Safira bersidekap dengan bibir mengerucut kesal. Di sampingnya, Sean sedang menyetir sambil sesekali bersiul dengan nada yang menjengkelkan untuk Safira dengar. Ingin sekali ia menutup bibir itu agar tidak mengeluarkan suara.
Beberapa saat yang lalu, Safira terpaksa meminta izin pada Aldo untuk pulang lebih cepat dengan alasan tidak enak badan. Hal itu pun menjadi tidak mudah begitu Aldo memaksa untuk mengantarnya pulang. Aldo bilang kalau ia tidak bisa membiarkan karyawan kafenya yang sedang sakit pulang sendirian.
Tentu saja Safira tahu itu hanya sebuah alasan. Ia menolak itu, meski dengan beberapa perdebatan yang terjadi antara dirinya dan Aldo. Safira tidak bisa membiarkan lelaki itu mengantarnya pulang sementara di depan sana Sean sedang menungguinya.
"Lo tuh apa-apaan sih!" sentak Safira yang mulai tidak bisa menahan kekesalannya.
Sean melirik sekilas, lalu menaikan kedua alisnya tanpa rasa bersalah. "Gue? Kenapa?" tanyanya pura-pura bodoh.
"Iya, elo!" Safira melipat kedua tangannya di depan d**a. "Gue lagi kerja Sean! Gaji gue bisa dipotong kalo gini."
"Berapa sih gaji lo?" Dan lagi, Sean bertanya seolah menganggap remeh pekerjaan Safira. "Gue ganti. Berapa?"
"Bukan masalah ganti! Gue juga punya tanggung jawab di dalam kafe! Gue gak bisa pergi gitu aja."
"Emang gue ada maksa lo buat pulang?"
Safira bungkam. Tentu tidak, tapi dari cara Sean yang duduk di dalam kafe sambil menatapnya terus menerus membuat perempuan itu hilang fokus. Dibanding harus bermasalah dengan Aldo, lebih baik ia menurutinya pulang.
"Gue juga gak ganggu lo kok tadi."
"Lo ganggu!" Safira memutar tubuhnya ke arah Sean. "Mau lo sebenarnya apa sih, Se?"
Sean tersenyum miring, melirik Safira lagi sebelum memfokuskan pandangannya pada jalanan di depan sama. "Hak gue!" jawabnya santai yang justru menyulut kekesalan di d**a Safira.
"Gue kan udah bilang kalo gue lagi—"
"Lo gak lagi halangan, Fir."
Bibir Safira kembali tertutup rapat, lalu mencebik sambil menggerutu dalam hati. Sial! Ternyata tidak mudah membohongi Sean. "Gue butuh alasan ... kenapa lo kepengin banget ngelakuin itu sama gue?"
"Seks?" tanya Sean memastikan dan dibalas anggukam kaku oleh Safira. "Hal itu masih perlu lo tanya?" Sean menaikan sebelah alisnya, tersenyum dengan gelengan kepala samar. "Lo tahu kebutuhan laki-laki kan, Fir?"
"Tapi kenapa gue?"
Lagi, Sean mendesis geli di sebelahnya. "Yang ini juga harus gue jawab?"
Safira menghela lalu menunduk. "Kalo karena gue istri lo, itu gak mungkin banget. Kita gak saling cinta, Se."
"Gue kan udah pernah bilang, kalo seks gak butuh itu."
"Tapi gue butuh cinta untuk ngelakuin itu," tandas Safira.
"Cinta?" Sean berujar skeptis. "Hari gini lo masih percaya cinta? Ck, mending lo buang jauh-jauh pemikiran lo itu, Fir."
"Kenapa?"
"Gak ada orang yang benar-benar cinta!"
"Terus bokap nyokap lo?! Lo pikir mereka gak saling cinta?"
Sean mengedik sombong. "Ya kalo lo beruntung, lo bisa kayak mereka."
Safira menganga tidak percaya. "Lo tuh terlalu menganggap remeh orang, Sean! Pantes aja lo ditinggalin sama cewek lo! Dia mungkin seling—" refleks Safira kembali mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membelalak dengan tampang bodoh.
Astaga, apa yang sudah ia katakan?
"Ma—maksud gue ..." ia berdehem pelan. "Ya ... kan semua orang beda-beda." Lalu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Sehari sebelum pernikahan, Safira mengetahui sesuatu tentang Sean. Lelaki itu ternyata pernah ditinggal oleh kekasihnya begitu saja, tanpa alasan apapun. Hal itu juga yang membuat Sean berubah menjadi seperti saat ini.
Harusnya Safira bisa menahan diri untuk tidak mengungkit hal yang sangat sensitif untuk Sean. Ia tahu telah salah berbicara, karena setelah kalimat itu terlontar, Sean mendadak jadi membisu. Lelaki itu bungkam dengan pandangan lurus ke depan, dan Safira mengerutuki dirinya untuk itu.
Atmosfer di dalam mobil seketika berubah mencekam. Pasti Sean tersinggung, biasanya lelaki itu akan menyahutinya dengan nada jenaka dan menyebalkan, tapi ... kini Safira bisa melihat tangan Sean yang mencengkram setir mobil dengan erat dan kuat.
Hingga mobil itu berhenti di dalam carport, keduanya masih terdiam. Safira hendak membuka seatbelt yang terpasang di tubuhnya saat ia lihat tidak ada pergerakan dari lelaki di sebelahnya itu. Sean seperti tidak berniat untuk masuk ke dalam rumah.
"Kenapa?" Safira bertanya dengan tangan bergerak melepas seatbelt. Ia menatap Sean sekilas. "Lo gak turun?"
"Lo aja."
Mengangkat wajahnya, Safira kini benar-benar memfokuskan matanya untuk menatap lelaki itu. "Gue minta maaf ... soal yang tadi—"
"Gak ada yang salah," potong Sean cepat sambil berpaling keluar jendela.
Wajah Safira seketika tertekuk masam, masih merasa tidak tenang dengan sikap Sean saat ini. "Terus ... lo mau pergi?"
Sean mengangguk singkat, lalu kembali menyalahkan mesin mobilnya. "Buru lo keluar," usirnya.
Safira merengut, tidak suka dengan pengusiran itu. "Bilang dulu lo mau kemana?"
"Bukan urusan lo."
Ternyata bersikap baik pada Sean lama-lama membuat Safira jengkel. "Urusan gue dong! Elo yang nyuruh gue pulang tadi!" Ia bersidekap, masih ingin menuntut jawaban. "Mau kemana?"
"Black Devil," jawab lelaki itu tanpa mau melihat ke arahnya.
"Terus kalo lo mau ke Black Devil, ngapain nyuruh gue pulang tadi?" Safira berujar dengan geraman tertahan. Emosinya benar-benar dibuat jungkir balik oleh Sean sejak tadi. "Kalo tahu gitu lebih baik gue kerja."
"Ya udah, lo kerja aja sana," balas Sean menyebalkan.
Kedua bola mata Safira seketika melebar sempurna, kedua tangannya mengepal erat dengan deru napas memburu. Safira tidak pernah berpikir kalau ada manusia sejenis Sean di dunia ini.
"Sebenarnya lo cuma ngerjain gue aja, kan? Lo seneng udah ganggu gue kerja? Dari awal emang lo cuma mau gue kalah, Se!"
Refleks Sean menoleh cepat, menatap Safira dengan kernyitan bingung. "Kalah? Lo pikir pernikahan kita lomba?" desisnya sedikit geli. "Buruan turun, ngapain lo masih di situ?!"
Safira ingin menangis, ingin menampar Sean, tapi masih menahan itu karena Safira tahu ia tidak bisa melakukannya. "Sebenarnya mau lo apa sih? Gue gak ngerti sama isi kepala lo."
"Sejak kapan gue minta lo ngerti!"
Sialan! Sean sialan!
"Lo begini karena gue gak mau lo ajak seks, kan?"
Sean refleks mengernyit konyol. "Pede banget! Lo pikir gue gak bisa nyari cewek lain? Masih ada ribuan cewek diluar sana yang mau gue ajak tidur, Fir!"
"Ya udah, kalo gitu hapus aja semua perjanjiannya! Gak usah ada perjanjian lagi."
"Oke..." Sean mendesis dengan seringai di bibir. "Siapa takut." Memang sejak awal ide perjanjian itu ada karena permintaan Safira, Sean hanya mengikuti kemauan perempuan itu saja.
Dengan hentakan kesal Safira membuka pintu mobil itu, keluar dari sana lalu menoleh ke dalam, menyempatkan diri mengucapkan sesuatu pada Sean. "Gak usah pulang sekalian! Gak ada lo, rumah terasa damai!" Lalu menutup pintu itu dengan keras.
Sean menggelengkan kepalanya, menatap punggung Safira yang perlahan masuk ke dalam rumah. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis.
"Aneh," gumamnya.
***
Keesokan harinya, Safira terbangun dengan pikiran yang dipenuhi nama Sean. Bukan ia mulai mendalami perannya sebagai seorang istri, hanya saja Safira ingin tahu apa semalam Sean pulang atau tidak. Ia masih merasa tidak enak dengan ucapannya kemarin.
Safira memang tidak peduli, tapi melihat wajah Sean yang mengeras membuat Safira tahu kalau ucapannya sudah kelewatan. Sebenarnya Sean marah atau tidak, itu tidak akan mempengaruhi rumah tangga mereka. Sejak awal pernikahan mereka memang tidak baik-baik saja.
Mereka tidur dengan kamar yang terpisah. Sean berangkat kerja saat Safira baru terbangun, dan Sean pulang saat Safira sudah tertidur-maksudnya, ia sengaja tidur lebih cepat agar bisa menghindari permintaan Sean. Di dalam rumah pertemuan mereka terjadi hanya ketika keduanya sama-sama tidak sengaja berpapasan di dalam dapur. Sisanya, tidak ada interaksi yang berarti.
Seperti saat ini, ketika Safira hendak masuk ke dalam dapur tidak sengaja ia melihat tubuh Sean yang memunggunginya dari balik counter top, lelaki itu sedang sibuk membuat kopi. Ya, hampir setiap hari Sean membuat kopi untuk dirinya sendiri. Di dalam surat perjanjian tertulis dengan jelas mereka akan membuat sarapan dan makan malam masing-masing.
Ngomong-ngomong soal perjanjian, Safira semalam merenung sendirian di dalam kamarnya, meratapi nasibnya yang tidak akan mendapatkan uang bulanan sebesar sepuluh juta. Sedikit banyak ia menyesal telah membuat keputusan itu. Tapi setidaknya, sekarang Sean tidak lagi menuntutnya untuk melakukan seks.
Safira tersentak begitu tubuh Sean berbalik. Untuk beberapa detik mata mereka saling berpandang, menatap satu sama lain dalam diam. Sean yang pertama kali memutus kontak mata itu, lalu melengos keluar dapur sambil membawa secangkir kopi di tangan.
"Lo pulang jam berapa?" tanya Safira begitu tubuh mereka berpapasan. Ternyata, saling diam dengan lelaki itu membuatnya tidak nyaman. "Lo tidur di rumah kan?" Safira lalu menggigit lidahnya, merasa terlalu menghayati perannya sebagai seorang istri.
Sean yang sudah berhenti di sebelahnya lantas menoleh, menatap dirinya dengan tampang dingin. "Seinget gue, kemarin ada yang nyuruh gue untuk gak pulang," ujar lelaki itu menyindir.
Sontak Safira gelagapan, ia berdehem dengan wajah memerah. "Ya—gue kan takut kalo nanti Mami telepon terus nanyain lo tapi elo-nya gak ada." Safira berkilah salah tingkah.
Ya ampun, kenapa ia harus repot-repot bertanya seperti itu pada Sean? Peduli apa dirinya? Terserah Sean ingin tidur dimana, harusnya ia tidak perlu memperdulikan lelaki itu.
"Ya udah, gue kan cuma nanya!" Lalu wajahnya mendongak, menantang Sean. "Kenapa lo jadi sinis gitu? Lo masih marah gara-gara ucapan gue kemarin? Oke, kalo gitu gue minta maaf. Puas?" ujar Safira berapi-api, kedua tangannya bersidekap di depan d**a.
Lagi juga, kenapa Sean harus bersikap seperti itu, dia kan bukan anak abege lagi. Safira benar-benar kesal dengan sikapnya.
Safira masih menggerutu kesal dalam hati, sementara Sean memandanginya dengan senyum remeh di bibir. "Udah?"
Ya?
"Udah nanyanya?" ujar lelaki itu dengan seringai tipis.
Di detik selanjutnya, Safira merasakan bulu-bulu halusnya meremang. Ia lalu mengerjap salah tingkah dan menurunkan pandangannya untuk berpaling dari tatapan Sean yang mematikan.
"Udah!" sahutnya penuh emosi. "Lagian ya, Se, gue nanya kayak gitu bukan karena gue peduli sama lo! Terserah lo mau pulang atau—"
Sean melengos sambil lalu, melangkah meninggalkan Safira yang melongo takjub di tempatnya. Astaga, lelaki itu benar-benar menyebalkan. Ia bahkan pergi sebelum Safira menyelesaikan kalimatnya. Sean memperlakukan Safira seperti makhluk tak kasat mata.
"Sean sialan!"