Di jodohkan

1414 Kata
AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN Part 12 "Nduk, apa kamu sudah bangun," terdengar ibu memanggil ku di depan pintu kamarku. "Iya Bu," aku menjawab sambil mengucek mataku. Akhirnya aku keluar kamar dan menemui ibu, karena tadi malam aku susah tidur akhirnya aku bangun kesiangan. "Kok belum bangun, apa kamu sakit?" terdengar ibu bicara padaku dengan penuh ke khawatiran. "Tidak kok bu, tadi malam Dinda susah tidur jadi kesiangan bangun nya," jelasku. "Yasudah ayo sarapan ibu sudah masak cumi balado," katanya. Sudah lama aku tidak makan cumi balado, ya meskipun sedikit malu karena aku tidak membantu ibu masak tapi ibu tidak mempermasalahkan hal itu. "Maaf ya Bu, tadi Dinda tidak bantu masak," ujarku dengan penuh rasa penyesalan. "Tidak apa-apa nduk, oh iya kamu jangan terlalu memikirkan kepergian Joko, ibu yakin dia sebentar lagi akan pulang," kata ibu menasihatiku, mungkin ibu sering melihatku murung sendirian. "Iya Bu," jawabku singkat sambil menganggukan kepala. Setelah makan aku langsung mengambil alih beres-beres sendiri dan menyuruh ibu untuk istirahat di ruang tengah. Aku sengaja cepat-cepat mengerjakan nya karena ada yang ingin aku tanyakan pada ibu. "Ibu, sedang apa?" Tanyaku pada ibu basa-basi dan aku langsung ikut duduk di samping ibu. "Ini ibu lagi lihat foto-foto Joko waktu kecil," jawab ibu sambil membuka-buka album foto. "Oh iya Bu maaf sebelumnya, Dinda mau tanya tentang mas Joko." "Kenapa nduk?" Jawab ibu sambil menutup album foto yang ia pegang. "Apa mas Joko orang nya ringan tangan Bu?" Sebenarnya aku tak mau bertanya masalah itu, tapi entah kenapa saat aku teringat dimana hari pertama aku tinggal dirumah ini, Mas Joko menamparku dan apakah itu sifat asli Mas Joko. Ya meskipun saat ulang tahun Mas Joko dia sudah dengan tulus meminta maaf atas kejadian itu. "Joko sebenarnya orang baik nduk, tapi dia pantang sekali jika keinginannya di tolak, jika itu terjadi dia bisa melakukan apapun," jelas ibu padaku. "Oh gitu ya Bu." "Kenapa nduk, apa Joko pernah main kasar padamu?" Ibu kembali bertanya padaku dengan rasa penasaran. "Tidak kok Bu, Dinda cuman tanya saja." Aku tak mau memberi tahu kejadian waktu itu, dan terpaksa aku berbohong pada ibu. Aku dan ibu menghabiskan waktu seharian hanya di rumah saja dan selalu menunggu kepulangan Mas Joko. *** Sudah seminggu lebih namun kepulangan Mas Joko belum terlihat, Mas Joko juga jarang memberi kabar entah kesibukan apa yang dilakukan di sana. Tapi aku berusaha membiasakan diri untuk tidak terlalu memikirkannya, kalaupun dia menikah lagi di sana aku sudah siap dengan kenyataan itu. [Jaga kesehatanmu dan ibuku] Pesan singkat kali ini datang lagi dari Mas Joko. Hanya menanyakan jaga kesehatan saja, apa dia tidak perduli dengan perasaanku yang harus juga dia jaga. [Ibu sudah rindu padamu] [Apa kau tidak rindu padaku?] balas Mas Joko. [Tidak] balasku singkat karena aku tak akan bilang rindu pada laki-laki tua itu. [Benarkah?] [Ya, apa disana kau memiliki istri?] aku bertanya pada Mas Joko karena aku menginginkan jawaban darinya, dan berharap dugaan ibuku tentang Mas Joko yang memiliki istri baru adalah salah. (Haha, Dinda-dinda aku disini untuk membalas dendam padamu) Jawab Mas Joko. Kenapa Mas Joko berkata seperti itu, apa yang akan dia balaskan padaku? Apa dia sudah mulai kecewa pada sikapku selama ini dan apa mungkin kata ibu benar bahwa disana Mas Joko memiliki seorang istri. "Apa perlu dibalas? Sejahat itu kah dia padaku?" Gumamku. Jika saja dia sekarang ada di hadapanku mungkin aku sudah meremas kepalanya. "Aaaakkkk" sampai tak sadar aku berteriak di dalam kamar. Aku langsung buru-buru diam sepertinya ibu tidak mendengar teriakanku tadi. *** "Dinda kamu kok ngelamun terus sih? Ibu saranin kamu main saja ke rumah ibumu," kata ibu. "Hah? Kenapa memangnya Bu?" Tanyaku. "Bukannya apa-apa, tapi biar kamu lebih tenang kamu pulang saja ketemu ibu, ayah, dan adikmu," jelas ibu. Mungkin benar juga saran dari ibu aku akan main ke rumah ibuku agar tidak kepikiran terus tentang lelaki tua itu Jadi aku berniat akan main kerumah ibu, rasanya memang sudah lama aku tidak bertemu dengan Salsa dan sekalian aku akan membawakan donat kesukaannya. Aku pun langsung bersiap dan pergi ke rumah ibu, tak lupa membeli donat dulu sebelum ke sana. "Assalamualaikum," ucapku sambil melangkahkan kaki kerumah ibu. "Waalaikumsallam, eh kak Dinda," jawab Salsa. "Ini Sa, donat untuk mu," kataku sambil menyodorkan plastik berisi donat. Kini aku pergi ke belakang rumah, ayah dan ibu pasti ada disana mengurus tanaman ubi miliknya. "Ibu kak Dinda bawa donat," ujar Salsa. "Eh Dinda, bagaimana si Joko udah pulang belum?" Ujar ibu yang langsung menanyakan kepergian mas Joko yang tiba-tiba ini. "Belum Bu," jawabku. Ibu terdiam mendengar jawabanku, biasanya ibu ngomel-ngomel dan sekarang sama sekali tidak begitu. "Kamu tau pak Sastro?" Tanya ibu padaku sedikit berbisik. Kenapa ibu tiba-tiba menanyakan pak Sastro, dia sudah menduda dua kali dan memiliki 4 anak, 2 cucu kemungkinan umurnya sekarang 55 tahun, pak Sastro juga seorang pengusaha tahu di desa sebelah. "Tau Bu, memang kenapa?" Ujarku dengan mengerutkan kening. "Kalau si Joko benar-benar menikah lagi dan tidak menafkahimu, kamu bisa menikah dengan pak Sastro yang tak kalah kaya dengan si Joko itu," kata ibu sambil mengarahkan pandangannya fokus padaku. "Apa ibu akan terus menjual Dinda?" Jawabku kesal. "Eh tidak-tidak bukan begitu maksud ibu, lalu jika Joko menikah lagi apa siap menjadi istri tua?" Jelasnya lagi padaku. Aku hanya diam dan tak mau menjawab pertanyaan aneh dari ibu, padahal niatku hanya ingin main kerumah ibu namun selalu saja ibu membuatku badmood. "Eh Dinda, nih ayah ambilkan ubi dari kebun nanti bawa ya, kasih ibu mertuamu," ujar ayah sambil memasukan ubi kayu kedalam plastik besar. "Iya yah, nanti biar Dinda goreng soalnya ibu mertua Dinda suka sekali ubi goreng," jawabku senang. "Kok banyak nian sih yah, itu separuh aja sisanya kan bisa di jual," ujar ibu pada ayah. Ibuku selain mata duitan juga sangat pelit, dengan besannya saja pelit padahal tempo hari ibu mertuaku memberikan beras satu karung dengan ikhlas pada ibu, sama halnya dengan air s**u di balas air tuba jika begini. "Din, bagaimana dengan tawaran ibu tadi?" Lagi- lagi ibu membahas masalah itu. "Yah, masa ibu menyuruh Dinda untuk menikah dengan Pak Sastro," aku mengadu pada ayah. "Bu! Jangan bahas masalah itu lagi, ibu harus ingat kalau Dinda masih memiliki suami!" Jelas ayah. "Kan untuk jaga-jaga saja," ibu tetap tak mau kalah. "Diam Bu! Jangan buat Dinda semakin stres, lagian ayah yakin joko pergi cuman untuk urusan masalah pekerjaan," jelas Ayah. Ayah bicara sedikit membentak hingga membuat ibu langsung terdiam, tapi memang lebih bagus seperti itu daripada ngomel-ngomel tidak jelas. Ada-ada saja aku mau didik akan dengan aki aki usia 55 tahun dengan empat anak dan dua cucu. *** Malam ini aku dan ibu mertua sedang asik menonton televisi, namun tiba-tiba Mas Joko menelfonku. "Hallo assalamualaikum," terdengar ucap salam dari mas Joko. "Waalaikumsallam," jawabku. "Siapa Din?" Tanya ibu padaku. "Mas Joko Bu," jawabku dengan sedikit berbisik. "Ibu mana Din? Mas mau ngmong sama ibu," kata mas Joko, akupun langsung memberikan telepon pada ibu mertuaku. Aku hanya mendengarkan percakapan antara ibu dan anak ini, ibu selalu mengutarakan bahwa ia sudah sangat rindu pada Mas Joko, dan menyuruhnya agar cepat pulang. "Cepat pulang Joko, Dinda sudah menunggumu kasihan dia," kata ibu. Oh tidak! Kenapa ibu harus bicara seperti itu aku kan jadi malu. "Benarkah Bu? Tapi Dinda tidak pernah bilang kalau dia menungguku pulang," Kata Mas Joko. "Kamu ini kalau ibu bilang suka melawan! Ini sudah lebih dari seminggu kapan kamu pulang?" Kata ibu. "Sebentar lagi Bu, ada urusan penting yang belum selesai," ujarnya. "Sepenting apa urusanmu? Apa ada yang lebih penting dari istri dan ibumu?" Kata ibu kesal. "Bukan begitu Bu, kalian adalah wanita paling penting dalam hidup Joko," katanya merayu. Heh! Laki-laki itu memang pandai merayu wanita, aku sih sudah tidak bisa lagi di kelabui oleh rayuannya yaitu. "Yasudah, ini sudah larut malam lebih baik kamu tidur," kata ibu. "Iya Bu," kata Mas Joko. Ibu langsung memberikan ponselnya kepadaku lagi, ternyata panggilan teleponnya belum dimatikan. "Dinda," ucap Mas Joko. "Hem!" Jawabku. "Aduh! Istriku ini masih saja cuek," kata Mas Joko. "Yasudah kamu tidur juga ya, mimpi indah Dinda!" Ucapnya. Dan lahirnya saluran telepon terputus, aku yang mendengar kata terkahir dari nya langsung berbunga-bunga. "Yeeee!" Aku kegirangan sampai-sampai melompat di atas tempat tidur. Bisa-bisanya lelaki itu mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah. "Eh, apa dia pura-pura perhatian agar dia mengecohkanku dari istri barunya itu!" Gumamku. Aku yang tadi lompat-lompat langsung menjatuhkan bobot tubuhku ke atas tempat tidur. "Dinda! Ini hanya tipuan lelaki tua itu!" Gumamku lagi. Dengan kesal aku berusaha menutup mataku, semua perasaan bercampur aduk hingga akhirnya aku ketiduran. Jangan lupa like dan komen ❤️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN