“Shalat magribnya sudah selesai shalat isya juga sudah selesai, sekarang silahkan pulang! Besok harus kerja loh.” Alma kembali mengusir Juanda dengan sangat lembut. Padahal dia sudah berusaha menahan rasa jengkel sedari tadi. Iya, Juanda terlalu berbahaya untuk tinggal satu atap dengannya, sikap Juanda yang berubah drastis dari awal bertemu membuat dia tak nyaman untuk menenangkan pikirannya. Juanda hendak mengangkat b****g, tiba-tiba duduk kembali saat mendengar suara petir menyambar. “Petir.” Alma berdengkus kasar. Sepertinya takdir sudah tak dapat dihindari lagi, apalagi sekarang mendadak rumah menjadi gelap gulita. “Sering mati lampu di sini kalau lagi petir?” tanya Juanda dalam gelap gulita. Tak ada yang bisa di lihat sama sekali dan dia masih tetap pada posisinya, berbeda dengan

