“Dari siapa, Mas?” tanya Alma penasaran melihat wajah Juanda langsung berubah masam setelah membuka kartu nama yang ada pada buket mawar merah. “Dajjal,” ketus Juanda membawa buket bunga itu untuk dibuang ke dalam tong sampah. “Aa, jangan dibuang! Kasihan.” Laras menahan. Bunga mawar merah itu terlalu cantik untuk dibuang. Malah ada 44 tangkai lagi, sangat spesial. “Nanti beli yang baru.” Namun tidak dengan Juanda yang lebih memilih menghancurkannya lalu memasukkan ke dalam tong sampah. “Aa ini aneh banget mah. Kan kasihan bunganya. Mana cantik lagi. Harusnya kalau marah sama pengirim, gak usah dibuang bunganya. Kasih ke aku aja, aku tampung kok,” cerocos Laras masih melihat kelopak bunga yang berjatuhan di lantai. Padahal kalau dicabut kelopak bunga, di masukkan ke dalam air, ditambah

