Ada beberapa hal yang berubah atas hidup mereka ketika pernikahan itu terjadi, terutama pada Safira. Meski mereka sudah memiliki beberapa perjanjian di dalam pernikahan itu, tetap saja keinginan Sean akan menjadi nomor satu.
Sean berulang kali melarang Safira untuk bekerja lagi di Kafe temannya. Lelaki itu mengatakan kalau Safira akan kelelahan dan sulit untuk diajak bergelut di atas ranjang kalau ia masih bekerja di sana.
Tapi, Safira dengan segala akal di dalam kepala memaksa untuk tetap bekerja karena ia tahu alasan itu sangat bagus untuk dirinya menolak ajakan Sean berhubungan badan.
"Gak bisa ... gue tetap harus kerja! Masih ada bokap sama adek gue yang harus gue biayain."
"Gue tambah uang bulanan lo!" ujar lelaki itu dengan tangan terlipat di depan d**a, punggungnya bersandar pada sofa, dan pandangannya tertuju lurus ke arah Safira. "Mau berapa? Bilang aja."
Ngomong-ngomong, pernikahan mereka sudah berjalan hampir seminggu, dan selama itu pula Safira beralasan sedang datang bulan agar Sean tidak meminta jatah padanya.
Ya ampun, jatah? Safira geli sekali rasanya mendengar itu.
"Ma—maksud lo ...," mata Safira membelalak kaget. "Se—sepuluh juta mau lo—tambah?" Bahkan suaranya sampai tercekat. Sebanyak apa sih uangnya Sean itu? Safira benar-benar dibuat terperangah.
Membicarakan uang adalah sesuatu yang bisa membuat jantung Safira berdebar kencang. Dibanding mencium wangi parfum, perempuan itu lebih menyukai wangi uang yang baru keluar dari mesin ATM.
"Hm," Sean berujar angkuh, seangkuh wajahnya yang menyebalkan itu. "Gue kasih sebanyak yang lo mau, tapi jangan kerja lagi, di rumah aja layanin gue, termasuk seks." Tentu saja, memangnya apa lagi yang menjadi tujuan Sean memberi uang bulanan kalau bukan untuk itu.
Safira mendengkus. Harga dirinya sedang dipertaruhkan. Haruskah ia melepaskan keperawanannya hanya demi selembar uang? Bukan! Itu bukan hanya selembar. Ada banyak lembaran di balik uang sepuluh juta, bahkan sepuluh juta bisa untuk membayar gajinya selama tiga bulan.
"Gak usah sok mikir, Fir, gue tahu elo tertarik sama penawaran gue." Sean berujar jumawa, mengangkat kakinya ke atas meja.
Sial! Sudah berapa kali Safira direndahkan oleh lelaki itu? Tidak, ia tidak boleh kalah. Berdeham keras, Safira mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Biar pun gue mata duitan, gue tetap gak mau berhenti kerja!"
"Yakin?" Kedua alis Sean terangkat tinggi, ia juga menambahkan sebuah seringai saat mengatakan itu. "Gue tambah sepuluh juta, resign dari kerjaan lo!"
Semakin membelalak, Safira merasakan jantungnya terjun bebas ke dasar perut. "Se—puluh juta?" tanyanya tergagap. Kalau seperti itu selama sebulan saja ia sudah meraup penghasilan sebanyak dua puluh juta. "Lo yakin?"
Sean mengangguk samar, wajahnya tetap terlihat angkuh dan sombong membuat Safira semakin benci dengan lelaki itu. Tapi ... tidak! Ia tidak akan membiarkan Sean menginjak harga dirinya lagi. Ck, baru kali ini ia menolak rejeki.
"Gak! Mau lo tambah berapa pun gue tetap gak mau berhenti kerja!"
"Kenapa?"
"Gak mau aja, gue gak suka diem di rumah seharian!" Tangannya terlipat di depan d**a.
"Lo bisa belanja."
"Tetap gue gak mau!"
Sean mendengkus, menurunkan kakinya dari atas meja lalu memajukan tubuhnya ke arah Safira. "Ada apa sih sama kafe temen lo itu? Kayaknya berat banget lo keluar dari sana!" Ia mulai terpancing dan wajahnya kini tidak sesantai tadi.
"Inget ya, Se." Kali ini Safira yang bertingkah sombong. "Pernikahan kita cuma bertahan selama satu tahun, dan nyari kerja itu susah, gue gak mau pas cerai dari lo gue jadi janda pengangguran!" rancaunya aneh.
Sean menggeleng kesal, berdiri dari sofa dengan tatapan turun menuju Safira. "Kayaknya cuma lo yang setuju kalo pernikahan kita bakal bertahan selama satu tahun, gue gak pernah menyetujui itu," sentaknya sambil berlalu meninggalkan Safira yang terbengong-bengong di tempatnya.
"Apa ... maksudnya?"
***
Setelah mendengar kalimat membingungkan dari Sean, semalaman Safira tidak bisa tertidur. Bukan hanya karena kalimat terakhir yang Sean katakan, tetapi juga dengan sikap lelaki itu.
Tadi pagi, Sean meminta haknya yang belum juga Safira berikan sampai hari ini, ia juga mengatakan kalau Safira menolaknya lagi, uang bulanan yang tertera di dalam surat perjanjian akan terhapus.
Sontak Safira tidak setuju. Ia menolak itu dan kembali beralasan kalau dirinya sedang datang bulan. Tapi, alasan itu tidak mungkin ia gunakan setiap hari? Safira tidak bisa selalu beralasan datang bulan setiap Sean meminta, maka itu ia harus segera memikirkan cara lain.
"Fir..."
Safira tersentak, menoleh dari mesin kasir saat namanya dipanggil. "Oh ... kenapa, Al?" ujarnya begitu melihat lelaki jangkung yang berdiri di pintu masuk counter dengan kemeja yang sebagian lengannya sudah terlipat.
Ada yang tidak Safira katakan pada Sean. Aldo, pemilik Kafe ini adalah mantan kekasihnya, bukan sekedar teman seperti yang Safira ceritakan.
Aldo dan Safira berpisah karena orang tua Aldo tidak merestui hubungan mereka. Perbedaan kasta membuat Safira menyadari kalau dirinya dan Aldo memang tidak bisa bersatu.
"Kamu ngelamun?"
"Ya?" Mata Safira mengerjap gugup.
Astaga, ia baru saja ketahuan melamun oleh Bosnya sendiri. Ini pasti karena Safira terus memikirkan Sean yang terus menerus meminta haknya.
"Kamu sakit?" Aldo melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Safira.
Perempuan itu menggeleng lemah. Berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya pada Aldo kalau ia sedang memikirkan sang suami yang sejak kemarin meminta seks padanya. Ia juga tidak mungkin mengatakan pada Aldo kalau seminggu yang lalu ia telah menikah dengan lelaki kaya pemilik bangunan mewah di sekitar kafenya ini.
"Aku baik-baik aja, kok. Cuma kurang tidur," jawabnya dengan cengiran.
"Memang cuti seminggu kemana?" Aldo berujar seraya menyentuh kening Safira, membuat jantung perempuan itu berdebar cepat. Pasti wajahnya sudah memerah saat ini. "Gak panas kok."
Safira mundur selangkah ke belakang, berusaha melepas telapak tangan Aldo yang berada di keningnya. "Em ... aku gak sakit, Al." Lalu berpaling saat mata mereka bertemu.
Aldo paham tentang sikap Safira yang menghindarinya, mereka memang sudah putus, tapi Aldo tahu perasaan mereka masih sama.
"Aku cuma gak mau kamu sakit, Fir."
"Gak perlu cemas, aku bisa jaga diri aku sendiri," ujarnya berusaha mengelak.
Melihat sikap dingin Safira membuat Aldo berusaha untuk mendekat lagi. Safira menghindar, dan beruntung tiba-tiba saja Desi masuk ke dalam counter. Membuat Aldo kembali menjauh.
"Bos, biji kopi yang baru belom dateng, ya?" Desi berujar, membuat Safira menghela napas lega. Gadis itu menatap mereka berdua tanpa rasa bingung atau canggung.
"Di gudang udah abis memangnya?" tanya Aldo yang perlahan melangkah menjauhi Safira.
"Udah, bos, kalo belom ngapain saya nanya," balas Desi, sedikit sengit.
Aldo menghela napasnya pelan. "Ya udah, saya telepon suppliernya dulu." Ia melirik Safira sebentar, sebelum kemudian berlalu dari dalam counter meninggalkan dua perempuan itu.
Desi mendekat dengan cepat. "Lo gak apa-apa, Fir?" tanyanya pada Safira dengan wajah cemas.
Safira tersenyum. "Gak apa-apa kok, untung lo cepet dateng."
"Duh, si Bos belom move on apa ya?" celetuk Desi konyol. "Emang lo gak bilang kalo lo udah nikah, Fir?"
Kepala Safira menggeleng lemah. Ia takut mengatakan itu pada Aldo. Takut kalau lelaki itu akan marah. Tapi, kenapa harus marah, mereka kan sudah berpisah.
"Makanya buruan bilang, gue juga kepo sama suami lo. Ganteng gak sih?"
Safira mendengkus. Sampai saat ini ia belum memberitahukan perihal pernikahannya pada siapa pun, kecuali Desi. Itu pun tanpa menjelaskan siapa Sean dan apa pekerjaan sang suami.
"Kapan-kapan deh." Safira membuang napasnya pelan, tak lama kemudian, pintu kafe terbuka dan mereka berdua siap menyambut pelanggan tersebut dengan senyuman.
"Selamat pagi, selamat dat—" kalimat Safira langsung tertelan kembali di tenggorokannya. Mata gadis itu juga tiba-tiba saja terbuka lebar.
"Espresso satu," ujar pelanggan tersebut.
Safira masih bergeming di depan mesin kasir, tertegun dengan sorot mata terkejut menatap orang yang ada di depannya.
"Espresso-nya satu, Mbak," ulang pelanggan itu lagi.
Desi datang dan langsung menyenggol lengan Safira, membuat perempuan itu terhenyak dan berubah gelagap dengan wajah aneh. "Eh, iya ... pesen apa, Pak?"
"Mbak kalo kerja jangan ngelamun."
Safira bisa melihat sebuah seringai di wajah orang itu. Refleks bibirnya terlipat gemas. Ya Tuhan, kenapa makhluk ini tiba-tiba ada di depannya?
"Maaf, Pak." Safira berujar pelan.
"Kalo capek mending gak usah kerja, Mbak, ngurus suami aja di rumah."
Safira mengerjap, mendelik dengan tatapan kesal. Kalau tidak ada Desi di sebelahnya, Safira mungkin sudah melemparkan umpatan pada orang tersebut.
"Maaf, Pak." Desi menyela. "Tadi pesan espresso ya, saya langsung buatkan ya. Bapak bisa lakukan pembayaran dengan teman saya."
Setelah Desi pergi dari sana. Safira langsung mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Ngapain sih lo ke sini?"
"Mau lihat istri gue kerja," balas orang tersebut dengan tampang nyeleneh.
"Sean! Lo tuh gak punya kerjaan ya?"
Lelaki itu terkekeh, melipat tangannya di depan d**a. Dipandanginya Safira penuh tatapan meledek. "Ini gue lagi kerja." Safira nengernyit dengan dengkusan jengkel. "Elo salah satu properti gue, Fir, berkunjung memastikan kalo properti gue baik-baik aja juga termasuk bekerja."
Astaga! Safira benar-benar ingin mengumpat saat ini. "Elo sinting ya, Sean! Gue bukan properti lo!" Safira menggeram. "Mending lo pergi, gue mau kerja!"
Sean mengedik santai dengan senyum jenaka. "Kan gue udah bilang, gak usah kerja. Ngapain sih lo capek-capek berdiri di sini, mending di rumah. Cuma buka kaki udah dapet sepuluh juta dari gue."
Berengsek! Sean k*****t! Wajah Safira memerah merasakan panas sampai ke telinga dengan mata menatap sekeliling, takut-takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Lo apaan sih?" desisnya kesal. "Kalo ada yang denger kan bahaya!"
Tidak merasa perduli, Sean malah semakin menantang Safira. "Lo gak berniat ngenalin gue sama temen lo?"
Safira kontan menoleh ke arah Desi lalu kembali manatap wajah Sean. "Please ... jangan aneh-aneh, mending abis ini lo pergi."
"Kalo perginya sama lo gue baru mau."
Shit! Safira bisa gila kalau seperti ini. "Gak bisa, Se ... jam pulang gue masih lama."
"Ya udah, gue tunggu."
Safira meggeram. "Sean! Lo tuh—"
"Espresso satu, silahkan, Pak." Tiba-tiba Desi datang dengan satu cup kopi espresso pesanan Sean.
Lelaki itu menerimanya dengan senyuman manis. Memang manis, tapi Safira tidak akan mengakui itu.
"Terima kasih."
Setelah menerima kopi itu, Sean tidak langsung pergi dari sana. Ia memilih untuk duduk di sudut cafe dengan mata memandang lurus ke arah Safira.
Kalau seperti ini, Safira tidak akan bisa fokus bekerja. Tidak ada pilihan lain, ia memang harus mengikuti kemaun lelaki itu sekarang.