Ziyad membukakan pintu mobil dan menyuruh Aira masuk terlebih dahulu, setelah itu baru ia masuk. Ziyad meminta pengawalnya itu untuk pergi ke suatu tempat yang Aira juga tidak paham karena ia mengatakannya dalam bahasa Arab. Di dalam mobil Aira melanjutkan. “Ingat Ziyad, selama aku kuliah, aku tidak mau hamil.” “Iya aku paham, itu akan menyulitkanmu, tapi sebenarnya kamu tidak usah capek capek sekolah, cukup jadi nyonyaku saja, hidupmu sudah nyaman. Semua kemewahan ini untuk mu.” rayu Ziyad. “Tidak!” Jawab Aira pendek. “Aku harus kuliah.” katanya tajam. Ingatannya kembali pada beberapa tahun lalu, ketika ayahnya meninggal dunia, dan semua kemewahan itu hilang, ia dan ibunya serta Astri harus menjual hampir semua aset yang mereka punya, karena kehilangan sumber pencari nafkah, sedangk

