AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN
Part 2
"Bu mas Joko mana?" Ini pertama kalinya aku bertanya keberadaan Mas Joko, padahal sebelumnya aku tak pernah perduli dia dimana.
"Pagi-pagi sekali tadi dia sudah pergi entah kemana," jelas ibu.
"Mungkin sudah kerja ya Bu?" Tanyaku lagi.
"Joko tidak berpamitan untuk kerja, dia bilang ada urusan penting," begitu lah jelas ibu.
Sudahlah yang penting dia tidak hilang di telan bumi, saat aku dan ibu masih mengobrol di teras depan tiba-tiba Mas Joko datang dengan mengendarai motor matic berwarna merah dan langsung memarkirkan di halaman rumahnya.
"Motor siapa itu Joko?" tanya ibu sambil memperhatikan motor yang di bawa Mas Joko.
"Ini untuk orang yang tidak bisa pakai motor kuplingan Bu," jawab mas Joko sambil melirikku.
Apa mungkin motor itu mas Joko belikan untukku, mas Joko langsung turun dari motor dan menyodorkan kunci motor padaku.
"Ini pegang lah Din, biar tidak merepotkanku terus," ujar mas Joko sambil menyodorkan kunci motor padaku.
Aku merima kunci itu dari mas Joko, mungkin ini bisa sangat membantu jika sewaktu-waktu ibu menyuruhku membeli sesuatu.
"Yasudah Joko berangkat kerja dulu ya Bu," kata mas Joko sambil menghampiri ibu.
"Tapi kamu belum makan," kata ibu.
"Iya nanti siang saja," ujarnya.
Seperti biasa Mas Joko mencium tangan ibunya dan berlanjut padaku.
"Din, ibu pingin masak sayur jantung pisang," kata ibu.
"Yasudah biar Dina cari jantung pisangnya di pasar ya Bu," kataku.
"Iya, ibu juga mau siapkan bumbu nya," sambil beranjak pergi ke dapur.
Akhirnya ini pertama kalinya aku memakai motor baru berwarna merah ini untuk pergi kepasar.
Setelah semua bahan kudapatkan aku langsung pulang, ibu pasti sudah menunggu di rumah.
"Ini Bu santan dan jantung nya," kataku sambil memberikan plastik berisi bahan-bahan.
"Iya-iya Din."
Seperti biasa aku dan ibu mertuaku selalu masak bersama setiap harinya, sepertinya ibu mertuaku ini hobi masak.
"Wah sudah wangi Bu," kataku sambil menghirup aroma sayur jantung.
"Iya, ini sudah matang Din," kata ibu.
"Ibu memang jago masak," Pujiku pada ibu mertuaku, di umurnya yang sekarang ibu tampak masih segar bugar dan hanya sesekali saja pinggang nya terasa sakit.
"Oh iya Din, ini nanti kirim ke tempat kerja Joko ya, kasihan dia belum makan," kata ibu sambil menyodorkan 2 rantang yang ibu siapkan.
"Satu lagi untuk ibumu Din, bukannya rumahnya tak jauh darisini," jelas ibu.
"Oh iya Bu," ujarku.
Pertama-tama aku mengantar sayur pada mas Joko, karena dia pasti sudah lapar karena tadi tidak sarapan.
Untung saja aku tau dimana Mas Joko bekerja.
Saat aku datang di sekelilingku banyak sekali kayu gelondongan yang nantinya akan di potong menjadi papan oleh anak buah Mas Joko, dan baru akan menjualnya dalam bentuk papan.
"Mas ini sayur dari ibu," kataku sambil menghampiri mas Joko yang sedang melihat kinerja anak buahnya.
"Oh iya, apa kamu sudah makan?" Tanyanya.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Yasudah temani aku makan dulu," katanya.
Sebenarnya aku ingin menolak nya, tapi mengingat Mas Joko sudah banyak berbuat baik padaku jadi tak mungkin aku menolak.
"Pak istirahat dulu saja pak," ujar mas Joko memerintahkan anak buahnya untuk istirahat dulu karena hari sudah mulai siang.
"Aku mau ketempat ibu," kataku pada mas Joko.
"Apa kau mau kabur lagi?" kata mas Joko sambil menikmati makan siang.
"Tidak, aku hanya mengantar sayur," kataku.
Mendengar itu mas Joko langsung mengizinkanku untuk pergi kerumah ibu.
Jika dari sini hanya perlu waktu 20 menit untuk sampai ke rumah ibuku.
Sampai saat ini memang kami tidak pernah berbicara banyak, hanya hal-hal penting saja yang dipertanyakan.
***
"Assalamualaikum Bu," ucapanku.
"Dinda, kamu kabur lagi?" Tanya ibu tiba-tiba.
"Tidak Bu, Dinda mau ngantar sayur ini," kataku.
Bukannya menerima sayur di rantang, kini mata ibu fokus melihat motor baru yang ada di halaman rumahnya.
"Itu motor baru kamu Din?" kata ibu yang tengah melihat motorku.
Aku hanya mengangguk pada ibu.
"Tuhkan tidak sia-sia ibu menikahkan kamu dengan si Joko," kata ibu dengan bangga nya.
"Tetap saja ibu salah, sudah melakukan nya dengan paksa," gumamku pelan.
"Sudah tutup mulutmu, sebenarnya kamu bisa minta lebih pada Joko," kata ibu.
Aku sudah tidak aneh lagi dengan sifat ibu yang seperti itu.
"Sudahlah Bu, ini sayur nya simpan dulu Bu," kataku.
"Oh iya-iya."
Kini kami bersantai di kasur lantai baru ibu sambil menonton televisi bersama Salsa.
"Ya ampun Din, banyak banget perhiasan kamu, sini-sini ibu lihat," kata ibu sambil mengutak-atik perhiasan yang aku pakai.
"Apa sih Bu," kataku sambil melepaskan tangan ibu yang berusaha memegang cincin di tanganku.
"Sini-sini ibu minta," kata ibu.
"Jangan Bu, aku takut mas Joko nanti marah," kataku kesal.
"Joko tak mungkin marah," kata ibu lalu mengambil cincin polos dan cincin bermata biru yang kemarin baru saja dibeli.
"Ibu minta yang ini ya, tenaga saja kamu tidak usah takut," Ujar ibu padaku, sambil menenangkanku.
"Eh Dina kamu datang," ujar ayah yang langsung menghampiri ku.
"Iya yah, ayah dari mana?" Tanyaku.
"Habis manen ubi Din," katanya.
Ayah datang dan ikut mengumpul bersama kami.
"Lihat lah yah, sekarang Dina banyak banget perhiasan nya," Ujar ibu sumringah pada ayah sambil mencoba cincin yang tadi dia ambil, karena jariku dan ibu tidak jauh beda.
"Sekarang kamu sudah bahagia, untung saja kita menikahkan mu dengan Joko," ujar Ayah.
Andai saja ayah dan ibu tau, sebenarnya aku tidak terlalu bahagia dengan motor baru dan perhiasan yang banyak ini.
***
Katanya umur 40 tahun itu masa lagi ganteng-gantengnya seorang lelaki, eh apa iya sih??wkwkw
Jangan lupa like dan komen ❤️