Ulang Tahun

3194 Kata
"Gimana kerjaan di kantor?" tanya Arya ketika Benuja keluar dari kamar dengan memakai pakaian semi formal, khas lelaki itu untuk berangkat ke Minor. Benuja mendengus pelan, lalu menuju dapur untuk memanggang roti. Ia terlebih dahulu mengoleskan selai kaca di atasnya. Sambil menunggu rotinya terpanggang dengan sempurna, ia menuangkan kopi hitam ke dalam cangkir. "Kerjaan? Baik, kurasa Kak Arya bisa datang melihatnya," ujar Benuja dengan sebelah tangan menenteng piring yang di atasnya terdapat roti bakar dan tangan lainnya memegang cangkir kopi. Ia kemudian duduk di depan meja makan, di mana Arya telah berada di sana terlebih dahulu. "Bukan itu, aku bukan ingin mengevaluasi kerja kalian. Kau tahu, aku mulai bergabung dengan tim XUG kemarin," balas Arya sambil tersenyum bangga. Benuja menarik napas singkat. Ia kemudian mengigit rotinya sambil memandang Arya, kakak laki-lakinya yang rela cuti dari posisinya sebagai direktur Minor untuk kemudian berjuang menjadi seorang pro player gaming.  "Kak Arya yakin akan terus melanjutkannya?" ujar Benuja merasa selama ini Minor begitu berkembang semenjak Johan, adik ayahnya menyerahkan Minor kepada Arya lima tahun lalu. Minor semula adalah komunitas yang dikembangkan oleh Johan dan teman kuliahnya, kemudian berubah menjadi tempat penjualan kamera antik beserta aksesorisnya. Johan yang telah menjadi dosen kemudian semakin menjadi sibuk, begitupula teman-teman lainnya yang sudah berkeluarga bahkan banyak yang pindah ke luar negeri. Sebagai pemilik modal terbesar, Johan kemudian mengambil alih Minor secara keseluruhan dan menyerahkannya kepada Arya. "Ya, aku senang memilikimu yang siap mengurus Minor," ujar Arya bangkit berdiri kemudian menepuk bahu adiknya. Jarum jam tangan Benuja telah menunjukkan pukul delapan lewat beberapa menit. Kemacetan kemudian terjadi pada persimpangan jalan sebelum Minor. Untuk meredam rasa jenuh, ia kembali menyalakan radio yang ternyata sedang memutar musik. Hadirmu mengubah arti hidupku Jadilah aku tawanan cintamu Kuserahkan seluruhnya untukmu Kupenuhi semua yang kau inginkan Tiada yang penting selain dirimu Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu Di setiap waktu Di setiap waktu Lagu milik Pilot kemudian membuat Benuja kembali teringat perjalanannya dengan Ditaza beberapa hari yang lalu, di mana mereka berdua juga sedang mendengarkan lagu-lagu lawas seperti sekarang. Namun kenangan tersebut terusik dengan suara klakson dari mobil belakang. "Selama pagi semua," sapa Benuja memasuki Minor pada lantai pertama. "Ada apa Ben?" tanya Radit yang bertanggungjawab atas toko yang berada di lantai dasar tersebut. Selain sebagai toko, lantai tersebut juga sebagai gudang menyimpan sejumlah kamera untuk keperluan fotografi. "Oh itu, istri dari saudara Ayahku ingin mengadakan pesta ulang tahun dengan tema tahun sembilan puluhan dan aku membutuhkan kamera polaroid yang cocok. Dia ingin mengabadikan momen tersebut dengan teman-temannya," jelas Benuja dengan pelan. Radit mengangguk mengerti. Ia kemudian menuju lemari kaca di belakangnya dan mengambil kamera berjenis Fujifilm Instax Mini 90 Neo Classic. "Kurasa ini akan cocok, hasil di dapatkan sangat vintage khas tahun 1970." Benuja meraih kamera polaroid tersebut. "Benarkah? Baiklah, thank you." Ia kemudian berjalan menuju elevator dan naik ke lantai dua. "Oh selamat pagi Kak Benu," sapa Ditaza yang kebetulan lewat ketika pintu elevator terbuka. Benuja hanya menganggukkan kepalanya, namun perhatiannya beralih pada setumpuk majalah yang dipegang Ditaza. "Apa itu?" tanyanga penasaran. "Oh ini, properti untuk klien yang ulang tahun besok. Kebetulan Kak Sanisa punya koleksi bahkan dari sepuluh tahun yang lalu," balas Ditaza menjawab. "Lalu kenapa ada padamu?" "Aku perlu membawanya ke mobil Kak Doni, supaya katanya besok tidak perlu repot lagi." Ditaza menjelaskan dengan pelan dan diakhiri dengan senyuman. Ia kemudian masuk ke dalam elevator. "Tunggu dulu."  "Eh?" Ditaza menjadi terkejut begitu Benuja ikut kembali masuk ke dalam elevator setelah menuju meja Doni untuk menyerahkan sebuah kamera. Lelaki itu bahkan yang memencet tombol elevator. "Itu sangatlah berat, harusnya kau minta saja Rehan atau Doni," ujar Benuja mengambil sebagian majalah tersebut. Ditaza meneguk salivanya melihat gerakan Benuja yang menolongnya. Mereka berdua kemudian melangkah menuju parkiran, namun dahi Ditaza mengernyit begitu melihat Benuja malah membuka bagasi mobil lelaki itu. "Simpan di mobilku saja, kebetulan yang berangkat besok hanya Doni, Zaki, dan Rehan serta satu anggota dari tim fotografi jadi pasti mobil Doni tidak bakal muat," jelas Benuja membuat Ditaza menaruh sisa majalah pada bagasi Benuja juga. "Jadi besok Kak Benu bakal berangkat sendiri?"  "Tidak, kau akan ikut bersamaku," balas Benuja santai, tetapi malah membuat Ditaza terkejut. "Apakah video dokumentasi ulang tahun juga membutuhkan narasi?" tanya Ditaza bingung. Benuja menggeleng pelan. "Ya hitung-hitung pengalaman bukan? Siapa tahu suatu hari ada dari tim videografi gak bisa datang. Tidak masalahkan?" "Enggak kok." Jawaban Ditaza membuat Benuja maju untuk menutup bagasinya, namun ketika membelakangi perempuan itu, ia tersenyum tipis singkat. ☆☆☆ "Mau ke mana pakai rok seperti itu?" tanya Airin kepada Ditaza yang memakai rok di bawah lutut berwarna biru gelap, sedangkan atasannya memakai baju blouse. "Ada acara, tapi bukan juga sih, soalnya masih dalam lingkup pekerjaan," balas Ditaza, kemudian mendekat mencubit pelan pipi Emma. Ditaza mengingat pesan yang dikirim oleh Beuja agar saat menghadiri pesta ulang tahun klien untuk berpakaian layaknya orang yang akan hadir sebagai tamu dalam pesta tersebut. Bahkan pipinya terasa sedikit memanas, ketika Benuja menuliskan bahwa akan menjemputnya di rumah, bukan dirinya yang berangkat ke Minor untuk selanjutnya berangkat bersama. Setelah sebuah suara klakson mobil terdengar, Ditaza segera beranjak, namun terlebih dahulu mencium Emma yang sedang sibuk menonton kartun animasi. "Dit, hati-hati," seru Airin melihat langkah adiknya yang begitu terburu-buru.  Ditaza menarik napas sejenak begitu membuka pintu dan melihat penampilan Benuja yang begitu menawan saat ini. "Kak Benu," sapanya canggung. Benuja menoleh sekilas. Ia pun mengakui penampilan Ditaza yang terlihat manis sekarang. "Kita berangkat sekarang?"  Perempuan itu mengangguk pelan. Membiarkan mobil berjenis SUV meluncur ke jalan raya. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit untuk keduanya sampai di sebuah restoran yang bangunannya sebagian besar terbuat dari kayu dan kaca. Ditaza bisa melihat sekumpulan orang yang diyakini sebagai tamu pesta ulang tahun mulai berdatangan.  "Wah kalian seperti pasangan saja," ujar Rehan yang kepalanya menyembul keluar dari jendela mobil Doni yang baru datang dan berhenti di sebelah mobil Benuja. "Majalah-majalah kemarin ada di bagasiku," ujar Benuja membuat Ditaza mengingat hal tersebut. Namun sebelum perempuan itu bergerak menuju bagasi, tangannya ditahan oleh Benuja. "Rehan, kau yang bawa masuk. Majalah-majalah itu cukup berat," ujar Benuja membuat Rehan memberi tanda hormat sebagai persetujuan. Doni, Zaki serta satu anak fotografi mulai memasuki restoran. Mereka membawa sejumlah kamera untuk memotret dan merekam video.  Rehan kemudian mengikut di belakang setelah mengambil majalah-majalah dalam bagasi mobil Benuja. Baru saja Ditaza akan menyusul, namun dirinya sadar bahwa tangannya masih dipegang oleh Benuja. "Kak Benu," seru lemah Ditaza membuat Benuja yang sedaritadi melihat ke bagian dalam restoran kini menyadari tangannya. "Oh sorry." Benuja mengulas senyum tipis, seolah dirinya tidak sengaja melakukan hal itu. "Gak mau masuk?" tanya Ditaza pelan. Ia merasa sedikit aneh apabila masuk seorang diri sekarang. Benuja melirik Ditaza sekilas. "Aku menunggu Kak Arya, sebentar lagi akan sampai."  "Apa aku perlu temani?" tanya Ditaza polos membuat Benuja ingin tertawa saat itu, namun ditahannya. "Boleh, lagipula klien sedang sibuk difoto," ujar Benuja menunjuk ke bagian dalam restoran. Ditaza mengikuti arah telunjuk Benuja. Ia bisa melihat seorang wanita berusia sekitar empat puluhan kini sibuk berpose di depan kue ulang tahun yang cukup besar dan tinggi. Tidak lupa pula teman-teman wanita itu mulai ikut berfoto bersama. "Ben." Sebuah suara mengalihkan pandangan Ditaza. Ia bisa melihat seorang pria yang memiliki perawakan sama menawannya dengan Benuja sedang berjalan ke arah mereka. Namun tangan lelaki itu tidak kosong, melainkan membawa dua buah barang yang telah dibungkus dengan kertas kado. "Kenapa lama sekali?" gerutu Benuja membuat Arya melempar kasar salah satu kado tersebut. "Siapa suruh lupa bawa kadonya," balas Arya mendengus. Ia mengernyit sejenak menatap Ditaza yang berdiri di samping adiknya itu.  "Oh dia adalah pegawai yang direkomendasikan oleh sahabatmu." Arya menjentikkan jarinya sambil membuka mulut. "Oh yayaya, kau adik iparnya Aldo bukan? Siapa lagi namamu?" Ditaza mengulurkan tangannya. "Ditaza, bisa dipanggil Dita. Terima kasih telah mau menerimaku bekerja, aku mendengarnya dari Kak Aldo." Arya dengan senang hati menerima uluran tangan Ditaza. "Iya gak masalah. Gimana bekerja dengan Benuja? Pasti merepotkan bukan?" Benuja berdecak lidah, kemudian mulai berjalan terlebih dahulu. "Ayo Dita, kita masuk sekarang." "Tunggu, kenapa Kak Benu bawa kado?" tanya Ditaza bingung sejak Arya membawa hal sama juga. "Oh itu, klien kalian adalah istri dari saudara Ayah kami," jawab Arya kemudian membuat Ditaza mengerti mengapa bos Minor yang sesungguhnya juga bisa datang. "Ayo masuk," ujar Benuja melirik ke samping, sehingga membuat Ditaza hanya mengangguk pelan menuruti. Awalnya Arya tersenyum geli melihat Benuja yang berjalan dengan seorang perempuan yang mengikutinya dari belakang. Namun entah mengapa ia merasa wajah Ditaza terasa familier baginya. Kedatangan Arya disambut sukacita dengan anggota Minor yang ada. Terutama Rehan yang berkata selalu merindukan saat-saat di mana Arya akan mengajak mereka minum kopi sambil bercerita-cerita setelah jam kantor selesai. Maklum saja, Benuja bukan tipikal seperti itu. Usai jam kantor, senior SMA Ditaza itu akan langsung pulang, lelaki itu bahkan tidak terlalu suka mengumbar kisah pribadinya. Sangat berbanding terbalik dengan Arya. Tim dari Minor kemudian beristirahat sejenak setelah prosesi tiup lilin. Hanya anggota dari tim fotografi yang dibantu oleh Rehan untuk memotret para tamu yang ingin berfoto bersama klien mereka itu. "Bukankah itu Aluna." Ditaza yang kebetulan duduk bersama dengan Doni, mendengar perkataan Zaki. Doni mendongak dan melihat ke arah pandang Zaki. "Benar, adiknya Alina bukan?" Ia kemudian melihat raut wajah kebingungan Ditaza ketika dirinya dan Zaki berbicara satu sama lain. "Oh itu, perempuan itu namanya Aluna, dulu kakak kembarnya Alina akan menikah, namun Aluna yang kebanyakan mengurus masalah dokumentasi. Tapi pada saat itu kelihatannya Aluna ini dekat sama Benuja." "Benar, tapi sepertinya hubungan mereka tidak sampai jadian. Soalnya Aluna harus kuliah di luar negeri. Oh ya, Alina itu teman SMP Benuja," jelas Zaki mengingat jelas kliennya satu itu. Pandangan Ditaza kini mengarah kepada perempuan bernama Aluna. Ia bisa melihat bagaimana cantik dan modisnya Aluna, tentunya pasti juga pintar, karena bisa kuliah di luar negeri. Matanya kemudian sedikit melebar begitu melihat Benuja menghampiri Aluna. Benar-benar serasi, gumam Ditaza dalam hati. Pesta masih berlangsung cukup meriah. Yang bisa Ditaza tangkap hari ini dalam hal pekerjaan adalah bagaimana tim Minor harus pintar-pintar mengambil kesempatan agar bisa mengabadikan momen dengan baik. Ia lalu berjalan ke bagian luar restoran yang tampak sepi. "Ini kau pasti haus." Ditaza terkejut dengan sebuah gelas berisi smoothie berwarna merah. Ketika mencobanya ternyata itu rasa stroberi. "Terima kasih," ujarnya menoleh dan menatap Arya yang memberikan hal itu. "Ulang tahun ya." Arya tampak berpikir sejenak, membuat Ditaza yang masih menatap lelaki itu terlihat bingung. "Oh, bulan depan Benuja juga bakal ulang tahun," ujarnya mengingat hal itu. "Aku tahu," balas Ditaza pelan. Alis Arya terangkat terkejut. "Bagaimana bisa kau tahu?" "Aku dulu adalah adik kelas Kak Benu sewaktu SMA dan … aku merasa bersalah akan sesuatu hal ketika ulang tahun Kak Benu dulu." Arya mengubah posisinya menyamping. Ia mengernyit memandang Ditaza yang kini menundukkan kepala seolah merasa begitu bersalah ketika hari ulang tahun Benuja dulu. ♡♡♡ "Ditaza benar-benar bilang begitu?" Benuja terlonjak kaget begitu Arya yang baru saja selesai mandi menceritakan bagaimana Ditaza mengatakan tentang rasa bersalah kepadanya. "Iya, tapi aku tidak sempat menanyakan alasannya, karena dipanggil untuk berfoto bersama," jawab Arya kemudian mengambil ponsel yang telah baterainya terisi penuh. Sedangkan Benuja yang semula sibuk me-review hasil editan Rehan menjadi berhenti melakukannya. Ia yang duduk di sofa kemudian menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang. "Kenapa?" Arya lalu ikut duduk di sebelah adiknya itu. "Oh ya dia juga bercerita bahwa kau adalah seniornya sewaktu SMA." Lagi-lagi Benuja hanya menghela napas. Ia kemudian memandang ke bawah sambil merenung, membuat Arya menjadi heran. "Apa ... jangan-jangan Ditaza mantan pacarmu?" seru Arya dengan suara sedikit keras. Benuja melirik Arya sekilas. "Bukan seperti itu," balasnya lemah kemudian bangkit dari sofa. Mengambil laptopnya di atas meja, lalu masuk ke dalam kamar. Arya menyipitkan mata memandang adiknya yang telah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. "Pasti ini masalah asmara," gumamnya kemudian bangkit berdiri dan pergi ke sebuah tempat untuk mengasah taktik permainannya dalam game battleground. Sementara itu Benuja kini terbaring di atas tempat tidurnya. Sebelah tangannya berada di atas dahi menatap ke langit-langit kamarnya. Ucapan Ditaza yang diceritakan oleh Arya tentu saja ia ketahui betul tentang apa itu. Apalagi kalau bukan balasan surat cintanya. Ia ingat betul bagaimana setiap kalimat Ditaza yang menusuk kala menolak perasaannya dan itu diterimanya tepat pada hari ulang tahunnya. Empat hari setelah pengumuman kelulusan, di mana dirinya mengirim surat cinta tersebut. Benuja sadar betul bahwa perasaan tidak dapat dipaksakan, begitupula ketika Ditaza menolak perasaannya. Namun entah mengapa ketika kembali bertemu dan bersama perempuan itu seolah rasa sakit penolakannya terasa sirna begitu saja. Akhir pekan selalu dihabiskan Benuja untuk beristirahat, seperti sekarang ini. Ia sebenarnya bisa saja mengikuti perkumpulan teman kuliah ataupun SMA-nya yang masih ramai digrup w******p. Namun mendengar cerita Arya membuatnya kini terus kepikiran, terutama ketika bagaimana ia akan bertemu dengan Ditaza besok di Minor. Benuja sendiri tidak mengira bahwa Ditaza akan mengingat dengan jelas bahwa perempuan itu mengirimkannya balasan pada hari ulang tahunnya. Tunggu ... bagaimana Ditaza bisa tahu kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya? ☆☆☆ "Kau mau ikut nanti ke kebun binatang?" tanya Airin memasangkan sepatu pada kedua kaki Emma. Ditaza yang menikmati es krim di depan televisi hanya menggeleng pelan. "Gak deh, lagi capek." "Iya Rin, biarin Ditaza istirahat," ujar Aldo membawa tas ransel yang berisi perlengkapan milik Emma. Airin sebenarnya senang jika Ditaza ikut bersamanya untuk jalan-jalan nanti. Adiknya itu bisa bermain dengan Emma yang rewelnya minta ampun. Namun ia juga tidak tega, melihat wajah Ditaza yang tampak lelah, di samping kemarin pulang pada malam hari. "Baiklah, sebaiknya kau pesan makan saja. Soalnya nasi pun aku tidak masak," ujar Airin kemudian mengeluarkan dua lembar dua senilai seratus ribu. Ditaza tentu saja menerimanya dengan hati. "Makasih Kak Airin," balasnya dengan nada sedikit dipermanis. Airin menghela napas sejenak, lalu mulai menggendong Emma menuju ke mobil. "Jangan lupa kunci pintu, entar ketiduran dan ada pencuri yang masuk." Aldo yang masih menenteng tas perlengkapan Emma, kemudian singgah sebentar dan mengeluarkan beberapa lembar uang kepada Ditaza. "Jangan cuma beli makan siang. Coba beli juta camilan," ujarnya sambil tersenyum. Ditaza bangkit dengan mata berbinar. "Makasih Kak Aldo." Setelah kepergian ketiga orang itu dirinya segera memasukkan uang jajan yang didapatkan ke dalam dompet. Tanpa membuang waktu lagi, Ditaza segera mengambil ponselnya, kemudian mulai merencanakan membeli berbagai makanan dan minuman. Setelah beberapa menit kemudian semua pesanannya telah datang, ia segera membayar tunai kepada pihak pengantar. Namun ia tidak segera menutup pintu, melihat kedatangan seseorang. "Wah kau pesan banyak, asyik." Ditaza memutar bola matanya begitu melihat kedatangan Rangga, sepupu satu kalinya. Lelaki yang selalu merepotkannya sewaktu masih SMA. "Ada apa ke sini?" tanya Ditaza merasa sedikit terkejut dengan kedatangan Rangga, karena setahunya lelaki itu sangat sibuk dengan aktifitasnya. "Oh itu, sebenarnya aku baru saja dari rumah teman, tahulah basecamp itu. Tiba-tiba lewat sini dan melihatmu berdiri di depan pintu," balas Rangga sambil cengengesan. Ditaza hanya menghela napas, kemudian mempesilakan Rangga untuk masuk. Mereka berdua pun menikmati makan siang bersama camilan lainnya di ruang tengah. "Masih serius jadi pro gaming?" tanya Ditaza mengetahui pasti kerjaan Rangga selain jadi programmer. Rangga mengangguk cepat. "Kemarin baru saja selesai tanding tingkat nasional. Meski cuma dapat juara tiga sih." "Kau sendiri kudengar dari Kak Airin bekerja dalam dunia fotografi. Kau?" Rangga menunjuk Ditaza sambil menyipitkan mata seolah tidak percaya. Ditaza tertawa pelan. "Ya begitulah. Ternyata menyenangkan juga, banyak aktifitas di luar ruangannya. Konsep dan temanya beda-beda, jadi gak monoton." Kepala Rangga mengangguk dan merasa bahwa pekerjaan yang tidak terlalu formal seperti itu mungkin memang cocok untuk Ditaza. "Kenal Benuja gak? Dia satu angkata dulu sama kau," tanya Ditaza mengungkit masa SMA mereka. Ia dan Rangga memang satu sekolah, meski pada saat itu mereka jarang terlihat bersama di sekolah. Rangga yang sedang minum bubble tea yang dibeli Ditaza menjadi tersendak sesaat ketika mendengar nama Benuja. "Apa?" "Ya Kak Benuja, anak Ilmu Sosial Empat dulu. Kau tahu? Dia rekan kerja sekaligus bos tempatku bekerja," balas Ditaza. Ia lalu mengernyit melihat raut wajah tegang sepupunya itu. Namun Rangga malah tertawa sumbang. "Ingat, ingat kok. Wah bagaimana rasanya?" Ditaza hanya mendengus kesal. "Ya, sedikit mendebarkan." Ucapan Ditaza sukses membuat Rangga kini malah memuncratkan minumannya. Menjadikan Ditaza menjadi murka. "Rangga!" ☆☆☆ Keesokan paginya Ditaza harus kembali pada kenyataan. Hari senin, artinya waktunya berangkat kerja. Ia senang kali ini tidak perlu naik taksi, karena Aldo dengan senang hati memberinya tumpangan. Sebab lelaki itu akan menuju ke bandara. Sepanjang perjalanan Aldo pun bercerita tentang Arya kepada Ditaza. Tentang bagaimana Arya yang begitu hiperaktif, senang bersosialisasi dan mencoba berbagai hal, serta cenderung cerewet. Dan menurut perempuan itu Benuja dan Arya memiliki sifat yang jauh berbanding terbalik, berdasarkan penuturan Aldo. "Makasih Kak," seru Ditaza lewat jendela setelah menutup pintu mobil. Aldo pun hanya melambaikan tangan untuk kemudian melanjutkan perjalanannya. "Wah siapa tuh?" Suara Sanisa yang juga baru datang membuat Ditaza berbalik badan segera. "Kakak iparku, kebetulan lewat sini jadi sekalian diantar," jelas Ditaza membuat Sanisa mengangguk mengerti. Mereka berdua lalu masuk ke gedung Minor. Ditaza mulai mengerjakan sebuah narasi pada sebuah video prewedding yang diambil beberapa waktu lalu. Ia juga membaca catatan sebagai hasil wawancara dengan klien atau pasangan yang divideokan tersebut. Waktu berjalan cukup cepat baginya yang hampir tidak pernah meninggalkan meja kerjanya, kecuali untuk ke toilet atau mengambil air minum. "Dit, nanti aja lanjutinnya. Istirahat sambil makan dulu," ujar Sanisa mengetuk meja kerjanya Ditaza dengan jarinya. Ditaza menoleh sekilas. "Iya, tapi nanggung jadi selesain ini dulu." "Oke, kalau aku, Rehan sama Doni bakal makan siang di restoran depan. Susul aja kalau sempat," ujar Sanisa membuat Ditaza mengangguk dengan cepat. "Memang rajin anak baru kita," ujar Rehan menepuk singkat kepala Ditaza, lalu terkekeh pelan sambil berjalan pergi. Ditaza mengambil napas sejenak, ia melihat ke bagian ruangan kerja tim fotografi yang juga mulai satu per satu meninggalkan ruangannya untuk pergi makan siang. Sementara kembali menatap video yang sedang dikerjakannya, tiba-tiba dirinya juga teringat bahwa belum melihat Benuja turun dari lantai tiga. "Tidak mungkin bukan dia membawa bekal?" gumam Ditaza, kemudian mulai menyimpan hasil kerjanya. Ia lalu beralih ke ponselnya dan memesan makanan. Ditaza memutuskan untuk tidak keluar makan siang. Ia melirik jam tangannya sudah pasti menghabiskan waktu untuk berjalan keluar sampai ke restoran, belum lagi mengantri dan mencari tempat duduk yang mungkin tidak ada yang kosong. Setelah mendapat pesanan makanan berupa rice box, Ditaza tidak langsung menikmatinya. Ia memesan dua porsi beserta minumannya, sebelum menaruh miliknya di meja, dirinya yang dari lantai dasar langsung menekan tombol lantai tiga pada elevator menuju ruangan Benuja. Begitu sampai di sana, dahi Ditaza mengernyit menatap kursi kerja Benuja yang kelihatan kosong. Namun ketika benar-benar melangkah masuk, dirinya bisa melihat lelaki tersebut tampak berbaring di sofa panjang sambil memejamkan mata. Sepertinya dia lelah, ujar Ditaza dalam hati. Tidak merasa enak membangunkan Benuja membuat Ditaza hanya meletakkan rice box tersebut di meja samping sofa, berharap aroma dari makanan bisa membangunkan lelaki itu. Namun baru saja ia akan melangkah keluar, tiba-tiba dirinya merasakan tangannya ditahan dan kemudian ditarik. Ditaza pun menjadi terduduk di atas sofa yang sama dengan Benuja. Bahkan ketika lelaki itu mengubah posisinya menjadi terduduk, secara reflek tubuh Benuja seolah menghimpit tubuh Ditaza. Menjadikan wajah keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat. Ditaza bahkan bisa merasakan napas Benuja, sehingga dirinyalah yang sekarang menahan napas. Ditambah ia bisa melihat tatapan sayup dari lelaki itu. "Jangan mengendap-endap seperti itu," bisik Benuja kemudian mengubah posisi duduknya seperti Ditaza, yakni menghadap ke meja. Ia kemudian mulai mengeluarkan rice box dari kantung plastik da menyodorkan salah satunya kepada Ditaza. "Makanlah." Kenapa seolah dia yang membelikannya padaku, batin Ditaza merasa bingung sekaligus terkejut. Akhirnya Ditaza dan Benuja makan siang bersama. Suasana yang sepi dan sunyi membuat Ditaza merasa sedikit canggung, namun bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu. "Oh ya, terkait rasa bersalahmu yang kau ceritakan pada Kak Arya--" Mata Ditaza membulat. Tidak menyangka bahwa Arya adalah lelaki se-ember. "Kak Benu tidak usah khawatir, Ditaza akan memperbaikinya." Benuja menoleh menatap bingung perempuan di sampingnya itu. "Apa? Maksudku bagaimana?" Ditaza menegak salivanya. "Aku tahu, Kak Benu pasti terkejut dan marah pada saat itu. Jadi aku akan mencoba memperbaiki hal tersebut ketika Kak Benu ulang tahun, bulan depan bukan?" Mata Benuja mengerjap sekilas mendengar ucapan Ditaza. "Memperbaiki pada ulang tahunku?" "Iya, maaf aku baru bisa jujur sekarang." Krek! Pintu terbuka menampilkan sosok Sanisa yang membuat Ditaza dan Benuja menoleh menatap perempuan itu. Sanisa melongo. "Dita, aku khawatir kau akan lupa makan. Tapi ... kalian makan siang bersama?" ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN