01
"pokoknya aku tidak mau tau! kau harus menikah dengan Alvin! aku tentunya tidak menginginkan kesepakatanku dengan perusahaan Anggara dibatalkan hanya karna Amanda kabur!" bentak ayah dari Cindy.
Cindy menunduk dengan berlinang air mata.
"ta-tapi ayah! aku bahkan tidak mengenal pria itu! aku tidak mau menikah dengannya!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi gadis itu. darah segar mengalir dari sudut bibirnya, sang ayah menatapnya nyalang.
"Menikah atau pergi dari rumah ini dan kuanggap kau telah tiada!"
Cindy menatap tak percaya pada ayahnya, bagaimana mungkin ayahnya bisa tega mengatakan hal seperti itu.
"Baiklah! aku akan menikah."
Sebuah senyuman terbit dari bibir sang ayah lantas pergi meninggalkan Cindy di ruang ganti sendirian.
***
Usai acara pernikahan, aku harus ikut suamiku Alvin ke rumahnya, karna aku sudah menjadi istrinya. Sesampainya di rumah Alvin aku diperintahkan turun dari mobil olehnya.
"Kau bawa sendiri barang barangmu! Bibi Ina akan mengantarmu ke kamar!"
"Ta, tapi semua barang?" tanyaku agak ragu karna barang-barang itu banyak sekali.
"Memangnya siapa yang akan membawakannya jika bukan kau?! Kau pikir aku akan membantumu? Mimpi!"
Akupun menurut perintahnya lalu membawa barang barangku ke kamar yang ditunjukan oleh bibi Ina.
***
Malam harinya aku sudah bersiap tidur tapi bibi Ina mengetuk pintu kamarku.
"Nona, tuan bilang dia ingin nona pergi ke kamarnya, dia juga bilang secepatnya."
"Apa lagi yang diinginkannya sih?! Baiklah bi aku akan segera kesana."
Akupun pergi ke kamar Alvin namun ditengah jalan aku baru berfikir.
"Malam ini kan ... ah tidak tidak! Pasti bukan!"
Akupun kembali berjalan ke kamar Alvin dengan perasaan sangat gugup karna takut. Sesampainya dia kamar aku mengetuk pintu tapi tidak ada suara dari dalam hingga akupun masuk.
Saat masuk aku tidak melihat seorangpun didalamnya dan aku berpikir mungkin Alvin sedang keluar dan aku memutuskan untuk menunggunya.
Saat sedang asyik melihat lihat isi kamar tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka dan keluarlah Alvin dari dalam dengan melilitkan sebuah handuk di pinggangnya.
"Aaa! Apa yang kau lakukan! Dimana pakaianmu?!"
"Dasar wanita si***n! Diam!"
"Ce, cepat pakai bajumu?!"
Alvin mendengarkanku dia malah mendekat ke arahku lalu mencium ku.
"Apa yang kau lakukan?! Dasar bre****k! Ja, jangan!"
Aku mencoba berontak tapi ia tetap melakukannya.
"Bukankah ini yang kau inginkan?! Keluarga kalian, aku tidak akan memaafkan kalian atas penipuan yang kalian lakukan terutama kau Cindy Velicia Aku akan terus menyiksamu!"
"Hiks hiks tapi aku terpaksa menikah denganmu, lagipula kami terpaksa melakukan ini karna kak Amanda pergi, hiks hiks hentikan."
"Aku tidak akan berhenti, mimpi saja kau."
***
Keesokan paginya Cindy terbangun dengan tubuh yang tak dilindungi sehelai benangpun, ia kembali menangis, lalu dari kamar mandi Alvin keluar.
"Kau tidak buruk juga, hari ini kau harus membersihkan seluruh rumah, saat aku kembali aku tidak mau melihat sedikitpun debu!"
"Apa kau belum cukup menyiksku?!"
"Tentu saja belum, ini belum seberapa di bandingkan kalian keluargamu yang sudah mempermalukan keluargaku!"
"Hiks hiks."
"Sudah kaau tidak usah menangis! Aku tidak akan mengasihanimu walau kau menangis darah sekalipun!"
Alvinpun pergi meninggalkan Cindy yang masih menangis dikamar.