Bab 1Tak Kuasa Menolak
“Ada apa, Mas?” tanya Irma ketika Davka kakak iparnya muncul di dalam kamarnya ini.
Irma menelan salivanya, bukan jawaban yang dia dapatkan, melainkan kebisuan yang diiringi bunyi pintu yang dikunci sang kakak ipar. Hari sudah hampir pukul dua belas malam, dia baru selesai mandi dan hanya menggenakan kimono handuk. Irma sendiri belum lama sampai di rumah, karena tadi dia mendampingi dokter Sukma menolong ibu muda melahirkan di rumah sakit Harapan tempatnya bekerja sebagai dokter spesialis ginekolog.
“Emm..” Irma memandang Davka yang mendekatinya, “Mas ada perlu apa?” tanyanya lagi, tapi dia hanya digiring menjauhi pintu kamar.
Irma sebetulnya tinggal di satu room apartment yang dibelinya dengan cara kredit dari Bank, tapi seminggu lalu Iryana kakaknya meminta dia tinggal di rumah sang kakak untuk bantu mengasuh Dior putra kecil kakaknya dengan Davka yang baru berusia 3 tahun. Iryana berangkat ke Singapura untuk mengerjakan tugas-tugas sebagai CEO di Nusa Media Company milik keluarga mereka.
Kakak beradik ini adalah putri dari Darian Kertanegara billionaire tersohor di Indonesia khususnya. Namun sang ayah hanya minta Iryana yang membantu di perusahaan, sedangkan Irma tidak dimintanya. Si nona dari awal tidak berminat dengan bisnis perusahaan, memilih mengabdi sebagai dokter kandungan.
Kembali ke dia yang mulai bergidik karena Davka memandangnya lekat-lekat.
“Mas,” kembali terdengar suaranya karena satu tangan kakak iparnya membelai lembut salah satu pipinya. Dia segera menghindar ke arah lain, beranjak meninggalkan sang kakak ipar, tapi cepat satu tangan pria itu meraih pinggangnya, dan sebelum suaranya terdengar dibungkam dengan mengulum bibirnya.
Kedua mata Irma terbelalak karena tidak menduga Davka berani mencium bibirnya, apalagi dia merasakan ciuman itu penuh hasrat sang kakak ipar. Darahnya menjadi bergelesir saat ini.
Sebenarnya dia yang lebih dulu mengenal Davka, karena pria itu pernah menolong dia ketika mobilnya dihadang tiga sepeda motor tril saat dia baru meninggalkan rumah sakit tempatnya bekerja. Mereka pun berkenalan, dan sang pria yang pengusaha muda di bidang otomotif sering mendatanginya ke rumah sakit. Mereka pun membina pertemanan baik sejak itu.
Namun ternyata Iryana membawa Davka ke rumah orangtua mereka, lantas sang pria melamar Iryana. Saat itu pun Iryana mengaku tengah mengandung benih Davka. Seketika Irma merasa impiannya kandas. Dia mengira pertemanan mereka akan berlanjut menjadi suami istri, tapi ternyata pria itu memilih Iryana. Dia lantas menutup hatinya, serius menekuni pekerjaannya.
Namun malam ini entah kenapa Davka datang ke dalam kamarnya, dan langsung mengulum bibirnya. Bahkan kini sang pria membuat mereka berada di atas ranjang. Darah Irma semakin bergelesir karena kakak iparnya mulai merambahi bagian-bagian sensitifnya setelah berhasil menyibak bagian depan kimono handuk ditubuh dia. Dia tidak mampu melawan saat ini karena sudut hatinya yang pernah berharap mereka menjadi pasangan cinta mengurung dia.
“Mas,” Irma mengangkat wajah Davka dari atas permukaan salah satu melonnya yang padat berisi dengan bentuk bulat bagus, “Baiknya kita,” dia hendak menghentikan hasrat sang pria yang semakin menyulut gairahnya, tapi pria ini cepat membungkam bibirnya dengan kuluman penuh bara.
Dia tidak mampu melawan sama sekali, malah membalas ciuman tersebut, membuat sang pria semakin menjadi. Davka cepat melecuti seluruh pakaian mereka, diserakan begitu saja ke sembarang tempat, lantas tanpa menunda sedikit, diambil mahkota miliknya.
“Akh!” terdengar sedikit pekikan Irma karena rudal milik sang kakak ipar mengoyak mahkotanya, “Mas!” rintihnya sebab merasa senjata maut itu terus disurukan ke dalam lorong sempit oasenya, “Astaga!” rintihnya lagi di mana tubuhnya mulai bergetar-getar karena merasakan kayuhan rudal itu, “Akh, Mas!” lenguhnya tidak berdaya sama sekali dengan letupan hasrat Davka yang saat ini begitu ganas.
Davka membiarkan sang nona merintih dan melenguh. Dia sudah lama menanti saat ini. Karena dia sendiri mencintai Irma, tapi sayangnya dia terpaksa menikahi Iryana. Dalam keterpaksaan otak bisnisnya mengatakan dengan dia bersama Iryana, dia bisa menguasai Nusa Media Company milik Darian. Dengan begitu dia bisa merger perusahaan miliknya yaitu Auto Drive Company dengan Nusa Media Company.
Namun ternyata setelah dia menikah dengan Iryana, cintanya ke Irma tetap ada. Tiap saat merindukan gadis itu. Maka dari itu, saat Iryana ke Singapura, dan di sana lebih dari seminggu, dia menyergap Irma. Dia ingin menjadikan Irma istri simpanannya.
“Mas!” masih terdengar rintihan Irma, “Akh! Astaga!” dia tidak menyangka pria yang diinginkan memberinya kenikmatan di ranjang saat ini. Dia merasa seperti bermimpi saat ini.
Davka terus mengintimi Irma, karena dia merasa begitu berhasrat saat ini. Tidak seperti saat bermesraan dengan Iryana. Padahal Iryana lebih seksi dan penampilan selalu prima, tapi tidak membuat pria itu berhasrat. Davka bermain sampai mendapat puncak saja, setelah itu dia bergegas membersihkan diri, lantas tidur. Dia pun tidak memperdulikan Iryana yang merayunya karena sang istri merasa belum terpuaskan.
Tidak lama terdengar erangan sepasang manusia yang mencapai kenikmatan bercinta. Davka menghempaskan wajahnya di atas salah satu permukaan melon milik Irma. Terdengar deru napasnya yang memburu, dan peluh menghias tubuh atletisnya, Sedangkan Irma, dalam deru napas yang tidak teratur, terlihat memandang ke langit-langit kamar, seolah saat ini berada di langit paling indah yang baru dirasakannya.
Setelah napas Davka mulai teratur, diangkat wajahnya, lantas memandangi wajah Irma yang merona merah muda, pelan satu tangannya mengusap pipi gadis itu, minta dilihat. Irma mengalihkan pandang ke Davka, diamati pria tersebut yang telah menjadi kakak iparnya selama tiga tahun sembilan bulan.
“Sayang,” sayup terdengar suara bariton pria itu yang membuat banyak perempuan jatuh hati, “Akhirnya kita bisa bersama lagi,” ujarnya dengan wajah bahagia, “Aku sangat lama menunggu hari ini tiba.”
Irma tercenung mendengar perkataan sang kakak ipar, “Apa maksudmu, Mas?” lantas dengan hati-hati memberi pertanyaan.
“Tidak kah kamu sadari aku menyukaimu dari awal kita bertemu?”
Irma menggelengkan kepala, “Karena ternyata Mas menikahi Mbak Iryana,” ujarnya lirih.
“Aku terpaksa melakukan itu, sayang,” Davka menghela napas, “Sudahlah kita tidak usah bicara mengenai Yana,” dialihkan pembicaraan, “Yang jelas, aku tidak akan melepasmu lagi.”
“Tapi Mbak Yana akan pulang dari Singapura.”
“So what kalau dia pulang, hmm? Aku tetap memelukmu, sayang.”
“Bagaimana bisa? Aku jadi simpananmu?”
“Bersabar dikit ya, aku segera membuatmu menjadi perempuan paling bahagia disisiku.”
***
Di dalam ruang IGD di rumah sakit Harapan, Irma yang sedang bertugas jaga tengah mempelajari beberapa berkas rekam medis pasien. Tampak dia sesekali mengurut-urut lengan dan leher. Dia belum terbiasa bermain di ranjang panas merasa pegal-pegal saat ini. Apalagi Davka melakukan lebih dari sekali permainan.
Sementara di dekat dia ada dokter Bisma--dokter spesialis neurologi pediatric--sedari tadi mengamati gadis itu. Tampak olehnya yang dilakukan Irma tidak seperti biasanya. Meski sang nona seringkali bergadang demi tugas sebagai dokter, tapi sangat jarang mengurut-urut lengan dan leher berkali-kali. Lantas terlihat pula wajah si nona seringkali tersenyum sendirian, seolah teringat hal manis yang dialami di hari kemarin.
Tidak lama ponsel milik Irma yang berada di salah satu saku jas dokternya bergetar. Si Nona berhenti bekerja, tampak senang, segera mengeluarkan ponsel tersebut, lantas tampak samar di layar wajah tampan Davka. Sang kakak ipar rajin video call atau mengirim pesan singkat, yang semuanya membuat dia bahagia.
Davka yang dulu sudah kembali ke dia, meski masih berstatus suami Iryana. Namun dia tidak perduli karena sang pria pun mengatakan tidak usah memusingkan mengenai statusnya tersebut.
Dia segera mengaktifkan panggilan video agar bisa bicara dengan pria terkasihnya tersebut,
“Hai sayang,” terdengar lebih dulu suara sang kakak ipar yang berada di dalam mobil Mercy elegan miliknya yang dikemudikan Itoh drivernya.
“Hai too,” sahut Irma malu-malu seneng, tampak wajahnya bersemu merah.
“Dari tadi hanya disahutin hai too sih?” Davka menghela napas, menjadi gemas karena setiap dia telpon, si nona mengawali selalu dengan hai too, “Kumakan kamu nanti kalau tetap membalas sapaku hanya dengan hai too.”
“Ish mana bisa Mas makan aku? Mas kan bukan predator atau psikopat.”
Tuing, Davka mendengar ini melipat sedikit bibirnya ke dalam, menjadi gemas ke nona ini yang tidak paham arti kumakan kamu dalam dunia ranjang panas.
Dokter Bisma yang masih di dekat Irma, memasang telinganya, diam-diam menguping obrolan mesra sang dokter muda dengan pria di ponsel. Sang dokter adalah owner rumah sakit ini, wajahnya gagah dengan postur tubuh tinggi kekar. Beliau terkenal tegas, dan sigap dalam menangani pasien dari kalangan strata mana pun.
Beberapa tahun silam, saat Irma diterima praktek di rumah sakit ini, dia selalu jatuh hati ke sang nona. Sayangnya dia yang pendiam dan kurang romantis, tidak pernah action mendekati nona tersebut. Ketika sang gadis jalan bersama Davka, hatinya merasa hampa, lantas menjalin hubungan dengan wanita lain. Ternyata perjalanan cintanya kandas sebab wanita itu memilih menikah dengan pria lain dengan membawa benihnya di dalam rahim sang wanita.
Bersamaan dengan dia patah hati, Irma pun mengalami patah hati karena Davka menikahi Iryana. Sejak itu dia mencoba mengalihkan lagi ke sang gadis, tapi ternyata nona ini dingin ke setiap pria.
Hari ini sepertinya sikap dingin menghilang dari diri Irma. Tentu karena si nona dihangatkan oleh pria idaman hatinya, yaitu Davka Hutama.
“Sayang,” masih terdengar obrolan antara sang pria dengan Irma, “Aku bentar lagi sampe di tempat kerjamu.”
Irma terkaget mendengar ini, “Jadi Mas dalam perjalanan kemari?”
“Memang, kenapa? Tidak boleh aku datang? Kalau pun tidak, aku tetap datang, lantas membawamu pergi bersamaku,”
Irma mendengar ini merenggut senang, sebab ternyata Davka sangat pandai mengambil hatinya.
“Memang Mas mau membawaku ke mana, hmm?”
“Ke nirwana kenikmatan, sayang,” sahut sang kakak ipar, “Jangan lupa, kita pasti berulang kali ke sana, karena kita menyukai itu kan?”
Irma mendengar ini langsung wajahnya bersemu merah, merasa malu hati, teringat semalam dia dan Davka berkali ke nirwana kenikmatan, dan membuatnya ingin ke sana lagi, tapi enggan mengatakan ke sang ipar.
Dokter Bisma menghela napas mendengar ini, kini dia tahu mengapa Irma mengurut-urut lengan dan leher, lantas seringkali tersenyum.
‘Hais,’ hela batinnya, ‘Rasanya pria yang ngobrol sama Irma itu Davka,’ dia pun mulai mengenali suara Davka yang tersiar dari ponsel Irma, ‘Apa yang harus kulakukan untuk menjauhkan dia dari Davka suami ular betina itu?’