AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN
Part 13
Rutinitas setiap pagi selalu kami lakukan bersama, aku dan ibu kali ini akan masak rendang ayam dan acar.
"Bu, Dinda sudah selesai buat acar nya," Kataku sambil mengaduk-aduk acar dalam mangkok.
"Iya, rendangnya juga sudah matang ini Din, ayo siapkan di meja makan," jawab ibu sambil memasukan rendang pada piring besar.
Aku dan ibu melakukannya dengan sangat serius hingga tidak memikirkan apapun.
"Din, perasaan ibu sangat bahagia hari ini," kata ibu.
"Bahagia kenapa Bu?" Tanyaku.
"Tidak tahu Din, semoga saja ada kabar bahagia hari ini," ucap ibu.
"Aamiin," kataku.
Setelah makanan di hidangkan akhirnya kami berdua sarapan, ibu bercerita teringat pada Mas Joko khawatir pagi ini dia sudah makan atau belum.
"Joko sudah sarapan belum ya?" Gumam ibu.
"Sudah Bu, kan Mas Joko bilang kalau di sana banyak yang jualan makanan kok," kataku menenangkan.
Ibu makan dengan sangat gusar mungkin dia merasa ada yang kurang saat tidak sarapan dengan anaknya.
"Assalamualaikum." Terdengar ucapan salam dari luar, tapi seperti itu suara mas Joko.
"Siapa ya Bu?" kataku pura-pura tidak tahu.
Padahal aku sudah hafal sekali dengan suara itu, ibu langsung bergegas membuka pintu.
"Kamu lanjutkan saja sarapannya, biar ibu yang buka pintu." Ujar ibu sambil bergegas pergi membuka pintu, sedangkan aku masih melanjutkan sarapan.
"Masyaallah, kamu bener Joko anak ibu kan nak?" mendengar ucapan ibu itu aku langsung bergegas melihat apa yang telah terjadi pada Mas Joko.
Kenapa ibu menyebut nama Mas Joko dengan begitu sangat bahagia, apakah ada yang aneh dengannya?.
"Apa benar yang aku lihat itu mas Joko?" lirih ku sambil mengucek mata.
Tapi aku merasa sedang melihat Vino G Bastian, aku sangat takjub melihat perubahan Mas Joko, baru satu Minggu lebih aku di tinggal pergi dan sekarang keriput dan mata panda mas Joko sudah sedikit memudar, kini kulit wajahnya kencang dan bersih bahkan semakin glowup.
"Benar dong Bu, lalu siapa lagi?" kata mas Joko sambil tertawa kecil.
Ibu memegang wajah Mas Joko dengan kedua telapak tangannya, sepertinya ibu masih terganggu melihat perubahan itu
Ibu langsung mengajak Mas Joko ikut sarapan sambil mengobrol dari mana sebenarnya dia pergi hingga bisa berubah seperti itu.
"Kamu kemana saja pergi selama ini?" tanya ibu pada Mas Joko.
"Aku hanya liburan saja Bu," Jawab nya dengan santai sambil menyuapkan nasi dan rendang ayam itu.
"Kenapa kamu tidak ajak Dinda?" kata ibu.
"Bukan saat yang tepat Bu untuk mengajak Dinda." Jawab mas Joko.
"Kamu ini, tidak boleh kamu meninggalkan istri seperti itu! Awas kalau kamu mengulangi lagi! Dinda sampai nangis nangis ditinggalin kamu!" Kata ibu.
Aku menundukkan kepala berusaha memperlihatkan aku cuek, sebenarnya aku malu karena ibu malah membongkar rahasia itu.
Aku melirik pada Mas Joko yang sepertinya tersenyum mendengar penjelasan ibu tadi sepertinya aku harus klarifikasi.
"Dinda kan tidak nangis Bu," kataku.
Untung saja ibu hanya diam dan tidak memperpanjang masalah memalukan ini.
'Ih ngapain sih lihat-lihat terus,' gumamku dalam hati.
Sepertinya dari tadi Mas Joko memperhatikanku dan mencuri curi pandang padaku.
***
Setelah selesai melakukan pekerjaan rumah aku langsung mandi membersihkan diri agar terasa segar.
Setelah pakai baju aku duduk di meja rias sambil memandangi wajahku, biasanya aku memakai bedak Viva bubuk seharga seribu rupiah dan lipstik Arab hare cukup itu saja sudah pas jika harus bersanding dengan Mas Joko.
Tapi sepertinya sekarang aku harus memakai bedak Wardah dan lipcream Y.O.U karena akan bersanding dengan Mas Joko versi Vino G Bastian.
Hi hi.. ternyata Mas Joko bukan tua hanya saja dulu tidak merawat diri, aku jadi senyum-senyum sendiri seperti orang gi*la.
"Hay cantik!" tiba-tiba mas Joko masuk kamar dan menggodaku, tapi aku tak bergeming dan melanjutkan menyisir rambutku.
Aku harus pura-pura cuek agar tidak di kira kalau aku rindu padanya.
"Hey apa kau tidak mengenali ku lagi?" lagi-lagi mas Joko menggangguku.
"Kenapa kamu harus pulang, bagaimana nasib istrimu disana?" kataku pada Mas Joko.
Ah payah! Mengapa aku harus mengatakan hal itu dan mengingatkan akan istri barunya.
"Oh iya ya, harusnya memang aku disana bersama anak dan istriku." Jawab Mas Joko.
Mendengar itu aku jadi kesal dan menghentikan aktivitasku, kini mataku menyoroti mas Joko.
"Untuk apa kau menikahiku jika kau sudah memiliki istri dan anak?" tak sadar aku berteriak dan memukul d**a Mas Joko yang bidang itu.
"Aku hanya bercanda." Kata mas Joko sambil menarikku hingga aku sekarang berada di pelukan Mas Joko.
Cukup lama Mas Joko memelukku dan kami sama sekali tidak bicara sepetah katapun.
Aku ingin melepaskannya karena malu tapi kapan lagi aku mendapatkan kesempatan seperti ini. Hihihi
"Dinda kenapa kamu teriak-teriak?" terdengar suara ibu dari luar, sontak aku melepaskan pelukan Mas Joko.
"Tidak apa-apa Bu, tadi Dinda hanya kaget saja." Kataku sambil membuka pintu kamar dan menemui ibu.
"Ibu kira Joko melakukan yang macam-macam padamu." Ujar ibu sambil memandang Mas Joko yang ada di belakangku.
"Kenapa ibu berfikiran begitu pada Joko? percayalah Joko ini orang baik dan tampan." Jawab mas Joko menggoda ibu.
"Mentang-mentang sudah tampan sekarang jadi sombong ya." Kini ibu kembali yang menggoda Mas Joko.
Sontak kami semua tertawa mendengar percakapan antara ibu dan anak ini.
Akhirnya kami bertiga berkumpul di depan televisi sambil menikmati cemilan yang Mas Joko beli saat pulang kerumah.
"Kamu dari mana nak? seminggu ini kok tidak pulang?" tanya ibu pada Mas Joko yang sedang asik menonton film.
"Seminggu lebih Bu, hampir dua Minggu," sahutku.
"Joko ke salon dong Bu perawatan, bukankah ibu melihat perubahan Joko?" jelas Mas Joko.
Hah? Ternyata Mas joko perawatan karena sering aku ejek ribut, bisa-bisanya dia melakukan ini.
"Iya kamu berubah Nak, ini tidak seperti Joko yang ibu kenal." Kata ibu sambil sedikit tertawa.
"Tentu saja Bu, Joko mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk perawatan wajah Joko ini." Kata mas Joko yang kini lebih fokus pada pertanyaan ibu.
Mendengar mas Joko menghabiskan uang puluhan juta, ibu sedikit shock dan menanyakan apa saja yang di lakukan disana dan perawatan apa saja sehingga Mas Joko harus mengeluarkan uang yang begitu banyak.
Akupun sedikit fokus pada percakapan mereka, kenapa mas Joko merelakan mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk perawatan wajah, apa karena selama ini aku selalu mengejek nya dengan sebutan laki-laki tua dan kriput.
"Sebenarnya ini belum sepenuhnya Bu soalnya masih merah meradang kan? Namanya perawatan yang harus rutin dan membutuhkan proses, tapi karena Joko memilih yang berkualitas dalam waktu hampir dua minggu sudah terlihat hasilnya," jelasnya.
Mas joko juga menunjukkan beberapa macam skincare dan body care yang dia bawa dari salon kecantikan.
Macamnya sangat banyak sekali aku saja sampai bingung, ternyata benar-benar lihat untuk merawat tubuhnya.
***
Malam ini saat akan tidur Mas Joko sibuk duduk di depan meja rias sambil memoles wajahnya dengan skinker.
Tubuhnya juga di balur dengan entah apalah tapi wanginya sangat lembut sampai ke hidungku.
"Dudududu," terdengar lagu kecil yang Ia nyanyikan.
Aku masih sibuk dengan ponselku dan sesekali melirik padanya.
Bahkan aku saja yang perempuan tidak perawatan sampai seperti itu ribetnya.
"Mentel banget sih," gumamku pelan.
"Apa? Aku tampan," ujarnya dengan nada tinggi.
"Kepedean," balasku namun masih fokus dengan ponsel.
Mas Joko terlihat sangat menikmati perawatan itu, bahkan biasanya setiap malam dia selalu menggangguku tapi kali ini tidak.
Kan bikin kesal dia malah nyanyi-nyanyi sendiri sambil skin carean, menyusun nya di meja rias bahkan lebih banyak dari milikku.
Bahkan sekarang masih rias udah dikuasai oleh nya, aku ini memang sudah benar-benar seperti menumpang saja
Setelah selesai dia langsung beranjak ke tempat tidur dengan sangat berhati-hati.
"Jangan sentuh aku ya! Biar meresap dulu," katanya.
Bisa-bisanya dia menyuruhku untuk tidak menyentuhnya, lagian selama ini bukannya dia yang selalu berusaha untuk menyentuhku.
Hih! Lama-lama Mas Joko memang keterlaluan, sebenarnya aku ingin dianggap apa sih.
"Memangnya aku pernah menyentuhmu!" Kataku kesal.
"Kok marah?" Katanya.
"Sudahlah urus saja hidupmu!" Kataku kesal.
Aku menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku hingga kepala, aku membelakangi nya dan tidur dengan pulas.
Aduh Mas Joko udah ganteng aja nih gaess...mau liat visual nya bisa di lihat di beground di atas ya!!!