Fahmi masih tenggelam dalam kepercayaan dirinya yang sangat dalam bahwa Sinta, istri yang telah dia talak masih menyimpan perasaan padanya. Rasa percaya dirinya semakin hari kian meningkat bersama penyesalannya. Dia terus merutuki dirinya yang telah menceraikan Sinta hanya karena kebenaran yang tertutupi. Kini dia terdiam mematung di depan kitab-kitab yang berantakan. "Dulu Sinta sering menemaniku membereskan kitab ini," ucapnya frustasinya. "Sekarang Sinta sudah kau lepas. Tinggal Janah yang harus kau hidupkan cahaya surganya," sahut ustadz Rahman yang tiba-tiba telah berada di sampingnya. "Janah bukan wanita yang baik. Kenapa dulu aku tidak sadar," sesal Fahmi. "Sebenarnya dia wanita yang baik. Tidak ada cara lain, ubahlah dia menjadi baik kembali," ustadz Rahman menyarankan yang m

