Takut di inboxing

900 Kata
AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN Part 5 Belakangan ini aku tidak pernah melihat Mas Joko merokok, padahal awal aku datang ke sini dia selalu merokok. Apalagi jika mengingatnya menyiapkan asap rokok di wajahku, aku sangat kesal ingin sekali menjambak rambutnya. "Bau asap," gumamnya. Kebetulan di luar ibu sedang membakar sampah jadi asapnya sedikit masuk ke kamar, Mas Joko bisa saja protes akan asap itu. "Bisanya juga merokok tapi tidak sewot," kataku. "Aku tidak merokok," katanya. "Bohong! Awal aku ke sini itu apa?" Tanyaku tak mau kalah. "Oh itu, bukan cuman merokok tapi aku juga minum, habisnya kamu bikin kesal aja," katanya sambil pergi. Kenapa jadi aku yang disalahkan, memang lelaki tua itu sangat aneh jadi pengen tak "HIH". *** "Bu, kemarin Dinda belikan ibu baju ini, Dinda lupa terus mau ngasih ke ibu," kataku pada ibu yang ada di kamarnya. "Baju apa Din, kok masih sempat sempatnya ingat ibu," katanya. "Gamis Bu, mana tau nanti ibu butuh kalau ada acara yasinan di sini, ya pasti ingatlah Bu," kataku sambil memberikan Tote bag padanya. Ibu langsung membuka dan melihat pakaian yang aku berikan padanya aku berharap cocok untuk ibu. "Makasih Lo Din, wah ibu suka kayak gini yang simpel saja, oh iya kemarin beli apa saja?" Tanya ibu. Aku menceritakan kejadian kemarin bagaimana saat kami berdua membeli banyak pakaian, ibu mendengarkannya dengan sangat serius. "Beli ligri juga?" Tanyanya. "Ligri? Ligri apa Bu?" Tanyaku bingung. Aku baru dengar ada pakaian ligri, aku fikir itu adalah pakaian dalam bahasa daerah ibu sendiri. "Ibu juga tidak tahu, tapi Joko cerita mau membelikan baju itu, katanya baju tidur dengan motif sangat cantik," jelasnya. Demi apa? Mas Joko menceritakan pada ibu masalah lingerie itu, oh tidak sebenarnya apa yang ada di pikiran lelaki itu. "Oh itu, iya Bu Dinda beli satu," kataku malu. "Sebagus apa sih? Ayo ibu mau lihat bagaimana bentuknya," ibu malam mengajak untuk melihat baju itu. "Em, tidak Bu, itu hanya baju tidur biasa lagian Dinda cuman beli satu kok," kataku takut. Bagaimana reaksi ibu jika melihat bentuk baju lingerie itu? Bisa-bisa aku dibuat malu di hadapannya. Tapi ibu manut saja mungkin ibu mengira memang seperti baju tidur biasa, aku menghela nafas lega akan hal ini. 'Awas ya? Aku akan balas semuanya,' gumamku dalam hati. Aku cukup lama mengobrol dengan ibu di dalam kamarnya, nggak akhirnya aku berpamitan untuk keluar dan katanya ibu juga akan pergi ke belakang. Aku langsung ke kamar dan mengecek lemari yang di dalamnya ada baju itu, aku mengambilnya dan melihat dengan seksama lagi. "Baju seperti ini siapa yang mau memakainya?" Gumamku keheranan. Ehem... aku mendengar Mas Joko datang sambil berdehem, tiba-tiba kakiku gemetar dan aku dibuat mati gaya. "Mau pakai baju itu?" Tanyanya. "Apa? Tidak! Aku hanya tidak habis pikir ada baju seperti ini!" Kataku. "Baju yang indah," gumamnya. "Apa?" Kataku dengan nada tinggi. Baru kali ini aku bicara dengan nada tinggi karena keceplosan, aku langsung menutup mulutku dan mengembalikan baju itu ke dalam lemari. *** Sekarang setiap harinya aku sudah melihat Mas Joko sedikit rapi karena pakaian yang kemarin aku beli. Setidaknya ada sedikit sekali perubahan yang tidak membuatku ilfil dan bosan untuk melihatnya. "Baju itu bagus loh, jadi kelihatan santai dan rapi," puji ibu. Baru saja aku membicarakan penampilannya dalam hati tiba-tiba ibu langsung memuji Mas Joko. "Iya dong Bu," katanya sambil memainkan rambutnya. Aku cukup diam dan mendengar apa yang mereka ucapkan, aku sedikit kesal karena belum bisa membalas semua perbuatannya padaku. Makan malam berlangsung seperti biasanya, ibu setiap malamnya selalu menonton tv karena memiliki acara favorite. Aku juga selalu menemaninya tapi karena hari ini aku mengantuk lebih awal akhirnya aku masuk ke kamar. Mas Joko ada di dalam kamar hanya dengan memakai handuk saja seperti habis mandi. "Malam-malam kok mandi?" Gumamku pelan, sebenarnya aku bukan bertanya hanya saja aku menggerutu. Aku yang malu langsung pura-pura tidak melihat dan naik ke tempat tidur, aku beraba-raba tembok untuk bisa sampai ke tempat tidur. "Kamu ngapain kayak gitu?" Tanya Mas Joko. "Mas Joko ngapain pakaian handuk di kamar?" Tanyaku. "Loh, apa salahnya?" Aku diam dan tidak menjawab pasti dia tahu apa salahnya tapi pura-pura tidak tahu. "Kita sudah suami istri Dinda, jadi apa yang kamu takut kan?" Tanyanya. "Ya kalau kelihatan bagaimana Mas?" Kataku yang kini berani menjawab pertanyaannya. "Loh, jangankan melihat memegang saja boleh," ucapnya. Mataku langsung membulat mendengar ucapan itu, aku kaget dan malah jadi malu karenanya. Aku membalikkan tubuhku lalu tak lama badan Mas Joko di jatuhkan ke atas tempat tidur. "Dingin," ucapnya. "Dingin," ucapnya lagi dengan nada sedikit tinggi. "Hih!" Gumamku sambil menarik selimut. Tiba-tiba tangannya menempel tepat di pundakku, aku langsung membuka mata dan keringat dingin mulai bercucuran sebesar biji jagung. "Din, kamu sudah siap?" Tanyanya. Aku semakin salah tingkah rasanya badanku membeku dan tidak bisa digerakkan. Mas Joko menggeser tubuhnya lebih dekat padaku, jantungku berpacu sangat kencang tiba-tiba mulutku berteriak. "Ibu!!!" Aku langsung berlari keluar kamar. Ibu yang mendengar langsung bangun karena dia masih di depan tv. "Dinda ada apa?" Tanya ibu. "Bu, em tidak ada apa-apa kok Bu," jawabku. "Kenapa berteriak?" Tanya ibu lagi. "Tadi ada laba-laba," jawabku berbohong. "Yasudah sana tidur lagi, suruh Joko membuang laba-laba nya," kata ibu. "Tidak, Dinda mau nonton sebentar," kataku. Akhirnya aku menonton bersama ibu untuk sekedar menenangkan pikiranku. Ada yang rindu dengan Mas Joko? Kemarin enggak di upload ya? Kalau mau upload setiap hari caranya gampang kok! Tinggal klik tombol subscribe sebelum baca ? Jangan lupa like dan komen ❤️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN