Aku mengerjapkan mata. Kepalaku terasa sangat berat bagai beban puluhan kilo menimpanya. Rasanya sangat menyakitkan. Jadi aku mengurungkan niat untuk membuka mata. Biarlah mata ini terpejam sebentar lagi. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya seorang wanita yang suaranya mirip dengan seseorang. Tunggu...benar, aku mengenali suara itu. Sinta. Itu suara bidadari yang selama ini aku rindukan. Dia istriku. "Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Tunggu sampai pasien sadar, baru anggota keluarga diijinkan untuk menjenguk. Tapi bergantian," jelas seseorang yang Sinta sebut dokter dengan hati-hati. Walau aku belum membuka mataku, tapi percakapan di luar sana terdengar sangat jelas. "Alhamdulillah." Terdengar suara banyak orang mengucap syukur dengan serempak. Tunggu....dimana aku?? Dengan

