PACTA | 10

1356 Kata
Tidak ada yang bersuara, keduanya seolah sedang menikmati hening yang mengambil alih suasana di dalam mobil itu. Satu-satunya percakapan yang mereka lakukan adalah hanya saat Safira masuk ke dalam mobil dan menanyakan alasan mengapa Sean tiba-tiba menjemputnya, dan dibalas dengan jawaban nyeleneh dari lelaki itu. "Gue takut lo lupa jalan pulang," katanya. Safira tahu Sean hanya sedang meledeknya. Sebulan masa perjodohan dan dua minggu usia pernikahan mereka benar-benar membuat Safira paham sekali sifat suaminya itu. Dan dibanding harus membalas jawaban nyeleneh dari Sean, Safira lebih memilih untuk terdiam. Hingga setengah perjalanan terlewati, Sean yang merasa mulai tidak nyaman dengan keheningan di antara mereka akhirnya memilih untuk membuka suara. "Kita makan dulu ya, gue laper," katanya yang dibalas deheman singkat oleh Safira. Lantas lelaki itu membelokan mobilnya memasuki sebuah pelataran Restoran bergaya Itali yang masih buka pada malam hari. Begitu Sean memarkirkan mobilnya, tiba-tiba saja Safira menyeletukan sesuatu yang membuat lelaki itu menoleh ke arahnya dengan gerakan dramatis. "Gue gak mau makan di sini." Perempuan itu berujar sangat santai, hingga tanpa sadar kalau Sean di sebelahnya sedang menatap takjub. "Mau makan dimana? Udah gak ada restoran lain yang buka jam segini." "Banyak kok." Safira bersidekap seraya memandang lurus ke depan. "Pokoknya gue gak mau makan di sini," kekehnya. "Kenapa gak mau?" Jujur, sebenarnya Sean sudah lelah dan lapar, hanya karena ingin menjalankan misinya saja, ia rela menjemput Safira. "Ini tuh makanan Itali, gue kan orang Indonesia, lidah gue gak suka." Astaga, alasan macam apa itu? Sean bahkan sampai kehilangan kalimatnya untuk membalas. "Udah deh, makan tempat lain aja," pinta Safira lagi. Sean lantas menghela, mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa bukan dari tadi sih bilang gak mau makan di sini, gue udah parkir loh, Fir." "Elo juga gak ada bilang mau makan di sini." Safira membalasnya tak mau kalah. "Gue ada tempat makan enak, kesana aja, ya?" Akhirnya, dengan rasa lelah dan pening di kepala karena tadi sempat menenggak brendi saat dirinya berada di Black Devil, Sean kembali menjalankan kereta besinya itu keluar dari pelataran restoran. Sedikit mengumpat dalam hati karena harus menuruti permintaan sang istri yang tidak masuk akal itu. "Jadi mau makan dimana?" "Di depan sana." Safira menunjuk jejeran warung tenda yang ada di pinggir jalan. "Nah itu, yang tendanya ada tulisan nasi goreng gila." Lagi-lagi Sean dibuat terperangah oleh perempuan itu. Warung pinggir jalan? Serius mereka akan makan di sana? Safira itu jenis wanita seperti apa sih? Diberi makanan mewah bintang lima malah memilih untuk makan di pinggir jalan. "Lo gak keberatan kan kita makan di sini?" Kenapa baru ditanya sekarang? Saat Sean sudah memarkirkan mobilnya di tepi trotoar. "Gak," balas lelaki itu singkat, sedikit mendumel. Safira tahu Sean sedang kesal karena ia menolak makan di Restoran mahal dan lebih memilih makan di pinggir jalan. Tapi Safira memang sengaja melakukan itu, untuk membalas perlakuan Sean yang sejak kemarin tidak berhenti menggodanya. "Anggap aja gue lagi ngidam, Se. Jadi lo harus turutin kemauan gue," ujarnya nyeleneh, yang kontan membuat Sean melipat keningnya dengan senyum miring di bibir. "Kalo gitu gue buatin dulu, mau?" Refleks Safira terngaga, mendelik tajam ke arah Sean seraya mengerucut sebal. Sialan! Mengapa ujung-ujungnya ia lagi yang kena ledek. "Ih! Buruan turun!" sungutnya mengalihkan rasa malu. Padahal yang duluan memancing kan dia. Tertawa puas, Sean merasa senang bisa menggoda anak perawan itu lagi. Sudut bibirnya terangkat tipis membentuk sebuah seringai. Meledek Safira memang akan selalu semenyenangkan ini. Setelah mereka sama-sama turun dari mobil, Sean kemudian mengikuti langkah Safira yang masuk ke dalam warung tenda dengan spanduk berwarna hijau terang bertuliskan nasi goreng gila Babeh Zaim. "Fir, baru kelihatan?" sambut pemilik warung sedikit berteriak karena suara penging dari bunyi kompor gas yang menyalah. Suasana tenda malam itu cukup sepi, hanya ada sepasang pembeli yang sudah lebih dulu datang dari mereka. Safira berdiri tepat di depan pintu masuk yang berhadapan langsung dengan sang pemilik warung. "Saya sibuk, Beh, jadi baru sempet mampir." "Padahal Babeh nungguin loh, Fir," timpal lelaki paruh baya itu bersama gelak tawa meledek. Tampaknya Safira sudah sangat akrab dengan penjual nasi goreng itu, terlihat dari interaksi keduanya yang santai. "Duh, saya ngerasa kayak tamu kehormatan loh ditungguin Babeh," balas Safira pura-pura meringis. Lalu keduanya tergelak. "Pesen ape, Fir?" "Biasa aja, Beh. Dua, ya." "Sama Aldo?" tanya lelaki yang biasa dipanggil Babeh oleh orang-orang di sana. Sontak Safira menegang, tubuhnya mendadak gelisah lalu dengan gelagapan melirik ke belakang dimana Sean juga sedang menatap ke arahnya. Buru-buru ia berpaling. "Bu—bukan ..." seraya mengibaskan tangannya cepat, membuat Babeh yang sudah selesai memasak nasi goreng untuk pembeli pertamanya melirik ke arah belakang tubuh Safira. "Eh? Iya, bukan. Babeh kira Aldo," jelas Babeh yang kembali menyebut nama sang mantan. Beliau tersenyum sesaat pada Sean yang dibalas tatapan datar oleh lelaki itu. "Duduk, Fir." "I—ya, Beh." Safira kontan merasakan sengatan panas menyerang punggungnya, seperti sadar kalau saat ini Sean sedang menatapnya dengan sorot mata tajam. Pada detik selanjutnya, Safira terkejut begitu bahunya terdorong ke depan saat Sean hendak melangkah masuk ke dalam tenda. Kedua tangan lelaki itu dimasukan ke dalam kantung celana, postur tubuh dan wajah tampan yang ia miliki seolah menunjukan dengan jelas aura sultan yang ada pada dirinya. Meski ia duduk di atas bangku plastik murahan sekali pun, aura bangsawan itu masih tetap terpancar. Safira mengikuti lelaki itu, duduk di sebelahnya. "Mau minum ap—" "Air mineral aja," potong Sean cepat. Ia duduk dengan kaki menyilang. Safira mendengkus, mengerucutkan bibirnya sebelum kemudian memesan dua botol air mineral untuk mereka. Keduanya kembali terdiam, membiarkan suara kompor dan bunyi penggorengan yang beradu dengan spatula memenuhi indera pendengaran mereka. Sean sibuk dengan ponselnya, sementara Safira duduk dengan tenang menunggu pesanan nasi goreng mereka datang. Dari wanginya saja sudah membuat perut Safira berdendang keras. Ah ... ia tidak sabar untuk menyantap itu. Sean meletakan ponselnya ke atas meja, lalu menatap Safira dari samping. "Aldo siapa?" "Ya?" Perempuan itu menoleh terkejut, mengedipkan matanya dua kali. Berharap kalau apa yang baru saja ia dengar itu salah, atau telinganya sedang memiliki gangguan. Namun saat Sean mengulangi pertanyaan yang sama, Safira mendadak menjadi blingsatan. "Aldo, siapa?" "Em—dia ... temen gue," jawabnya sambil melarikan pandangan ke arah spanduk yang ada di belakang Sean. "Temen kerja." "Kayaknya yang jualan kenal banget sama lo, kalian sering makan di sini?" Kalian? Apa Sean juga menanyakan tentang Aldo? Duh ... Safira bingung. Padahal tidak masalah kalau Sean tahu tentang Aldo, hanya saja ia merasa perlu merahasiakan hubungannya itu dari Sean. Entah sampai kapan. Bohong kalau Safira tidak terpengaruh dengan ucapan Aldo yang mengatakan ingin memperjuangkan hubungan mereka lagi. d**a Safira masih berdebar saat mereka bersama, saat kulit mereka bersentuhan, tapi Safira juga tahu untuk saat ini itu tidak mungkin. "Gak sering kok." "Berdua?" "Sama temen-temen yang lain juga," ralatnya buru-buru. Belum sempat Sean melemparkan pertanyaan lagi, tiba-tiba Babeh datang dengan membawakan pesanan mereka. Diam-diam Safira menghela napas lega, lalu mengucapkan terima kasih kepada Babeh. Setelah itu, tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Keduanya sibuk melahap nasi goreng masing-masing dalam diam. Safira sesekali melirik Sean yang ada di sebelahnya, untuk pertama kali mereka makan di satu meja yang sama saat sedang berdua. Biasanya harus ada Mami atau kedua orang tua mereka dulu untuk menyatukan keduanya dalam satu meja yang sama. Tapi kali ini semua mengalir begitu saja, seperti kencan pada malam hari. "Fir." "Hum?" Safira menoleh "Lo laper?" Mengernyit bingung, Safira terdiam tidak mengerti maksud ucapan Sean. "Kenapa?" Bukan menjawab, Sean malah tersenyum—jenis senyuman yang bisa membuat wanita manapun yang melihatnya meleleh—termasuk Safira. Ia lantas mengangkat tangannya ke atas, menuju ujung bibir Safira hanya untuk mengambil nasi yang menempel di sana. Sekilas itu terlihat biasa saja, namun menjadi tidak biasa karena Sean malah memasukan satu butir nasi itu ke dalam mulutnya. Memakan itu dengan santai seperti saat ia menjilat noda cokelat yang ada di bibir Safira. "Lo tuh kalo makan berantakan mulu," ujarnya seraya berlalu dan kembali sibuk dengan makananya. "Kayak anak kecil, tapi gue suka." Seperti tidak terjadi apa-apa, Sean nampak biasa saja saat mengatakan itu. Tapi tidak dengan Safira, ia merasa seperti tersihir dan mematung di tempatnya. Astaga, Safira merasakan jantungnya kini melompat-lompat di dalam sana seperti sedang bermain trampolin. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN