Bab 52

1321 Kata

Aku mengacak rambut frustasi. Tidak ada yang faham akan perasaanku. Semua orang menganggapku bodoh karena mereka belum faham bagaimana rasanya berada di posisiku. Rasa bersalah yang besar begitu menghantui setiap hari. Tidak, tapi setiap waktu. Tapi yang aku lukai malah bersikap cuek, padahal dialah satu-satunya yang ada dalam hatiku. Dengan langkah yang terseok-seok, aku berjalan ke kamar Sinta dan mengeluarkan semua pakaian yang ditinggalkannya dan kutumpuk memenuhi tempat tidur. Ketika lemari sudah kosong, aku menjatuhkan diri di atas tumpukan baju itu. Kutatap langit-langit kamar ini. Kamar yang penuh dengan berjuta kenangan indah. Sungguh aku tidak mengerti bagaimana cara berfikir orang-orang. Bukankah hal baik jika mantan suami ingin kembali kepada istrinya? Tidak ada yang menentan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN