AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN
Part 3
"Nduk masuk lah ke kamar, kok malah tidur di luar," kata ibu mertuaku membangunkanku yang sedang tertidur di depan televisi.
"Iya Bu, nanti saja," jawabku.
"Eh sekarang saja nduk, diluar dingin," paksa ibu mertuaku sambil memegang pundaku.
Akhirnya aku masuk ke dalam kamar dan terpaksa harus tidur dengan laki-laki tua ini.
Namun aku tidak langsung tidur, tidak tahu kenapa aku tertarik melihat Mas Joko yang sedang terlelap tidur.
Jika dilihat-lihat mas Joko tidak terlalu buruk, hidungnya yang mancung dan alis nya yang tebal terlihat tak membosankan, ya meskipun ada kerutan di dahi dan di bawah matanya, mungkin itu faktor usia atau juga karena dia terlalu kelelahan bekerja sepanjang hari.
Mukanya yang kusam dan terlihat di dekat hidungnya terdapat komedo, ah jadi semakin malas aku melihat Mas Joko.
"Jangan terus memandangiku, bisa-bisa nanti kamu akan jatuh cinta," ucap Mas Joko yang terlihat masih menutup matanya.
Oh tidak ternyata Mas Joko menyadari saat aku memperhatikan wajahnya dari tadi, namun aku tak menjawab dan langsung menutup mataku sambil berbalik arah membelakangi nya.
'Kenapa bisa ketahuan,' gumamku dalam hati.
Aku gemetar dan takut bahkan aku jadi merasa sangat gugup, padahal aku tidak sengaja melihatnya bukan sengaja memandanginya.
Saat suasana menjadi hening aku berbalik lagi untuk memastikan, justru lelaki itu memberikan senyuman genit.
'Oh tidak!!' aku langsung menutup seluruh tubuhku dengan selimut berharap dia tidak macam-macam.
...
Seperti biasa pagi-pagi sekali aku sudah masak ayam geprek dan sayur sop, kali ini ibu mertuaku tidak membantu karena penyakit sakit pinggang nya sedang kumat.
"Ibu ayo kita sarapan," Aku memanggil ibu di depan pintu kamarnya.
"Iya nduk" lirihnya.
Tanpa di suruh Mas Joko sudah bersiap saja di meja makan dan kemudian di susul dengan kedatangan ibu.
"Oh iya Din, nanti siang kamu masak kayak gini dengan porsi yang banyak ya terus bawa ke tempat aku kerja," kata mas Joko sambil menikmati sarapan pagi ini.
"Untuk apa?," Tanyaku heran, kenapa juga aku harus membawa banyak makanan ke tempat kerja nya.
"Biar semua karyawanku merasakan masakanmu," jelasnya.
Aku hanya terdiam dan melanjutkan menyuap nasi kemulutku.
"Iya nduk tidak apa-apa, biar nanti ibu bantu," ujar ibu.
Aku tersenyum mendengar ucapan ibu yang begitu baik padaku.
Sampai akhirnya mas Joko pergi untuk bekerja.
"Bu nanti Dinda mau langsung beli ayam dan sayuran nya ya Bu," kataku pada ibu.
"Iya nduk," jawabnya.
Akhirnya aku pergi kepasar dengan mengendarai motor merahku, saat aku memilih sayuran tiba-tiba aku bertemu Ayu teman sekolah ku dulu.
"Eh Dinda beli apa?" tiba-tiba ayu mengapaku yang sedang sibuk memilih sayuran.
"Eh Ayu, ini lagi cari sayuran," jawabku.
"Wah yang sudah jadi istri sekarang rajin ya," goda ayu padaku.
"Ah kamu ini bisa saja, besok juga kamu akan merasakan nya," jawabku pada ayu.
Akhirnya aku berpamitan pada ayu, untuk pergi duluan karena aku tidak bisa berlama-lama ngobrol dengan nya, ibu di rumah pasti sudah menunggu.
"Dinda pulang Bu!" Kataku sambil menghampiri ibu di dapur.
"Ayo kita mulai merajang sayur," ajak ibu.
Cukup lama aku dan ibu masak yang jumlahnya cukup banyak, namun tepat jam makan siang semua telah selesai, langsung saja aku memacu motorku agar segera sampai ke tempat Mas Joko kerja.
"Ini!" Aku menyodorkan banyak makanan di depan meja mas Joko.
"Ayo-ayo semuanya istirahat dulu kita makan siang," kata mas Joko pada semua karyawan nya.
"Iya pak sebentar lagi," jawab salah satu karyawan mas Joko yang terlihat sedang sibuk merapikan papan.
Akhirnya aku menyiapkan dulu semuanya bersama mas Joko dan menggelar tikar untuk lesehan di bawah pohon.
"Kemana cincin kamu?" tanya Mas Joko sambil menatap jariku.
Mungkin Mas Joko menyadari cincin yang kemarin di beli tidak aku pakai.
"Disimpan," Jawabku berbohong pada mas Joko, aku tak mau bilang kalau cincinnya di pinta oleh ibuku.
"Kalau tidak suka bilang, nanti kita beli yang baru yang kamu suka," katanya dengan santai.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan mas Joko dan sama sekali tak bergeming.
"Aku pulang saja, kasihan ibu dirumah sendirian," kataku pada mas Joko.
"Apa kamu tak mau melihat wajahku lagi?" ucap mas Joko menggodaku.
"Wajah apa?" Tanyaku kesal.
"Bukankah sekarang kamu selalu ingin memandangiku?" Ucapnya dengan nada genit.
Kenapa mas Joko malah menggodaku, aku tak menjawab dan langsung pergi menuju motor.
Aku memacu motor dengan tidak konsentrasi karena memikirkan ucapan lelaki tua itu.
Sesampainya dirumah aku langsung mencari ibu di kamarnya, aku takut ibu kesepian.
"Dinda pulang Bu, apa ibu sudah makan siang?" Tanyaku sambil menghampiri nya.
"Sudah barusan," jawab ibu sambil tersenyum.
"Oh iya baguslah Bu, kalau begitu ibu istirahat saja ya pasti capek," kataku.
"Iya nduk, kamu juga ya," katanya.
Akhirnya aku masuk ke kamar, niatnya sih mau tidur siang karena memang hari ini aku sangat capek.
***
Mas Joko itu tua Dimata Dinda ya, ya kalau di mata aku oke-oke aja sih???
Eh jangan lupa like dan komen ya❤️