Ditaza bersiap untuk ke Minor. Hari ini dia memakai pakaian yang lebih santai dari biasanya. Apalagi kalau bukan pekerjaan lapangan yang sebentar lagi akan dilakukannya. Walaupun dirinya tidak terlalu paham tentang dunia fotografi atau videografi, setidaknya ia ingin melihat bagaimana cara pengambilan gambarnya.
"Selamat pagi semua," sapa Ditaza yang baru keluar dari taksi kepada tim fotografi dan videografi yang sudah berada di area parkiran.
"Hm, ada Ditaza juga," ujar Doni kepada Rehan, Sanisa dan Zaki begitu Ditaza mendekat ke tim kerjanya.
Sanisa menarik napas sejenak. "Benar, gak akan muat. Peralatan pengambilan gambar juga banyak."
"Ada apa?"
Sebuah suara membuat tim videografi Minor melihat ke arah sumber suara itu. Dan ternyata itu adalah dari Benuja yang baru datang.
"Ben, kirain langsung ke lokasi?" ujar Doni mengernyitkan dahi. Pasalnya sewaktu mengobrol lewat pesan semalam, ia membaca jelas bahwa bosnya itu ingin langsung menuju ke lokasi untuk meninjaunya terlebih dahulu.
Benuja berjalan mendekat. "Oh itu, kupikir kalian tidak akan muat berangkat bersama semuanya."
"Wah memang terbaik atasan kita ini," puji Rehan dengan sikap Benuja yang pengertian.
"Oh kalau begitu Ditaza dan Rehan ke mobil Benuja saja," ujar Doni memberi saran.
Mata Rehan seketika melebar mendengarnya. "Apa? Sanisa saja, aku kan harus memastikan setelan drone saat mengudara nanti." Lelaki itu jelas menolak apabila harus satu mobil dengan Benuja, meski sempat memuji tadi.
Bukan tanpa alasan Rehan tidak mau melakukannya, tetapi baginya berada satu mobil dengan Benuja akan terlalu sepi baginya. Paling tidak hanya suara radio dan musik yang akan menemani perjalanan tersebut.
"Tidak perlu, cukup Ditaza saja."
Ucapan Benuja membuat seluruh anggota tim videografi Minor menatap lelaki itu dengan tatapan terkejut.
"Maksudku, kurasa kalian perlu berkoordinasi satu sama lain agar proses pengambilan video nanti bisa berlangsung dengan cepat. Sanisa akan menjadi penengah apabila kalian sudah bertengkar tidak jelas," ucap Benuja mengungkapkan maksud perkataan sebelumnya.
"Oh begitu, baiklah. Dita, kau ikut mobil Ben ya?" ujar Doni menepuk pelan lengan Ditaza.
Ditaza hanya bisa mengangguk pelan, lalu mulai masuk ke dalam mobil Benuja dan duduk di sebelah lelaki itu. Suasana canggung tak terhindarkan begitu Benuja telah duduk di bangku pengemudi.
"Eh?"
Jari Ditaza dan Benuja bersentuhan begitu keduanya ingin menekan layar pada dasbor untuk menyalakan musik. Keduanya lalu menatap satu sama lain, sebelum Ditaza akhirnya menundukkan pandangannya terlebih dahulu.
"Kau mau menghubungkan ponselmu?" tanya Benuja membuat Ditaza menoleh menatapnya.
Perempuan itu menggeleng pelan. "Kak Benu saja, siapa tahu punya referensi lagu."
Benuja hanya menganggukkan kepala, sebelum akhirnya menghubungkan playlist lagu pada ponselnya ke pengeras suara mobil. Setelah selesai, ia segera menancap gas untuk menyusul dua tim lain yang telah berangkat terlebih dahulu.
Perlahan mimpi terasa mengganggu
Kucoba untuk terus menjauh
Perlahan hatiku terbelenggu
Kucoba untuk lanjutkan itu
Engkau bukanlah segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Usai sudah semua berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu
Tanpa sadar Ditaza ikut bersenandung mendengar lagu yang terputar. Ia sudah tidak lama tidak mendengarkan lagu-lagu yang berasal dari ponsel Benuja. Namun dirinya berhenti begitu tanpa sengaja matanya bertemu dengan lelaki di sampingnya itu.
Benuja tersenyum tipis. "Seperti bernostalgia bukan?"
Ditaza kemudian menyadari bahwa lagu-lagu tersebut memang sudah beberapa tahun berlalu sejak dirilisnya. "Bukankah lagu-lagu ini sangat populer sewaktu masih SMA dulu?" ujarnya mengingat bagaimana teman sekelasnya waktu itu sering memutarnya. Bahkan tidak jarang murid laki-laki akan membawa gitar dan bernyanyi di kantin sekolah.
"Aku bahkan naik menyanyikan lagu ini ketika perpisahan pasca pengumuman kelulusan." Benuja memelankan laju kendaraannya, seraya mengganti lagu lain.
Mestinya telah kusadari
Betapa perih cinta tanpa balasan
Harusnya tak kupaksakan
Bila akhirnya 'kan melukaiku
Ditaza mendengarkan lagu tersebut dengan saksama. "Benarkah Kak Benu menyanyikan ini? Lagunya sedih sekali," ujarnya menoleh menatap Benuja.
Benuja hanya menyungging senyum miring. "Sedih bukan?"
Entah mengapa Ditaza bisa melihat raut wajah Benuja ketika mengatakan dua kata itu. "Aku bahkan tidak datang ketika hari kelulusan Kak Benu." Mobil tiba-tiba berhenti, membuat tubuhnya sedikit terhentak ke depan.
"Eh?"
Benuja menginjak rem tanpa aba-aba. Ia melirik Ditaza sekilas dan menyadari apa baru saja terjadi. "Maaf, tapi … kenapa kau tidak datang?"
Ditaza mengerjap sekali, lalu berpikir untuk mengingat alasan ketidakhadirannya pada waktu itu. "Hm, entahlah. Mungkin ada hal lain yang kulakukan."
Benuja hanya terdiam melihat reaksi Ditaza, namun entah mengapa ia bisa melihat bahwa seolah perempuan di sampingnya itu menyembunyikan sesuatu.
"Kau merasa bersalah atas sesuatu?" tanya Benuja pelan.
Pertanyaan Benuja membuat Ditaza mengernyitkan dahi, namun perempuan itu tidak menoleh, melainkan memilih melihat ke arah depan seolah sedang menerawang tentang masa lalu. "Aku … memiliki penyesalan akam sesuatu hal."
Setelah percakapan nostalgia yang singkat itu, baik Benuja maupun Ditaza kembali terdiam. Membiarkan lagu-lagu mengisi kesunyian dalam perjalanan menuju lokasi kerja. Satu jam lebih perjalanan membuat mobil Benuja datang paling belakang.
Mata Ditaza seketika tercerahkan begitu melihat pantai dengan pasir putih beserta laut yang biru. Terlihat tim fotografi dan videografi tengah bersiap. Pasangan yang akan melakukan photoshoot prewedding juga mulai tampak hadir. Terlebih dahulu tim fotografi yang melakukan tugasnya.
Berbagai pose kemudian dilakukan pasangan itu mulai pada tepi pantai, di dekat pohon kepala hingga bermain pada ombak kecil yang datang. Tidak jarang tim videografi juga mulai mengambil video untuk menangkap ekspresi alami dari pasangan tersebut, sehingga cinematografinya akan terlihat bagus.
Ditaza terkesima melihat bagaimana kedua tim bekerja begitu cekatan. Seluruh peralatan pemotretan dan perekaman bekerja dengan baik. Ia juga bisa melihat Benuja yang tampak mengawasi pekerjaan kedua tim tersebut.
Dua jam berlalu dengan cepat, kedua tim seolah tidak memikirkan waktu demi bisa menyelesaikan tugas dengan baik.
"Ditaza," seru Benuja memanggil Ditaza untuk mendekat. Lelaki itu kini tengah berbicara kepada pasangan yang merupakan klien Minor hari ini.
"Ya?" sahut Ditaza kemudian mengulum senyum ke arah pasangan yang tampak begitu berbahagia di matanya.
"Dia adalah Ditaza, anggota yang akan membuat narasi video prewedding kalian, jadi jika ada hal-hal yang ingin ditambahkan bisa bilang kepadanya," ujar Benuja memperkenalkan Ditaza.
Pasangan tersebut tertawa pelan. "Kami tidak meminta hal spesifik, mungkin kalimat tentang sahabat menjadi cinta akan cocok."
Mata Ditaza bersemangat mendengar klien tersebut. "Kalian bersahabat kemudian menikah?"
.
"Ya, kami telah bersahabat selama sepuluh tahun dan setelah putus dari kekasih masing-masing, memutuskan untuk menikah setelah berpacaran selama tiga bulan."
Ditaza sungguh takjub mendengarnya. Ia mengira hal-hal seperti sahabat jadi cinta yang berujung ke pelaminan hanya ada di dunia fiksi. Namun ternyata hal tersebut terpampang nyata di hadapannya kini.
Setelah menyelesaikan pekerjaan hari ini. Seluruh anggota kedua tim memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah rumah makan yang menyajikan hidangan laut. Mereka pun duduk di sebuah gazebo dan duduk dengan beralaskan tikar di depan sebuah meja panjang.
"Gimana Dita bekerja outdoor kayak hari ini?" tanya Sanisa sambil berusaha mengupas kulit udang.
Ditaza menelan makanan yang dikunyahnya. "Menyenangkan dan aku suka mendengar cerita pasangan tadi."
Rehan terkekeh pelan. "Memang pengalaman pertama terasa menyenangkan, tapi ketika ada hari di mana harus keluar lokasi selama tiga hari berturut-turut pada lokasi yang berbeda. Yakinlah kau hanya akan menghabiskan akhir pekanmu untuk tidur."
Doni ikut tertawa. "Benar, kita pernah hari pertama ke pantai dengan terik matahari, kemudian hari kedua ke gunung dan hujan turun, lalu selanjutnya ke gedung nikahan yang super padat."
"Apalagi Rehan cuma ke lokasi buat lihat suasana agar mudah editnya lagi, tapi sama menderitanya dengan kami," sahut salah satu anggota tim fotografi.
"Tapi kita having fun lakuinnya, karena memang passion dari diri sendiri," tambah Doni seolah menegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukannya selain untuk mencari nafkah juga menjalankan hobinya.
Ditaza pun bisa melihat bagaimana lelahnya anggota tim baik fotografi maupun videografi yang setelah makan siang, beberapa di antaranya memilih rebahan. Namun ketika mereka melihat hasil gambar dan video diambil tadi, ia juga dapat melihat raut wajah puas atas apa yang dicapai oleh mereka hari ini.
Makan siang seluruh anggota tim kemudian dibayar Benuja, membuat kedua anggota tim memberi tanda cinta dari ibu jari dan jari telunjuk kepada bos mereka itu.
"Yasudah, kita sudah bekerja keras hari ini. Kalian bisa pulang istirahat," ujar Benuja menutup pengarahannya atas pekerjaan hari ini.
"Foto dulu dong, apalagi ini pengalaman pertama Ditaza," usul Rehan kemudian memasang kamera pada tripod dan seluruh anggota kedua tim melakukan sesi foto bersama.
"Makasih bos traktirannya."
"Thank you, Bro."
"Duluan ya Ben."
Seruan dari anggota tim hanya dibalas lambaian tangan oleh Benuja yang kini sibuk memasukkan kartu debitnya ke dalam dompet. Ia melirik Ditaza yang masih memandang laut dengan berdiri di samping mobil.
"Ayo kita pulang," ujar Benuja membuyarkan lamunan Ditaza.
Matahari mulai kembali ke peraduan ketika Benuja dan Ditaza sudah setengah perjalanan. Senja mulai menyusup pada celah-celah ranting pohon, masuk ke dalam kaca jendela mobil Benuja.
"Apa kau senang hari ini?" tanya Benuja sedikit menurunkan kecepatan mobilnya.
Ditaza mengangguk singkat sambil melirik lelaki di sampingnya. "Ya, walau cukup melelahkan. Tapi melihat pemandangan laut seperti tadi dan matahari sore seperti ini, membuat perasaanku terasa damai."
"Baguslah, oh ya alamat rumahmu--"
"Tidak perlu antar ke sana," sergah Ditaza cepat.
Alis Benuja terangkat mendengarnya. Ia bahkan melirik sekilas perempuan itu. "Kenapa?" Sebetulnya dirinya sendiri mungkin akan merasa aneh jika menuju ke tempat itu.
"Aku ingin ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Mau membelikan keponakanku s**u formula. Kebetulan Airin, Kakak perempuanku mengirimiku pesan tadi," balas Ditaza menjelaskan.
"Oh baiklah, aku antar kau ke sana saja kalau begitu," ujar Benuja mendapat anggukkan kepala dari Ditaza.
Ketika kedua telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan, mobil Benuja berhenti di depan lobi. Ditaza tidak langsung keluar begitu saja, ia berbalik badan menatap lekat Benuja.
"Makasih buat tumpangan mobilnya, traktiran makannya dan sebagai teman ngobrol dalam perjalanan kali ini," ujar Ditaza, lalu tersenyum lebar.
Benuja mengerjap sekilas. Ia lalu tersenyum membalas. "Kalau pulang nanti, hati-hati di jalan."
Ditaza mengangguk cepat. Ia pun keluar dengan langkah hati-hati. Namun sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam, ia berbalik badan sekilas dan memandang mobil Benuja yang mulai jalan kembali.
Yang hilang, telah kembali, ujar Ditaza dalam hati.
♡♡♡