7

1520 Kata
7   Bugh! Bugh! Bugh! Dewa begitu bersemangat melayangkan pukulan berulang kali di wajah Kristian⸺yang baru saja kalah balapan dengannya. Beberapa menit yang lalu, Kris terpaksa menyetujui kesepakatan konyol yang baru saja dibuat Dewa. Yakni, Kris harus membayar kekalahannya dengan beradu fisik melawan Dewa satu lawan satu. Dewa sengaja tidak memilih uang sebagai hadiah, dan merelakan uang tersebut untuk Kris, biarpun cowok itu kalah saat balapan melawan dirinya. Karena tujuan Dewa hanya satu, yakni membalas dendam atas perbuatan Kris kemarin yang sudah mengeroyoknya secara brutal bersama teman-temannya yang lain. Bahkan Dewa belum terlihat sembuh dari memar-memar diwajahnya. Biarpun begitu, Dewa tetap berkeinginan membalas dendamnya malam ini. Riuh suara penonton terdengar menggema, seiring pukulan-pukulan yang dilayangkan Dewa kepada Kris. Apalagi saat mereka menyaksikan tubuh kris terjerembab jatuh menghantam aspal⸺akibat dari pukulan Dewa yang terlampau keras. Teman-teman Kris hanya menyaksikan tanpa bisa menolongnya. Bagaimana mereka bisa menolong kebrutalan Dewa jika kesepakatan sudah terlanjur dibuat keduanya dengan disaksikan banyak orang yang ada disana. "Bangun lo!" titah Dewa, dengan menarik lingkar leher kaos yang dikenakan Kristian saat ini. Kristian hanya bisa pasrah saat Dewa melakukan itu, "Cih! Ternyata lo cuman bisa ngebacot doang!" ujarnya, merendahkan. Dewa melepas kasar cengkraman tangannya di lingkar leher Kris. Lalu kembali menegakkan tubuh---sementara Kris masih berada dibawah kaki Dewa dengan ringisan rasa sakit dipergelangan tangan, akibat Dewa yang sengaja menginjak kuat pergelangan tangannya saat ini. "Liat bos kalian!" ucapnya, pada beberapa anak buah Kris yang melihatnya dengan netra menajam marah. "Dia ini aslinya cuman pecundang yang beraninya main keroyokan doang. Giliran duel satu lawan satu langsung KO duluan. Banci emang!" ujar Dewa, sembari makin menyentak injakan dikakinya dengan menyombongkan diri. Kristian yang merasakan jika pergelangan tangannya sebentar lagi akan patah itu, langsung menendang salah satu kaki Dewa, hingga membuatnya terjerembab jatuh kebelakang. Tidak mau menyia-nyiakan itu, Kris segera bangkit dengan mengambil sebuah batu didekatnya. Berniat menghantam kepala Dewa menggunakan batu itu, agar Dewa tak bisa berlagak lagi. Namun, sebelum itu terjadi, Kristian yang sudah mendekat maju itu, mendapat tendangan balik dari Dewa dibagian perut dan membuatnya lagi-lagi terjerembab ke jalan beraspal dan membuat batu yang diambilnya tadi terlepas dari genggaman. "Jadi lo mau bermain licik?" cetus Dewa pada Kris. Pasalnya keduanya sudah sepakat tidak akan ada senjata saat keduanya berkelahi, Tapi Kristian malah menggunakan benda disekitar untuk melawannya. Kris melebarkan mata saat melihat Dewa mulai mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. "Gue juga bisa!" Dewa berjongkok cepat. Mencengkram kuat rahang Kris, berniat membalas perbuatannya kemarin, saat dimana Kris sudah hampir memotong lidahnya, jika saja waktu itu Gadis tidak datang menyelamatkan. "A-apa yang mau Lo lakuin sama pisau itu?" Tanya Kris dengan nada tergagap takut. Keringat dingin bahkan sudah mengucur deras. "Apa lagi kalau bukan buat Lo cacat seumur hidup!" "Lo udah gila??" Dewa hanya tersenyum sinis dan kian menekan kuat rahang Kris hingga membuat kepalanya terangkat naik. Menyadari jika Dewa tidaklah main-main, membuat beberapa teman dekat Dewa yang menyaksikan segera mendekat untuk melerai. "Wa, Lo gila?! Lo mau ngapain dia, wa?" Cetus Rama, saat sudah mendekat. "Lepasin gue! Lo gak perlu ikut campur sama urusan gue!" Dewa meronta, akibat Rama yang sudah menyelipkan dua tangan dibawah lengan Dewa untuk menguncinya. Tenaga Dewa yang dirasa kuat, membuat Rama meminta bantuan pada beberapa temannya yang juga ada disana. "Woi! Jangan diem aja. Bantuin gue!!" Teriak Rama pada ketiga temannya, yakni Gery, Bastian dan juga Edo. Ketiga cowok itu berlari mendekat, menjauhkan Dewa dari Kristian. Sementara Kris segera mengambil kesempatan berdiri menjauh dengan dibantu teman-temannya yang lain. **** Gadis menatap kosong ke arah guru yang tengah menerangkan mata pelajaran. Fokusnya memang tertuju ke arah depan. Namun fikirannya tidak sama sekali. Dari semalam bahkan dari semenjak Juna pamit meninggalkan rumahnya, Gadis terus saja dihantui oleh ketakutan akan Juna yang suatu saat nanti---entah itu kapan, mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Saat ayahya menyinggung hal yang berhubungan dengan profesinya sebagai gadis panggilan, ia benar-benar takut setengah mati. Biarpun memang waktu itu Juna terlihat tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan ayahnya saat tengah mabuk. Tetap saja ketakutannya akan hal itu tidak bisa hilang sampai sekarang. "Dis! Gadis!" Pemilik nama itu tersentak saat Aurel menggerakkan tangan tepat didepan wajahnya. Bahkan Gadis baru menyadari jika ini sudah istirahat kelas. "Dari tadi lo diem fokus ke depan, gue fikir lo nyimak pelajaran dengan baik. Nggak taunya, lo ngelamun? Lo lagi mikirin apa sih, Dis? lo lagi ada masalah?" Gadis menggeleng, "Nggak ada kok." "Terus, kenapa ngelamun kayak gitu?" "Aku.." Gadis menghela napas berat dengan tangan memijit pelipisnya pelan. "Aku cuman sedikit pusing." dustanya. "Lo masih nggak enak badan ya? tapi kenapa lo tetep maksain buat sekolah? ahh... atau lo tadi pagi belum sarapan? Mau gue beliin makanan dikantin?" cecar Aurel bertubi-tubi, saking khawatirnya. "Nggak usah Rel. Nanti biar aku beli sendiri." "Nanti? kenapa nanti? mending kita ke kantin sekarang, gue udah laper banget nih." Aurel memberitahu dengan memegangi perutnya yang tiba-tiba mengeluarkan bunyi keroncongan. "Kayaknya yang tadi pagi nggak sarapan itu kamu deh, Rel." Cetus Gadis dengan menahan tawa, akibat ekspresi lucu dari sahabatnya itu. "Emang. Tadi pagi gue nggak sarapan gara-gara bangun kesiangan. Untung aja gak sampai telat." "Gara-gara nonton drakor kan?!" tebak Gadis, mengenai kebiasaan temannya itu. Aurel hanya meringis dengan raut watadosnya. "Jadi Lo mau ke kantin apa enggak nih?" "Nitip aja boleh??" Ujar Gadis, yang sebenarnya lagi malas ke kantin. Apalagi perutnya itu masih tidak terlalu lapar. "Please... Cuman beli roti doang. Tapi entar taruh sini aja, soalnya aku mau ke perpus." Aurel memasang wajah datar, sedatar papan triplek. "Kebiasaan!" Lalu melangkah pergi dan berteriak saat diambang pintu. "Rasa coklat kan??" Gadis hanya menjawab dengan mengacungkan jempolnya pada Aurel, yang kini sudah pergi meninggalkan kelas. Ia lalu mulai membereskan buku untuk dimasukkannya kedalam tas. Baru setelah itu dia akan pergi ke perpus. Brakk! "Lo punya mata gak?!" Teriakan disertai gebrakan meja itu, membuat Gadis menoleh mencari tahu apa yang tengah terjadi. Ia melihat Dewa yang sudah berdiri dengan menatap tajam murid berkaca mata yang juga sekelas dengannya. Lelaki berkaca mata itu nampak ketakutan dengan kemarahan Dewa saat ini. Ada apa sih? Kenapa Dewa bisa marah begitu? Batin Gadis penuh tanya. Lalu beralih melihat ke arah meja Dewa yang sudah basah oleh tumpahan es jeruk bergelas cup--milik cowok berkaca mata itu. "So-sorry, Wa. Gue gak sengaja." Ucap Beni, dengan nada bergetar ketakutan. "Lo fikir dengan minta maaf, semuanya akan selesai gitu aja?!" ucap Dewa, sembari menarik kerah baju Beni. "Liat handphone gue!" Beni melebarkan mata, saat mendapati ponsel Dewa yang juga basah akibat ikut terkena tumpahan es jeruknya. "Gu-gue akan ganti hape lo." cicitnya tergagap. Dewa berdecih sinis. "Masalahnya gak sesimpel itu." lalu seketika melayangkan satu pukulan telak di wajah Beni hingga membuat cowok itu tersungkur jatuh. "Suasana hati gue lagi gak bagus. Dan lo memperparahnya." Beni hanya bisa meringis menahan nyeri di pipi kirinya. Gadis yang melihat hanya bisa terperangah tak percaya, bagaimana bisa Dewa sekejam itu pada Beni yang bahkan sudah meminta maaf. Ia bahkan kebingungan harus melakukan apa. Ingin menolong, tapi Gadis juga tak seberani itu. Keadaan kelas saat ini juga hanya ada dirinya dan kedua cowok tersebut. Kenapa aku harus berada disituasi seperti ini?! batin Gadis merutuki diri sendiri. "Eh? kalian kenapa berantem??" cetus Aurel yang baru saja datang dengan dua minuman ditangan dan juga sebungkus roti titipan Gadis. Dewa mendekat, menghampiri Aurel dan mengambil begitu saja minuman milik gadis itu. "Eh, minuman gue!!" Protes Aurel, yang sama sekali tak dihiraukan Dewa sedikitpun. Gelas cup berisi jus alpukat itu lantas sengaja ditumpahkan Dewa tepat di atas kepala Beni hingga membuat rambut, wajah dan bajunya basah dan juga lengket. "Gini baru impas." Ujar Dewa tanpa rasa bersalah sedikitpun dengan melempar gelas cup kosong itu tepat mengenai kepala Beni. "Dis, lo mau ngapain??" tanya Aurel, saat melihat Gadis yang tiba-tiba melewatinya untuk menghampiri kedua cowok tersebut. Nyatanya Gadis sama sekali tidak bisa diam begitu saja, saat melihat Beni diperlakukan seperti itu oleh Dewa. Menurutnya Dewa sudah sangat keterlaluan. "Duh, Gadis mau ngapain sih?! harusnya kan dia gak perlu ikut campur begini." ucapnya dengan raut khawatir. Aurel hanya takut jika Gadis akan terkena imbas kemarahan Dewa nantinya. "Kamu nggak papa kan Ben? Ayo, biar aku bantu berdiri." Gadis memegangi lengan Beni dan membantunya berdiri. Beni melepas kaca mata minus yang sudah basah akibat tumpahan jus alpukat tadi. "Makasih." ucap Beni berterimakasih. Aurel lantas menghampiri dan ikut membantu Beni kembali ke tempat duduknya. "Cih! Sok jadi pahlawan." sindir Dewa yang seketika membuat Gadis menoleh tajam dengan menghentikan langkah. "Harusnya kamu nggak keterlaluan sampai mukul Beni kayak gitu! Dia kan udah minta maaf!" kesal Gadis yang sudah tidak bisa lagi menahan diri. Dewa tersenyum miring, saat melihat Gadis tiba-tiba seberani ini terhadapnya. Sementara Aurel hanya sanggup membatin dengan sikap bodoh Gadis saat ini. Gadis... Harusnya lo gak cari masalah sama Dewa. Batinnya gemas sendiri. Langkah Dewa mendekat pada Gadis. Satu tangannya terangkat mengapit kedua pipi Gadis dan menarik ke arahnya. "Terus, mau lo apa?" tanyanya santai dengan tatapan mengintimidasinya. Didetik itu Gadis baru menyadari, harusnya ia tidak bertindak bodoh seperti ini. Apalagi terhadap Dewa yang terkenal kejam disekolahnya. "D-Dewa, tangan kamu... Sakit." ringisnya, berharap Dewa akan melepaskan. "Kenapa mendadak takut?! Bukannya tadi Lo berani sama gue?!" nada bicara Dewa bahkan terdengar menyebalkan ditelinga Gadis. Ia merasakan cengkraman tangan Dewa kian mengeras dikedua pipinya. Membuat Aurel yang melihat jadi ikut ketakutan sendiri. "DEWA!!" Bugh! Pukulan Juna menghantam tepat di pelipis kiri Dewa. Tubuhnya sampai terjatuh berbarengan dengan terlepasnya cengkraman tangannya dari pipi Gadis. "Jangan pernah lagi Lo ngasarin Gadis kayak gini!!" Juna memperingatkan dengan tegas dan emosi yang belum mereda. Dadanya bahkan terlihat naik turun akibat dari ledakan emosi yang tak terima saat Dewa mengasari Gadis seperti tadi. "b******k!!" Dewa bangkit menghadap Juna dengan kilatan emosi dikedua bola matanya. **** BERSAMBUNG      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN