PACTA | 11

1869 Kata
Seketika hening. Tapi tidak dengan d**a Safira yang tiba-tiba bergemuruh. Anehnya, akan selalu seperti itu meski ia tahu Sean hanya sekedar menggodanya. Safira bukan tipe perempuan yang mudah dirayu, hanya saja setiap bersama Sean, reaksi tubuhnya akan selalu berbeda. Ia benci itu. Benci mengakui kalau ia begitu lemah setiap berdekatan dengan Sean. Meski Safira mencoba untuk membentengi dirinya dari lelaki itu, tapi Sean seperti memiliki jalan lain untuk mendobrak semuanya. Ah, menyebalkan. Bahkan saat bersama Aldo saja ia tidak selemah ini. "Fir, makanan kesukaan lo apa?" "Eh?" Safira terperanjat, menoleh dengan tampang kikuk. "Lo nanya apa?" "Makanan kesukaan lo?" ulang lelaki itu seraya mengunyah nasi gorengnya. Sean terlihat sangat santai, seolah apa yang ia lakukan tadi bukan lah hal berbahaya, padahal nyaris membuat jantung anak perawan di sebelahnya itu lepas. "Makanan, ya?" Lalu berdehem pelan, mencoba mengais sisa-sisa kesadarannya yang tadi sempat terenggut akibat aksi romantis Sean. "Gu—e makan apa aja suka kok, asal halal, bisa dimakan dan gak beracun." "Lo gak ada alergi gitu?" "Gak ada," menggeleng samar. "Gue kan bukan anak orang kaya yang salah makan dikit aja langsung sakit." Mendengar jawaban perempuan itu membuat Sean tanpa sadar tersenyum. "Lo nyindir gue, ya?" "Emang lo kesindir?" Sean menggeleng, meletakan sendoknya seraya memutar tubuh menatap Safira dengan tangan menopang kepala. "Gak cuma anak orang kaya aja yang bisa alergi. Lo gak bisa mengukur rata semua orang kayak gitu." "Iya, tapi kan kebanyakan emang gitu. Kalo orang miskin kayak gue boro-boro alergi udang, makan aja jar—" Safira seketika tersentak mundur begitu menolehkan kepalanya yang ia dapati adalah wajah Sean yang sedang menatap ke aranya dengan jarak yang sangat dekat. "Ng—ngapain sih deket-deket?" kikuknya, merasa gugup dan berdebar. Sean hanya mengulum senyum di bibir, menjumput rambut Safira untuk ia selipkan pada balik telinga. Perempuan itu meremang sesaat kulit mereka saling bersentuhan. "Masa sih elo gak punya alergi?" goda Sean lagi, kali ini sambil mengelus pipi Safira yang perlahan memerah. "Merah, Fir. Jangan-jangan lo alergi." Iya, alergi dekat-dekat sama lo! Safira langsung menyentak tangan Sean yang berada di pipinya dengan kasar, lalu memasang wajah galak sebagai bentuk pertahanan diri. "Enggak ya!" sungutnya kesal. "Gue gak alergi!" Sean tergelak geli, menegakan tubuhnya bersama tawa puas yang menggelegar. Akan selalu semenyenangkan ini setiap berhadapan dengan Safira. Bentakan kesal dan wajah memerah perempuan itu saat sedang marah tanpa sadar membuat Sean selalu mengulum senyum di bibir. Sungguh, ia beruntung sekali menjadikan Safira sebagai istrinya. "Ngomong-ngomong, Mami cerita banyak tentang gue sama lo?" Safira yang masih berusaha meredam gemuruh di d**a perlahan menggeleng pelan. Lantas berpaling, menghindari sorot mata Sean yang ternyata masih betah menatapnya. Kalau terus-terusan seperti ini, Safira yakin ia bisa mati kehabisan napas. "Gak—banyak sih, cuma seputar makanan aja, sama kebiasaan lo kalo di rumah," jelasnya seraya merapikan rambutnya dengan gelisah. "Mami juga cerita sama gue tentang cewek-cewek yang mau dijodohin sama lo." "Kenapa mereka? "Mami cerita kalo elo nolak mereka." Ia berdehem singkat sambil melirik Sean sekilas. "Kenapa? Padahal kan mereka cantik-cantik semua." "Emang lo udah pernah lihat mereka?" "Belum. Gue nebak aja, mereka kan anak orang kaya, udah pasti perawatannya mahal. Ke salon juga gak sembarangan. Udah ketebak, mereka pasti cantik semua," ujar Safira yang tanpa sadar mengaduk-ngaduk nasi gorengnya tanpa minat. Ck, kenapa tiba-tiba ia merasa kesal. "Tapi, Fir ...," Safira menoleh, terdiam sambil menunggu Sean melanjutkan kalimatnya. "Buat gue, elo lebih cantik dari mereka." Sekonyong-konyong ucapan itu terlontar, Safira merasakan tenggorokannya tercekat dan perutnya tiba-tiba saja melilit. Lebih dari itu, Safira merasa kini jantungnya sudah terjun bebas ke dasar perut. Jangan merona, Fir, jangan! "Lo ... jauh lebih cantik di mata gue." Astaga ... rasanya panas sekali. Safira benar-benar bisa kehabisan napas kalau terus-terusan seperti ini. Ia butuh air. Ia butuh menyegarkan kepalanya. Sean memang berbahaya kalau dibiarkan begitu saja. "Ck, gombal!" Sean tersenyum. "Gue serius." Buru-buru Safira meraih botol air mineral yang ada di depannya. Hendak membuka tutupnya, tapi secepat itu juga Sean merebut botol itu. "Sini gue bukain." Tidak ingin membiarkan Sean terus menerus menggodanya, Safira dengan setitik akal sehat yang masih tersisa kembali merebut botol itu, membukanya dengan cepat. "Lo pikir gue lumpuh sampe buka tutup botol aja gak bisa?" sungutnya galak yang sontak membuat Sean mengernyit bingung. "Jangankan buka tutup botol, ngangkat galon ke dispenser aja gue bisa. Gue gak butuh bantuan lo!" ujarnya lagi seraya melengos. Sean terkekeh, tidak meragukan sama sekali kemampuan perempuan itu. Sean percaya Safira bisa melakukan apa yang tidak perempuan lain bisa lakukan. Sean percaya kalau Safira adalah perempuan kuat dan mandiri. Safira mungkin bisa melakukan segalanya tanpa bantuan orang lain, tanpa Safira mengatakannya pun Sean sudah tahu. Untuk itulah ia menerima perjodohan mereka dan memilih Safira sebagai istri dari banyaknya wanita yang Mami pilihkan. "Namanya Safira, anaknya cantik kok. Mau ya? Kamu kenalan dulu aja." Sean yang sibuk dengan dokumen perusahan mendengkus pelan. Lima belas menit yang lalu Mami tiba-tiba saja datang ke ruangannya. Sambil merajuk, wanita yang tiga puluh empat tahun lalu melahirkannya ke dunia itu meminta dirinya untuk bertemu dengan anak dari sahabat Papi yang bernama Safira. Jujur, Sean sudah muak sekali terus menerus diminta menikah oleh Mami. Hampir dua bulan ini Mami begitu gencar menjodohkannya dengan anak dari teman-teman arisannya. Sean akui, mereka semua cantik, hanya saja Sean tidak tertarik dengan gadis manja dan cengeng seperti mereka. "Males ah, Mi." Mami berjalan memutari meja kerja Sean, berdiri di sebelah kursi anaknya itu. "Jangan gitu dong, ketemuan dulu. Ini anak sahabatnya Papi loh," bujuknya lagi. "Pokoknya yang ini beda." Sean menghela. Mami juga mengatakan itu saat terakhir kali ia bertemu dengan anak dari teman arisannya. Sean sudah hafal diluar kepala kalimat itu. Tapi nyatanya, semua gadis yang Mami kenalkan tidak lebih dari seorang gadis manja dan cengeng. Sean tidak suka. "Apa lagi yang ini, anak sahabatnya Papi kan gak jelas. Mami juga belum pernah ketemu." "Hus! Jangan ngomong sembarangan, kalo Papi dengar bisa marah," tegur Mami. "Mami memang belum ketemu, tapi Mami udah lihat fotonya, cantik kok." "Yang Mami kenalin kemarin juga cantik, tapi Sean gak suka. Masa nunggu sebentar aja dia ngerengek!" Ugh, kalau mengingat gadis itu Sean rasanya lebih memilih untuk tidak menikah seumur hidup. "Tapi ini beda, Fira gak gitu kok." Kemarin Papi sempat meminta Sean secara langsung perihal perjodohan ini. Dengan dalih mengatakan kalau Papi dan sahabatnya itu sudah berjanji akan menjodohkan anak mereka jika sudah besar nanti. Ck, alasan macam apa itu. Tapi, Sean tetaplah Sean. Hingga Mami yang turun tangan memintanya, lelaki itu tetap tidak ingin menyetujui perjodohan mereka. "Yan, ayo dong ... mau ya," rengek Mami lagi seraya mengguncang bahu Sean. "Ketemu aja dulu." Menutup dokumen yang ada di depannya, Sean lantas menghela pelan. "Kalo gak cocok gimana?" "Pasti cocok kok." Mami masih terus memaksanya, merayu, agar Sean mau bertemu dengan anak gadis dari sahabat Papi itu. "Ini yang terakhir ya, kalo gak cocok, Sean gak mau dijodoh-jodohin lagi." "Iya ...," setuju Mami dengan senyum berkembang. Entah mengapa, untuk kali ini Mami merasa ia akan berhasil. Sean memang tidak ingin menikah, awalnya. Tapi karena Mami terus merengek, bahkan pernah sampai menangis hanya karena ingin melihat anak satu-satunya itu menikah sebelum ia meninggal, Sean terpaksa menyetujui semua perjodohan yang Mami buat itu. Meski terpaksa, Sean juga tidak ingin memiliki istri yang rumit, manja, dan menyusahkan. Kebanyakan gadis yang Mami kenalkan padanya tak lebih dari anak manja yang tidak lepas dari kemewahan. Mereka tidak bisa hidup mandiri dan selalu bergantung pada orang lain. Sean tidak butuh istri yang cantik, senang berdandan, atau pintar memasak. Cukup seorang istri yang tidak akan pernah menyusahkannya dan mengekang kehidupan malamnya. Jenis perempuan mandiri yang tidak cengeng dan lemah. Terutama perempuan yang tidak banyak menuntut. Lalu, di siang yang menyengat itu, Sean memilih melajukan mobilnya membelah jalanan Ibu Kota untuk sampai di sebuah taman—tempat ia dan Safira berjanji untuk bertemu. Taman itu tidak ramai di jam makan siang seperti ini. Sean yang sudah tiba lebih dulu mencoba mencari perempuan itu. Berbekal ingatannya pada wajah Safira yang sempat ditunjukan oleh Mami lewat sebuah foto, Sean mengedarkan pandangannya ke penjuru taman. Pertemuan ini tidak akan lama. Setelah bertemu gadis itu, Sean akan langsung mengatakan bahwa ia menolak perjodohan mereka, lalu pulang ke rumah dan mengatakan pada Mami kalau mereka tidak cocok. Sean sudah merancang skenario itu sejak semalam. Namun, begitu matanya menangkap sosok perempuan yang sedang ia cari berada di pinggir jalan dekat taman, Sean seketika terkesiap. Bukan pada kecantikan gadis itu, tapi pada apa yang ia perbuat. Safira—nama gadis itu, sedang membantu seorang pria tua yang membawa gerobak besar untuk menyebrang jalan. Gerobak besar? Sean menggeleng, tidak menyangka. Ia tidak salah mengenali wajah. Benar perempuan itu yang akan Papi jodohkan. Astaga, tidak ada rasa jijik di wajah gadis itu saat membantu kakek tua tadi, dan ... oh ya ampun, apa dia keturuan hulk? Bagaimana bisa badan sekecil itu mengangkat gerobak besar. Begitu Safira hendak menyebrang untuk kembali ke dalam taman, Sean buru-buru masuk ke dalam mobil, mengamati setiap langkah gadis itu dari dalam sana. Ia akui, Safira memang berbeda dari gadis yang Mami kenalkan padanya. Tidak ada pakaian mewah dan polesan make up tebal. Serta pemilihan tempat sebagai pertemuan pertama mereka, Safira lebih memilih sebuah taman yang sederhana. Dimana gadis-gadis lain lebih memilih bertemu di sebuah restoran mewah dan berkelas. Oke, anggaplah itu sebagai kesan pertama. Bisa saja Safira memiliki sifat yang sama seperti gadis lainnya yang akan merengek dan mengadu pada Mami saat mulai bosan menunggu Sean datang, lalu menangis penuh drama. Namun di satu jam pertama, Sean mendapati gadis itu masih tetap setia duduk di tempatnya. Menunggu dengan raut lelah. Begitu pun di satu jam kedua, Sean masih tetap mendapati gadis itu duduk di sana, menunggu sambil sesekali memandangi sekitar untuk mencari keberadaannya. Hingga waktu terus berputar, menit demi menit terlewati, Safira masih tetap pada posisinya. Hanya saja kali ini Sean bisa menangkap bibir gadis itu yang mengerucut sebal dan sesekali mengumpat tidak jelas. Sean terkekeh geli melihat itu. Ia tatap layar ponselnya yang berada di atas dasbor. Tidak ada pesan yang masuk dari nomor Safira, gadis itu tidak ingin menghubunginya bahkan untuk sekedar bertanya apa ia akan datang atau tidak. "Ck, bener-bener lucu," gumam Sean tanpa sadar. Ia tergelak di dalam mobil, semakin tertarik dengan kepribadian Safira yang sulit ditebak. Setelah membiarkan gadis itu menunggu hampir lima jam lebih, Sean akhirnya berinisiatif untuk mengirimkan pesan padanya. Sean : lo pulang aja. Perempuan manapun pasti akan mengamuk saat mendapati pesan tersebut di pertemuan pertama mereka, apalagi sudah menunggu hampir lima jam. Tapi balasan dari Safira membuat Sean semakin tertarik. Safira : kenapa gak dari tadi nyuruh gue pulang! Astaga, ternyata perempuan itu sejak tadi menunggu Sean memintanya pulang baru ia akan beranjak dari sana. Kalau tidak, mungkin akan sampai malam Safira duduk di kursi itu. "Cewek model apa sih lo itu, Fir?" Sean terkekeh sambil terus mengamati Safira dari dalam mobil. Mengikuti pergerakannya. Saat Safira beranjak dari taman, hingga gadis itu tiba di rumah. Jadi, sesungguhnya dipertemuan pertama mereka, Sean ada di sana. Mengamati Safira dari dalam mobil, ia juga mengantar gadis itu pulang meski tidak secara langsung. Sean memilih Safira bukan karena paksaan dari Mami atau karena Papi. Tapi karena ia percaya Safira akan menjadi istri yang hebat untuk menemani hidupnya yang berantakan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN