PACTA | 12

1826 Kata
Setelah memberikan dompetnya pada Safira untuk membayar nasi goreng yang mereka makan tadi, Sean memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil. Duduk pada kursi kemudi, lelaki itu tengah sibuk berbicara dengan seseorang dari balik sambungan telepon. Meski sibuk menelepon, tapi mata Sean tidak lepas memandangi tubuh sang istri yang terlihat sedang asik mengobrol dengan pemilik warung. Setiap pergerakannya tidak lepas dari pengamatan Sean. Bagaimana perempuan itu berbicara, tersenyum, lalu tertawa lepas. Sean tidak berbohong saat mengatakan kalau Safira lebih cantik dari semua gadis yang Mami jodohkan, karena tanpa polesan make up sekali pun perempuan itu sudah terlihat mempesona. Safira memiliki postur tubuh tinggi untuk ukuran wanita pada umumnya. Ia juga memiliki kulit yang cerah dan bersih. Dibanding dengan anak-anak teman Mami, Safira memang terlihat lebih cantik. Hanya sekali poles, Sean yakin sang istri akan sangat begitu menggoda. Ah, rasanya ia tidak sabar untuk memiliki gadis itu seutuhnya. "Sepuluh juta, Pak?" Sean berusaha memfokuskan telinganya untuk menjawab pertanyaan Yuda—asisten pribadinya—seraya mengulum senyum tipis saat melihat Safira tertawa lepas di depan sana. "Dari rekening Bapak?" "Hm." Ia bergumam, masih betah mengamati tubuh sang istri. "Ke rekening istri saya ya, Yud." "Baik, Pak." "Kamu kirim secepatnya, sebelum pagi ini." "Baik, Pak." Sean langsung memutus sambungan itu saat matanya menangkap tubuh Safira yang sedang bergerak mendekat ke arahnya. Beberapa saat kemudian, pintu penumpang di sampingnya terbuka dan perempuan itu duduk di sana. "Udah?" Safira mengangguk, duduk bersandar dan menyerahkan dompet itu kepada Sean. "Totalnya 45 ribu, di dalam dompet lo ada lima lembar uang 50 ribuan. Gue pake satu, kembali lima ribu," jelasnya yang kontan membuat Sean menerima dompet itu dengan tawa pelan. Harus ya menjelaskan isi dompetnya sedetail itu? Bahkan Sean sendiri tidak pernah tahu ada berapa lembar uang yang ia miliki di dalam sana. "Jadi lo ngitungin uang gue?" "Hm, biar kalo hilang satu lembar lo gak nuduh gue." Bukannya tersindir, Sean malah semakin melebarkan tawanya. Ia seperti sudah terbiasa mendengar kata-kata pedas keluar dari bibir sang istri. Tapi, anehnya itu selalu menyenangkan. Bayangkan kalau bukan Safira yang ia nikahi, melainkan salah satu dari gadis manja yang Mami jodohkan padanya, mungkin hidup Sean tidak akan senikmat ini. "Gue sih gak masalah kalo lo mau pake uang gue. Uang suami kan juga uang istri," goda Sean. Safira kontan merotasikan kedua matanya cepat, lalu mendengkus. "Ogah!" tolaknya yang selalu dengan tampang galak dan bibir mencebik. Rasanya ingin sekali Sean menggigit bibir itu, melumatnya hingga bengkak. Tidak lupa dagunya yang selalu naik tinggi saat Sean meledeknya. Perempuan itu seperti memiliki pesona yang membuat Sean selalu penasaran. Di saat Sean akan menyalahkan mesin mobilnya, saat itu juga langit tiba-tiba bergemuruh keras, menampilkan kilatan petir yang menyambar. Safira tersentak kaget hingga tanpa sadar memiringkan tubuhnya ke arah Sean. "Kayaknya mau hujan," gumamnya tanpa sadar. Sean yang juga berpikiran seperti itu mengangguk samar sebelum kemudian menolehkan wajahnya. Keterbatasan ruang dan tubuh Safira yang tadi sempat miring ke samping akibat petir membuat jarak keduanya menjadi begitu dekat. Tak lama, hujan turun dengan deras. Bunyi rintikan air yang mengenai badan mobil langsung menyadarkan Safira kalau kini jarak wajahnya dengan wajah Sean hanya terpaut beberapa centi. Ia buru-buru menjauh, kembali duduk tegak pada kursinya. Sedikit gugup, Safira menyamarkan dengan sebuah cengiran. "Petirnya nyeremin." "Lo takut?" "Gak juga, cuma kaget aja tadi." Berpaling karena suasana tiba-tiba memanas. Tidak membiarkan keadaan yang sudah mendukung terlewat begitu saja, Sean lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Safira, membuat perempuan itu kembali tersentak dan membelalak. "Mau ... apa?" Bukan langsung menjawab, Sean dengan senyum jahil di bibir malah semakin memajukan tubuhnya, menghimpit tubuh Safira pada sandaran kursi. Wajahnya dimiringkan sehingga bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Safira. "Memastikan keamanan lo," bisik Sean. Dalam jarak yang sedekat itu, Safira bisa mencium wangi parfum yang Sean gunakan. Bahkan meski sudah malam aroma lelaki itu masih begitu menggoda, seolah mengirimkan candu memabukan di sana. Astaga! Kemana sikap galak yang tadi Safira tunjukan? Mengapa ia kembali menjadi lemah? Sepertinya setan yang selalu hadir saat ia bersama Sean kini sudah kembali merasuki tubuhnya. Sadar, Fir ... sadar! Berusaha menutup matanya saat debaran sialan itu datang lagi. Safira kini merasa kesulitan bernapas, mungkin karena jantungnya berdetak terlalu kencang. "Sean ...," harusnya itu adalah sebuah bentakan, tapi yang keluar malah terdengar seperti desahan. Semakin mempersempit jarak mereka, Sean menekan tubuh Safira hingga tonjolan buah d**a perempuan itu terasa sekali di dadanya. Sean juga menyukai bagaimana pipi mulus Safira yang perlahan berubah merah. Ah, tidak ada yang lebih menyenangkan selain menggoda istrinya itu. Istri yang bisa ia lihat tapi tidak bisa ia sentuh. Kan sialan! "Jangan takut sama petir." Menjulurkan tangannya untuk meraih seatbelt di sebelah lengan Safira. Wajah mereka belum menjauh sedikit pun. "Kan ada gue," bisik Sean seduktif yang sontak membuat Safira meremang. Masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya saat tiba-tiba saja sebuah sabuk melingkar di perutnya. Sabuk? Safira mengerjap sesaat, terlihat bingung tapi masih bisa merasakan sebuah kecupan bersarang di bibirnya. Sean mengecup bibir Safira sekilas, sebelum kemudian kembali duduk di kursinya dan memakai seatbelt-nya sendiri. Hanya mengecup bibir Safira saja bisa membuat gairahnya berkobar. Gundukan di bawah sana yang ia beri nama Spike pun perlahan membesar. Sialan! Bagaimana kalau ia sudah menyentuh bagian tubuh Safira yang lainnya? "Hujannya deras." Sean berujar santai, padahal dengan susah payah ia menahan gairah yang hampir meledak karena keinginannya untuk menyentuh Safira. Hujan-hujan begini memang lebih enak bergulat di atas ranjang dengan keringat membasahi sekujur tubuh sambil mendaki puncak kenikmatan bersama-sama. Oke, stop! sebaiknya Sean tidak berpikiran kemana-mana kalau tidak ingin memaksa Safira bertelanjang di dalam mobil. "Langsung pulang?" Mengangguk lemah, mendadak Safira menjadi bisu. Tidak ada yang bisa ia katakan, bahkan untuk sebuah protes karena Sean telah menciumnya tanpa izin. Yang Safira tahu kini dadanya berdebar sangat cepat, rasanya seperti habis berlari jauh. Jangan lemah ya, hati. Sean kembali menjalankan mobilnya membelah malam yang semakin larut, sedikit kesulitan karena derasnya hujan yang mengganggu penglihatannya. Sementara itu, Safira yang duduk di kursi penumpang hanya memandang lurus ke depan, tidak juga melihat jalanan, hanya lampu-lampu yang sedikit terlihat saat wiper mobil menghapus air. Ting! Suara denting notifikasi dari ponsel Safira memecah keheningan. Sean lirik perempuan itu yang kini sedang membuka ponselnya, membaca isi pesan itu dengan perlahan, terdiam, hingga tiba-tiba terperangah dan menatap layar itu tanpa berkedip. Untuk detik selanjutnya Sean bisa menangkap raut terkejut di wajah Safira. Perempuan itu menggeleng cepat, kembali membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya, dan kemudian menoleh dengan bibir terbuka lebar. "Se ... ini?" Mengerjap berulang-ulang, membiarkan otaknya mencerna maksud dari notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. "Ini—maksudnya apa?" Tersenyum sebentar sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan di depan, Sean mengangguk samar. "Uang bulanan lo." "Tapi—" "Gue bukan tipe suami yang bakalan nelantarin istri, Fir." Tidak hanya menoleh, Safira yang masih terkejut kini memutar badannya penuh menghadap Sean. Ia tatap lelaki itu tanpa berkedip. "Se ... perjanjiannya kan udah—" "Kewajiban gue sebagai suami nafkahin lo," potongnya cepat tanpa membiarkan Safira membahas perjanjian mereka. Sumpah, d**a Safira menghangat seketika saat mendengar itu. Apa benar Sean memberikan uang bulanan padanya semata-mata hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami? Bukan untuk seks? "Kenapa tiba-tiba? Apa alasan lo?" Sean menoleh sekilas dengan kening mengernyit dalam. "Emang harus pake alasan?" "Iya dong, gue kan gak bisa nerima uang sebanyak itu gitu aja." "Gak usah banyak protes, apa yang gue kasih itu udah jadi hak lo." "Tapi, Sean—" "Gue cium ya, Fir, kalo lo masih bawel juga." Safira menggeleng, tidak merasa takut dengan ancaman Sean. Lagi juga, lelaki itu kan sedang menyetir mana bisa dia menciumnya. "Gue gak bisa diam begitu aja, ... gue harus—" Dengan cepat Sean membanting setir ke samping, menepikan mobilnya pada tepi jalan yang mulai sepi. Safira langsung mengatupkan bibirnya, terkejut. Wiper masih terus bergerak membersihkan air di kaca saat tiba-tiba Sean melepas seatbeltnya dan meraih wajah Safira secepat mungkin. Ia menyatukan bibirnya dengan bibir Safira, memangut benda lunak itu hingga suara decapan terdengar beradu dengan suara hujan di luar sana. Sejak tadi Sean sudah menahan diri untuk tidak melumat bibir yang selalu mengeluarkan kata-kata pedas itu. Tapi Safira malah menantangnya. Sean bahkan tidak hanya mengecap bibir perempuan itu, tangannya yang bebas kini sudah bergerilya menuju pinggang Safira, mengelusnya, sesekali meremas pelan saat gairah hasil pertautan dua bibir itu terasa memanas. Sementara, Safira yang masih terkejut dengan ciuman Sean hanya mampu tercengung bodoh. Tidak tahu harus apa, atau harus melakukan apa? Karena jujur, gairahnya seperti sedang dipancing oleh Sean. Sentuhan lembut ibu jari Sean yang mengelus kulit lehernya membuat Safira meremang. Sepertinya akal sehat dan nafsu sedang berperang. Baiklah, yang mana yang akan menang? Akal sehatnya, atau nafsunya? Tapi tidak butuh waktu lama untuk tahu itu, karena di detik selanjutnya Safira sudah memejamkan kedua matanya lalu membuka bibir pertanda kalau ia mengizinkan Sean menjamah seluruh rongga mulutnya. Sean menyeringai di sela-sela ciuman itu, sadar kalau Safira mulai terpancing. Tangan kanan yang semula berada di pinggang, naik menuju perut, merabanya perlahan, hingga kemudian berhenti di dua gundukan sintal yang masih berpenghalang. "Eugh ..." Safira melenguh di dalam bibir Sean saat remasan lembut terasa pada salah satu buah dadanya. Hujan di luar sana seperti mendukung suasana panas di dalam mobil itu. Sean melepas ciumannya saat merasakan pasokan oksigen mulai menipis. Namun tidak juga memberi jarak. "Gila," desahnya tepat di depan bibir Safira, hingga kedua benda lunak itu saling bergesekan. "Lo ganggu banget, Fir." Napas keduanya sama-sama memburu, saling menerpa wajah masing-masing. Mata Safira yang terpejam perlahan terbuka, yang otomatis membuat matanya langsung bertemu dengan sorot mata Sean yang berkabut. "Kenapa?" lirih Safira, masih dengan keintiman mereka. "Kenapa gue ganggu? Gue kan gak minta uang sama lo." Sean menggeleng lucu bersama kekehan pelan di bibir. Bukan itu, sungguh Sean tidak pernah keberatan Safira meminta berapa pun darinya. Tapi, bayangan ketelanjangan tubuh perempuan itu seolah berputar-putar di kepalanya. Shit! Lo ganggu pikiran gue, Fir! "Se?" "Hum?" "Uang ini ... benar buat gue?" Safira masih sulit untuk mengerti kebetulan ini. Sean memberikannya uang di saat dirinya pun sedang membutuhkan uang untuk membayar hutang Bapak. Apa Sean tahu? "Iya, itu uang lo. Nafkah dari gue. Boleh lo habisin." "Tapi kenapa tiba-tiba?" Safira menyentak mundur. Ia butuh alasan, butuh penjelasan kenapa Sean melakukan itu. Karena masih ingat dengan jelas diingatannya kalau perjanjian itu sudah mereka batalkan. "Apa karena seks?" Sean berdecak dengan senyum sinis. "Seburuk itu gue di mata lo, Fir?" Eh? "Bukan." Safira mengibaskan tangannya buru-buru. "Bu—bukan itu maksud gue." "Gue gak pernah maksa lo berhubungan badan, sekali pun dengan perjanjian. Itu udah jadi kewajiban lo, Fir." Oh, Safira tertohok mendengar itu. "Sekarang lo boleh pake uang itu buat apa aja, gue gak akan nanya." Sean hendak kembali menjalankan mobilnya, tapi sepertinya Safira belum puas dengan jawaban Sean barusan. "Gue cuma butuh penjelasan, Se ... kenapa lo harus nafkahin gue sementara pernikahan kita—" "Mungkin gue udah kemakan omongan gue sendiri." Safira mengernyit bingung. "Maksudnya?" "Kayaknya gue jatuh cinta sama lo." **** CERITA SUDAH TERBIT, BUKU DIJUAL DI s****e DENGAN JUDUL YANG SAMA. SERTA SUDAH TERSEDIA VERSI DIGITAL DI KARYAKARSA
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN