Abah, Umi, dan aku sungguh kaget, ketika melihat dengan mata kepala sendiri. Seorang ustadz Rahman mampu menampar seorang wanita! Padahal biasanya beliau dikenal dengan yang paling lembut dan sabar dalam menyembunyikan emosionalnya. "Atas hak apa kau menamparku, hah?" Janah berteriak kencang dan matanya menatap ustadz Rahman dengan sangat tajam. "Dasar ustadz palsu! Semua keluargamu palsu! Kebaikanmu,istri, dan juga anakmu adalah palsu!" teriak Janah histeris. Namun, ustadz Rahman sepertinya tidak peduli hal itu. Beliau kembali melayangkan tamparan kedua. "Jangan pernah kau tanyanya siapa aku! Karena orang sepertimu tidak berhak atas itu! Siapa dirimu, sampai berani menghakimi kami?" tanya ustadz Rahman pelan tapi mampu membuatku semakin diam. Berbeda dengan kami yang sedikit terkejut

