8

2436 Kata
8   Dewa sangat tidak terima Juna memukulnya seperti itu. Harga dirinya terasa jatuh begitu saja. Jangan kalian fikir Dewa akan diam saja dan tak membalas. Justru saat ini Dewa sudah sangat siap melayangkan pukulan balasan pada Juna, jika saja ke empat temannya itu tidak keburu datang menahannya. "Woi! Udah-udah! Jangan berantem!" Gery mengalungkan tangan kanan dibahu Dewa dari belakang. Menariknya mundur sejengkal. Hal yang sama juga dilakukan Gadis pada Juna. Yakni menahan Juna dengan melingkari lengan tangan cowok itu. "Udah Wa, jangan diladenin. Inget, dia saudara kembar lo!" Bastian mencoba mengingatkan. "Tau. Masak lo mau berantem sama saudara lo sendiri?!" timpal Rama yang kemudian diangguki Edo cepat. "Gue nggak perduli! Biarpun dia kembaran gue, tapi dia udah mukul gue duluan!" teriak Dewa dengan netra menajam ke arah Juna. "Gue gak terima!" "Oh, jadi lo mau balas pukulan gue?! ya udah sini! Balas! Gue juga masih pengen buat ngehajar lo!" kata Juna menantangnya. Kian semakin membuat Dewa kesal setengah mati. Apalagi dengan teman-temannya yang menahan dirinya untuk membalas. Sial! umpat Dewa dalam hati. "Juna, udah! Jangan makin memperburuk keadaan." Ujar Gadis, dengan semakin kuat melingkari lengan Juna. "Dis, mending lo buruan bawa si Juna pergi dari sini. Gue takut mereka bakal berkelahi beneran." Kata Edo menyarankan. Gadis yang mengerti, lantas mengangguk dan menarik Juna pergi keluar kelas---menjauh dari Dewa. Melihat kepergian Gadis dan Juna, membuat Dewa seketika berteriak memakinya tanpa henti. Namun mereka berdua sama sekali tidak perduli. "Lepas!" Bentak Dewa, pada beberapa teman yang tadi tengah menahan tubuhnya sampai membuatnya sulit bergerak. Gery melepas rangkulan tangannya, diikuti oleh Bastian dan Rama yang juga melepas pegangannya di lengan Dewa. "Harusnya kalian tadi gak nahan gue!" Kesal Dewa, pada ke empat temannya itu. "Mana mungkin kita biarin Lo berantem sama kembaran lo sendiri, Wa." Bastian bersuara. "Jadi Lo lebih suka kalau si Juna mukul gue kayak gini, hah?!" Bentaknya lagi, dengan netra menajam ke arah sahabatnya itu. Lalu berbalik. Meluapkan kekesalannya itu dengan cara menendang meja hingga membuat meja tersebut terguling jatuh. ***** "Kamu tunggu di sini ya bentar." Gadis menyuruh Juna menunggunya sebentar di bangku taman tersebut. Selepas mereka tadi meninggalkan kelas, Gadis mengajak Juna ke taman belakang sekolah untuk menenangkan diri. "Kamu mau ke mana?" Tanya Juna ingin tau. "Ke kantin, beli minum bentar." "Ya udah, biar aku aja yang beliin." Kata Juna dengan kembali bangkit dari duduknya. Gadis menekan kedua bahu Juna--kembali menyuruhnya duduk seperti tadi. "Nggak perlu. Biar aku aja. Kamu tunggu aja disini. Dan jangan ke mana-mana. Apalagi sampai nyamperin Dewa. Faham?" Juna mengangguk. Namun Gadis yang sedikit tidak yakin, lantas memperingatinya sekali lagi. "Beneran jangan nyamperin Dewa. Aku nggak mau kamu ribut sama kembaran kamu." Juna tersenyum. Meraih pergelangan tangan Gadis dan mendaratkan ciuman singkat di punggung tangan mungil pacarnya. "Iya, bawel." Gadis yang malu, lantas menarik tangannya cepat dari Juna. "Kebiasaan." Cetusnya, lalu segera pergi meninggalkan Juna untuk ke kantin dengan memegangi jantungnya yang sudah berdegup kencang. Melihat tingkah lucu Gadis, membuat Juna melebarkan senyum. "Kamu kalau lagi malu gitu, makin kelihatan cantik, Dis." Gumamnya. Juna menyandarkan punggung di bangku kayu itu dengan helaan napas berat. Senyumnya perlahan hilang, saat mengingat sikap Dewa yang mencengkram kasar pipi Gadis. Apalagi dengan tatapan Dewa yang terlampau benci pada Gadis. Apa Dewa bisa seperti itu karena Gadis adalah pacarnya? Ya, cukup masuk akal mengingat selama ini hubungannya dan Dewa tidaklah baik. Biarpun begitu, harusnya Dewa tidak bersikap seperti itu terhadap Gadis yang seorang perempuan. "Eh?!" Juna terkejut saat sesuatu yang dingin tertempel di pipi kanannya. Ia menoleh, dan mendapati Gadis yang sudah kembali dengan memberinya sebotol minuman dingin. "Buat kamu." Ujar Gadis, memberi minuman itu pada Juna, lalu ikut duduk disampingnya. Juna menerima dan segera membuka tutup botol, setelah tadi ia lebih dulu bilang terimakasih. Gadis mengamati Juna yang tengah menenggak minuman pemberiannya itu hingga tersisa separuh. "Gimana? Udah mendingan?" Tanya Gadis, saat Juna menyeka bibir basahnya menggunakan punggung tangan. "Apanya?" Juna bertanya balik. Tidak mengerti maksud dari pertanyaan gadisnya itu. "Amarah kamu. Udah mendingan kan?" "Lumayan." Juna menyahuti asal, saat tau maksud dari ucapan Gadis tadi. "Apapun yang terjadi, lain kali jangan kayak gitu lagi. Dewa itu kembaran kamu. Nggak seharusnya kamu pukul dia cuman karena aku." Nasehat Gadis. "Dia pantes dapetin itu." Gadis menghela napas beratnya. "Susah banget dibilangin." "Kalau dia nggak ngasarin kamu, aku juga gak akan mukul dia. Sebenarnya kenapa Dewa tadi bisa bersikap seperti itu sama kamu?" Gadis menceritakan dari awal hingga akhir, bagaimana dirinya yang seharusnya tidak ikut campur, saat Dewa melayangkan pukulan pada Beni. "Apa yang kamu lakuin itu udah bener. Aku nggak ngerti ya, kenapa Dewa itu gampang banget mukul orang. Setiap hari juga begitu, selalu bikin papa marah-marah karena ulahnya yang gak bisa diatur itu." Gadis mengapit bibir Juna, "kamu bilang Dewa gampang banget mukul orang. Padahal sendirinya juga gitu." Sindirnya akan sikap Juna beberapa menit yang lalu. "Itu kan beda lagi." Ujar Juna membela diri. Gadis hanya menanggapi dengan memutar kedua bola mata. Rambut panjangnya yang terurai, ia ikat seluruhnya kebelakang, lantaran rasa gerah akibat cuaca panas yang cukup terik hari ini. "Dis." "Ya?" "Leher kamu kenapa?" Tanya Juna, sembari menyentuh pinggiran luka di leher Gadis yang terbalut hansaplast berwarna coklat. Luka yang didapat Gadis dari om Rian karena sundutan rokok itu, nyatanya baru diketahui Juna sekarang ini. Tentu saja itu karena Gadis yang selalu menutupinya. "Nggak papa. Ini cuman di gigit nyamuk." Cetusnya asal. "Digigit nyamuk sampai di hansaplast kayak gini?" "Ya, itu... Karena aku garuknya kekencangan. Hehe.." Gadis tersenyum bodoh. Berharap Juna akan mempercayainya. "Gitu ya?!" Entah kenapa, Juna merasa jika Gadis seperti tengah menutupi sesuatu darinya. Namun pada akhirnya Juna lebih memilih percaya dan tidak bertanya lebih banyak lagi. "Emm.. soal ayah kamu, apa.. setiap hari sering mabuk begitu?" Tanya Juna, hati-hati. Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Juna. Pasalnya Gadis cukup frustasi memikirkan hal ini. Mengenai kebiasaan buruk ayahnya itu, sejujurnya Gadis tidak ingin Juna melihat ayahnya yang seperti itu. Apalagi alasannya kalau bukan karena malu. Siapa yang tidak malu memiliki ayah berprilaku buruk seperti ayahnya, bahkan Gadis seringkali menyesali takdirnya memiliki ayah kandung b***t seperti Arman. "Ya, ayah memang sering pulang dalam keadaan mabuk kayak gitu." "Tapi... Ayah kamu gak pernah main tangan sama kamu kan?" Tanya Juna sekali lagi. Mengingat setiap orang mabuk pasti sangat sulit mengendalikan diri, apalagi ketika emosi datang. Gadis tersenyum dengan luka sayat dihatinya. Tak terhitung sudah berapa kali ayahnya mengasari dirinya. Perlakuan kasar ayahnya itu sudah seperti makanan sehari-hari untuknya. Bahkan sikap Arman kian menjadi, jika Gadis menolak salah seorang pelanggan yang secara pribadi mengontak ayahnya untuk minta dipuaskan. Bukan hanya tamparan yang akan diterimanya, Arman juga pasti tidak akan segan memukuli Gadis dengan ikat pinggang yang memang sudah sering digunakan menghukum Gadis jika membangkang apa yang diperintahnya. "Gak pernah. Ayah bukan tipe orang yang suka main tangan apa lagi sama anaknya sendiri." Kata Gadis dengan senyum di bibirnya. "Syukur kalau gitu. Seenggaknya aku bisa sedikit lega mendengarnya." **** Seusai belajar, Gadis memasuki kamar ibunya dengan sepiring makanan dan segelas s**u hangat. Ini sudah pukul delapan malam, dan Gadis harus bergegas menyuapi ibunya sebelum ia berangkat kerja melayani p****************g diluar sana. "Bunda, ayo makan dulu. Biar bunda nggak sakit." Gadis menyodorkan sesendok makanan di depan mulut ibunya yang masih terkunci rapat. Ibunya itu hanya diam dengan posisi yang masih sama. Yakni duduk memeluk kedua lututnya dengan menopang dagu. Bibirnya menyenandungkan lagu dengan suara lembutnya. Terdengar indah, walaupun itu hanya lah sebuah gumaman nada. Gadis memutuskan menunggu lagu yang dinyanyikan ibunya itu selesai. Baru kemudian Gadis akan menyuapinya. Hingga selang beberapa menit, ibunya itu bungkam. Membuat Gadis Lantas kembali menyodorkan nasi dan lauk ayam itu ke mulut ibunya. "Suara bunda bagus. Gadis betah dengernya. Tapi sekarang... Bunda harus makan dulu ya, biar bunda gak sakit. Aaa..." Layaknya anak kecil, bundanya itu membuka mulut. Menerima suapan nasi dan lauk ayam pemberian Gadis. Memang Gadis selalu berusaha memberi makan yang terbaik untuk bundanya. Hidup yang terlampau keras, membuat Gadis harus pintar-pintar mengatur keuangannya. Mengingat selama dirinya terjun di dunia malam, ayahnya itu sudah tidak pernah mau lagi bekerja keras. Yang ada ayahnya itu selalu mempergunakannya sebagai alat pencetak uang yang bisa diperintah semaunya. Walaupun Gadis menyadari itu, tapi ia tetap memilih bertahan dirumah itu bersama bundanya. Karena selama ini yang menjadi prioritas Gadis untuk selalu kuat adalah ibunya. Biarpun sudah berkali-kali Gadis berfikir untuk pergi meninggalkan rumah. Tapi kembali lagi, Gadis tidak Setega itu meninggalkan ibunya hidup hanya berdua bersama ayahnya yang b******k itu. Yang ada ibunya tidak akan terurus. Atau lebih parahnya lagi ibunya itu akan dibuang ke jalanan. Membayangkannya saja, Gadis tidak sanggup. Apalagi jika itu benar terjadi, Gadis pastinya tidak mungkin bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Gadis bersyukur, ibunya hari ini mu menghabiskan makanannya dan sama sekali tidak membuat Gadis kerepotan untuk menyuapi. "Minum s**u hangatnya dulu Bun." Ujar Gadis, sembari mengangkat gelas. Membantu meminumkannya. Lalu menyeka bibir ibunya yang basah oleh minuman itu menggunakan sehelai tisu yang baru saja diambilnya dari kamar. "Gadis seneng, kalau bunda mau ngabisin makanannya seperti ini." Cetus Gadis, dan dengan posisi duduk itu, ia tiba-tiba memeluk erat ibunya cukup lama. Tangis tanpa suara itu tak bisa dibendungnya. "Maafin Gadis, bunda.." Punggung yang bergetar, serta isakan tangisnya terkadang terdengar. Gadis merasa hidup ini begitu kejam. Bagaimana tidak, sudah hampir tiga tahunan ini ia memberi makan ibunya dengan uang hasil jual diri. Mau bagaimana lagi, keadaan yang memaksanya seperti ini. Jika saja Gadis boleh memilih, ia tentu juga tidak menginginkan hal ini. Tapi.. bukankah saat ini pilihan itu jelas tidak ada dikehidupan Gadis?! Apalagi semenjak ayahnya mulai bertindak semaunya dengan memanfaatkan dirinya sesuka hati. Ya, pada akhirnya Gadis memang harus berdamai dengan takdir yang sudah menjadikannya seperti ini. terus menerus menyesali diri dan meratapi nasib, tidak akan merubah apa yang sudah terjadi. Gadis melepas pelukan, dan menghapus air matanya cepat, saat mendengar bunyi pintu rumah terbuka dengan kasar. Yakin jika itu adalah ayahnya yang baru saja pulang, membuat Gadis segera bergegas membawa piring kosong dan gelas itu kedapur. Dan segera bersiap mempercantik diri untuk pergi ke tempat mami. **** "Lain kali, ayah gak perlu anter. Aku bisa datang sendiri kesini." Gadis berujar pada ayahnya, saat baru saja turun dari taksi. Ekspresi dinginnya itu bahkan membuat Arman ingin sekali menamparnya. Tapi Arman berusaha menahan diri karena tidak ingin wajah cantik anaknya terluka malam ini. Mencengkram kuat lengan Gadis, Arman lantas memberinya peringatan. "Heh! Perbaiki sikap Lo itu. Gue nggak mau ya, malam ini Lo buat masalah di tempatnya mami. Kalau sampai Lo bikin kekacauan lagi seperti waktu itu, si gila itu yang akan dapat ganjarannya." "Bunda emang gila, tapi dia masih istri sah ayah. Seharusnya ayah memperlakukan bunda dengan baik." "Ya, selama Lo nurutin apa kata gue, gue gak akan nyakitin nyokap Lo. Jadi lebih baik Lo sekarang senyum. Dan pasang tampang seramah mungkin ke setiap cowok yang deketin Lo. Pokoknya malam ini, Lo harus ngasih gue duit banyak. Ngerti?!" Arman bahkan berbicara dengan penuh tekanan di tiap kalimatnya. Gadis sama sekali tak menjawab dan hanya diam dengan hati kesal. Lalu segera melangkah masuk ke dalam, saat dirasa cengkraman tangan Arman kian mengerat ketika menariknya. Bau khas asap rokok dan minuman beralkohol seketika menyeruak masuk Indra penciumannya. Arman bahkan sudah memisahkan diri dari Gadis. Mengawasi dari kejauhan, atau mencari kesenangannya sendiri dengan beberapa perempuan di klub malam plus-plus tersebut. Sebuah tempat hiburan malam yang memiliki kamar khusus dibagian atas. Penjagaannya pun cukup ketat. Karena memang anak buah mami ini jumlahnya cukup banyak dan ditempatkan diberbagai sudut tempat itu. Demi kenyamanan pengunjung yang datang. "Lo beneran gak pernah kesini, Wa?" tanya Ivan, disela hisapan rokoknya. Dewa menenggak minuman beralkohol dan kembali menaruhnya. "Gue kan gak sebejat lo." Dewa memang sering sekali main ke klub malam. Tapi tidak dengan klub malam plus-plus seperti ini. Ia dan teman-temannya mempunyai tempat hiburan malam favorit yang sering dikunjungi saat suntuk. Biasanya Dewa akan minum sampai mabuk, jika suasana hatinya sedang tidak baik. Apalagi jika menyangkut soal ayahnya yang sering memarahinya. Ivan memang bukan teman Dewa disekolah. Mereka bisa kenal tentunya dari seringnya bertemu di tempat balapan liar yang sering keduanya datangi. Dan tadi, Ivan tidak sengaja berpapasan dengan Dewa dijalan. Lalu kemudian mengajak Dewa main ke tempat ini. "Sialan lo!" cetusnya, lalu kemudian terkekeh. Ivan melihat ke satu arah, dimana seorang cewek cantik berpakaian super sexy, duduk dengan dikelilingi beberapa orang cowok dengan usia beragam. "Coba lo liat cewek cantik disana. Gue tebak, cowok-cowok itu pasti lagi nanyain harga tuh cewek berapa sejamnya." Dewa menaikkan satu alis mata, mengikuti arah pandang temannya itu. Tiba-tiba saja ia tertegun dengan ekspresi tak percayanya. Gue gak salah liat kan?! Batinnya. "Lo kenal dia?" Tanya Ivan, kala melihat perubahan ekspresi Dewa saat ini. "Gak!" Dustanya. Dengan netra masih menatap lurus ke arah Gadis dengan tampilan yang jelas super berbeda dari biasanya. Dewa tidak menyangka, dibalik sifat lugu Gadis selama ini, ternyata dia.... "Yah, mana mungkin Lo kenal dia. Btw, nama cewek itu Gadis. gue pernah booking dia sekali. Servicenya benar-benar memuaskan. Tapi ya gitu, karena dia termasuk yang paling muda dan cantik disini. Jadi harganya sedikit lebih mahal. Gue juga pernah tanya ke dia, kalau usianya seumuran sama kita. Dan yang bikin gue gak nyangka tuh, ternyata dia masih sekolah." Jelasnya panjang lebar. Lalu melirik pada Dewa yang sedari tadi masih diam mendengarkan. "Gimana, apa Lo gak penasaran sama dia. Ya... Kali aja Lo pengen nyoba booking dia semalam." "Boleh." Cetus Dewa tanpa basa-basi. "Serius Lo?? Tumben. Biasanya juga kalau gue nawarin beginian, Lo langsung nolak." Dewa hanya diam tak menjawab. Lalu tepat disaat itu, seorang wanita paruh baya datang menghampiri meja mereka. "Ivan?? Udah lama mami gak liat kamu disini." Wanita yang biasa dipanggil mami itu duduk tepat disamping Ivan. "Siapa Van??" Tanya mami saat melihat Dewa. "Dewa, Mi. Teman saya." Katanya memperkenalkan keduanya. "Oh ya Mi, Gadis belum ada yang booking kan?! Soalnya temen saya berminat booking dia malam ini." "Aduh! Dia kayaknya lagi negosiasi harga sama orang itu." Tunjuknya dengan mengarahkan pandangan pada seorang cowok berusia sekitar tiga puluhan tahun. "Saya bisa bayar dua kali lipat dari harga biasanya." Cetus Dewa, yang seketika membuat mami memanggil salah satu anak buahnya untuk membawa Gadis menghampirinya. "Ada apa, Mi?" Tanya Gadis, saat baru sampai dimeja tersebut. "Malam ini kamu sama dia ya?! Dia berani bayar kamu dua kali lipat dari harga biasanya." Kata mami, yang seketika membuat Gadis sedikit terkejut sekaligus senang. Senang?? Sepertinya Gadis benar-benar sudah menjadi jalang seutuhnya. Tapi tak dipungkiri Gadis, uang tersebut sangat dibutuhkannya. Ia bisa menabungnya untuk biaya pengobatan mata ibunya. Mengingat biaya donor mata sangatlah mahal. Selama ini ayahnya selalu menjanjikan pengobatan mata ibunya yang sama sekali tidak pernah terealisasikan. Gadis bahkan tau jika ayahnya itu hanya menggunakan uang miliknya untuk bersenang-senang seperti judi, main perempuan, bahkan mabuk-mabukan. Itulah yang membuat Gadis diam-diam mengumpulkan uang sendiri tanpa sepengetahuan ayahnya. Biarpun memang sekarang uangnya masih terkumpul sedikit, setidaknya Gadis akan terus berusaha supaya ibunya itu bisa melihat lagi, walaupun dengan kejiwaannya yang terganggu. "Gimana, kamu mau temenin dia malam ini?" Tanya mami disela keterdiaman Gadis yang bahkan masih dalam posisi berdiri itu. "Aku mau, Mi." Jawab Gadis tanpa ingin berlama-lama memikirkannya. Bukannya sudah jelas cowok bertopi itu mau membayarnya dua kali lipat dari harga biasa yang diterimanya?! Namun, semuanya berubah saat cowok itu mengangkat wajah dan berkata, "Tapi, Lo gak keberatan kan, kalau gue yang nentuin tempatnya?" Deg! Gadis membatu diam dengan perasaan takut. Tidak menyangka jika cowok bertopi itu adalah Dewa, saudara kembar dari pacarnya---Juna. **** [Bersambung]    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN