Keringat dingin di wajah Arga tampak jelas, dadanya sesak, dan seakan tubuhnya melemas, Vanilla, satu nama yang ia takutkan pergi dari hidupnya, ia takut wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya untuk selamanya. "Vanilla," Satu nama yang terlontar di bibir Arga, ia terjaga dari tidurnya karena mimpi itu. Ia bermimpi buruk. Mimpi yang seakan menjadi nyata, seakan istrinya telah pergi dari hidupnya. Arga menyibakkan selimutnya kemudian ia bangun dari tempat tidur dan segera keluar kamar memanggil nama wanita itu. Vanilla Fredella. "Vanilla...." Arga terus meneriaki nama itu, nama yang hadir di mimpinya, mimpi buruknya. Apakah itu sebuah mimpi atau kenyataan yang aku benci? Arga menuruni undakan tangga satu persatu dengan terus memanggil nama itu. Hingga ia berjalan ke arah dapur dan
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


