Klien Penting

1806 Kata
"Memperbaikinya?" gumam Benuja kini duduk di depan meja kerjanya sambil memikirkan ucapan Ditaza kemarin. Baru saja dirinya akan bertanya lebih lanjut sebelum Sanisa datang. Benuja melirik jam tangannya. Ia kemudian bangkit dan berjalan keluar ruangan. Pertemuan dengan salah satu klien membuatnya harus meninggalkan Minor, berbeda dengan project sebelum-sebelumnya di mana klien lah yang menghubungi atau mendatangi kantor Minor. Ketika pintu elevator terbuka, Doni langsung menghampiri Benuja yang keluar dari sana. "Berangkat sekarang?" tanyanya mendapat sedikit lirikan dari Rehan. Rehan menyipitkan matanya sejenak. "Jangan-jangan mau ke sana ya?" tanyanya ambigu. Benuja hanya memandang datar ke arah Rehan, tahu maksud lelaki itu. "Terus mana Ditaza? Dia perlu jadi notulen nanti." Mata Rehan seketika membulat mendengarnya. "Ditaza juga perlu ikut? Kurasa dia akan terkejut ketika sampai di sana," katanya mengetahui bahwa project selanjutnya belum diketahui oleh Ditaza. Ia pun juga hanya mengetahuinya, setelah tidak sengaja mendengar percakapan antara Doni dan Benuja. Kali ini yang menjadi klien Minor adalah Pradikta Armando, aktor terkenal yang telah membintangi banyak judul film dengan berbagai penghargaan bergengsi. Bukanya hanya di Indonesia, tetapi juga telah merambah Asia. Namun aktor yang akrab dipanggil Dikta itu jarang terdengar kabar terkait kehidupan pribadinya, salah satunya tentang kehidupan asmaranya.  Benuja sebenarnya tidak terlalu tahu menahu tentang Dikta, selain sebagai seorang aktor. Namun begitu manajer Dikta datang ke Minor dan bertemu pertama kali dengan Sanisa membuat perempuan itu menjelaskan kepada Benuja tentang bagaimana kehidupan Dikta yang seolah tidak pernah tersentuh kabarnya bahwa dekat dengan wanita. Namun kini Benuja malah mendatangi rumah aktor tersebut untuk project lamaran seorang Dikta yang akan dilakukan diam-diam. "Iya, terus mana dia?" "Oh itu, tadi katanya mau ke apotik yang ada dekat kantor," jawab Doni kemudian mulai mengambil tas kecilnya. Benuja terdiam sejenak sambil berpikir. "Baiklah, kita jemput dia di sana saja." Mau tidak mau pikiran Benuja menjadi berkeliaran tentang keperluan apa sehingga Ditaza harus ke apotik. Dengan segera ia berjalan menuju mobil yang ada di parkiran, dirinya bahkan harus membunyikan klakson agar Doni yang berjalan sambil bermain ponsel bisa segera ikut masuk ke mobil. "Oh itu dia," ujar Doni menunjuk kepada Ditaza yang telah keluar dari apotik. Benuja menurunkan kaca mobilnya, lalu menoleh. "Dita, ayo masuk," serunya sambil memandang saksama perempuan itu. Ditaza hanya memasang wajah kebingungan untuk sesaat sambil memegang plastik berisi sesuatu, tetapi pada akhirnya dirinya masuk ke dalam mobil di mana Benuja dan Doni telah berada di dalam. "Mau ke mana kita?" tanya Ditaza pelan. Duduk di bangku belakang. Benuja melirik Ditaza dari spion depan. "Ke rumah klien. Tapi nanti jangan heboh pas sampai di sana." Dahi Ditaza mengernyit bingung, menjadikan Doni yang melihat ekspresi perempuan itu dari kaca spion kemudian menjadi tertawa. "Ben, jelasinnya yang lengkap dong." Doni bahkan sedikit membalik badannya agar bisa menatap Ditaza. "Jadi gini, tahu Dikta? Aktor terkenal itu?" Ditaza mengangguk dengan cepat. Rutin menonton film entah bersama Airin atau teman semasa kuliahnya membuat dirinya jelas mengenal siapa itu Dikta. "Jadi klien kita itu Dikta. Dia pengen melamar kekasihnya dan menunjuk Minor buat mengabadikan momen tersebut," ujar Doni menjelaskan. Ditaza melongo tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Meskipun ia bukanlah termasuk penggemar Dikta, bukan berarti dirinya tidak mengikuti aktor tersebut di i********:. Dan setahunya Dikta hanya mengunggah foto bertema alam, bahkan foto lelaki itu juga jarang ada. Melihat Doni yang mulai menjelaskan membuat Benuja kembali menancap gas untuk melanjutkan perjalanan mereka. Ketika mobil mulai masuk ke sebuah perumahan elit, disitulah Ditaza benar-benar kini yakin bahwa klien yang ditemuinya sebentar adalah orang kaya dan terkenal. Benuja dengan santai menekan bel sebuah rumah setelah ia diizinkan masuk oleh satpam setelah menerangkan maksud kedatangannya. Pintu kemudian terbuka, lebih tepatnya dibukakan oleh manajer Dikta. "Dari Minor ya? Silakan masuk." Sambut manajer tersebut dengan ramah. Mata Ditaza kini bisa melihat sosok Dikta sedang duduk di sebuah ruang tengah sendirian. Memakai pakaian santai membuat ketampanan lelaki itu berkurang. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Ditaza sekarang. "Kau pasti Benuja? Aku sudah mendengar tentang Minor dari Galuh," ujar Dikta bangkit dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar. Benuja menerima uluran tangan tersebut. "Aku tidak menyangka Galuh kenal dengan seorang artis." Dikta tertawa pelan, namun matanya tanpa sengaja bertemu dengan Ditaza. "Galuh sepupumu adalah teman dekatku sewaktu kuliah di Melbourne dan merekomendasikan Minor kepadaku." Ia kemudian beralih dan menjabat tangan Doni dan Ditaza secara bergantian. "Harap kerjasamanya ya?" Ditaza sedikit merinding kala telapak tangannya bersentuhan dengan tangan Dikta, apalagi yang ada dalam pikiran sekarang adalah bahwa lelaki yang ada di hadapannya ini adalah Pradikta Armando! Setelah tim Minor yang terdiri dari Benuja, Doni dan Ditaza duduk di sofa, Dikta mulai bercerita tentang rencana lamarannya itu. "Jadi aku memiliki kekasih yang merupakan teman sewaktu SMA dulu. Kami baru-baru saja bertemu kembali dalam sebuah reuni kecil dan mulai menjalin hubungan sejak itu," ujar Dikta menceritakan kisah asmaranya. Mata Ditaza mengerjap bisa merasakan bahwa kisah Dikta begitu manis. "Wah, apakah … sudah ada perasaan dulu?" tanyanya reflek, lalu setelah sadar menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Dikta malah tertawa melihat reaksi Ditaza. "Tidak, tidak. Walaupun kami saling mengenal, tetapi tidak dekat. Mungkin memang benar kesempatan kedua untuk mengenal seseorang dari masa lalu bisa mengubah segalanya." Setelah mendengar ucapan Dikta, tanpa sadar Ditaza melirik ke arah Benuja yang kebetulan lelaki itu juga melihat ke arahnya. Seketika perempuan itu memalingkan wajah dengan ekspresi canggung. "Lalu kenapa kau merahasiakan hubunganmu dengannya?" tanya Benuja beralih menatap Dikta. "Aku bukanlah jenis orang yang akan mengumbar hubungan dengan seseorang, apabila belum benar-benar terikat dan berkomitmen dengan orang tersebut," jawab Dikta membuat Ditaza terhenyak. "Kurasa publik akan terkejut tiba-tiba mendengar kabar pernikahan kalian," ujar Doni kini bersuara. Lagi-lagi Dikta tertawa. "Aku hanya berharap dia akan menerima lamarannya. Ini membuatku sedikit gugup, project seperti ini selalu sukses bukan? Lamaran diterima oleh pihak wanitanya?" Akhirnya untuk dua jam Dikta menceritakan bagaimana konsep yang telah ia pikirkan untuk acara lamarannya dan Benuja juga menerangkan bagaimana akan mengabadikan momen tersebut tanpa akan terlihat jelas. Ditaza juga mencatat segalanya dibantu oleh Doni yang juga menerangkan bagaimana lelaki itu akan mengambil gambar dan video tersebut kepada Dikta. Terlebih proses lamaran tersebut akan diadakan di sebuah restoran yang telah direservasi seluruhnya oleh Dikta. "Kalian pasti lapar bukan?" tanya Benuja ketika telah berada kembali di dalam mobil bersama Doni dan Ditaza.  Doni mengangguk dengan cepat. "Tentu saja, kita makan siang dulu sebelum balik ke Minor." "Tapi … apakah Minor memang biasa menerima project lamaran seperti ini?" tanya Ditaza masih sedikit asing dengan project kali ini. Doni menoleh sambil tersenyum. "Pernah sekali dan berakhir dengan tragis." Ditaza mengernyit bingung. "Tragis?" "Lamarannya ditolak," jelas Benuja membuat Ditaza terkejut. "Hari itu benar-benar sangat memilukan. Aku yang merekam videonya bahkan tidak tahu harus berkata pada pria tersebut," ujar Doni seolah mengingat kilas balik kejadian tersebut. "Padahal kalau tidak salah mereka telah berpacaran selama tiga tahun." "Oh … jadi risiko ditolak tetap ada ya?" gumam Ditaza dengan pandangan menerawang. Benuja yang mendengarnya hanya menegak salivanya.  "Tapi inikan Dikta, siapa sih yang bakal tolak lamarannya," lanjut Ditaza merasa bahwa lamaran Dikta tidak akan berakhir tragis seperti cerita Doni. Doni kembali menghadap ke depan, lalu tersenyum singkat. "Sampai belum ada buku nikah, maka semua bisa terjadi." Setelah makan siang ketiga anggota Minor yang bertemu dengan Dikta tersebut kemudian kembali ke kantor Minor.  "Dita," seru Benuja yang terakhir keluar dari mobil. Ditaza berbalik badan dan menemukan Benuja menyodorkan kantong plastik yang didapatnya dari apotik tadi sebelum berangkat ke rumah Dikta. "Eh, makasih Kak Benu," balasnya sambil tersenyum. "Kau sakit?" tanya Benuja membuat Ditaza mendongak menatap lelaki tersebut. "Tidak juga, aku cuma beli semacam vitamin. Soalnya akhir-akhir kayak kelelahan gitu. Bahkan aku sempat membuat sopir taksi muter-muter soalnya aku ketiduran," jawab Ditaza diakhiri kekehan kecil. Benuja hanya mengangguk singkat mengerti. "Baiklah, ayo masuk." Setibanya di lantai tiga, Benuja langsung menuju ruangan tim fotografi untuk berkoordinasi tentang project yang sedang dikerjakan. Setelah itu ia menuju ruangan tim videografi.  "Kau sudah menyelesaikan editan untuk video acara ulang tahun kemarin?" tanya Benuja mendekati meja kerja Rehan. Rehan mengangguk cepat. "Sudah dong. Mau lihat sekarang?" Benuja menggeleng pelan. "Besok saja. Oh ya Sanisa, gimana susunan acara buat nikahan di Hotel YQ?" Sanisa yang sedang fokus pada ponselnya, melirik ke arah Benuja. "Sudah kudapatkan Bosku, kirim di grup WA aja ya?" Benuja mengangguk setuju. "Oke, kalau begitu kalian semua boleh pulang." "Masih jam lima juga, oh ya … gimana kalau habis ini kita hangout bareng? Sekalian perpisahan sebelum akhir pekan besok," ujar Sanisa membuat langkah Benuja yang akan keluar menjadi terhenti. Rehan bangkit dengan semangat. "Boleh tuh, sekalian pesta sambutan Ditaza yang hampir sebulan bergabung dengan kita." "Aku sih oke," ujar Doni setuju. "Ya gak masalah, hitung-hitung melepas penat juga. Besok bisa istirahat penuh," tambah Zaki membuat Sanisa bertambah semangat. Sanisa berjalan mendekati meja kerja Ditaza. "Gimana Dita?" Ditaza tersenyum tipis sambil mengangguk. Jika dipikir-pikir ini pertama kalinya ia akan keluar hangout bersama dengan anggota Minor. Sebelum-sebelumnya hanya sebatas makan siang bersama. "Kalian mau di mana? Kita keluar sebelum jalanan macet." Ucapan Benuja membuat anggota tim videografi Minor tersenyum lebar, kecuali Ditaza. Mereka tahu jika Benuja sudah mau ikut, maka dompet mereka akan aman. Hal itu kemudian menjadi nyata ketika seluruh anggota tim videografi Minor ditraktir Benuja untuk menonton film bertema superhero. Setelah menghabiskan waktu menatap layar bioskop selama dua jam, keenam orang tersebut melanjutkannya dengan bersantai di sebuah kafe yang dilengkapi live music. "Oh ya Dita, gimana Ben waktu SMA?" Pertanyaan random Sanisa membuat Benuja mengernyitkan dahi. "Gimana apanya?" Kali ini Benuja yang membalas ucapan Sanisa. Ia khawatir jika perempuan itu terlalu mengulik lebih dalam tentang hubungannya dengan Ditaza, padahal dirinya hanya sebatas sebagai 'pria yang tertolak' oleh Ditaza. "Kak Benu ya? Hm," ujar Ditaza mulai bersuara membuat tim videografi Minor melihat ke arah perempuan tersebut. "Kak Benu galak sih waktu OSPEK dulu, tapi perhatian orangnya." Benuja yang sedang menyesap kopinya seketika tersendak mendengar ucapan Ditaza. Sedangkan Sanisa dan Rehan sudah bersiul menggodanya. "Pernah Ditaza terjatuh waktu lari estafet pas masih OSPEK, terus Kak Benu yang bawa ke UKS," lanjut Ditaza bercerita. Mata Rehan membulat. "Digendong gitu? Ala bridal style?" Ditaza tertawa pelan. "Bukan, bukan. Cuma dirangkul bahu gitu." Benuja hanya terdiam mendengar ucapan Ditaza. Ia dalam hati terperangah tidak menyangka bahwa kejadian singkat yang sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu masih diingat oleh Ditaza. Seolah membuatnya merasa bahwa mungkin … mungkin kesempatan kedua yang dibicarakan oleh Dikta benar adanya. Pukul sembilan malam membuat semuanya kemudian bersiap pulang. Doni pun menawarkan untuk mengantar pulang Sanisa, Rehan dan Zaki. Namun sebelum mengajak Ditaza, perempuan itu telah terlebih dahulu diajak oleh Benuja dengan alasan satu arah. "Memang Kak Benu tahu alamatku?" tanya Ditaza begitu telah berada di dalam mobil, sebelah Benuja. Benuja menoleh sekilas. "Oh, coba cari di sini supaya tidak tersesat." Ia menyerahkan ponselnya yang telah membuka google maps. Ditaza tersenyum singkat, tetapi tidak berkata apapun. Ia memasukkan alamatnya sesuai permintaan Benuja. Setelah kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya ia bisa melihat rumahnya. "Di sini?" Benuja memerhatikan rumah di mana mobilnya berhenti pada bagian depan gerbang. Ia mengernyitkan dahi merasa aneh dengan tampilan rumah tersebut. Bisa saja bukan direnovasi? Namun satu hal yang ditangkapnya bahwa rumahnya dengan rumah Ditaza memang satu arah. "Makasih ya Kak Benu sudah mau repot antar pulang aku," ujar Ditaza menoleh menatap lelaki tersebut  Benuja ikut menoleh, lalu mengangguk singkat. "Lain kali jangan ketiduran kalau naik taksi atau kalau tidak masalah kita bisa pulang bersama, lagipula juga searah." Ucapan Benuja membuat Ditaza menahan napasnya seraya merasakan wajahnya memanas. Lelaki itu menawariku pulang bersama untuk selanjutnya? Namun entah mengapa ia malah mengangguk mengiyakan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN