PACTA | 8

1746 Kata
Sean merupakan anak tunggal dari seorang pengusaha besar di Indonesia. Sejak kecil hidupnya selalu berkecukupan bahkan lebih. Menjadi anak satu-satunya membuat Sean sangat dimanja, segala hal yang ia minta pasti akan dituruti. Mami dan Papi juga tidak pernah berhenti memberikan perhatian dan kasih sayang mereka untuk Sean. Tidak ada kekurangan di hidupnya, semua tampak sempurna. Berbanding terbalik dengan Safira. Sejak Ibu meninggal dan bisnis Bapak mendadak hancur, Safira harus merelakan masa remajanya terenggut demi bisa mencukupi kehidupan mereka. Safira tidak melanjutkan sekolah dan lebih memilih untuk bekerja. Bukan hanya demi sesuap nasi, tapi ada hutang besar yang Bapak pinjam pada salah satu rentenir di kampungnya yang harus Safira lunasi. Hidup sulit membuatnya sangat sensitif apalagi menyangkut masalah uang. Safira pikir, mengeruk uang Sean dengan dalih nafkah bulanan bisa membantunya untuk melunasi hutang Bapak. Tapi ternyata, lelaki itu lebih licik dari yang ia kira. Safira bisa saja mendapatkan uang bulanan itu, asalkan ia juga rela kehilangan sesuatu yang telah ia jaga selama hampir 25 tahun hidupnya, yaitu keperawanan. Sean memang pemuja wanita yang pintar, Safira harus berhati-hati dengan lelaki itu. "Besok harus ada uangnya, Fir." Safira mendesah seraya memijat keningnya yang terasa berat, satu tangannya lagi sibuk mencengkram ponsel yang tertempel di telinga. "Fira usahain, Pak," desahnya putus asa. "Ini udah mendesak banget ... Bang Juki udah ngancem mau ngambil surat rumah." Ada nada ketakutan yang Safira tangkap dari suara Bapak. Sudut hatinya seketika meringis. Beberapa menit yang lalu Bapak menelepon dan mengatakan kalau anak buah Bang Juki—rentenir yang menjadi tempat Bapak meminjam uang, datang, mengancam dan hampir merusak rumah mereka. Tidak ada yang bisa membantu Bapak saat itu, para tetangga pun takut untuk berurusan dengan orang-orang suruhan Bang Juki. Sementara Sadam—adik laki-laki Safira sudah berangkat kuliah sebelum mereka datang. "Bapak bingung mau minta tolong sama siapa lagi." "Tapi anak buah Bang Juki udah pergi semua dari sana kan, Pak?" tanya Safira cemas dan khawatir. "Sudah." Ia menghela lega. "Nanti Fira coba cari pinjaman sama temen ya, Pak." "Iya, Fir ... Bapak tunggu." Ada jeda sebentar sebelum Bapak kembali bersuara. "Kamu jangan bilang sama Sean, ya, apalagi kalo Papinya tahu." Papi dan Bapak memang berteman dekat, sebelum Bapak pindah ke Depok dan membuka usaha di sana, Papi banyak membantu kehidupan Bapak. Mulai dari keuangan Bapak yang saat itu sangat memperihatinkan, sampai untuk masalah masalah kecil lainnya. Bapak yakin, Papi pasti akan siap membantunya membayar hutang itu, tapi Bapak juga tidak ingin terus menerus menyusahkan sahabatnya. Keluarga itu bisa menerima Safira sebagai menantu saja rasanya Bapak sangat bersyukur. "Fira gak akan cerita." Ditariknya napas berat itu dan dihembuskannya perlahan. "Bapak tenang ya, biar Fira aja yang cari jalan keluarnya. Bapak jangan banyak pikiran." "Maafin bapak ya, Fir." "Iya, Pak ... ini juga udah kewajiban Fira kok," balasnya mencoba menenangkan Bapak. Lalu, hingga sambungan itu terputus, Safira belum juga menemukan jalan keluar dari masalahnya itu. Ia tidak tahu harus meminjam uang pada siapa. Desi hanya anak rantau yang mencari keberuntungan di Ibu Kota, bahkan untuk hidup saja ia harus membagi penghasilannya pada orang tua yang ada di kampung. Teman kerjanya yang lain pun begitu, mereka rata-rata anak rantau dari luar pulau. Jikapun ada, mereka hanyalah anak part time yang bekerja untuk membayar kuliah. Gaji mereka bahkan tidak sampai lima juta perbulan. Safira kembali menghela, kali ini seraya menangkupkan wajahnya pada telapak tangan. Ingin mengeluh tapi ia terlalu malu untuk melakukannya. Masih banyak orang-orang di luar sana yang hidupnya lebih sulit. Tapi, ingin berusaha tegar pun rasanya tidak kuat. Lalu, ia harus apa? "Fir?" Safira tersentak kaget, melepas tangkupan wajahnya dan berbalik. Ia dapati Sean sedang berdiri di sana. "Kenapa?" tanya lelaki itu "Ya?" Safira pun terlihat bingung, tidak sangka Sean berdiri di belakangnya. Sejak kapan lelaki itu ada di sana? Apa Sean juga mendengar percakapannya dengan Bapak tadi? Mendadak Safira menjadi gugup. "Gak—gak kenapa-napa kok." Lelaki yang sudah mengenakan stelan kerjanya itu pun mendekat. Kemeja biru muda dengan dasi maroon, serta jas hitam yang tersampir di lengannya, membuat Sean terlihat begitu menawan. "Ayo." Safira mengedip dua kali. "Kemana?" "Lo mau berangkat kerja kan? Sekalian gue anter." Refleks kedua matanya yang tadi mengedip kaku perlahan berotasi cepat. "Gue bilang kan gak mau." Ia mendengus kesal. "Gue bisa berangkat sendiri." "Tempat kerja lo searah sama kantor gue, anggap aja irit ongkos." Safira berdecak tidak terima. "Gue masih punya uang ya! Naik taksi juga gue masih bisa bayar!" "Emang gue ada bilang lo gak ada uang?" Sean menyindir dengan alis naik ke atas. "Baper banget anak perawan." Perempuan itu menggeram dengan kedua tangan terkepal erat, ia menghentak ke depan dan berhenti di depan Sean. "Berhenti bilang itu! Lo tuh—ish!" runtuknya dengan gerakan tangan ingin mencekik. Kalau membunuh manusia tidak masuk penjara, mungkin sudah ia lakukan sejak tadi. Eh, tapi Sean kan bukan manusia! Dia iblis! Iblis k*****t! Ish! "Manis banget sih kalo lagi kesel kayak gitu." Sean tergelak kencang, merasa geli sekaligus lucu melihat reaksi Safira yang menggemaskan. "Tapi emang lo masih perawan, kan?" ledeknya dengan tawa geli. Safira tidak terima. Ia lantas menaikan dagunya tinggi-tinggi, menatap Sean dengan tampang menantang. "Terus kenapa kalo gue masih perawan? Bukan urusan lo juga, kan!" ujarnya bersungut-sungut. Sean mengedik, tidak menghilangkan raut jenaka yang tercetak jelas di wajahnya—yang Safira anggap sebagai bentuk ledekan untuk dirinya. "Oh ... pantes." Merengut bingung, Safira kemudian mencebik. "Pantes apa?" "Pantes gampang ngambek sama marah. Biasanya cewek-cewek yang kayak gitu hidupnya kurang pelepasan. Lo harus ngerasain o*****e biar otak lo santai." Ha? Maksudnya? "Or—" Safira melongo takjub, bahkan bibirnya sampai terbuka lebar. "Lo gila ya?" "Iya," jawab Sean tersenyum jenaka. "Gue gila semenjak nikah sama lo, Fir." Eh? "Tergila-gila karena lo." Diusapnya bibir bawah Safira dengan ibu jarinya. Sean menyeringai tipis, membuat gelenyar aneh langsung menggelitik perut bawah Safira saat itu juga. Ya ampun. Apa maksud ucapan Sean barusan? Bisa tidak sih dia berhenti meledek anak perawan? Kalau Safira baper gimana? "Gue tunggu di mobil." Sean berlalu begitu saja dari depan Safira, melangkah menuju pintu depan dengan gerakan santai. Sial! Apa Sean tidak sadar kalau perlakuannya tadi bisa membuat jantung Safira lompat dari tempatnya. "Gak usah nolak segala, Fir, lo gak akan terlihat lemah hanya karena gue antar kerja, kan?" Sean berujar lagi, membuat kesadaran Safira kembali. Apa katanya barusan? Sialan! Tuh kan Safira mengumpat lagi. *** Seharian ini Safira tidak bisa bekerja dengan baik. Mendadak ia tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Sempat beberapa kali Desi menegurnya. Bukan hanya Desi, bahkan tiga kali Aldo memergokinya melamun di depan mesin kasir. Dan yang lebih parah dari itu, sudah dua kali ia salah membuatkan pesanan untuk costumer. Safira benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Tidak pernah selama lima tahun bekerja ia melakukan kesalahan separah itu. "Lo kenapa sih, Fir? Bukan lo banget deh kerja kayak gitu." Safira mendesah pelan, memangku wajahnya ke atas meja. Kafe sudah tutup sejak lima belas menit yang lalu, membuat ia dan Desi yang sedang sibuk menghitung penjualan kafe dapat mengistirahatkan tubuh mereka di sana. Harusnya Safira tidak ikut closing, karena hari ini jadwalnya masuk pagi. Tapi karena ada pegawai yang tidak bisa masuk, terpaksa Safira harus lembur. Ia sudah menghubungi Sean dan mengatakan kalau dirinya akan pulang malam. Entah untuk apa ia melakukan itu, yang jelas Safira merasa jin di dalam tubuhnya belum juga menghilang. "Des ... kalo gue minta gaji duluan kira-kira si Bos ngasih gak, ya?" Desi yang sedang sibuk menghitung penjualan kopi perlahan mengangkat wajahnya, menatap Safira dengan raut wajah yang sulit dimengerti. "Apa?" tanya Safira defensif. Desi hanya menatapnya lurus, mengernyit, lalu mengamati Safira dalam diam. "Apaan sih, Des!" Safira langsung menegakan tubuhnya. "Kenapa sih lo natap guenya kayak gitu?" "Lo gak dinafkahin sama suami lo ya, Fir?" tebak Desi sok tahu, ia bahkan menambahkan decakan di akhir kalimat. Safira yang tadinya bingung mendadak melengos masam. Gue kira apa! "Gue udah nebak, dari cara lo sembunyiin suami lo, terus ngerahasiain pernikahan kalian. Pasti laki lo dari keluarga miskin kan? Gak kerja? Terus sekarang lo lagi bingung karena gak ada uang buat makan?" Desi dan segala pemikirannya yang sangat sinetron. Safira menggeleng seraya menghela pelan. "Gak ya! Gue emang lagi butuh uang aja." "Mintalah sama suami lo kalo gitu!" Desi tiba-tiba nyolot. "Udah deh, Fir. Lo gak usah malu. Gue bisa memaklumi kok kalo laki lo itu pengangguran. Emang laki jaman sekarang itu maunya hidup enak tapi gak mau kerja! Maunya ditanggung sama cewek aja!" ujanya berapi-apai. Oh, seandainya Desi tahu kalau harta kekayaan keluarga Sean tidak akan habis sampai tujuh turunan. Seandainya saja Desi tahu kalau pemilik bangunan yang Aldo sewa ini adalah milik Sean—suaminya. Mungkin dia tidak akan bisa berkata seperti itu lagi. Eh? Ya ampun apa baru saja ia mengakui Sean sebagai suaminya? "Gak, Des. Gue emang lagi butuh uang, cuma gak mau bilang sama laki gue." Desi mengangguk skeptis. "Iya-iya, terserah apa kata lo." Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. "Eh, Des." "Hm? Apa?" "Menurut lo, kalo cewek sama cowok berduaan, yang ketiga setan bukan sih?" "Ha?" Desi menoleh bingung. "Maksud lo, kalo cewek sama cowok lagi pacaran gitu?" Terdiam sebentar, lantas Safira mengangguk. "Ya ... gak bisa dibilang gitu juga sih, tapi ya sama aja maksudnya." "Ih, apaan sih, aneh lo!" "Udah jawab aja, Des." "Kalo menurut guru ngaji gue sih begitu, katanya yang ketiga setan." "Tuh kan bener!" Safira sontak berteriak nyaring seraya memukul meja. Jadi benar kalau ciuman antara dirinya dan Sean malam itu terjadi karena ia sedang kerasukan setan. Safira tidak benar-benar ingin dicium Sean. Karena ada setan di tengah-tengah mereka jadinya Safira pasrah saat lelaki itu menciumnya. Oke, biarkan Safira berpikiran seperti itu karena sampai saat ini ia masih tidak bisa terima mengapa dirinya tidak melawan saat Sean menciumnya, apalagi ia membalas ciuman itu. Sama gilanya. Ish! Kenapa diingatkan! "Emang kenapa, Fir?" "Ya?" Safira tersentak gugup. Ia lantas menggeleng dengan cengiran. "Gak. Gak pa-pa, cuma mau nanya aja." "Fir." Tiba-tiba saja Aldo datang dari arah belakang, membuat percakapan Safira dan Desi terhenti. "Kenapa, Al?" "Ke ruangan aku sebentar." Setelah mengatakan itu, Aldo lalu berbalik. Safira tampak bingung, tapi ia tetap menuruti perintah lelaki itu untuk datang ke ruangannya. Membuka pintu ruangan itu, Safira lalu masuk ke dalam setelah menuntup kembali pintunya. Di dalam sana, tiba-tiba saja Safira tersentak kaget saat ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Mendadak Safira membeku dengan napas tertahan. Tidak perlu bertanya siapa pemilik tangan itu, karena di dalam sana, hanya ada dirinya dan Aldo. Lelaki itu memeluknya dari belakang, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Safira sebelum kemudian berbisik, "Aku kangen kamu, Fir."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN