Lingerie Untukku

1107 Kata
AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN Part 4 Subscribe dulu sebelum baca!! Wajib. Hari ini aku sedang senang sekali menanam bunga hingga tak pernah lupa setiap pagi aku menyiram bunga anggrek yang baru saja aku tanam. Apalagi anggrek ungu itu sangat cantik, dan cara merawatnya juga cukup sulit karena terkadang ada yang tidak berbunga. Saking asiknya aku sampai tidak menyadari kalau Mas Joko ada di teras depan sambil menikmati teh hangat. 'Kok Mas Joko memperhatikan aku seperti itu sih?' gumamku dalam hati. Jika Mas Joko genit begitu apa pada semua wanita dia melakukan hal yang sama? Hih! Lama-lama dia semakin membuatku lebih jengkel. "Joko, kok roti nya tidak di bawa?" Kata ibu yang baru datang. "Loh, Joko lupa Bu," jawab Mas Joko. "Din, ini ibu buatkan kamu teh sini minum dulu," ajak ibu mertuaku. "Iya Bu bentar lagi," ujarku. Aku ingin ngeteh tapi tidak mau kalau ada Mas Joko disitu, jadi aku sengaja melama-lamakan pekerjaanku. Ibu sudah kembali lagi ke dapur dan tiba-tiba Mas Joko menghampiriku, dia semakin mendekat dan berbisik ke telinga. Aku ingin berteriak sepanjang mungkin tapi takutnya para tetangga salah paham, aku memejamkan mataku dengan ketakutan. "Din, baju kamu terbalik," bisiknya di telingaku. Mataku langsung membulat dan melihat bajuku yang ternyata memang terbalik, Mas Joko ternyata bukan genit memperhatikanku tapi memperhatikan bajuku yang terbalik ini. "Ih!" Gumamku pelan. Aku malu hingga wajahku memerah, padahal Mas Joko memberitahuku dengan hati-hati tapi tetap saja aku malu sekali. Aku langsung bergegas pergi ke kamar dan membalikkan bajuku, rasanya aku malu untuk keluar kamar lagi dan melihat wajahnya. Kriet... tiba-tiba Mas Joko masuk kedalam kamar dan aku masih diam, begitu juga dirinya yang tidak bicara apapun. *** "Kok Mas Joko tidak kerja ya?" Gumamku pelan. Mas Joko sibuk di ruang tengah sedang mengelap banyak benda, ada yang seperti Kris berukuran kecil, dan berbagai cincin batu akik. "Joko, lagi apa?" Tanya ibu yang baru datang. "Ini Bu Joko lagi mengelap barang-barang peninggalan bapak," jelasnya. Mas Joko dan ibu lalu mengobrol mereka memang terlihat sangat dekat karena aku sering melihat mereka mengobrol sangat lama. "Din, ngapain di situ ayo kesini," kata ibu mertua aku yang menyadari keberadaanku. "Iya, dari tadi cuman ngintip ngintip doang," ujar Mas Joko. 'Apa dari tadi Mas Joko menyadari hal ini?' gumamku dalam hati. "Tidak, Dinda tidak mengintip kok," gumamku pelan. Sebenarnya aku malas menjawab tapi jika aku diam saja pasti ibu akan mengira kalau aku benar-benar mengintip. "Joko, jangan bicara seperti itu pada istri mu," kata ibu. Hehe Mas Joko langsung tersenyum seperti yang sedang bercanda. "Uluh-uluh sini Dinda sayang," ucapnya di depan ibu. Demi apa ini? Kenapa dia harus berbicara seperti itu di depan ibu, dia yang berbicara malah aku yang salah tingkah. "Kamu itu hanya bikin istrimu takut saja! Jangan terus menggoda Menantu ibu lagi!" Kata ibu. Aku menggigit bibirku menahan senyum karena ibu mertua aku sudah memarahi Mas Joko yang menyebalkan itu. Aku memilih untuk pergi ke belakang rasanya masih banyak pekerjaan disana. "Nduk, jangan terlalu rajin, kalau sudah capek ya istirahat nanti kan bisa di lanjut lagi," kata ibu. "Tanggung Bu," jawabku. "Lanjut nanti saja, itu Joko ngajak kamu pergi," kata ibu. "Pergi? Kemana Bu?" Tanyaku. "Hari ini kita belanja baju, bukannya ibumu kemarin cuman bawa baju sedikit kesini," sahut Mas Joko yang baru saja datang. Bahkan Mas Joko sampai memperhatikan baju yang aku miliki, bahkan aku tidak pernah tahu baju apa dan berapa yang dia miliki. "Baju? Biar nanti aku bawa saja lagi dari rumah ibu," kataku menolaknya. "Baju yang di rumah ibumu itu untuk salin kalau kamu menginap di sana nduk, sana pergilah beli lagi sama Joko, sekalian pilihkan dia baju juga, karena dia terlalu lama hidup sendiri lihatlah pakaiannya tidak jelas semua," jelas ibu. Aku memperhatikan penampilan Mas Joko yang memang apa adanya, padahal kalau dipikir-pikir dia tidak mungkin kekurangan uang. 'Punya uang kalau tidak ada yang merawatnya jadi begini juga ya,' gumamku dalam hati. "Pilihkan baju anak muda untuknya, yang sekiranya cocok dan terlihat rapi," kata ibu. "Loh Bu, apa bajuku ini terlihat sangat tua?" Tanya Mas Joko. "Bukan tua lagi, lihatlah jaket dan celana yang kamu pakai robek robek semua," ujar ibu. "Aduh ibu, ini tuh gaul bukan tua," kata Mas Joko yang membela dirinya. "Sudah seperti preman indonesia raya saja, sudahlah Dinda pasti lebih mengerti bagaimana style anak muda! Kamu itu harus bisa adaptasi," kata ibu yang mulai cerewet. "Oke bos!" Jawab Mas Joko menggoda ibu. *** Aku di bawah sangat jauh sekali perjalanan hingga berjam-jam ternyata aku akan dibawa ke mall oleh Mas Joko. Disana banyak sekali baju dan apapun keperluan kita sudah lengkap di sana. Akhirnya kami masuk ke sebuah tempat pakaian lengkap pakaian wanita dan pakaian pria. "Sana pilih yang kamu mau," kata Mas Joko. Aku memilih baju sehari-hari seperti daster baju tidur dan baju kaos, Mas Joko menemani kemanapun aku pergi. "Nih beli juga!" Katanya sambil menyodorkan sebuah baju. Demi apa?? Ini adalah lingerie berwarna merah merona berbahan sangat tipis dan sudahlah aku tidak bisa menjelaskannya lagi. Aku kaget bahkan malu melihat baju seperti itu di hadapanku. "Hah? Apa itu? Itu untuk apa?" Tanyaku panik. Mas Joko tampak senyum-senyum sendiri, kenapa tiba-tiba dia memberikanku baju seperti itu. "Baju untuk tidur? Salahnya di mana?" Tanyanya. "Salahnya? Aku harus memakai baju seperti itu?" Kataku. "Tidak, tidak perlu, beli saja dan tarung di dalam lemari," katanya. Aku membayangkan saat aku memakai baju seperti itu dan apa yang akan dilakukan oleh Mas Joko? Apakah hal itu akan terjadi? "Hey! Kenapa bengong? ayo pilih lagi baju, gamis dan beli celana juga," perintahnya. Akhirnya selesai juga aku memilih baju yang cukup banyak hari ini sekarang giliran Mas Joko. Aku membeli beberapa lembar kaos untuk sehari-hari dan juga denim short, membeli kemejaz jaket, jeans panjang, baju batik jika untuk pergi pergi. "Pilihkan dalamannya juga," ujarnya. "Untuk siapa?" Tanyaku. "Ya untukku lah," katanya. Kami langsung memilih pakaian dalam karena aku sebelumnya tidak pernah membeli jadi aku sangat bingung. "Yang ini?" Tanyaku sambil membawa box celana dalam. "Itu terlalu kecil," katanya. "Kalau ini?" Tanyaku lagi. "Itu juga kecil," katanya. "Kecil terus, memang sebesar apa sih?" Tanyaku kesal. "Sebesar apa? Salah siapa kamu tidak pernah lihat," katanya. "Hah! Lihat? Lihat apa?" Aku jadi semakin kesal dengan ucapannya, bisa-bisanya dia bercanda seperti itu di tempat seperti ini. "Lihat celana dalamku di rumah, memangnya saat jemur pakaian tidak dilihat ya?" Katanya. "Oh itu, lihat tapi lupa," jawabku gugup. Selalu saja jika Mas Joko bicara apa pun itu bisa membuatku sangat gugup, gugup hingga kedua kakiku gemetar. Demi apa??? Mas Joko se-genit itu sama Dinda ?? semangat buat Dinda klepek-klepek deh? Oh iya jangan lupa like dan komen ❤️ YANG MAU LIHAT VISUALNYA DINDA LANGSUNG KE sss SAYA YA [Neng Leny SambaladOo]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN