejak dari rumah Dikta, secara sukarela Benuja memang sering mengajak Ditaza untuk pulang bersama, namun baru kemarin diketahui anggota tim videografi Minor setelah Rehan menjadi saksi keduanya. Doni hanya tertawa. "Sudah, sudah. Entar Ben pulang dan dengar, kalian kena omelan." "Memang Kak Benu ke mana?" tanya Ditaza kemudian teringat bahwa setelah rapat untuk project selanjutnya, ia belum pernah melihat Benuja lagi.  "Oh itu, katanya lagi ada janji sama seseorang. Cuma aku curiga itu panggilan dari Dikta soalnya dengar dia telepon sama seseorang dan menyebut nama Galuh sepupunya yang merupakan teman dekat Dikta." Ucapan Doni sontak membuat Sanisa dan Rehan terkejut, mereka bahkan mendekat ke meja lelaki itu untuk mendengar penjelasan lebih lanjut. Ditaza yang telah mengetahui fakta tersebut hanya menyimak dari jauh. Namun ponsel di atas meja kerjanya bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Rangga : Lagi di mana? Ditaza : Kantor Minor. Ada apa? Suara lagu pretty girl kemudian menggema membuat Ditaza terlonjak kaget, ternyata Rangga memilih meneleponnya dibanding membalas pesannya. Bahkan anggota tim videografi Minor melihat ke arah Ditaza. Ditaza yang tidak enak hati,  kemudian keluar dari ruangan sambil membawa ponselnya yang masih terus berdering. "Halo, kenapa telepon?" ujar Ditaza langsung memprotes. Ia berjalan hingga sampai di depan elevator. Terdengar suara tawa Rangga. "Sorry, kalau aku ganggu. Gini, aku butuh bantuanmu." Rehan juga ikut keluar dari ruangan tim videografi, berniat menuju lantai bawah untuk mengambil paket. Malas turun tangga mengharuskannya berjalan melewati Ditaza yang sedang menelepon. "Kau itu ya, sejak SMA selalu buat aku susah. Oke, cepat ke sini sebelum aku berubah pikiran." Tidak sengaja mendengar suara Ditaza yang seperti menggerutu membuat Rehan memandang wanita itu, namun ia hanya tersenyum memberi reaksi. Ditaza yang menyadari suaranya terdengar, kemudian memasang wajah kikuk sambil berusaha membalas senyuman Rehan. Setelah menutup telepon, Ditaza kembali masuk. Namun tidak langsung duduk di depan meja kerjanya. Ia memilih berdiri dengan perasaan sedikit gelisah. "Oh ya, habis ini masih ada kerjaan?" Sanisa yang masih mengobrol dengan Doni menoleh menatap Ditaza. "Enggak sih, aku dan Doni juga sudah mau balik. Kita lagi nungguin paket Rehan yang berisi sepatu olahraga yang dibeli pada online shop beberapa hari yang lalu." "Kalau begitu aku pulang duluan, soalnya ada janji." Baik Sanisa atau Doni hanya mengangguk pelan. Helaan napas keluar dari mulut Ditaza begitu meraih tasnya dan berjalan menuju elevator.  Ditaza melirik jam tangannya dan begitu berada di lantai dasar. Ia segera berjalan menuju pintu depan dan menemukan Rehan masih menyelesaikan proses transaksinya. "Eh Dita, udah mau balik ya?" Rehan melirik Ditaza, lalu menandatangani kepada pihak pengirim paket sebagai tanda terima. "Iya Kak," balas singkat Ditaza. Tepat setelah perempuan itu membenarkan, mobil Rangga berjenis SUV berhenti di depan gedung Minor. Menarik perhatian Rehan seketika, apalagi dilihatnya Ditaza berjalan menuju mobil itu. "Duluan ya," ujar Ditaza berbalik sebentar menatap Rehan. "Oh iya, sampai jumpa minggu depan," balas Rehan melambaikan tangan. Ia juga bisa melihat orang yang menjemput Ditaza dan ternyata seorang pria. Rangga memang menurunkan kaca mobilnya, membunyikan klakson sambil melempar senyum kepada Rehan sebagai tanda salam. "Bagaimana bisa kau melupakan hari ulang tahun Kak Runaya sih," gerutu Ditaza begitu mobil mulai bergerak. Ia masih tidak habis pikir bahwa Rangga melupakan hari ulang tahun kakak lelaki itu. Rangga mendesah. "Kau tahu kan, aku sibuk mengurus tim e-sport yang sebentar lagi bertanding. Besokkan Kak Runaya ulang tahun, jadi kau temani aku memilih kado yang cocok untuknya," balasnya menoleh sekilas memandang sepupunya itu. Akhirnya Ditaza harus merelakan jumat sorenya itu untuk berkeliling di pusat perbelanjaan bersama Rangga. Jika ada yang melihat keduanya, maka sudah pasti akan mengira mereka sepasang kekasih. * "Oh?" Doni yang pulang dengan mengantar Sanisa kemudian berhenti melangkah ketika melihat Benuja keluar dari elevator. Lelaki itu datang dengan memegang sebuah kantong yang membuat anggota tim videografi Minor penasaran. "Dikta yang kasih ke kau?" tanya Sanisa telah berada kembali di dalam ruangan tim videografi. Membuka kantong yang berisi parfum Eau de Toilette.   Benuja yang datang menemui Dikta untuk makan siang bersama, kemudian mendapatkan ole-ole dari Prancis sebagai tanda terima kasih kepada anggota tim Minor yang telah mewujudkan lamaran tersebut sehingga sukses dan terdokumentasi dengan baik. Benuja yang juga berada di ruangan tersebut mengangguk pelan. "Karena seperti sebagian besar sudah pulang, jadi taruh saja di meja kerja mereka," ujarnya melirik ruangan tim fotografi yang tampak sepi. Sanisa mengangkat tangannya. "Sip. Berarti buat Rehan, Zaki sama Ditaza juga taruh di meja mereka saja," katanya mengeluarkan parfum tersebut dan berjalan menuju meja masing-masing untuk menaruhnya. Benuja melirik sekilas ke arah meja Ditaza. "Dita sudah pulang?" tanyanya. "Iya, malah lebih duluan dari Rehan," sahut Doni kini memasukkan parfum miliknya ke dalam tasnya. Sanisa yang sudah menaruh parfum rekan timnya kini berjalan mendekati Benuja sambil menyeringir. "Tapi sebelum Rehan pulang tadi, dia sempat lihat, kalau Ditaza pulang dijemput seseorang." "Oh lelaki yang tersenyum kepada Rehan?" timpal Doni mulai bangkit berdiri, bersiap untuk pulang. Sanisa mengangguk dengan cepat. "Hm, bahkan Rehan dengar kalau Ditaza menelepon lelaki itu dan berkata seolah sejak SMA telah merepotkannya. Jadi mungkin kenalan Ditaza sejak SMA." Benuja mengernyit begitu mendengar kata SMA. Mau tidak mau dirinya memikirkan tentang siapa mungkin kenalan Ditaza dari SMA yang menjemput perempuan tersebut. "Bisa saja teman sekelasnya dulu," ujar Doni terlihat acuh. "Menurut Rehan sih bukan, soalnya kelihatan lebih tua dari Ditaza. Jangan-jangan satu angkatan Ben lagi," balas Sanisa menatap Benuja yang kelihatan termenung. "Ben?" seru Doni memanggil. "Ouh, kalau begitu aku pulang dulu," ujar Benuja setelah tersadarkan oleh seruan Doni. Sanisa hanya menganggukkan kepalanya. "Makasih ya Ben. Aku taruh ini ke ruangan sebelah dulu ya," ujarnya kepada Doni. Sedangkan Benuja telah berjalan kembali menuju mobilnya. Lelaki itu kemudian menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah. Namun ketika telah sampai dan membuka pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Ada apa Kak Arya? angkat Benuja masih berada di depan pintu. "Ben, jemput dong." Suara Arya membuat Benuja hanya menghela napasnya. Lelaki itu tidak habis pikir bagaimana bisa kakak laki-lakinya itu berada di pusat perbelanjaan seorang diri. Tanpa melangkah masuk ke dalam rumah lebih lanjut, ia segera kembali ke mobil. Hanya butuh sekitar lima belas menit untuk Benuja sampai di sebuah pusat perbelanjaan dan yang membuatnya bertambah merasa konyol adalah tempat Arya berada sekarang adalah arena hiburan.  "Oh Be ke sini!" seru Arya sedang asyik bermain street basketball. "Kenapa bisa di sini coba?" ujar Benuja mendekat dan menatap Arya yang mencoba melempar bola basket ke dalam keranjang yang terus bergerak. "Aku tadi ngopi bareng salah satu teman tim, terus kepikiran ajak kau main. Ayolah Ben, rilekskan pikiranmu sekarang. Besokkan sudah akhir pekan," ujar Arya memberi Benuja kartu bermainnya. Benuja mendengus sesaat sebelum akhirnya mulai menyingsingkan lengan kemejanya ke atas untuk mulai juga ikut melempar bola basket di samping Arya. Tidak puas hanya bermain basket, keduanya juga mulai bertanding dengan permainan hockey meja dan juga balapan mobil pada arena permainan maximum tune. Nostalgia kakak-beradik itupun seolah timbul kembali, mereka bahkan mengabaikan pandangan  beberapa anak sekitar yang melihat keduanya asyik bermain. "Mau coba gak?" tanya Arya berhenti di depan capitan boneka. Benuja menggeleng. "Mau apa nanti bonekanya?" "Ya … kasih pacarmu gitu," balas Arya dengan santai. "Enggak, lagipula aku tidak punya pacar juga." Benuja kemudian berjalan keluar dari arena hiburan diikuti oleh Arya di belakangnya. Menghabiskan banyak tenaga membuat keduanya memutuskan singgah di salah satu kafe yang masih berada di dalam area pusat perbelanjaan untuk menikmati minuman dingin dan juga donat yang memiliki rasa manis untuk mengembalikan energi keduanya. "Oh ya Ben, bicara tentang pacar." Arya mengunyah sampai habis donat miliknya. "Tadi aku kayak lihat Ditaza jalan sama laki-laki." Benuja yang sedang asyik menyeruput minumannya kemudian menjadi terbatuk-batuk. "A-apa?" Arya terkekeh melihat reaksi adiknya itu. "Soalnya mereka masuk ke area yang menjual tas dan sepatu wanita gitu. Kalau sebatas teman antara perempuan dan laki-laki biasa cuma makan atau nonton bersama." Benuja menjadi terdiam untuk sesaat. Berarti lelaki yang dilihat oleh Rehan dan Arya kemungkinan adalah lelaki yang sama dan bisa saja kenalan Ditaza memang sedari SMA. "Lalu kau tahu lucunya di mana?" ujar Arya memberi pandangan misterius kepada Benuja. Yang entah mengapa membuat Benuja tiba-tiba saja merasa gugup. "Apa yang lucu?" "Aku melihat gantungan kunci dengan logo XUG yang dipegang lelaki bersama Ditaza itu. Bisa saja lelaki itu juga anggota XUG, mengingat aku belum bertemu anggota senior mereka." Jadi lelaki bersama Ditaza juga seorang pro gaming? ujar batin Benuja bertanya-tanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN