6
Diparkiran, Rama yang baru saja turun dari motor itu, nampak memarkir dan melepas helm yang dikenakannya.
Netranya tak sengaja terarah pada Dewa yang baru saja datang memasuki parkiran dan melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Melihat wajah Dewa yang penuh lebam, membuatnya mendekat menghampiri untuk menanyakan dengan sebuah tepukan dibahu. "Wa, muka lo kenapa bonyok gitu?"
Dewa menoleh, saat sudah menaruh helmnya di stang motor. "Kemarin pas pulang sekolah, si Kris sama gengnya ngeroyok gue."
"Serius lo?"
"Hmm..."
"Wah! Emang dasar banci si kristian. Beraninya cuman main keroyokan doang." Rama jadi ikut kesal sendiri. "Tenang aja bro, gue sama anak-anak bakalan bantu buat balas perbuatan mereka sama lo." Ujarnya, dengan semangat berkobar hebat. "Gimana kalau nanti pas pulang sekolah kita hadang si Kris di tempat biasa dia lewatin."
"Nggak perlu." Jawab Dewa, lalu melangkahkan kaki keluar parkiran.
Rama berusaha menyamai langkah lebar Dewa. "Kenapa? apa lo bakal diem aja setelah Kristian sama gengnya ngeroyok lo kayak gini?"
"Gak lah!"
"Terus?"
"Gue cuman pengen ngehajar si Kris dengan tangan gue sendiri."
****
"Aurel!" sapa Juna, saat melihat Aurel yang tengah makan sendiri di kantin. Biasanya Aurel akan selalu makan dengan Gadis, jika Gadis tidak sedang makan bersamanya.
"Juna? Kenapa? nyariin pacar lo?" tebak Aurel tepat sasaran.
Juna duduk berhadapan dengan Aurel yang tengah menyantap siomay kesukaannya. "Tadi gue ke kelas lo, buat ngajak Gadis ke kantin. Tapi kalian nggak ada."
"Gadis nggak masuk." Cetus Aurel, saat sudah menelan siomay di mulutnya.
"Nggak masuk? Kenapa?" tanya Juna mulai khawatir.
"Lah, lo kan cowoknya. Masak nggak tau kenapa Gadis nggak masuk?!" kata Aurel berwajah tak percaya.
"Dari tadi pagi, Chat sama telfon gue gak direspon sama dia."
"Mungkin dia lagi marah sama lo. Lo kan ngeselin."
Juna berdecak. "Serius dikit kek, kalau ditanya. Gue khawatir nih sama dia."
"Ya udah sih, entar samperin aja kerumahnya. Repot banget jadi orang."
"Sama lo ya?" Juna meringis bodoh didepan Aurel. "Please.." menyatukan kedua telapak tangan penuh permohonan.
"Ogah!" tolak Aurel, lalu meminum es teh manisnya sesaat. Menaruhnya kembali.
"Kok gitu?! Emang lo nggak khawatirin Gadis sedikitpun apa?"
"Bukannya gitu. kalau lo emang pengen ke rumahnya Gadis, ya udah gak usah ngajak-ngajak gue. Gue gak mau ya, jadi obat nyamuk buat kalian berdua."
"..... Lagian nih ya, lo itu udah beberapa bulan pacaran sama Gadis, masak gak ada perkembangan sama sekali sih?!"
"Perkembangan apa maksudnya?" tanya Juna tak mengerti.
"Ya itu... buat ke rumahnya dia! hatdeeh!" Aurel sampai geregetan sendiri.
"Ya kan, lo tau sendiri kalau Gadis selalu larang gue buat kerumahnya, dengan alasan takut bokapnya tau kalau gue ini pacarnya."
"Mangkanya itu, jangan sampai tau. Lo kan bisa bilang temennya."
"Tapi, kalau nanti Gadis malah marah sama gue, gara-gara gue gak dengerin apa kata dia, gimana?"
Aurel terdiam dengan sedotan tertempel dibibir. Memikirkan sejenak apa yang dikatakan Juna barusan.
"Ah nggak tau! Ini kan hubungan kalian, kenapa jadi gue yang ikutan pusing!" kesal Aurel, sembari mengangkat mangkok siomaynya untuk berpindah tempat⸺menghindari Juna.
****
Setelah berkutat memikirkan untuk menemui Gadis dirumahnya hari ini atau tidak, Juna akhirnya bertekat memutuskan untuk datang ke rumah Gadis sepulang sekolah.
Lebih tepatnya hari ini.
Dan Aurel yang tadinya bersikeras untuk tidak ikut, kalah oleh kegigihan Juna yang tidak menyerah untuk memaksa pergi bersamanya.
"Jadi ini, rumahnya Gadis?" Gumam Juna, dengan netra melihat kesekeliling rumah yang bahkan lima kali lebih besar dari rumahnya sendiri.
Rumah Gadis begitu terlihat sederhana dan kecil. Dinding rumah yang bercat putih terlihat lusuh menguning termakan usia. Plafon rumah yang sudah lapuk, serta lantai yang hanya diplester tanpa sentuhan keramik sedikitpun, membuat penampilan rumah itu kian memprihatinkan. Juna Bahkan sempat-sempatnya membatin, berharap jika atap rumah Gadis tidak bocor.
Karena Juna pastinya tidak sanggup membayangkan Gadis bisa tinggal dirumah yang keadaannya seperti ini.
Aurel masih memperhatikan Juna yang tengah fokus menatapi setiap sudut rumah Gadis. "Lo bener-bener belum pernah kesini ya?" cetusnya, membuyarkan fokus lelaki itu.
"Jadi menurut lo, gue bohong gitu?"
"Ya, gak juga sih. Abisnya ekspresi lo gitu banget pas tau kalau ini rumah Gadis."
Juna mendekat ke arah pintu⸺melihat dari balik kaca keadaan didalam rumah. "Sepi banget,kayak gak ada orang."
Tok tok tok!
Tiga kali ketukan dipintu itu, membuat Juna berjingkat saking kagetnya. "Lo apa-apaan sih Rel? Ngagetin gue aja lo."
"Ya ela, gue kan cuman ngetuk pintu doang. Lo nya aja yang lebay."
Kali ini Juna tak menanggapi. Tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Aurel.
Aurel kembali mengetuk pintu, saat dirasa tidak ada siapapun orang yang muncul untuk membuka pintu.
Hingga tidak lama suara sahutan dari dalam rumah pun terdengar. "Iya sebentar."
Ceklek!
"Kalian? A-ada apa kesini?" Tanya Gadis dengan nada terkejutnya--saat sudah membuka pintu.
"Kita gak disuruh masuk dulu nih?" celetuk Aurel pada temannya itu.
"Eh, i-iya ayo masuk." Gadis mempersilahkan keduanya masuk kedalam--duduk di kursi sofa sederhana.
"Mau minum apa?"
"Gak perlu, Dis. Kita disini cuman bentar kok." Ujar Juna yang tidak ingin Gadis menjadi repot oleh kedatangannya saat ini.
"Iya Dis, nggak usah." Timpal Aurel membenarkan perkataan Juna. "Kita berdua kesini cuman pengen liat keadaan Lo doang. Lo kan tadi gak masuk sekolah. Apa Lo sakit??"
Duduk di kursi sofa, Gadis nampak diam sebentar, lalu bersuara. "Itu... Aku cuman sedikit gak enak badan aja." Gadis tak sepenuhnya berbohong. Tubuhnya memang sangatlah lelah. Selangkangannya bahkan terasa sakit.
Ini semua karena ulah Rian yang semalaman penuh memintanya untuk melayani tanpa henti. Biarpun Gadis sudah mengatakan dirinya lelah, tapi Rian sama sekali tak mau tahu dan terus saja memacunya tanpa jeda.
"Kenapa kamu gak kasih tau aku, Dis? Aku khawatir banget pas kamu gak masuk." Ujar Juna memberitahu dengan raut sedihnya.
"Aku... Gak pengen bikin kamu khawatir. Lagi pula, aku cuman gak enak badan doang. Bukannya sakit parah yang gimana-gimana."
"Tetep aja, kamu harusnya ngasih tau aku." Kekeh Juna pada Gadis.
Gadis diam, menunduk sebentar dengan memilin jemari tangannya. "Aku udah nggak papa kok. Tapi bukannya aku udah bilang ke kamu buat gak kesini. Kenapa kamu malah...."
Aurel diam----menelan Saliva susah payah. Kenyataannya memang dialah yang menyarankan Juna untuk datang ke rumah Gadis seperti ini. Ia berharap Juna tidak akan menyinggungnya sama sekali.
"Gimana bisa aku diam pas kamu gak masuk dan sama sekali gak ngasih kabar ke aku. Aku benar-benar khawatir sama keadaan kamu, Dis."
Gadis bisa melihat bagaimana raut khawatir yang jelas kentara di iris Juna saat ini. Membuat Gadis menyesal. Benar-benar sangat menyesal.
Juna adalah lelaki baik. Tidak, bahkan dia benar-benar sangat baik. Sempurna Dimata Gadis.
Juna selalu bisa membuatnya tersenyum dan tertawa. Melupakan sejenak mengenai kenyataan pahit kehidupan Gadis yang sebenarnya.
Tapi...
Apa yang selama ini Gadis beri pada Juna?? Hanya sebuah kebohongan yang tiada habisnya.
Seringkali hal itu membuat Gadis menyesali diri dengan keputusannya waktu itu, saat Juna menyatakan perasaan terhadapnya. Harusnya saat itu dia tau diri, jika perempuan kotor seperti dirinya sama sekali tidak pantas dengan Juna.
Ya, seharusnya saat itu Gadis langsung menolak. Tapi nyatanya, keegoisan dan keserakahan dirinya lebih mendominasi. Melunturkan kewarasannya untuk menolak dan malah terbuai untuk menerima, tanpa tau apa yang akan terjadi nanti jika Juna mengetahui siapa diri Gadis yang sebenarnya.
⸺⸺
Dimeja ruang tamu itu, kini hanya ada Juna dan juga Gadis yang hanya berdua. Sekitar lima belas menit yang lalu, Aurel pamit pulang karena ibunya menelfon.
Juna yang masih belum ingin pulang dan masih ingin lebih lama lagi bersama Gadis. Akhirnya memutuskan untuk tiggal lebih lama disana. Sementara Aurel pulang menggunakan taksi yang dipesannya.
Lagipula tadi Gadis bilang jika ayahnya tengah keluar dan baru akan kembali saat hari gelap. Jelas saja Juna tidak ingin menyia-nyiakan hal tersebut.
Banyak hal yang mereka obrolkan saat hanya berdua seperti ini. Gadis juga memberitahu mengenai keadaan ibunya yang menderita gangguan jiwa. Bukan hanya memberitahu, bahkan ia juga memperlihatkan bagaimana kondisi ibunya itu pada Juna⸺atas permintaan Juna yang terus memaksa karena rasa keingin tahuan yang cukup tinggi.
"Sekarang kamu udah tau kan, gimana keadaan Bundaku yang sebenarnya."
"Apa Aurel udah..."
"Ya, dia udah tau." Sela Gadis menjawabnya.
"Kalau Aurel aja kamu kasih tau, terus kenapa aku enggak?"
"Karena aku emang nggak pengen kasih tau kamu."
"Tapi kenapa, Dis? Padahal aku juga pengen mengenal kamu lebih baik lagi. Apalagi keluarga kamu."
Gadis hanya diam menundukkan kepalanya. Kalau boleh jujur, Gadis sebenarnya malu jika harus memberitahu keadaan ibunya ke Juna seperti ini.
Melihat keterdiaman Gadis, membuat Juna mendekat dan memberi pelukan pada pacarnya itu. tangannya tergerak naik turun memberi usapan dipunggung Gadis dengan penuh sayang.
"Lain kali, aku gak pengen kamu nyembunyiin apapun lagi dari aku, ya?"
Gadis sedikitpun tak menjawab dan malah bertanya balik. "A-apa kamu gak nyesel pacaran sama aku, setelah kamu tau gimana keadaan bundaku yang sebenarnya."
Juna melepas pelukan dengan kedua tangan dibahu Gadis. Menatap paras ayu pacarnya itu dengan sedikit menunduk. "Hey! Kamu ini ngomong apa sih?! keadaan bunda kamu sama sekali gak mempengaruhi perasaan sayangku ke kamu, Dis. Jadi please... jangan lagi punya fikiran yang nggak penting kayak gitu mengenai aku. Hmm?"
Gadis tersenyum haru dan mengangguk meminta maaf. "Maafin aku.."
"Iya, aku maafin. Tapi kasih kiss disini dulu." ujar Juna, menunjuk pipi kanannya.
"Apaan sih, gak jelas banget." Ujar Gadis, dengan rona dikedua pipinya.
Tanpa diduga, Juna mendekat dan memberi satu ciuman singkat dikening Gadis. Jelas saja apa yang dilakukannya itu membuat Gadis diam mematung untuk beberapa detik.
"Salah sendiri nggak ngabulin permintaanku." Cetus cowok itu tanpa rasa bersalah.
Gadis mencoba menyadarkan diri, lalu melayangkan satu cubitan dipinggang sang pacar cukup kencang. Juna yang mengaduh, sama sekali tidak diperdulikan Gadis sedikitpun.
"Sakit, Dis."
"Sukurin."
Dan segera menjauhkan diri dari Juna, untuk menjaga jarak dari hal-hal yang mungkin saja bisa mengusik kesehatan jantungnya seperti apa yang baru saja dilakukannya tadi.
"Oh ya, aku boleh nanya sesuatu ke kamu?" cetus Juna, saat teringat akan sesuatu mengenai ucapan Dewa semalam.
"Soal apa?"
"Soal Dewa."
"Dewa??"
"Hmm.."
"Kenapa tiba-tiba jadi bahas Dewa?"
"Aku cuman penasaran, apa kamu kemarin sepulang sekolah ketemu dia?"
Gadis mengangguk. "Aku emang ketemu dia, tapi itu gak sengaja."
"Kok bisa? Giman ceritanya?" tanya Juna penasaran.
Menggaruk pelipisnya yang tak gatal, Gadis sedikit kesulitan mesti mulai menceritakannya dari mana dulu. "Emm.. Itu... Jadi sebenarnya kemarin aku gak sengaja ketemu dia dijalan pas mau pulang dari toko buat beli sesuatu. Dewa saat itu lagi dikeroyok sama beberapa anak dari sekolah lain. Terus aku coba bantu dia."
Juna terkejut dan salah mengira. "Hah? kamu bantuin Dewa ngelawan anak-anak itu?"
"Eh? Enggak! Nggak kayak gitu! Gimana bisa kamu mikirnya seperti itu. Mana mungkin aku bantuin Dewa lawan mereka yang jumlahnya sekitar sepuluh orang?!"
"Sepuluh orang? Sebanyak itu?" tanya Juna tak percaya yang kemudian mendapat anggukan dari Gadis. "Terus gimana caranya kamu bantuin dia?"
"Aku waktu itu cuman muter suara mobil polisi dari hapeku sekeras mungkin."
"Itu aja?"
"Hu'um." Gadis mengangguk. "Tapi aku gak ngerti sama sikapnya Dewa. Biarpun aku udah bantuin dia, tapi sikap dia ke aku masih seburuk itu."
"Memangnya dia ngapain kamu?"
"Dia..." Gadis menggantung ucapannya. Hampir saja dia keceplosan dan bilang jika Dewa mengasari dirinya. Jika Gadis mengatakan itu, bukannya hal itu akan membuat hubungan Juna dan Dewa malah semakin kian memburuk?
Sepertinya Gadis tidak perlu menceritakan bagian itu.
Juna mengangkat alis mata, saat Gadis tidak kunjung melanjutkan kalimat yang digantungnya. "Kok diem? Dewa ngapain kamu Dis?"
"Eh, enggak. Dewa nggak ngapa-ngapain aku kok. Dia malah bilang terimakasih ma aku." Ujar Gadis dengan kebohongannya.
"Tapi bukannya tadi kamu bilang kalau Dewa bersikap buruk sama kamu?"
Gadis meringis dengan raut watadosnya. Lalu secara spontan berdiri⸺beralasan, "A-aku bikinin kamu minuman dulu ya?!" cetusnya, bermaksud menghindari pertanyaan Juna.
"Tapi Dis..." Juna yang bermaksud menahan, kalah cepat oleh Gadis yang sudah lebih dulu melangkah pergi menuju dapur untuk membuatkannya minuman. Karena memang sedari tadi Gadis sama sekali belum membuatkan Juna minuman.
Juna akhirnya hanya bisa menghela napas. Mungkin dia akan kembali menanyai Gadis setelah dia selesai membuatkan minuman untuknya.
Brukk!
Suara gaduh di pintu rumah yang terbuka itu, membuat Juna yang tengah menunduk memainkan ponsel⸺otomatis menoleh. Melihat seorang pria dengan tubuh sempoyongan⸺menubruk daun pintu hingga menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga.
Dia mabuk?? Fikir Juna. Tapi dia siapa?
"Diiiiss! Gadis!! Bantuin gue buat--- huek! Huek!" Pria itu tiba-tiba memuntahkan isi perutnya didepan pintu, dan membuat lantai rumah menjadi kotor.
Gadis yang belum selesai membuat minuman, mendengar suara teriakan ayahnya didepan rumah, jelas langsung berlari menghampiri. "Ayah! A-ayah udah pulang?"
Arman tidak menjawab dan masih muntah-muntah diambang pintu.
"Ayah mabuk lagi??"
Jadi orang itu ayahnya Gadis? Batin juna tidak menyangka.
"Yah, kenapa ayah mesti mabuk lagi sih?! aku kan udah bilang buat berhenti minum. Kenapa ayah masih---"
"Argh! Berisik banget lo!" bentak Arman dengan nada khas orang mabuk. "Dari pada lo ceramah yang gak penting! Mending lo bantuin gue ke kamar. Kepala gue pusing!"
"I-iya yah.." Gadis memapah tubuh ayahnya itu menuju kamar. Saat melewati Juna, langkah ayahnya yang mendadak terhenti itu, membuat Gadis otomatis juga ikut menghentikan langkah.
Arman menatapi Juna cukup lama. Berusaha memperjelas pandangannya yang berbayang akibat dari alkohol yang diminumnya. "Lo siapa?"
Gadis sudah akan menjawab, namun Arman menghentikan dengan mengangkat tangannya didepan gadis. "Gue gak nanya sama lo."
"Heh! Lo siapa?" tanya Arman sekali lagi.
Juna yang sudah berdiri itu, mengulurkan jabat tangan untuk memperkenalkan diri. "Sa-saya---"
"Ahh... gue tau gue tau." Arman menepuk bahu kiri Juna dengan gaya sok akrabnya. "Lo pasti salah satu pelanggan anak gue kan?!"
Gadis seketika melebarkan mata. Sementara Juna justru kebingungan dengan ucapan ayah Gadis barusan.
Pelanggan? Apa maksudnya? Batin Juna, menurunkan tangan.
"Yah, dia bukan---"
Arman beralih menoleh pada Gadis, dengan rasa mabuk yang masih menguasai diri. "Mestinya kasih tau gue dulu kalau mau bawa pelanggan lo ke rumah. Tau gitu kan gue gak akan ganggu waktu kalian buat---"
Brukk!
Arman tumbang. Tubuhnya ambruk ke lantai akibat rasa pusing yang menderanya.
Juna yang melihat itu, segera membantu Gadis untuk membawa Arman kedalam kamar dengan berbagai tanya dibenaknya mengenai ucapan Ayah Gadis barusan.
****
[BERSAMBUNG]