PACTA | 9

1757 Kata
"Jadi Safira gak mau lo ajak bobo bareng, Yan?" Chandra bertanya setelah menenggak segelas brendi di tangan. Ia lantas menatap Sean yang ada di sebelahnya dengan tampang meledek. "Ibarat hewan, lo tuh kayak kucing yang dikasih ikan di akuarium. Bisa dilihat tapi gak bisa dimakan," tambahnya dengan tawa menyebalkan. Sean melirik lelaki itu sekilas, lalu tersenyum tipis seraya menghembuskan asap mengepul dari bibir. Tampangnya terlihat tidak terganggu sama sekali dengan ledekan Chandra, ia malah memberikan desisan kecil pada sahabatnya itu. "Jalanin pernikahan normal aja sih, Yan. Lama-lama kalo lo cinta juga bakalan nyaman." Itu adalah nasihat dari seorang Kaisar, lelaki beristri yang baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki yang lucu. Semenjak menikah Kai berubah menjadi sok bijaksana, begitu yang Chandra katakan. Karena mendadak lelaki itu sering sekali menasehati mereka tentang masalah hati, cinta, dan masa depan. Pret! Padahal Kaisar yang dulu tidak lebih dari seorang lelaki pemuja seks dan penikmat s**********n wanita. "Heuh, belagu lo, Kai. Jangan lo dengerin deh, Yan ... si Kai sekarang udah jadi bucin, gak asik lagi," cibir Chandra meremehkan. "Lo gak mau kan jadi kayak dia?" Kaisar mendengkus. "Daripada kayak lo, ga ada masa depan!" "Masa depan gue lebih baik malah, gak ada yang ngekang. Gak kayak lo tuh, keluar bentaran disuruh pulang nyuci popok." "Gak nyuci popok juga ya, kambing!" "Iya, gak nyuci popok, tapi cuma disuruh beli s**u," ledek Chandra lagi yang membuat Kai berdecak. "Elah, kampret! Cuma sekali Krystal nyuruh gue beli s**u. Biasanya juga enggak." Chandra melengos masam dengan bibir terlipat. "Emangnya gue gatau kalo tiap lo di rumah, lo disuruh gantiin popok Kean." "Itu namanya kerja sama sebagai orang tua baru, nyet!" Kai membalasnya sengit. "Di situ nikmatnya berumah tangga!" Sean yang duduk di antara mereka hanya mengulas senyum tipis, merasa biasa melihat pertengkaran di antara mereka. Bagaikan Tom and Jerry, begitulah kedua lelaki itu menamai kejantanan mereka masing-masing. "Halah! Gue yakin, nikmat yang lo maksud itu cuma pas lagi bergelut di atas ranjang doang, kan?" Kai refleks melempar bungkus rokoknya yang ada di meja ke arah Chandra. "Otak lo benar-benar harus dicuci!" geramnya. "Makanya nikah, emang lo gak mau ngerasain pagi-pagi dibangunin istri sambil dicium? Dibuatin sarapan, terus pulang kerja diajak mandi bareng. Beuh ... nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan." Diam-diam Sean tersenyum, tidak ingin menyahuti pertengkaran kedua lelaki itu. Sebenarnya, hari ini Sean ingin cepat sampai di rumah. Tapi saat di perjalanan pulang, ia mendapat pesan dari Safira yang mengatakan kalau perempuan itu akan pulang malam karena lembur. Jadilah Sean mengajak kedua temannya untuk datang ke Black Devil, seperti biasa mereka berkumpul di sana untuk melepas penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Kebiasaan itu sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum dua di antara mereka menikah. Dulu ketiganya percaya kalau cinta itu adalah pembodohan. Maksudnya, laki-laki akan menjadi lemah dan bodoh pada wanita karena cinta, dan mereka berjanji tidak akan pernah menjadi seperti itu. Tapi semuanya hanya bualan semata saat salah satu di antara mereka terjebak oleh cinta dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk satu wanita saja. Kaisar adalah lelaki pertama di antara mereka yang lebih dulu membuka hatinya untuk seorang wanita. Jatuh cinta dengan adik dari tunangannya hingga menimbulkan skandal besar. Jika dulu Kaisar akan sangat bersemangat untuk datang ke tempat ini, lain lagi setelah menikah. Lelaki itu mendadak menjadi suami yang takut istri. Sedangkan Chandra, lelaki yang lebih tua satu tahun dari Sean itu masih memilih tetap menjomblo, alias tidak akan menikah. Meski sudah hampir berkepala empat, Chandra tetap pada pendirian mereka dulu, kalau cinta dan pernikahan hanya akan membuat mereka menjadi bodoh dan lemah. Contoh nyatanya adalah Kaisar. "Dimana nikmatnya coba? Pernikahan cuma ngebuat kebebasan lo terampas, Kai." Chandra menimpali dengan gaya jumawa, menoleh ke arah Sean. "Ya gak, Yan?" Sontak Sean menoyor kepala Chandra keras, seraya menegakan tubuhnya untuk menjangkau asbak di atas meja dan mematikan rokoknya di sana. "Nikah lo, Chan! Kasihan nyokap lo, udah tua." Chandra membelalak, tidak menyangka dengan tanggapan Sean yang memilih untuk ikut-ikutan mengoloknya. Sementara itu, Kai yang sudah menyalahkan rokoknya kini sedang menyombongkan diri, merasa menang kali ini. "Jadi lo gak bakalan ceraiin Safira kan?" Mendapat pertanyaan seperti itu dari Kai membuat Sean mendesis pelan. "Dari awal emang gue gak pernah mikir kayak gitu, Kai," balasnya yakin. Serentak, baik Kai maupun Chandra saling menatap tidak mengerti. "Loh, terus kenapa si Fira minta pisah?" Chandra bertanya bingung. Sean mengedik singkat, lalu menggeleng pelan. Ia pun masih tidak mengerti mengapa Safira tiba-tiba mengajukan perjanjian pernikahan padanya dan meminta kalau pernikahan mereka hanya akan berlangsung hingga satu tahun. "Safira tuh lucu, Chan." Sean lalu tersenyum kecil, mengingat wajah perempuan itu yang memerah saat sedang marah padanya. "Lo gak akan nyangka kalo lima jam setelah gue nikahin dia, tiba-tiba aja dia ngajuin lima poin perjanjian sama gue." Chandra melongo takjub. "Lo serius?" tanyanya tidak menyangka. "Gila ... kapan-kapan Safira harus lo ajak nongkrong di sini bareng gue." "Mau ngapain?" Bukan Sean yang bertanya, melainkan Kai. "Mau gue traktir karena udah berpikiran hebat," balasnya nyeleneh. "Ye ... si g****k!" "Emang nikah sama cowok kayak lo tuh harus pake perjanjian, Yan, biar gak digempur tiap hari," ejek Chandra lagi. Sean yang mendengar celotehan tidak bermanfaat dari sahabatnya itu hanya menggeleng samar. "Dia bilang gak mau gue tidurin kalo gak ada cinta." Lalu berdecak geli. "Gue bener-bener tertantang untuk itu." "Tipe-tipe kayak gini nih, jatohnya bakalan kayak Kai lagi," ujar Chandra memperingati. "Gak akan ... gue yakin pasti bisa dapetin dia. Lo tunggu aja." Sean menyeringai tipis. "Gak ada cewek yang gak bisa gue goda." "Maksud lo?" Chandra bertanya dengan tampang melongo. "Jangan bilang kalo lo mau buat dia jatuh cinta sama lo? Elo mau nipu dia? Terus abis itu lo tidurin?" Sean tidak langsung menjawab, tapi senyum menyeringai yang ia berikan seolah menjadi jawaban atas semua pertanyaan Chandra. Tidak ada yang salah kan? Mereka sudah menikah, bagaimana perasaannya untuk Safira, bagi Sean itu tidak penting. "b*****t! Nih anak monyet licik juga ya." "Yan, lo gak mikir kalo itu keterlaluan?" Kai menjadi satu-satunya yang tidak setuju dengan pikiran Sean. Semenjak menikah, ia benar-benar berubah. "Cara lo pura-pura cinta sama Safira bagi gue itu udah keterlaluan." "Yang penting gue tanggung jawab kan?" "Tapi, lo tahu kan kalo lo nidurin dia artinya—" "Gak bakalan." Sean menyela. "Sama kayak cara lo dulu, gue bakalan kasih dia pil kontrasepsi. Lo tenang aja. Lagian ya, Kai, gue juga gak bakalan ninggalin dia kok." "Tapi tetap aja cara lo itu keterlaluan. Lo gak mikir kalo sampe dia tahu?" "Dia gak akan tahu, gue pastiin itu." Kai hanya menghela. Apapun yang menjadi keputusan Sean, sudah pasti ia tidak bisa menggangu gugat. Kai sebagai sahabat hanya bisa mengingatkan. Tapi balik lagi, hidup yang ingin Sean jalani, hanya lelaki itu lah yang berhak memutuskan. *** "Al," Safira menggeliat tidak nyaman di dalam pelukan lelaki itu. Ia berusaha melepaskan, tapi sepertinya Aldo malah membuat pelukan itu kian mengerat. "Jangan gini." "Aku kangen kamu, Fir ... apa kamu gak kangen aku?" Sudah pasti ia pun merasakan rindu, lima tahun bersama Aldo, melewati banyak kenangan. Menyembunyikan hubungan mereka, hingga ketahuan oleh ibu Aldo. Semuanya tidak akan Safira lupakan. Tapi, apa yang sedang lelaki itu lakukan padanya saat ini tidak bisa dibenarkan. Ini adalah kesalahan, mereka tidak harus melakukan itu sementara status Safira pun sudah menikah. Ya ampun, menikah? "Al, tolong jangan seperti ini." Safira buru-buru melepas tangan Aldo yang ada diperutnya. Berbalik dengan wajah merah. "Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi selain pekerjaan." "Maafin aku, Fir. Tapi aku gak bisa putus dari kamu." Safira menggeleng cepat. "Harus bisa, ini demi kebaikan kamu juga." "Yang terbaik untuk aku cuma berdua bersama kamu." Oh ... seandainya Aldo mengatakan itu tiga bulan yang lalu, saat ibunya meminta mereka berpisah, mungkin Safira masih akan tetap berada di sisi lelaki itu. "Aku gak mungkin sama kamu." "Gak ada yang gak mungkin, Fir." Aldo meraih tangan Safira, mengecup punggung tangannya lembut. "Aku lagi berusaha untuk memperjuangkan hubungan kita lagi. Kamu mau kan, tunggu aku?" Memperjuangkan? Rasanya Safira ingin tertawa mendengar itu. Bahkan saat ibunya merendahkan Safira, Aldo sama sekali tidak mebantunya. Apa yang harus diperjuangkan? "Aku gak bisa, Al." "Please, Fir ... aku mau kita sama-sama lagi." Aldo berujar dengan nada memohon, membuat hati Safira sedikit mengiba. "Aku janji, kali ini apapun yang Mama lakukan, aku akan tetap bersama kamu." Terlambat. Rasanya sudah terlambat. Mengapa tidak tiga bulan yang lalu? Mengapa setelah ia sudah menjadi istri lelaki lain? "Aku janji akan perjuangin kamu lagi." "Aku—" "Fir ..." Aldo menangkup wajah Safira, membuat pandangan mereka menjadi satu. "Aku cinta kamu," lirihnya seraya menipiskan jarak mereka. Safira tidak merasakan apapun, mungkin dulu saat Aldo mengatakan itu hatinya akan bergetar hebat. Safira berdebar, tapi semuanya tidak lagi sama, tidak ada getaran yang menggila di dalam dadanya. "Jangan pergi dari aku, Fir." Perlahan Aldo memiringkan kepala, hendak menjangkau bibirnya. Safira pikir, jika wanita dan lelaki berada di satu ruangan yang sama, yang ketiga adalah setan. Tapi nyatanya setan yang merasuki dirinya saat bersama Sean kini tidak lagi ada. Kemana perginya setan itu? Yang ada kini hanyalah setan waras yang membuat Safira buru-buru menghindar dan langsung menahan d**a Aldo dengan cepat. "Aku gak bisa," tolaknya seraya berpaling muka. Dengan cepat ia mundur selangkah, memberi jarak antara dirinya dan Aldo. "Kita gak boleh kayak gini, Al." "Apa perasaan itu udah gak ada lagi buat aku, Fir?" Safira bungkam. Bukan karena rasa itu masih sama, hanya saja, Safira terlalu bingung untuk mengungkapkannya. Ia masih terlalu perduli dengan Aldo, tapi apa itu juga termasuk mencintai? "Fir," Aldo kembali mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Please, kasih aku kesempatan kedua." Ia tangkup lagi wajah Safira, kali ini tidak ada penolakan. Perempuan itu masih dalam keadaan bingung. Melihat Safira yang terdiam, lantas Aldo menggunakan kesempatan itu untuk kembali mendekatkan wajah mereka. Belum sempat bibir Aldo meraup bibir Safira, bunyi dering ponsel perempuan itu membuat pergerakannya terhenti. Safira kontan tersadar dan segera mendorong d**a Aldo cepat. Buru-buru ia meraih ponselnya yang tersimpan di saku celana. Melihat nama Sean tertera di atas layar, Safira mendadak jadi blingsatan. "Kalo gak ada yang mau kamu omongin lagi, boleh aku izin pulang, Al?" Aldo mengangguk, membiarkan Safira pergi dari ruangannya. Setelah keluar dari ruangan Aldo yang terasa mencekam itu, Safira buru-buru mengangkat panggilan Sean. "Halo, Se?" "Gue di depan kafe." Safira mengerjap. Sean, di depan kafe? "Ngapain?" "Ngejemput istri sendiri memang harus pake alasan ya?" Ada decakan kesal di seberang sana yang dapat Safira dengar. "Buruan keluar." Dan sambungan itu terputus begitu saja. Safira lantas mendengkus, mengerucut kesal. Tapi, tidak lama bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Astaga, kenapa ia berdebar sekali? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN