"Jika Dua Orang di takdirkan bersama, maka dari sudut bumi manapun mereka berasal pasti akan bertemu" Tere Liye
Lani mengirim rangkuman hasil rapat tadi ke Rendy via email, lalu mengirim pesan lewat ponselnya.
[Malam Pak Rendy, sudah saya kirim ya rangkuman hasil rapat tadi] terkirim, beberapa menit kemudian baru centang biru, tapi hanya dibaca saja tidak di jawab. Iseng-iseng Lani membuat instastory di aplikasi berwarna hijau itu.
Dibaca tapi ga di balas, kaya baca koran aja. Tidak lama masuk ada panggilan masuk ke ponselnya. ternyata Arka yang menelepon.
[Belum bobo Yank?]
"Kalo masih jawab telpon kamu berarti belum sayang, hehe, baru selesai ngelarin kerjaan nih" terdengar suara tertawa dari seberang
[Gimana disana? ada yang macem-macem ngga?]
"So far baik-baik aja Yank, ada sedikit trouble tapi bukan masalah kerjaan"
[Tentang?]
"Pribadi sih Yank, Kamu inget cewek yang kemarin Aku ceritain di minimarket?yang ribut sama Aku"
[Iya, kenapa Dia?ganggu Kamu lagi?]
"Ngga, cuma ternyata dia itu pacarnya Pak Rendy bos Aku, dan yang aneh itu seinget Aku dia sayang-sayangan sama cowo yang di minimarket itu"
[Kamu yakin mereka orang yang sama?]
"Yakin sayang, cowoknya ada di sini juga, ternyata dia salah satu vendor di perusahaan Aku" Lani menjeda ucapannya "Menurut Kamu Aku bilang ngga sama Pak Rendy?"
[Ga usahlah, ga usah ikut campur Yank, nanti Kamu ribet sendiri] saran dari Arka, Arka memang tipe pria yang ga mau ribet dan ga mau ikut campur urusan orang lain, tapi Lani merasa kasihan dengan bosnya itu, Ia juga khawatir ada konspirasi antara pacar bosnya dengan Alex.
"Kasian Pak Rendy" Lani masih keukeuh ingin memberitahu Rendy.
[kasihan nanti jadi sayang lagi]
"Ya ngga lah sayang, Aku tuh cuma khawatir Mereka punya niat jelek sama perusahaan ini"
[Hmm, biarin aja lah, Kamu juga di sana kan cuma cari pengalaman aja sebelum pegang perusahaan mendiang kakek Kamu] Arka tidak mau Lani berhubungan terlalu dekat dengan bosnya, Ia sedikit khawatir mereka justru akan saling jatuh cinta, bukan tidak mungkin, karena Lani selevel dengan bosnya, sama-sama CEO perusahaan yang satu calon dan yang satu lagi sudah menjabat.
"Ck. Kamu nih Yank, ga bisa gitu sedikit peduli sama sekitar"
[Ga gitu Yank, Ya udah terserah Kamu mau kaya gimana, Aku udah ingetin Kamu, hati-hati juga] Lani tersenyum mendapat persetujuan dari Arka.
"Siap Sayang" Lani merebahkan badannya di kasur karena lelah setelah berkeliling proyek tadi "Kamu sendiri gimana disana? Ada yang genit sama Kamu ngga?
[Ngga ada Sayank, di sini kan mayoritas cowok semua, yakali Aku digodain Laki, haha]
"Masa gada cewek sama sekali Yank?"
[Ada sih, cuma orang pusat jarang ke sini, Aku juga baru ketemu sekali]
"Cantik ngga?"
[Hmmm, mulai deh nanti Aku bilang Cantik Kamu marah, Aku bilang jelek Kamu sangka bohong] Lani tersenyum memamerkan giginya yang berbaris rapi.
"Berarti cantik ya?"
[Ish, masih aja ditanya, gak penting juga cinta] Arka mengetik-ngetik sesuatu di laptopnya. Ia masih menyelesaikan laporan yang harus di laporkan besok pagi untuk rapat.
"Sayaaanggg, inget ya, kalau Kamu mulai bosan sama Aku janji harus ngomong, ga boleh ada yang ditutup-tutupin, ga boleh ada perselingkuhan, mending jujur di awal" Lani berbicara panjang kali lebar mengingatkan Arka tentang perjanjian mereka saat memutuskan untuk LDR.
[Ya ampun Yank, jauh banget deh pikiran Kamu, iya Aku ingettt, Aku kan lagi merintis karir di sini supaya ga malu-maluin banget bersanding sama Kamu nanti] Pipi Lani bersemu merah mendengar kata-kata yang menurutnya sangat manis.
"So Sweet banget sayang Aku, cini-cini Aku peluk" Jika di depan teman-temannya Lani terlihat mandiri, lain lagi kalau di depan Arka manjanya sangat besar, maklum Lani sudah yatim piatu jadi di didik untuk mandiri, meskipun Kakek, paman dan bibinya sangat menyayangi Lani, tetap saja Lani butuh tempat bermanja dan berkeluh kesah.
[Iya dong, sweet banget kan Aku, justru Kamu nih yang harus hati-hati, jauh dari Aku, banyak pria nakal di luar sana, Kamu harus pintar jaga diri ya]
"Iya Sayanggg, hoamphhh" Lani menutup mulutnya menahan kantuk.
[Ya udah, Kamu tidur ya, besok masih harus jalan lagi kan?]
"Masih kangen Sayang!" ucap Lani matanya sambil setengah terpejam, tanpa sadar justru Lani sudah terbawa ke alam mimpi padahal telpon belum ditutup.
Arka menutup panggilan teleponnya, Ia melihat galeri foto-foto mereka, sangat manis, di usapnya foto Lani yang sedang digendong Arka dipunggungnya, foto di ambil waktu berlibur di Dufan seminggu sebelum keberangkatan Arka ke Kalimantan. Lalu membuka beberapa video mereka, Ia menarik nafas teringat perkataan Paman Lani waktu berkunjung ke rumah Lani.
"Paman tau Kamu sayang sama Lani, tapi Saya ingin tahu seberapa besar usaha Kamu mempertahankan Lani terutama hati Kakeknya" Ada sebuah pesan tersirat di dalamnya yang menyatakan tidak semudah itu Kakek Lani menyetujui hubungan mereka sampai jenjang pernikahan, karena Gunawan Atmadja sangat keras terhadap Pria yang ingin dekat dengan Lani, Ia tidak mau cucunya itu hanya dimanfaatkan pria sebagai sumber kekayaannya saja.
Arka menutup laptopnya, Ia keluar Kamar dan bergabung dengan teman-temannya yang masih belum tidur.
"Minum Bro!" Dewa mengangkat segelas minuman beralkohol ke Arka.
"Ngga Bro, Thanks. Gue ga minum" Arka menyelipkan sebatang rokok di mulutnya, kepulan asap keluar dari mulutnya.
"Iya Bro, kalo Sinta lewat wanginya ketinggalan" Dewa bercerita sangat antusias tentang Sinta staff kantor pusat yang baru datang hari ini, Arka tidak banyak berkomentar Ia hanya menjadi pendengar yang baik sambil menikmati cemilan di atas meja.
"Singel loh Dia, coba kalo Gue masih singel Gue pepet terus" Hendri menimpali obrolan Dewa.
"Mana mau sama model macam Kamu Hend, meskipun Kamu singel ga bakalan Sinta sama Kamu, Sinta cantik macam Sandra Dewi lah kamu sudah laku saja bersyukur, hahaha" Bowo terbahak-terbahak membully Hendri rekan kerjanya yang ingin memepet Sinta. Hendri memasang wajah cemberut di bully oleh Bowo. Wajah Hendri memang di bawah standar pria sedikit tampan, jadi Bowo senang mengolok-ngoloknya, untung saja Hendri tidak sakit hati.
"Ye, gini-gini Aku dah laku, Gak kaya Kamu, Ganteng doank tapi belum ada yang mau"
"Gue masih pilih-pilih Bro" bela Wibowo sambil menyugar rambutnya.
"Pilih-pilih apa, Sinta aja ga mau sama Kamu, langsung ditolak, playboy cap kaki lima, pelit!' Hendri tak mau kalah membalas serangan dari Bowo yang katanya memiliki wajah seperti aktris bollywood tapi setiap kencan dengan wanita ga mau keluar uang. Arka hanya tertawa melihat perdebatan teman-temannya.
"Kamu Ka, Ga mau nyoba deketin Sinta?" Bowo bertanya pada Arka karena dari tadi diam saja.
"Arka udah punya cewek Dia, jangan dipengaruhin kayak Kamu" bela Hendri
"Ya selama belum menikah ga salah lah pilih-pilih dulu mana yang terbaik, bener ga Ka???"
"Kalian yang mau rebutin Sinta silakan, Gue ga ikut-ikut" Jawab Arka tertawa. Arka sudah bertemu sekali dengan Sinta memang cantik, sempat memberikan senyum kepada Arka sewaktu mereka berpapasan. Arka juga membalas senyumannya, jiwa Indonesia memang seperti itu ramah-tamah.
Sinta sangat terkenal di kantor cabang yang ditempati Arka sekarang, Ia seorang Accounting merangkap Admin di perusahaannya, sesekali Ia datang berkunjung ke cabang untuk mengecek langsung keuangan di sana. Usianya seumuran dengan Arka, kabarnya dia keponakan dari Direktur di perusahaan Arka bekerja jadi tidak ada yang berani macam-macam dengan Sinta, hanya bisa memandangi saja, kecuali Wibowo Kepala Staff yang masih singel di usianya yang menginjak 34th Ia memiliki tingkat percaya diri untuk mendekatin Sinta, tapi di tolak mentah-mentah.