Ibu ingin cucu

821 Kata
AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN Part 6 Subscribe dulu sebelum baca!! Malam ini aku berada di dalam kamar dan hanya memainkan handphoneku saja, terdengar Mas Joko dan ibunya sedang ngobrol di depan televisi. "Nduk kamu sudah tidur?" Tanya ibu dari luar kamar. "Belum Bu," Aku menjawab masih di dalam kamar, dan langsung menghampiri ibu. "Sini nduk kumpul, kamu sepertinya kesepian cepat-cepat lah memiliki anak nduk biar kamu ada kawannya," kata ibu sambil menatapku dengan lembut. Mana mungkin aku akan memiliki anak dengan Mas Joko, laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai. "Tidak Bu, Dinda tidak kesepian kok," jawabku mengelak. "Tapi Joko sangat kesepian Bu," kata mas Joko sedikit manja pada ibu. Kenapa sih Mas Joko ini selalu seperti itu di depan ibu. "Mau kesepian atau tidak kalian harus segera punya anak," ujar ibu lagi padaku dan Mas Joko. "Iya Bu," jawabku singkat. "Tidak KB kan Nduk?" Tanya ibu lagi. "Tidak Bu, Dinda tidak memakai KB apapun," jelaskan. "Baguslah, kalau masih pengantin baru sebaliknya jangan pakai KB apa-apa, ibu hanya takut rahim kamu malah kering dan susah punya anak," kata ibu. Aku hanya mengangguk dan mendengar apa yang diucapkan oleh ibu, sebaiknya aku tidak banyak bicara di depannya daripada salah bicara. Andai saja tadi aku tidak ikut kumpul mungkin semua ini tak akan terjadi, mungkin tidak akan menanyakan soal anak hari ini. Karena hari semakin larut akhirnya ibu mulai masuk kamar untuk beristirahat begitu juga dengan aku dan Mas Joko. Dari tadi Mas Joko memandangiku dengan sangat aneh, aku rasa Mas Joko menanggapi dengan serius ucapan ibu. "Apa kau benar-benar tak mau memiliki anak?" Mas Joko memulai pembicaraan saat suasana di kamar hening. "Mana mungkin aku memililiki anak dengan seorang laki-laki tua dan keriput sepertimu!" jawabku ketus tanpa melihat wajah mas Joko. "Jika aku tidak keriput apa kamu bersedia memiliki anak dengan ku?" Jawabnya sambil memandang wajahku lagi. Pertanyaan apa lagi ini? Rasanya aku bingung aku tidak bisa melanjutkan hubungan tanpa cinta seperti ini. Padahal belakangan ini aku sudah tidak stress, tapi sekarang aku mulai terganggu lagi jika mengingat masalah pernikahan dengannya. "Tak mungkin, apa kamu akan menyulap wajahmu dengan sihir?" kataku dengan sedikit ketus. Hari ini aku benar-benar kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan padaku, aku jadi merasa tertekan. "Baiklah jika saja aku berhasil menghilangkan keriput di wajahku kita sepakat memiliki anak," katanya dengan percaya diri. Mungkin dia akan menggosokkan amplas di wajahnya agar keriput di kening nya hilang. Aku membalikkan tubuh ku tidak mau memandangi nya lagi, tiba-tiba air mataku menetes merasa sangat bersalah kara ucapanku sangat kasar kepadanya. Tapi jika aku berkata lembut mungkin dia kan semakin ingin dekat denganku dan merasa kalau aku sudah jatuh cinta padanya. Aku masih ingin bebas, aku sebenarnya belum siap untuk menjadi seorang istri dadakan seperti ini. *** Aku melihat ibu sedang menonton televisi ternyata acara yang sedang ditonton nya adalah acara dakwah. Aku tidak menghampirinya karena harus mengelap melipat banyak baju, dan tidak sengaja aku mendengar tentang hubungan suami istri. وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم: إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امرَأتَهُ إِلَى فرَاشِهِ فَلَمْ تَأتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا المَلائِكَةُ حَتَّى تُصْبحَ Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapatkan laknat para Malaikat sampai subuh." (HR Muslim). Di dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda bahwa istri yang menolak ajakan suami untuk berhubungan badan akan dimurkai yang ada di langit hingga suaminya memaafkan istrinya. "Ya Allah ampunilah aku," gumamku pelan. Aku buru-buru masuk ke kamar dan mengabaikan pekerjaanku yang masih belum selesai, saat mendengar itu aku langsung menangis sejadi jadinya. Aku memang merasa berdosa dan merasa bersalah tapi aku juga tidak bisa memaksakan cinta ini. 'Apa tadi malam Mas Joko marah padaku?' gumamku dalam hati. Aku takut, aku sangat takut jika Mas Joko sangat marah dan murka kepadaku. Kriet... tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Mas Joko masuk. "Kamu nangis? Kenapa? Mau permen?" Tanyanya. Hatiku sedang gundah begini masih saja dia sempat sempatnya menggodaku. Aku malah semakin menangis dengan suara yang cukup kencang, terlihat jelas wajahnya menjadi panik. "Eh, Dinda kamu kenapa sih?" Katanya sambil mendekatiku. Dia kebingungan harus berbuat apa aku melihatnya seperti akan memelukku tapi tidak jadi, jika melihat wajahnya aku semakin ingin menangis lebih kencang. Huaaa...huaaa hik...hiks hiks, tapi aku semakin mengurangi volume suara aku karena takut ibu mendengarnya. "Kamu kenapa? Ada apa?" Tanyanya lagi. Aku mendorongnya hingga dia tersungkur ke belakang, aku ingin tertawa tapi malu. Tapi tidak ada raut wajah marah saat aku mendorongnya ke belakang, justru wajahnya semakin khawatir melihatku. "Mau di peluk?" Tanyanya. "Tidak!" Jawabku sambil menangis. "Terus mau apa? Sudahlah jangan menangis," katanya. Aku ingin mengatakannya tapi aku takut dan malu, aku sudah bingung harus berbuat apa sekarang. Dinda jadi merasa bersalah nih!! Apa jangan-jangan besok Dinda sudah mau anu?? Ah semua kita serahkan sama si Dinda saja jangan sampai dia menyesal ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN