Pagi hari mereka bangun subuh seperti biasa. Dan setelah subuh, tentunya tak mereka lewatkan untuk kembali b******u, memanfaatkan waktu yang memang tidak banyak, karena keesokan harinya Aira akan kembali ke Jakarta. Hanphone Aira berdenting tepat pukul 8 waktu Singapore. Satu WA masuk, Aira yang masih bergelung di dalam pelukan Ziyad meregangkan badannya, berusaha keluar dari pelukan suaminya, tangannya meraih handphone yang ia letakkan di atas meja di samping tempat tidur mereka. “Who is that, Aira?” tanya Ziyad. “I don’t know, I just going to open it.” “Hmm…” Ziyad yang sebelah lengannya masih memeluk tubuh polos Aira, mulai membuka matanya dan melihat ke arah layar Hp Aira yang sedang dibuka istrinya itu. “Who is that?” tanya Ziyad sambil memperhatikan tulisan di layar Hp itu.

